Lima hari bukanlah waktu yang lama, bagi mereka yang sedang mengalami permasalahan dan tekanan. Pertemuan demi pertemuan antara kedua putri istana Gkinzerniyu dengan Filghofin serta beberapa sesepuh istana tak terkecuali perdana menteri Leonard sebagai pemimpin dalam pertemuan, saling menguatkan dan memberikan ide untuk memasang kekuatan, sebab istana sepeninggal putri Amatheia bersama Filghofin menuju laut merah juga harus dalam kondisi terjaga dan tetap stabil, untuk senantiasa memberikan dampak positif dan menghindari kehebohan masyarakat pada umumnya.
Ratu Sinnan memberikan cincin mustika emas kepada putri Amatheia, begitupun Putri Galene telah memberikan kekuatan ekor miliknya untuk menyatu dengan kekuatan ekor milik putri Amatheia, pada saat upacara pada malam seribu purnama genap usia putri Amatheia waktu itu.
Filghofin menatap lembut ke arah putri Galene, tanpa ia duga putri Galene pun menatap dengan perasaan yang sulit ia lukiskan, ada getaran yang belum pernah sekalipun ia rasakan selama hidupnya.
Tatapan mata itu terjadi sekian saat, sedangkan Filghofin hanya merasakan iba dengan kondisi yang terjadi pada kedua saudara yang sama-sama hidup dalam lingkup istana dan dalam kondisi penekanan dari pangeran kegelapan Sharklys. Namun semangat untuk tetap menjalani, saling bahu membahu dan saling menguatkan pada segi kepercayaan.
Putri Amatheia bersama Ratu Sinnan mendekati mereka untuk segera berkemas dan pamit akan melakukan perjalan yang panjang dan membutuhkan waktu yang lama menuju laut merah sebelum tepat tujuh purnama lagi, waktu yang di tentukan untuk melaksanan pernikahan putri Amatheia dengan pangeran Sharklys, perasaan haru semakin membuncah pada kalbu antara anak ber-anak itu.
Namun tidak dengan ratu Sinnan, dengan ketegaran hati yang sudah ia siapkan, sekuat mungkin ia tidak akan menitikkan air matanya di depan anak-anaknya.
"Pergilah anakku, kesejahteraan rakyat istana Gkinzerniyu ada pada pundak kalian berdua, kembali kalian ke istana menjadi harapan Ibu, bawalah ayahanda Brenton kembali ke istana bersama kalian." Ketegasan dan tanggung jawab yang selalu mereka tanamkan kepada kedua putrinya adalah bentuk kekuatan Ratu dengan caranya untuk mendidik anak-anaknya.
"Kakak, pergilah dan kembalilah dengan selamat, Filghofin aku titipkan saudaraku padamu! Agar kau bisa menjaganya dalam perjalanan hingga kembali pada kami." Tatapan mata putri Galene penuh arti kepada Filghofin.
"Putri Galene, usah bimbang! Saya tentu akan menjaga dan menemani Putri Amatheia. Sepenuh jiwaku akan memperjuangkan putri Amatheia dan istana kalian, Saya berjanji akan membawa pulang paduka Raja Brenton serta tuan Darcassan kembali dan keluar dari cengkeraman pangeran Sharklys." Tanpa ia sadari tangan Filghofin memegang tangan putri Amatheia dengan erat dan menatapnya dengan semangat yang sudah berkobar untuk mencerahkan kegelapan dunia.
Perdana menteri Leonard yang menyaksikan janji dan sumpah pemuda bernama Filghofin seolah kekuatannya pun ikut kembali berkobar, namun disisi lain senyum itu mengembang dengan harapan pada sebuah cinta mereka.
Rasa percaya diri juga tumbuh pada diri Ratu Sinnan, kemenangan tergambar jelas pada perjuangan putri Amatheia dan Filghofin kelak.
Penyerahan cincin mustika emas serta segala restu untuk putri Amatheia menghujani doa dari sang ibu.
Cincin mustika emas tersemat indah pada jari manis putri Amatheia, aura kekuatan dan energi positif mengalir pada tubuhnya tatkala Ratu Sinnan mulai menyematkannya, dengan iringan doa serta mantra.
"Anakku, keberhasilan negeri kita sekarang ada pada pundakmu, dan kau wahai pemuda yang kuat, aku percayakan seluruh kedamaian rakyatku serta keluargaku padamu sebagai pendamping Putri Amatheia dalam perjalanannya membasmi kejahatan dan kembali memberi terang dalam kegelapan alam yang sudah terkontaminasi oleh keserakahan seseorang yang telah mengabdi pada kesesatan."
Putri Amatheia menatap tangan Filghofin yang masih memegang erat, dengan tersipu malu ia menepis tangan Filghofin lalu matanya beradu pandang dengan mata putri Galene yang menunduk seketika, ada luka yang sulit terdeteksi oleh siapapun dalam ruangan itu.
🧜🧜🧜🧜🧜🧜🧜
Perpisahan pun terjadi, putri Amatheia dengan Filghofin melakukan perjalanan menuju kelaut merah dengan bekal semangat dan restu serta harapan bagi seluruh rakyat penghuni dasar laut.
"Filghofin, bawalah mustika kuning milikku kekuatannya setara dengan mustika kuning milik putri Amatheia, mungkin di darat kelak kalian sangat membutuhkan, pakailah!" senyum penuh arti putri Galene sambil menatap Filghofin, Ratu Sinnan yang menyaksikan itu mengangguk kepala sembari melambaikan tangannya pertanda menyetujui ide putri Galene.
"Putri Amatheia, doaku selalu bersamamu kembali kalian adalah harapan kami. Aku akan selalu merindukan kehadiran kalian di tengah-tengah kami." Beberapa ucapan dan doa dari seluruh warga berkumandang dalam perjalanan mereka berdua.
Hingga pada ujung putri Amatheia mendapati Scrully sahabatnya serta Terilly pengawalnya, "berangkatlah, dan kembalilah dengan berita kemenangan kalian. Sekuat apapun kekuatan yang kami miliki, kami tetap akan membantu kalian di saat kalian membutuhkan," Terilly menatap tajam kearah Filghofin sedangkan Scrully menggenggam erat tangan putri Amatheia.
Sesaat kemudian mereka memulai perjalanannya menuju arah laut merah yang harus mereka tempuh dengan waktu yang cukup lama. Semak belukar di sepanjang jalan bergerak-gerak dan menimbulkan riuh suara yang menganggu pendengaran putri Amatheia.
"Siapa...? Keluarlah atau ku panggang tubuhmu!" Suara putri Amatheia pelan namun penuh penekanan.
Semak yang semula bergoyang-goyang seketika berhenti dan sunyi. Filghofin yang ikut mendengar dan menyaksikan, dengan gerakan cepatnya mampu menangkap tubuh kecil yang bersembunyi di balik tumbuhan lamut.
"Bargibanti! Apa yang kau lakukan dengan membuntuti perjalanan kami?" Teriak putri Amatheia memecah kesunyian.
"A...ampun tuan putri Amatheia yang cantik, he...he...he... saya... sayaa ingin ikut dalam perjalanan tuan putri ke laut merah, karena saya mengetahui arah jalan menuju kesana, dan hamba berjanji akan menurut dengan semua larangan tuan putri." Wajah Bargibanti menunduk namun matanya sibuk melirik ke segala arah di sekitarnya.
"Pulanglah, ini perjalanan bukan seperti yang nyonya Rebecca bawa dengan menumpang pada tubuhnya dan berkeliling melihat indahnya alam bawah laut, tapi ini perjalanan antara hidup dan mati, apakah kau tidak tau itu, Bargibanti?" Tatapan mata putri Amatheia mengintimidasi kelakuan Bargibanti yang masih tetap ngotot untuk mengikutinya.
"sayaa bersedia mati untuk kebaikan dan kepulangan paduka Raja Brenton, tuan putri!" Bargibanti tetap pada pendiriannya.
Filghofin menyaksikan drama ikan selam yang di ciptakan Bargibanti secara tidak langsung menjadi geram dibuatnya, " wahai makhluk kecil, ketahuilah! Kami akan melalui banyak rintangan untuk menuju kesana, pulanglah! Kau akan selamat dari kematian."
Filghofin tidak sabar lagi, ia melepaskan cengkraman tangannya dan meraih tangan putri Amatheia untuk kembali melanjutkan perjalanan tanpa menghiraukan keberadaan Bargibanti.
'aakkhhh....aku akan mengikutinya sampai ke tujuan yang mereka tuju, aku makhluk baik, dan harus berbuat kebaikan' bathin Bargibanti sambil terus mengikuti dari belakang dan sesekali berhenti dan menyembunyikan dirinya dari pandangan putri Amatheia.
🧜🧜🧜🧜🧜🧜🧜
Mak.... Bargibanti sosok licik loh piye iki. 😳
Terus aja ikuti kisah putri duyung, dukungan like serta komen harapan utama 🖐️
To be continued 😉
Netizen terkasih 🤗 sambil menunggu karya Rhu up lagi, searching ke karya kawan Rhuji yuk! di jamin mantap👍
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 128 Episodes
Comments
⏤͟͟͞R𝐈𝐍𝐃𝐔ᵇᵃˢᵉ𝕸y💞🍀⃝⃟💙
she bar itu pengkhianat yaa?
dia mata2
2023-04-12
0