Di sekolah bertemu, di rumah lebih-lebih. Bahkan mereka satu kamar dan sekarang, mata tajam pak Samudra yang baru saja pulang, sudah mengawasi Amanda yang juga baru akan ganti pakaian. Kedua tangan Amanda masih mendekap pakaian ganti.
“Itu mata bisa enggak, lihatnya biasa saja!” kesal Amanda.
“Kalau kamu cuma mau ganti, di kamar sebelah saja soalnya aku mau mandi!” ucap pak Samudra masih dingin tanpa mempermasalahkan ucapan Amanda.
Layaknya pak Samudra, Amanda juga cuek dan langsung pergi tanpa pamit. Namun seperti sebelumnya, diam-diam mata tajam pak Samudra kembali mengawasi Amanda melalui lirikan. Bertepatan dengan Amanda yang pergi dan tak sampai menutup pintu, ponsel gadis itu yang ada di tengah-tengah tempat tidur bersebelahan dengan tas, berdering. Mula-mula merupakan dering lama dan itu dering telepon masuk dari nomor WA tak berkontak. Namun foto profil dari kontak tersebut sangat pak Samudra kenal. Itu foto Miko. Alasan yang membuat pak Samudra sengaja mengawasi ponsel Amanda lebih teliti. Apalagi setelah telepon masuk dibiarkan, kontak tersebut juga mengirimi Amanda pesan WA.
+6281 : Manda Sayang, nanti malam biasa, di tempat biasa. Kita taruhan lagi, dan aku yakin, kali ini aku menang! Kalau kamu sampai enggak datang, tunggu saja kejutan dariku!
Pak Samudra bisa dengan leluasa membaca pesan tersebut lantaran sekelas Amanda ternyata tak sampai memberi pengaman khusus untuk ponsel. Tak mau membuat Amanda mengetahui ulahnya, pak Samudra sengaja membersihkan obrolan di ruang obrolan tersebut.
“Dia beneran pacarnya Manda? Apa cuman suka?” pikir pak Samudra yang kali ini benar-benar masuk kamar mandi. Menggunakan air hangat, ia mengguyur tubuhnya dan berharap mendapatkan rasa rileks setelah hampir sehari ini mengajar olahraga. Namun tiba-tiba saja, ia ingat Amanda yang di jam olahraga tadi, terbilang ia siksaa menggunakan penggaris kayu.
Sekitar setengah jam kemudian, pak Samudra yang sudah rapi walau kepalanya masih setengah basah, membuktikan kekhawatirannya. Di dapur, Amanda yang tengah makan dan sampai disuapi ibu Sintia, sungguh memiliki banyak lebam khususnya di bagian kedua kaki. Amanda yang memakai celana di atas lutut, ditambah kulit gadis itu yang sangat putih, membuat setiap lebam akibat penggaris kayu pak Samudra, terlihat sempurna.
“Kalian satu sekolah, kan? Kok masih cuek-cuek gitu?” tegur ibu Sintia. Sebab Samudra yang baru mengambil makan sendiri sampai lebih memilih duduk di ujung ketimbang dekat dengan mereka.
Melihat pak Samudra yang begitu cuek, Amanda juga tak minat memulai, menjalin hubungan baik dengan pria itu. Apalagi pak Samudra juga sama sekali tidak terusik. Memilih langsung makan sambil membaca komik yang sampulnya tampak sangat tua.
“Mah, omong-omong Pia ke mana? Dari tadi enggak kelihatan?” tanya Amanda. Satu hal yang membuatnya langsung betah berada di sana. Tentu karena anggota keluarga yang begitu menghargai sekaligus memanjakannya, meski kenyataan tersebut tidak ia dapatkan dari pak Samudra.
“Jadwal Pia padat, Sayang. Les ini, les itu. Hari ini jadwal Pia les piano sama karate,” jelas ibu Sintia yang bersiap menyuapi Amanda lagi.
Setelah menerima suapan dari mamah mertua yang begitu memanjakannya, Amanda berkata, “Pak Samudra tahu, jadwal putrinya dari awal bangun sampai nanti mau tidur lagi?”
“Mulut kamu masih penuh makanan, jadi jangan banyak bicara,” sergah pak Samudra masih dingin tanpa sedikit pun melirik Amanda.
Mendapatkan tanggapan tersebut, Amanda langsung mendengkus kesal sambil melirik sinis yang bersangkutan. “Ada, manusia senyebelin itu dan fatalnya dia suamiku! Berasa berhadapan sama demmit!” batinnya.
Lain dengan Amanda, ibu Sintia yang menjadi saksi di sana malah merasa gemas dengan interaksi keduanya. “Cepat akur yah, kalian,” harapnya dalam hati.
***
Satu hal yang membuat pak Samudra bersyukur mengenai Amanda, gadis itu tipikal yang tidak mementingkan ponsel. Sejak beres makan, Amanda langsung fokus mengerjakan setiap tugas sekolah. Tugas sekolah dari bulan lalu, 4 bulan terakhir sebelum mamah gadis itu meninggal. Karena sejak itu juga, nilai tugas Amanda benar-benar kosong.
“Bantuin apa gimana, sebanyak ini loh!” keluh Amanda merasa frustrasi. Apalagi jika ia melihat tumpukan tugas yang tak hanya memenuhi meja belajar di kamar pak Samudra. Karena tumpukan buku pelajaran juga memenuhi lantai di sekitar kedua kakinya.
Yang membuat Amanda heran, kenapa pak Samudra sampai berinisiatif meminta kesempatan untuknya agar ia memiliki nilai layaknya murid lain? Iya, semua tugas yang sedang ia kerjakan dan sengaja pak Samudra sediakan untuknya, murni usaha pria itu agar tahun ini juga, Amanda bisa lulus sekolah.
“Ini balsem pegel linu. Kalau enggak terbiasa, pakai koyok saja. Ini suplemen biar enggak gampang sakit. Terus yang ini, suplemen otak biar kamu jadi agak cerdas,” jelas pak Samudra sambil memberikan wadah plastik kecil berwarna putih berisi aneka yang ia sebutkan.
Amanda langsung diam, kemudian menatap curiga yang bersangkutan, dan sampai saat ini masih berdiri di sebelahnya. Mengawasi layaknya bos atau malah guru pembimbing khusus. Amanda dapati, langit di luar sana sudah mulai petang, bahkan ibu Sintia sudah beberapa kali mengirimi mereka camilan untuk teman belajar.
“Apa?” tanya pak Samudra benar-benar irit bicara. Sekadar menatap Amanda saja, ia malas melakukannya.
“Tumben baik?” todong Amanda menuangkan kecurigaannya. “Jangan mentang-mentang bentar lagi malam, jadi Bapak sengaja usaha, ya!”
Pak Samudra mengernyit tak mengerti menatap sang istri sambil bersedekap. “Usaha bagaimana?”
Tanpa menatap Samudra, Amanda mengikuti ucapan pria itu yang baginya malah pura-pura tidak tahu. “Usaha bagaimana?” Bibirnya monyong-monyong.
Mendapati itu, pak Samudra langsung menggeleng tak habis pikir. “Itu bibir jangan dibiasain monyong-monyong begitu.”
Mendengar itu, Amanda langsung diam sekaligus makin curiga kepada pak Samudra yang ia yakini akan mulai membahas hal jorrok dalam tanda kutip. “Kenapa?”
“Bayangin kalau tuh bibir malah enggak bisa balik!” tegas pak Samudra.
Detik itu juga, Amanda yang awalnya kembali monyong-monyong mengikuti ucapan pak Samudra, buru-buru menghentikannya. Kedua tangan Amanda refleks memegangi bibir tipisnya. Mendapati itu, pak Samudra yang pergi tapi diam-diam mengawasi, refleks menahan senyumnya.
Sepanjang mengawasi Amanda, pak Samudra juga beberapa kali memergoki ponsel Amanda berdering. Namun, Amanda yang bisa ia pastikan mengetahuinya, benar-benar cuek. Gawai pintar itu tetap dibiarkan berada di tengah tempat tidur. Hingga malam makin larut, selain Miko yang masih menunggu kedatangan Amanda di tempat biasa mereka balapan, di kamar Amanda yang sudah sangat bekerja keras juga sampai ketiduran. Amanda ketiduran di atas buku pelajaran yang tengah gadis itu pelajari. Sedangkan pak Samudra yang mengawasi, masih melakukannya dengan sangat tenang.
Pak Samudra memindahkan tubuh Amanda dengan sangat hati-hati, kemudian merebahkannya ke tengah-tengah tempat tidur. Ia tak lantas menyelimuti tubuh gadis itu. Sebab ia sengaja mengoles setiap lebam dengan balsem oles khusus. Beberapa koyok juga ia pasang di kedua telapak kaki, juga bagian lain termasuk kedua tangan, pinggang, sekaligus pundak.
“Tumben Manda enggak nyaut? Manda sehat, kan? Jadi khawatir gini,” lirih Miko yang sampai sudah ditinggal semua temannya, selain ia yang sampai tidak ikut bertanding. Bergegas ia pergi dari sana, menuju rumah orang tua Amanda. Sambil menunggu di depan gerbang, ia terus mencoba menelepon Amanda, mengirimi gadis pujaannya itu pesan. Namun tentu saja, semua itu langsung diterima oleh pak Samudra yang juga langsung membersihkan setiap jejak yang Miko kirimkan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments
Erina Munir
mandaa..manda...kesiaan...kluar dri kandang mcan...masuk k kandang harimau
2024-02-16
1
adning iza
jgan jutek bget lah pak
2023-11-27
0
Sandisalbiah
Amanda..gadis remaja yg kehilangan kasi sayang dan perhatian... sejutek² nya dan seketus²nya dia ke pak suami, kalau Samudra kasih perhatian setiap harinya maka cepat atau lambat maka Manda bakalan lulu juga...
2023-11-10
0