“Apa ini?” tanya Amanda sambil menatap kunci motor di tangan kanannya dan baru saja ia terima dari pak Samudra.
“Buat kamu. Lagian per hari ini, kamu bakalan sibuk les dan bisa jadi, jadwalnya bentrok sama mamah maupun Pia,” jelas pak Samudra yang kemudian memakai helm dan siap pergi ke sekolah.
Amanda langsung tersenyum semringah kemudian buru-buru meraih helm berwarna hitam yang ada di atas motornya. Itu motor yang ia pakai ketika balapan dengan pak Samudra.
“Jangan kebut-kebutan, jangan buat sarana bolos apalagi tawuran!” ucap pak Samudra wanti-wanti dengan caranya yang benar-benar galak mirip ketika ia bersikap di sekolah. Padahal, ia mengatakannya sambil membantu Amanda memakai helm.
“Bapak baik banget. Pasti ada maunya,” ucap Amanda hati-hati dan tak berani menatap kedua mata sang suami.
“Ya tentu. Mau saya banyak. Selain ingin kamu jadi murid berprestasi seperti Pia, saya juga tidak lupa buat rutinitas malam jumat kita!” jawab pak Samudra sewot.
“Ih, Bapak, ih! Serem kalau sudah begitu.” Amanda buru-buru menjaga jarak, tapi pak Samudra buru-buru mengulurkan tangan kanan kepadanya.
“Apa lagi?” tanya Amanda antara takut sekaligus curiga. Karena jika boleh memilih, ia lebih siap menerima banyak tugas sekaligus soal dari pak Samudra, ketimbang bermesraan apalagi menjalani perannya sebagai istri yang baik untuk pria gagah itu.
“Biasakan salaman,” ucap pak Samudra.
“Cuma salaman, kan?” tanya Amanda masih ragu menjabat tangan kanan pak Samudra yang pada akhirnya tetap ia jabat. Malahan, ia menyalaminya dengan sangat takzim.
“Kalau kamu mau kasih lebih, saya terima dengan senang hati!” balas pak Samudra yang langsung mendapat lirikan sinis dari Amanda. Malahan tak lama setelah itu, Amanda bertingkah seolah gadis itu akan menggigitt punggung tangan kanannya.
“Eh, eh, ... sembarangan! Nanti saya kena rabies!” omel pak Samudra.
“Ingat loh, yah! Jangan macam-macam ke aku karena aku berabies! Biuhh!” kesal Amanda yang sampai nyaris meludahii tangan kanan pak Samudra andai pria itu tak buru-buru mengakhiri jabatan tangan mereka.
“Cantik-cantik kok waras?!” kritik pak Samudra sambil menatap kemudian menggeleng ngeri kepada Amanda.
Amanda cuek dan telanjur bahagia karena motor baru yang ia terima. Buru-buru ia menunggangi motornya kemudian menyalakan mesin motornya.
“Jangan ngebut-ngebut!” pesan pak Samudra lagi. Ia sengaja selalu berada si belakang Amanda, tapi baru juga di jalan depan rumah, gadis itu sudah membuat motornya untuk jumping-jumping.
Pak Samudra sibuk menekan klaksonnya, dan terakhir sampai nekat membuka kaca helm sang istri. Tak sampai di situ karena ia sampai menarik kasar hidung Amanda yang cukup bangir.
“Bapak KDRT, ih!” kesal Amanda yang segera melanjutkan perjalannya. Ia tetap memimpin karena tampaknya pak Samudra sengaja di belakang untuk mengawasinya.
Sampai di sekolah, kehadiran Amanda dan pak Samudra yang sama-sama memakai motor, langsung disambut hangat oleh semuanya.
“Nanti makan siangnya mau bareng? Hari ini kamu langsung les dan enggak bawa bekal, kan? Kita bisa makan bareng di kantin,” ucap pak Samudra sesaat setelah melepas helmnya dan ia masih duduk di motor yang mesinnya baru dinyalakan.
“Aman, gitu?” balas Amanda yang sudah sampai turun dan tengah menyisir asal rambut panjangnya yang tergerai menggunakan jemari kedua tangannya.
“Aman. Sekarang semuanya sudah baik ke kamu, kan?” balas pak Samudra sambil turun dari motor.
Amanda menghela napas pelan sekaligus dalam. Ia menggeleng. “Enggak juga. Soalnya mereka begitu karena mereka ingin mencuri perhatian Bapak.”
Pak Samudra yang melepas sarung tangan warna hitamnya berkata, “Mereka boleh saja berusaha mencuri perhatian saya, tapi perhatian, hati, dan juga cinta saya hanya buat kamu.”
“Ih, ... jijayy!” ucap Amanda refleks dan memang paling geli jika sudah berkaitan dengan cinta.
“Kok jijjayy, sih?” protes pak Samudra lirih saking bingungnya bagaimana caranya agar seorang Amanda percaya pada keseriusannya.
“Ih Pak, ... jangan bahas yang begitulah, aku belum siap. Rasanya geli gimana gitu. Bukan aku banget!” ucap Amanda yang buru-buru menitipkan helmnya kepada pak Samudra sebelum akhirnya kabur begitu saja.
“Aneh ... memang aku yang bukan kriterianya, apa hatinya yang telanjur mati rasa?” pikir pak Samudra yang menenteng dua helm miliknya dan milik Amanda. Ia melepas kepergian Amanda yang sampai sekarang masih lari. Beda dari biasanya, semenjak ia mengaku Amanda merupakan adiknya, gadis itu menjadi mendapat banyak perlakuan hangat dari pihak sekolah termasuk para guru yang awalnya menanggapi Amanda dengan bengis.
Pak Samudra berpikir, alasan para guru menanggapi Amanda dengan bengis karena selama ini Amanda hobi bolos, tawuran membawa nama baik sekolahan, selain Amanda yang sangat susah diarahkan.
“Begitu-begitu dia istriku. Dan aku sudah sayang, apalagi dia juga sayang banget ke Pia dan Pia pun sayang banget ke dia. Semoga ke depannya, selama-lamanya, kami bisa menjadi keluarga bahagia,” harap pak Samudra jauh di lubuk hatinya.
“Nda!” panggil suara cowok dari lorong sebelah. Itu bukan Miko karena Miko ada di lorong depan selaku lorong yang akan Amanda tuju. Selain itu, Miko yang awalnya akan memanggil Amanda juga menjadi tidak jadi karena gadis itu telanjur buru-buru ke lorong sebelah. Tadi, kedua mata Amanda sempat menatap kedua mata Miko ketika gadis itu akan masuk ke lorong sebelah.
“Ada apa, yan?” tanya Amanda khawatir sambil memegangi kedua kaitan tas gendongnya.
Riyan, pemuda yang juga memakai seragam layaknya siswa di sana merupakan satu dari belasan yang biasanya ikut tawuran.
“Tadi aku lihat Anya dibonceng paksa sama si Reymond! Gila saja dia, Anya nangis-nangis minta tolong,” ucap Riyan.
Reymond merupakan murid sekolah sebelah yang selama empat bulan terakhir menjadi musuh bebuyutan Amanda. Reymond ini terkenal sering membuat onar baik di sekolah sendiri maupun di area depan sekolah Amanda. Dari merampass uang jajan semacam memalak, memukull, meminjam motor siwa yang disuka secara paksa, mengerjai siswa dan menjadikannya kaccung, benar-benar pembully ulung. Parahnya, Reymond dan anak buahnya juga tak segan meleccehkan siswi atau wanita yang disukai. Semacam Anya, bisa jadi gadis yang sangat Amanda benci itu sedang Reymond incar. Alasan Amanda sampai turun tangan melawan Reymond pun karena pemuda itu pernah mengelus bokkong bahkan dada Amanda dengan sengaja.
Hanya saja, saat ini Anya yang jadi korban. Amanda benci Anya dan segala ulah saudari tirinya itu. Namun jika Amanda tak sampai menolong, kasihan juga Anya.
“Aku sama anak-anak pamit dulu, ya. Kami berangkat dulu!” pamit Riyan.
Amanda galau. Haruskah ia menyusul, atau cukup teman-temannya saja yang mengurus? Pastinya Amanda juga tidak lupa, ia sudah berjanji tidak tawuran lagi.
“Apa lapor polisi saja, ya? Polisi mana mau urus semacam ini,” pikir Amanda sampai menggigit bibir bawahnya kuat-kuat.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments
Erina Munir
biarin aja ndaa...ya ampuun...ngapaiin cobaa..udh d hina2 juga
2024-02-17
1
Sandisalbiah
Hadeh.. kan bego deh Manda... dr pd mikir lapor polisi kan bagus lapor ama pak suami..! lagian Anya kan jahat ke kamu, Rayon juga musuh kamu.. dan mengingat Anya yg sering menghalalkan segala cara buat jatuhin kamu, bisa aja kan ini drama yg sengaja dia buat utk kamu... pinter dong.. mikir dulu sebelum salah buat tindakan.. 🤔🙄
2023-11-10
0
Bekti
jgn2 Manda dijebak dgn Anya n Reymond 🤔🤔🤔 ud jgn hiraukn tuh Kunti Anya biarkn aj drpd km knp2 Manda
2023-04-13
1