“Saya terima nikah dan kawinnya Amanda Cesilia Wicaksana binti Edo Sultan Wicaksana, dengan emas kawin tersebut dibayar tunai!”
Amanda nyaris berteriak dari pinggir tangga, tapi ibu Sintia langsung merengkuhnya. Wanita itu memperlakukannya penuh ketulusan, mirip almarhumah mamah Amanda.
“Alhamdullilah Sayang, mulai sekarang enggak akan ada yang bisa melukai kamu lagi. Mulai sekarang, sudah ada yang jagain kamu,” ucap ibu Sintia.
“Tapi enggak harus nikah gini juga kali, Tan!” protes Amanda. “Lagian kalaupun aku enggak nikah, aku tetap bisa jaga diri sendiri. Semacam bantiing orang saja, aku bisa dan memang saking gampangnya!” Amanda yakin seyakin-yakinnya. Namun yang membuat hatinya melow, ibu Sintia yang menatapnya penuh ketulusan, malah berlinang air mata.
Tanpa mengalihkan tatapannya dari kedua mata Amanda, ibu Sintia membingkai wajah Amanda menggunakan kedua tangannya. “Izinkan Tante menjalankan wasiat mamah kamu, ya? Mulai sekarang, kamu jangan panggil tante lagi karena mulai sekarang juga, kamu sudah jadi menantu sekaligus anak Mamah. Iya, mulai sekarang, tante Mamah kamu. Dan mulai sekarang juga, kamu jangan pernah merasa sendiri lagi. Urusan papah kamu sama keluarga barunya, sudah biarin saja mereka. Semacam gana-gini peninggalan mamah kamu, nanti Mamah bantu perjuangkan!”
“Bisa-bisanya papah kamu malah mengorbankan kamu hanya untuk kebahagiaannya sendiri bersama keluarga barunya. Mamah pastikan, mulai sekarang juga, papah kamu enggak berani macam-macam lagi ke kamu!”
Apa yang ibu Sintia katakan membuat hati seorang Amanda tersentuh. Ternyata ada orang yang bisa memahami isi hati Amanda, memahami betapa ia tersiksa dengan keputusan sang papah yang menikah lagi, ditambah perubahan sang papah yang juga menjadi pilih kasih. Mungkin karena ini juga, hati seorang Amanda luluh. Amanda tidak bisa menolak hal yang sebenarnya sangat tidak bisa ia terima.
“Tapi kenapa harus nikah, Tan? Bahkan aku masih sekolah. Mikirin pelajaran saja sudah bikin rambutku keriting, apalagi mikirin suami, anak, dapur, rumah ... ini namanya bundir!”
Sangat sabar, ibu Sintia menghela napas pelan. “Biar ada yang jagain kamu. Urusan sekolah, nanti bisa diatur karena Mamah jamin, pernikahan ini bersifat rahasia! Termasuk urusan kamu sama Samudra, kalian juga akan tetap tidur terpisah, terserah kalian yang atur sendiri. Semacam urusan masak dan lain-lain, ... sudah, kamu enggak usah urusin. Daripada kamu tetap bareng papah kamu, lama-lama kamu malah hancur!” Selalu itu yang ibu Sintia katakan, sampai Amanda lelah untuk bertanya lagi.
Amanda tahu, tidak ada pilihan yang benar-benar akan menguntungkan. Pasti ada risiko, tapi paling tidak, menjalani pernikahan rahasia dengan Samudra akan membuatnya tidak berurusan lagi dengan Anya maupun ibu Lista. Tentunya, ia juga tidak harus terus-menerus melihat kehangatan keduanya dengan sang papah yang selalu membuatnya cemburu.
“Ya sudahlah, gampang kan gini doang. Toh, aku juga enggak harus jadi IRT. Alasanku di sini murni agar papah dan keluarga barunya enggak seenaknya melukai aku! Oke, aku siap!” pikir Amanda.
Amanda pikir, memang semudah itu. Jadi, gadis itu mau-mau saja menerima. Membiarkan ibu Sintia menuntunnya masuk kembali ke kamar yang dikata wanita itu akan menjadi kamarnya.
Sekitar dua jam kemudian, pak Samudra memasuki kamar yang Amanda tempati. Pria berusia dua puluh sembilan tahun itu melepas peci hitam dari kepalanya. Suasana kamar yang sepi membuatnya mengamati kamar lebih teliti.
“Beneran, dia enggak tidur di sini? Padahal dari tadi kayaknya aku enggak lihat dia gentayangan, dalam artian, harusnya dia tetap di kamar ini.” Pak samudra mematikan lampu nakas, membuat suasana di sana benar-benar gelap sebelum akhirnya mengambil posisi tidur di pinggir sebelah kanan dan langsung lelap.
Padahal di kamar mandi, Amanda yang memakai headset, tengah membaca buku sambil duduk di kloset. Barulah sekitar tiga puluh menit kemudian, gadis itu keluar dari kamar mandi. Kenyataan kamar yang sudah gelap gulita membuat Amanda berpikir lampu nakas yang awalnya menyala, russak. Apalagi ketika ia memastikan, benar tidak ada perubahan. Padahal pak Samudra sengaja mencabut colokannya karena pria itu menggunakannya untuk mengisi daya ponselnya.
Tanpa banyak berpikir apalagi ketika ia melangkah memastikan pintu, pintu juga dalam keadaan terkunci, Amanda segera mengambil posisi tidur di seberang Samudra tidur. Amanda tidur dengan kedua telinga tang masih disumpal headset.
“Kok dirasa-rasa ada parfum laki-laki, ya? Kayaknya ini parfumnya si Samudra, dan aromanya kuat banget, seolah tuh orang ada di sini?” pikir Amanda. Namun, kenyataannya yang telanjur sangat mengantuk, membuatnya tidak kuasa memastikan.
Baik Amanda maupun pak Samudra sama-sama tidur dengan lelap. Bedanya, Amanda tidur dengan gaya baling-baling dan benar-benar tidak bisa tenang. Beberapa kali, kaki maupun tangan gadis itu menimpa Samudra. Namun yang ditimpa juga kebal dan hanya sesekali menyingkirkan asal. Kedua sejoli itu sama sekali tidak curiga karena telanjur lelap dengan tidur mereka. Barulah ketika dering dari beker bunyi, pak Samudra langsung terjaga.
Dengan malas pak Samudra merangsek menuju nakas di sebelah Amanda untuk mematikan beker yang ada di sana. Tak sampai benar-benar di dekat nakas, tangan pak Samudra sudah berhasil meraih beker. Amanda yang awalnya masih lelap dan sama sekali tidak terusik oleh berisiknya beker yang sempat berdering, langsung terusik oleh sentuhan tangan pak Samura yang tak sengaja merabaa dadanya.
Tak kalah terusik, pak Samudra yang awalnya masih merem-melek dan benar-benar malas untuk bangun juga menjadi bengong. Tangan kanannya menyentuh sesuatu, dan pria itu paham apa itu.
Tanpa direncanakan, kedua mata Amanda maupun pak Samudra berangsur terbuka. Tatapan mereka berakhir bertemu, kemudian refleks memastikan apa yang tangan pak Samudra genggam.
“ARRRRRRRGGGGGGHHH!” Amanda berteriak sekencang-kencangnya, kemudian refleks menenndang tubuh pak Samudra yang masih ada di atas tubuhnya.
Tubuh pak Samudra berakhir mental dan terkapar di lantai saking kuatnya tendangan yang Amanda lakukan. Pak Samudra meringis kesakitan, sementara Amanda yang panik sekaligus syok, buru-buru bangun. Amanda melangkah pergi menuju dekat pintu, menekan sakelar listrik dan membuat suasana di sana terang-benderang.
“Kamu ngapain ... kamu ngapain ada di kamar ini, dan tadi, tadi tangan kamu ....” Amanda benar-benar kacau karena sekadar bertanya, ia sampai tidak bisa saking bingungnya. Untuk pertama kalinya, ada pria yang dengan lancang memegang bagian dadanya. Dan meski pelakunya memang pria yang sudah menjadi suaminya, ia tatap marah.
Amanda mondar-mandir sambil menyikap dadanya menggunakan kedua tangan. Sesekali, ia melirik pak Samudra yang masih diam. Pria itu berangsur duduk dan malah pergi begitu saja tanpa sedikit pun membalasnya apa lagi meminta maaf.
“Heh, langsung nyelonong begitu saja? Seenggaknya kamu minta maaf dengan apa yang sudah kamu lakukan!” sergah Amanda sengaja mengejar.
Pak Samudra yang sudah masuk kamar mandi langsung balik badan. “Ini kamar aku, dan kita sudah menikah. Tolong jaga sikap kamu. Jangan sampai aku jadi orang yang keji juga ke istri sendiri!” tegasnya menatap Amanda penuh peringatan. Tak lupa, ia juga menatap luka di tangan Amanda yang sampai diperban.
Amanda yang memang masih marah, langsung bungkam. “Jari, semalam kita beneran tidur bersama?”
“Enggak terjadi apa-apa. Tadi itu aku hanya refleks buat matiin beker. Lagian, beker seberisik itu, kamu tetap anteng, seolah di kamar ini hanya ada aku!” balas Pak Samudra.
“Tapi yang berisik itu bekernya, dan matiinnya pun harusnya yang disentuh bekernya, bukan dada aku, kan?” protes Amanda. Kali ini pak Samudra tak lagi menjawab. Pria itu hanya menghela napas dalam kemudian menggeleng tak habis pikir sambil masuk ke kamar mandi.
“Astaga ... kami beneran sudah langsung tidur bareng dan dia, ... dia sudah langsung pegang-pegaang dada aku?” batin Amanda masih merasa sangat tidak nyaman. “Andai tadi aku enggak bangun, pasti dia sudah lebih! Dasar dudaa garong!” batin Amanda. Belum genap dua puluh empat jam mengenal pak Samudra, ia sudah langsung sebal kepada pria itu. Tanpa peduli status pria itu telah menjadi suaminya, kesan pertama Amanda terhadap pak Samudra sudah langsung bobrokk.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments
𝐙⃝🦜 Kᵝ⃟ᴸ ƘāRın ツ
judulnya bikin pengen mampir🙈
2024-09-15
2
~ янιєz🖤 ²²¹º
wkwkk baru dada mand.. udah pencak silat n ngereog aja😅🤣🤣
2024-03-11
0
Erina Munir
hahaaa...aya2 waee
2024-02-16
0