Bel masuk bunyi bertepatan dengan para guru yang sudah melangkah keluar menuju kelas tujuan masing-masing. Di waktu yang sama, pak Samudra yang kebetulan baru akan masuk kelas, dan keberadaannya di seberang tempat parkir Amanda memarkir motor, refleks menghentikan langkahnya.
“Kayak suara motornya Manda?” pikir pak Samudra khawatir dan langsung menoleh ke gerbang sekolah yang kebetulan tertutup rapat.
Sebenarnya, pak Samudra khawatir Amanda kembali badung gara-gara motor yang ia berikan. Yang pak Samudra khawatirkan bukan motornya, melainkan keselamatan Amanda sendiri. Hanya saja jika Amanda serba diantar jemput untuk bepergiannya, pak Samudra takut Amanda yang sudah tertekan akibat hubungan Amanda dengan sang papah yang fatal, malah menjadi benar-benar kena mental.
“Enggak, ... itu pasti bukan Amanda apalagi Amanda sudah janji dan helmnya pun aku yang simpan,” yakin pak Samudra yang kemudian masuk kelas dan sampai menutup pintu kelasnya.
Padahal di depan gerbang, Amanda yang tidak memakai helm dan sudah menunggangi motor barunya, baru saja memberikan kedua jempolnya kepada satpam yang berjaga. Satpam tersebut ada di ujung gerbang dan memang baru ditutup dengan sangat cekatan demi menghindari staf sekolah khususnya pak Samudra.
“Non Amanda ih. Bisa kena masalah kalau gini caranya, tapi katanya saya suruh pura-pura enggak tahu,” batin sang Satpam buru-buru kabur.
Satpam tersebut memutuskan untuk kontrol keamanan area sekolah tak lama setelah Amanda yang membiarkan rambut panjangnya tergerai, mengendarai motor dengan kecepatan penuh.
“Maaf, Pak. Namun saya pastikan, ini yang terakhir. Karena sebenci apa pun saya kepada Anya, saya masih punya hati dan hati saya masih berfungsi dengan baik,” batin Amanda yang terus menerobos keramaian jalanan di pagi ini.
Miko yang terbilang waras dan memang murid tertib hingga cowok itu terpilih menjadi ketua OSIS, buru-buru masuk kelas. Miko tak jadi kepo pada apa yang Amanda lakukan. Tak semata karena Miko tak mau ketinggalan pelajaran. Namun Miko yakin, Amanda yang sudah tidak hobi bolos juga akan langsung masuk kelas layaknya dirinya.
“Nanti aku kepo ke Amanda pas jam istirahat saja apalagi sekarang mau ulangan matematika,” pikir Miko sudah langsung duduk di tempat duduknya yang ada di barisan paling belakang sebelah tengah.
Tak lama kemudian, di dalam kelas, pak Samudra yang sedang memberi materi pelajaran olahraga, tak sengaja menjatuhkan spidol yang baru akan pria itu gunakan untuk menulis.
“Ini, ... kenapa tangan kananku mendadak kebas dan perasaanku juga jadi enggak jelas?” batin pak Samudra yang berangsur menghela napas kemudian memungut spidolnya.
Pak Samudra tetap belum bisa mengendalikan perasaannya yang terus mengkhawatirkan suara motor Amanda.
Setelah menjelaskan panjang lebar dan memberikan muridnya kesempatan untuk mengajukan pertanyaan, pak Samudra sengaja menyempatkan diri untuk memeriksa ponselnya. Karena andai Amanda membuat ulah, pasti teman kelas Amanda akan mengabarinya di grup khusus kelas Amanda.
“Sepi, enggak ada kabar apa pun di grup kelasnya Manda,” batin pak Samudra yang harusnya merasa lega karena tak adanya pemberitahuan, dengan kata lain keadaan memang aman. Namun, hati pak Samudra tetap tidak tenang.
“Jika saya belum juga kembali sampai sepuluh menit lagi, kerjakan soal-soal dari halaman ....” Pak Samudra sengaja mengatur pelajaran agar ia tidak meninggalkan pekerjaannya begitu saja.
Berea mengurus kelas, yang pak Samudra lakukan adalah memastikan motor Amanda yang diparkir persis bersebelahan dengan motornya. Betapa terkejutnya pak Samudra karena motor Amanda sungguh tidak ada. Pria tampan berberewok tipis itu langsung kacau.
“Jangan panik, Sam. Jangan panik. Tenang, walau sudah pergi cukup lama, yang perlu kamu lakukan sekarang adalah melacak keberadaan sinyal ponsel Amanda!” lirih pak Samudra mencoba menenangkan dirinya sendiri.
Pak Samudra langsung lari ke ruang guru. Ia tak hanya mengambil kunci motornya, tapi juga membawa helm setelah sebelumnya juga sampai memakai jaket kulit hitamnya.
“Kamu ngapain ke sana, sih, Ndaa. Itu kalau enggak salah lokasinya ada si dekat stasiun!” batin pak Samudra sudah langsung mengendarai motornya dengan kecepatan penuh.
Seperti yang pak Samudra duga, Amanda sungguh mendatangi lokasi tak jauh dari stasiun. Motor Amanda saja berhenti di depan stasiun, tapi gadis cantik itu langsung mengendarai motornya ke sebelah dan tidaklah lain pabrik tahu milik orang tua Reymond.
“Sini!” lirih Riyan dan ketiga temannya yang sudah tak memakai motor. Keempatnya memberi Amanda kode keras.
Amanda langsung memarkir motornya di sebelah kedua motor temannya. Ada dua motor matic di sana dan Amanda kenali sebagai motor Riyan dan motor Daniel. Sisanya yaitu Irwan dan Doni, Amanda yakini hanya membonceng karena di sana tidak ada motor lain selain kedua motor tersebut. Namun di depan sana, ada empat motor gede dan salah satunya Amanda ketahui merupakan motor Reymond.
“Si Anya disekap di gudang itu!” ucap Riyan yang langsung mendekati Manda.
Manda buru-buru turun dari motornya sambil menatap kesal ruko tua dan mirip gudang di depan sana yang memang sepi karena yang ramai ada di sebelah.
“Si Reymond beraninya main di kandang sendiri. Musti disunat tuntas emang nih anak!” kesal Amanda yang juga buru-buru menuju gudang yang dimaksud. Jaraknya ada sekitar lima belas meter dari mereka memarkir sepeda motor.
“Nanti kalau Reymond tetap enggak mau ngalah, salah satu dari kalian wajib minta bantuan pegawai pabrik, ya!” pesan Amanda kepada keempat teman yang terus mengikutinya.
Layaknya perang gangster pada kebanyakan, sebagai pemimpin walau dirinya seorang perempuan, Amanda memimpin langkah. Amanda langsung menerobos masuk ruang paling ujung dan menjadi satu-satunya ruangan yang pintunya tertutup.
Mengejutkan, ternyata Anya dan Reymond berikut keempat teman Reymond malah tengah asyik menikmati asap nikotin dari batang rokok yang menghiasi tangan masing-masing.
Amanda langsung melirik keempat temannya setelah Anya juga langsung menyambutnya dengan senyum lepas. Senyum yang menegaskan kemenangan. Amanda langsung tidak baik-baik saja. Amanda curiga, dirinya hanya dijebak.
“Akhirnya kamu datang, Nda!” tegas Anya. Sambil terus menikmati asap nikotin dari rokoknya, ia mendekati Amanda. “Ikat dia, lalu kita siksa rame-rame. Yang mau icip-icip juga boleh banget, sekalian direkam siapa tahu laku!” lanjutnya.
“Betina dakjal emang kamu Nya! Kamu bayar berapa mereka sampai-sampai,” umpat Amanda yang tak bisa melanjutkan ucapannya. Ia menoleh sekaligus menatap wajah-wajah teman seperjuangannya yang langsung memberinya wajah tak bersalah. Keempatnya kompak menunduk dan ada sedikit penyesalan di raut wajah keempatnya.
“Belum terlambat untuk kalian mengubah keputusan!” ucap Amanda sambil menatap keempat temannya sambil sesekali menghela napas. “Aku benar-benar tidak akan marah andai kalian menyesali semuanya sekarang.”
“Amanda sayang! Akhirnya, cinta yang selama ini aku pendam-pendam, bisa aku salurkan sebentar lagi!” ucap Reymond sambil melangkah mendekat. Selain itu, ia juga sengaja menyemburkan asap nikotin rokoknya ke wajah Amanda.
Kedua tangan Amanda mengepal kencang di sisi tubuh. Dalam sekali sentakan, ia menendang pangkal paha seorang Reymond yang detik itu juga langsung menggeliat kesakitan memegangi bekas tendangannya. Namun tak lama kemudian, Anya menyuruh semuanya untuk mengamankan Amanda, sementara Anya buru-buru mengunci pintunya.
Tak mau menyerah, Amanda langsung sigap menghindar. Ia melepas tas di punggungnya dan siap menggunakannya sambil menatap waspada kedelapan cowok yang sudah mengepungnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments
Qaisaa Nazarudin
Wkwkwkwk Si Manda mah bego,Soknsoan ambil berat,Heran deh aku,Udah segitunya papanya,Inu tiri dan Anya memperlakukan dia,Masih aja mau nolongin,Yg ada kamu yg kejebak ogeb..🙄🙄
2024-10-12
1
Erina Munir
wahhh....bner2 tuh para banjingan...udh sekongkol rupanya...semogs samudra k buru dateng
2024-02-17
0
Sandisalbiah
tuh kan pas baca subtitle aja udah langsung deg²an.. mana Manjanya termakan pula.. lagian tuh si Ryan kan teman seperjuangan dia pas tawuran kok tega banget si berkhianat... 🙄🙄
2023-11-10
0