Amanda sadar, sepanjang jam olahraga yang dipandu oleh pak Samudra, pria itu semakin jeli mengawasinya. Karena meski hanya melalui lirikan singkat, mata pak Samudra memang sejeli itu. Hanya saja dari semuanya, walau tangan kanan Amanda terluka, gadis itu menjadi siswi paling cekatan sekaligus fokus. Tolak peluru yang Amanda lakukan sampai melampaui lemparan terjauh dari murid laki-laki.
“Ulangi,” lirih pak Samudra yang selalu saja mengetes kesabaran Amanda.
“Apa lagi, sih? Kan udah!” kesal Amanda.
“Kaki kamu melewati garis start!” tegas pak Samudra lirih.
Tanpa terlebih dahulu menjawab, Amanda langsung memastikan kaki kanannya. Apa yang Samudra katakan memang benar, tapi masalahnya kaki kanan Amanda hanya lewat sedikit dan itu tidak lebih dari satu senti.
“Enggak ada satu senti, Pak!” kesal Amanda. Namun pria yang ia ajak bicara terlihat jelas tidak akan menerima protesnya.
“Pentingnya menghargai disiplin akan kamu rasakan ketika nanti kamu sudah dewasa!” tegas pak Samudra.
Bukannya merasa mendapat pencerahan, yang Amanda rasakan malah dendam. Amanda yang juga merasa tertantang, dengan sigap menerima bola besi untuknya kembali melakukan tolak peluru. Lain dengan para siswi yang mendadak menjadi pillon di setiap mereka dekat dengan pak Samudra. Bukannya sibuk tebar pesona sekaligus mencuri perhatian, mereka malah meleot duluan.
Bola peluru seberat tiga kilo sudah Amanda terima walau Amanda masih fokus menatap kesal pak Samudra yang juga masih menatapnya dengan tatapan menantang. Juga, walau Amanda mengendalikan bola peluru itu menggunakan tangan kiri lantaran tangan kanannya masih terluka. Tentunya, berbeda dari siswi lain yang serba manja dan ingin diperhatikan oleh pak Samudra, Amanda yang walau sedang sakit, tetao menjadi pribadi mandiri walau sikapnya benar-benar bar-bar.
Kini, bukannya melempar ke depan, ke rute yang harusnya menjadi pendaratan peluru, Amanda malah melakukan ancang-ancang dengan nyaris melemparkan bola besinya ke wajah pak Samudra. Semua yang ada di sana dan melihatnya dibuat tercengang sekaligus syok. Bahkan walau pak Samudra adem ayem menahan bola besinya menggunakan telapak tangan kiri.
“Lingkaran pelurunya ada di depan, di lapangan. Bukan di wajah saya!” tegas pak Samudra lirih sekaligus santai.
Amanda mendengkus kesal. Dalam hatinya sambil mundur dari pak Samudra, ia terus berpikir, kapan dirinya memiliki kesempatan untuk mengerjai pak Samudra habis-habisan.
“Lakukan ancang-ancang yang benar. Jangan lupa, jangan sampai lewat garis start,” ucap pak Samudra terus mengawasi Amanda dari ujung kepala sampai kaki. Di tangan kanannya, ia memegang penggaris kayu sepanjang satu meter. Sementara tangan kiri memegang buku absensi. Dan di lehernya ada kalung dilengkapi peluit.
Menahan kesal, Amanda siap melempar lagi. Ingin membuktikan bahwa dirinya memang bisa. Namun, dari belakang, suara Miko si Ketos idaman para siswi, berseru, “Ayo Amanda sayang! Kamu pasti bisa!”
Bukannya melempar peluru besi sejauh mungkin, yang ada, Amanda malah menjatuhkan bola pelurunya begitu saja. Andai pak Samudra tidak cekatan menangkap peluru tersebut, remuk kaki Amanda yang kebetulan nyeker sendirian.
Setelah menatap tak percaya pak Samudra yang malah mendadak menjadi dewa penolongnya, Amanda langsung buru-buru mengambil bola pelurunya dari tangan kanan pak Samudra. “Rese, kamu yah, Mik! Sini kamu kalau berani! Sini!”
Amanda terus berlari mengejar Miko yang tak hentinya menghindar sambil tertawa girang minggat dari area lapangan yang ada di belakang kelas.
“Heh! Jangan minggat, kamu!” kesal Amanda terus mengejar.
“Dia beneran pacarnya? Kalau enggak salah, itu Miko si ketua OSIS, kan?” pikir pak Samudra langsung menyikapi keadaan dengan serius. Ia sengaja pamit pada murid-murid untuk menyusul Amanda. Karena jika melihat dari watak Amanda, gadis itu tetap tidak akan mendengarkan temannya, walau itu atas perintahnya.
“Mereka memang sudah jadian, ya?” bincang siswi di sana yang menjadi langsung ON jika tidak ada pak Samudra.
“Miko sama ketua tim hore itu, kan? Siapa itu namanya, si Anya, ya?”
“Si Anya yang wakil ketua OSIS, maksudnya?”
Meninggalkan obrolan para siswi, Amanda yang kehilangan jejak Miko, malah kembali berhadapan dengan sang suami yang benar-benar galak sekaligus menyebalkan.
“Balik!” titah pak Samudra lirih. Namun, suasana sekolah yang tenang karena kini masih jam istirahat, membuat suara itu terdengar dengan baik, ditambah telinga Amanda yang juga masih bekerja dengan baik.
“Dua detik kamu masih diam apalagi kabur di tengah jam pelajaran, saya potong nilai kamu!” lirih pak Samudra sengaja mengancam.
“Ya sudah potong saja!” sewot Amanda yang segera balik badan meninggalkan pak Samudra.
Tak diduga, pak Samudra meraih pergelangan tangan kanan Amanda yang tidak memegang peluru besi, kemudian dalam sekejap, pria itu juga sampai nekat memanggul tubuh ramping Amanda.
“Pak, ... Pak, ini sekolah!” panik Amanda setelah sebelumnya merelakan bola besinya turut diambil alih oleh tangan kiri pak Samudra. “Ya Tuhan, guru galak ini suamiku. Bayangin, di sekolah saja diawasin, lebih-lebih di rumah!”
Dari balik pintu perpustakaan yang perlahan terbuka, Miko yang keluar dari sana sambil tersenyum jahil, langsung bengong menatap lemas pandangan di depan sana. Ada laki-laki lain yang mendekati Amanda dan itu guru baru di sekolah mereka. Iya, Miko merasa cara pak Samudra memperlakukan Amanda karena memang ada yang beda.
Bergegas Miko menyusul, diam-diam mengamati dari pintu menuju lapangan belakang. Dalam diamnya, ia terus serius mengawasi, dan memang melihat dengan jelas bahwa sepanjang mengajar, pak Samudra terus memperhatikan Amanda, memperlakukan Amanda dengan sangat berbeda. Karena meski pak Samudra cenderung galak dan di beberapa kesempatan tak segan memukkul Amanda menggunakan penggaris kayu, cara itu Miko yakini sebagai wujud dari perhatian khusus pak Samudra kepada Amanda.
“Pak Samudra suka Amanda?” pertanyaan itu langsung Miko todongkan pada pak Samudra ketika pria itu baru keluar dari ruang guru, di jam pulang sekolah. Hanya ada mereka berdua dan Miko sudah memastikannya, selain suasana sekolah yang memang sepi.
Pak Samudra yang hafal suara Miko ditambah nama Amanda sampai disebut, dengan dingin segera balik badan. Di depan ruang guru yang baru ia tinggalkan, ia sungguh mendapati Miko berdiri menunggu jawaban darinya.
“Ada apa?” pak Samudra sengaja pura-pura tidak mendengar ucapan pemuda tampan yang memang good looking, di hadapannya. Tak ubahnya dirinya, Miko yang memiliki postur tinggi tegap itu juga siap pulang. Pria berkulit putih bersih tersebut sudah menghiasi punggung dengan tas gendong warna hitam. “Barusan, kamu berbicara dengan saya?”
“Pak Samudra suka Amanda?” Miko mengulang pertanyaannya. Di hadapannya, pria yang selalu bersikap tenang hanya mengerjap, menghela napas kemudian menggeleng. Kemudian, pria itu pergi tanpa balasan berarti. Membuatnya makin yakin, guru baru di sekolahnya itu memang naksir Amanda, gadis yang dari bangku SMP sudah ia incar.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments
Sandisalbiah
Manda si gadis bar bar gak bakalan tunduk dgn namanya cinta... krn dia bukan tipe cewek yg gampang baper dgn gombalan dan pesona cowok tampan...
2023-11-10
1
M Raihan Afif Siahaan
kalah start kamu mik
orang itu biniknya 😂
2023-10-04
0
Sartini Cilacap
Miko sudah kalah dari Pak samudera
2023-04-04
1