"Ini tidak bisa terjadi, semua harus tunduk pada kuasaku, dan akulah sang penguasa, ha...ha...ha...Rorru...!" Tangan dengan otot yang menonjol dan kuku kuku runcing dan panjang itu mengelus gagak hitam hewan piaraan sang penguasa kegelapan, kastil Lazurod yang di kuasai oleh pangeran Sharklys, mengamati perkembangan di sekitarnya hingga kawasan Istana Gkinzerniyu melalui cermin ajaib miliknya.
Pangeran kegelapan Sharklys yang berwujud manusia dengan penutup cadar di kepalanya dan memiliki cakar tajam nan hitam, matanya yang merah menyala laksana aliran lava dari letusan gunung Merapi terdahsyat di dunia, Rorru si gagak hitam dengan mata tajamnya, selalu setia berada di pundak sang raja kegelapan itu.
Raja Sharklys berjalan mondar mandir, lalu duduk di singgasananya kembali, tiba tiba pintu gerbang yang menjulang tinggi serta kokoh itu perlahan terbuka dan munculnya dua sosok manusia berkepala ikan hiu dan berbadan manusia mendekat lalu mengucapkan salam pada Raja Sharklys.
"Yang mulia junjungan hamba pangeran kegelapan atas segala kegelapan, kami mempunyai berita tentang perbatasan laut yang di huni rakyat Gkinzerniyu."
Dua pengawal tersebut melaporkan tentang hasil pengintaian yang mereka dapati saat ini. Bahwasanya telah berhasil mengorek cerita dari Bargibanti dengan kembali mengiming-imingi kelak akan di angkat menjadi pangeran di teluk Belanggah, di sisi laut merah.
Dengan riang dan gembira sosok Bargibanti menceritakan semua yang dilihatnya, tanpa satupun yang terlewati. Sebab iming-iming yang menggiurkan dan karena sifat Bargibanti yang tidak bisa mengendalikan diri, Bargibanti akan cepat dan mudah di kendalikan ketika energi negatif membaur di sekitarnya, Bargibanti menceritakan apapun yang dia lihat dan dengar selama berada di istana. Binar matanya seolah tanpa dosa, dan tentu saja dia tidak menyadari bahwa itu adalah umpan untuk membuka kelemahan istana Gkinzerniyu.
Setelah dirasa cukup akan informasi yang di dapatkan oleh pengawal pangeran Sharklys, mereka pergi begitu saja meninggalkan tanpa menghiraukan Bargibanti lagi.
Ketika Bargibanti berencana mengejar kedua pengawal itu dengan kasar mereka menendang dan membiarkan terjerembab di antara batu-batu karang.
"Dia jahat, dia jahat... Aku juga harus jahat, aku jahat," dengan melompat lompat Bargibanti menyimpan amarah sambil bersembunyi di balik karang karena takut.
Pangeran Sharklys mendengarkan segala laporan dari pengawalnya secara seksama, lalu mengingat dengan yang baru saja ia perhatikan pada cermin ajaib miliknya dan semua tidak menutup kemungkinan bahwa rakyat istana Gkinzerniyu juga sedang menyusun kekuatan untuk melawannya.
"Ini tidak bisa terjadi, hancurkan mereka yang mencoba membangkang pada kemauanku! Aku tidak sabar rasanya menunggu seribu tujuh purnama tiba, ha...ha...ha... dan menyaksikan pernikahanku lalu tubuh Brenton akan lebur menjadi abu dan istana Gkinzerniyu beserta isi serta kekayaan mustika nya akan menjadi bagian dari kastil Lazurod, serta seluruh penghuni laut harus tunduk padaku ha...ha...ha..." Tawa pangeran Sharklys menggelegar burung-burung laut pun berterbangan tatkala mendengar tawa itu.
Kedua pengawal dengan tunduk mematuhi perintah dan mengundurkan diri keluar dari aula yang besar dan menyeramkan itu.
Sepeninggalan para pengawalnya, pangeran Sharklys kembali mematut dirinya pada cermin, lalu kembali mengamati setiap celah dimana bisa ia selidiki setelah mendapatkan laporan dari pengawal sebagai mata-matanya yang setia.
Namun....
Satu sisi walaupun cermin itu sakti, tetapi tidak mampu menembus sisi daratan yang samar dengan penglihatannya, "bedebah.... Siapa yang berani melawanku, dia harus mati! Saat ini ataupun nanti."
Rasa geram itu semakin menjadi tatkala Rorru mengepakkan sayapnya tanda gelisah di sekeliling tubuh pangeran Sharklys dengan jubah kebesarannya dia mengibaskan dalam amarahnya.
"Hei Rorru... Aku perintahkan padamu! selidiki daratan dan berikan aku berita yang kamu bawa, sedikitpun aku tidak ingin mendapatkan berita diluar ekspektasi dan rencana yang sudah aku susun dengan baik. Bunuh mereka yang menghalangiku, arrgghhh."
Rorru yang mendapatkan tugas, segera terbang dengan berkoak koak mengerikan di atas angkasa, menukik tinggi dan memasang tajam mata hitamnya dengan jeli ke arah yang ia cari. Daratan yang gersang dengan bebatuan dan rumput pun mengering seolah-olah dunia daratan sedang mendapatkan sebuah kutukan dari penguasa alam.
Burung bangkai menatap nanar kearah segala sisi, mencari sisa atau sendiri akan menghujamkan paruhnya yang tajam kepada mangsanya yang lemah.
🐬🐬🐬🐬🐬🐬🐬🐬
Asap mengepul dari sisi jauh bermil-mil, tempat dimana Filghofin menghangatkan tubuhnya yang dingin dan menikmati kehidupan barunya. Filghofin Orlando meski dalam kesendiriannya namun semangat untuk kembali hidup bermasyarakat dan mencari Ibu satu-satunya keluarga yang ia miliki.
"Aku tidak mungkin meninggalkan tempat ini tanpa perhitungan matang dan tujuan yang akan aku tempuh, oh.... Dimana Putri duyung sang penolong itu, dia menyuruhku tinggal disini tetapi sudah dua perputaran hari suaranya pun tidak aku dengar."
Teka-teki yang sulit ia pecahkan sendiri misterinya, akan bencana yang akan datang seperti pesan Miryan sebelum meninggalkannya.
Kalung liontin batu zamrud adalah titipan dari tetua bangsa Elf tidak lain adalah saudara tua dari ayah Filghofin Orlando yang telah menjadi tawanan seperti halnya Raja Brenton, sebagai jaminan pembebasan wabah yang ganas dan merajalela, dan semua itu karena ulah pangeran Sharklys, karena sebuah keganasan wabah yang pernah melanda negeri Elf beberapa tahun lalu.
Dua pemuka masyarakat yang sedang di tawan dalam beda tempat dan cara yang sangat tidak wajar, Raja Brenton raganya terbujur lemas didalam peti emas yang dilakukan pangeran Sharklys, berbeda untuk Darcassan yang ditawan dalam ruangan bawah tanah dengan minim sinar matahari untuk kebutuhan semua makhluk hidup pada umumnya.
Tidak berapa lama kebisingan terjadi tidak jauh dari sisi pantai dimana Filghofin mengabiskan waktu untuk membuat perahu rakit yang rencana akan ia gunakan untuk kembali pada kehidupannya yang normal kembali.
Suiiittt.....suiiittttt
Suara suitan dari batu karang yang tidak jauh dari tempat Filghofin terdengar dengan jelas, senyumnya mengembang senang dia tau siapa yang datang. Dengan tertawa lepas Filghofin mendekat dan menghampiri Scrully bersama putri Amatheia yang sedang bermain, mereka layaknya sahabat akrab dan lama tidak saling jumpa.
"Hii kalian, senang kalian datang dan ingat pada diriku. Semoga kalian tidak lupa dengan ku ha...ha...ha...."
Scrully seketika berdiri mendekati putri Amatheia seolah akan memberikan perlindungan padanya. Dengan mengacungkan capit kokohnya pada leher Filghofin. "wow...wow...maafkan aku, aku tidak bermaksud jahat padamu, ampun,"
Putri Amatheia pun dengan cepat menurunkan tangan Scrully dengan membisikkan sesuatu yang mudah Rully pahami.
"Dia tidak akan berbuat banyak Rully-ku apalagi menyakiti kita, percayalah! Kita bisa bersahabat dengannya, lihatlah! Kalung yang ia kenakan aku mengenalnya, aku pernah melihat bentuk kalung yang ia gunakan,enjadi bagian dari isi pustaka yang pernah aku baca dengan ibunda Ratu," Putri Amatheia berbisik pelan pada Scrully, lalu naik ke atas batu karang besar dan mengepakkan ekornya yang biru keemasan semakin indah dengan pantulan cahaya matahari.
"Kau masih ingat kami, wahai manusia? Kita pernah berjumpa sebelumnya." Putri Amatheia menoleh menatap Filghofin yang tetap santai walaupun hampir saja mendapatkan serangan dari Scrully.
Bersahabat namun masih dalam keadaan berjaga dan berhati-hati yang putri Amatheia lakukan saat ini menghadapi manusia sebagai teman barunya. Tidak seperti Filghofin yang mulai memahami pesan Miryan tentang bencana yang akan melanda negeri ikan duyung.
Filghofin menyadari putri Amatheia sedari tadi mencuri pandang ke arah kalung liontin batu zamrud yang ia kenakan, namun Filghofin membiarkan saja sebelum ada pertanyaan dan pembahasan tentang apa dan bagaimana fungsi semuanya..
Semakin lama mereka semakin akrab, bahkan Scrully pun lambat-laun melupakan kegarangannya dengan sikap posesifnya terhadap putri Amatheia. Hingga waktu harus memisahkan mereka, putri Amatheia harus kembali ke dasar laut..
🧜🧜🧜🧜🧜🧜🧜
To be continued 😉
Selamat menikmati dan tidak lupa salam sayang selalu by RR 😘
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 128 Episodes
Comments
⏤͟͟͞R𝐈𝐍𝐃𝐔ᵇᵃˢᵉ𝕸y💞🍀⃝⃟💙
penasaran sm ibunya she fil
itu pasti bukan kaum biasa
2023-03-23
0