Senyum yang kelewat cool, terukir sempurna di kedua sudut bibir tebal milik pak Samudra yang hanya sedikit tertarik. “Akhirnya Amanda punya alasan untuk menjadi lebih baik lagi,” batin pak Samudra yang merasakan kebahagiaan sempurna.
Pak Samudra merasa tetap menang, meski bukan dirinya yang memenangkan pertandingan. Pertama karena tanpa harus dipaksa, Amanda telah memiliki alasan untuk bertahan bahkan berjuang. Kedua, alasan semua itu terjadi malah karena Pia, putrinya.
“Nda, selamat!” ucap Miko berusaha menyalami Amanda.
Amanda yang masih berpelukan dengan Pia, menjadi terusik. Tanpa melepas kacamatanya, ia menatap risi Miko dan perlahan meliriknya sebal.
“Tolong, dong ... jangan galak-galak!” mohon Miko sambil tetap menunggu jabat tangan Miko.
Amanda tetap cuek kemudian menurunkan Pia dari hadapannya dengan sangat hati-hati. “Duduk di belakang, kita pulang.”
“Iya, Kak!” Pia masih sangat bersemangat tanpa terusik oleh Miko yang sampai Amanda omeli lantaran pemuda itu nekat meraih sekaligus menggenggam tangan kiri Amanda.
“Nda, please, ih! Aku beneran sayang kamu. Aku tulus ke kamu!” yakin Miko benar-benar memohon.
“Tapi aku enggak, jadi sudah yah, jangan ganggu-ganggu aku lagi!” tegas Amanda, tak sudi rasanya tangannya dipegang Miko meski ia sampai memakai sarung tangan. Juga, walau sebenarnya Miko juga tipikal good looking.
Amanda sendiri tidak tahu kenapa dirinya begitu membenci laki-laki yang mencintainya apalagi jika laki-laki tersebut sampai mengemiis layaknya apa yang Miko lakukan. Dan daripada pusing memikirkan alasannya, Amanda memilih menyalakan mesin motornya kemudian bersiap pergi. Tak semata karena Pia sudah beres membonceng dan sampai mendekap pinggangnya erat. Sebab di depan sana, pak Samudra juga sudah putar balik tanpa ada tanda-tanda pria itu akan bergabung dengan mereka.
“Aku yakin, aku bisa bikin kamu balas mencintaiku,” sergah Miko sampai berdiri di hadapan Amanda.
“Jangan terlalu yakin, nanti yang ada kamu terlalu merodikan diri dan itu hanya bikin beban hidup kamu bertambah,” ucap Amanda kelewat santai. “Malahan saranku, mending kamu sama Anya saja. Konon, bersama orang yang mencintai jauh lebih baik daripada terus mengejar yang kamu cintai.”
“Aku balikin kalimat terakhir kamu, ke kamu!” sergah Miko. “Daripada kamu sama orang yang kamu cintai dan belum tentu juga dia mencintai kamu, mending sekarang kamu sama aku saja yang jelas-jelas mencintaimu.”
“Sebenarnya aku bisa saja terima kamu, tapi syaratnya berat!” sergah Amanda. Ia nyaris melajukan motornya, tapi kedua tangan Miko dengan cekatan menahan setangnya. Ia nyaris menabrak cowok itu andai ia tidak cekatan mengerem.
Di depan, pak Samudra yang menunggu, masih mengawasi dari kedua kaca spion kedua sisi bagian depan motornya. Pak Samudra melihat Miko menahan kedua setang motor Amanda, selain Amanda yang sampai kembali membuka kaca helmnya.
“Katakan kepadaku, apa syaratnya!” Miko sangat bersemangat. Wajah tampannya sampai berseri-seri.
Amanda menghela napas pelan sekaligus dalam. “Kalau kamu bisa bikin orang tua aku cerai, aku akan pikir-pikir.”
“Yang benar saja, kamu mau aku jadi duri dalam rumah tangga orang tua kamu?” sergah Miko yang jujur saja syok.
Memikirkan Miko sungguh menjalin hubungan spesial dengan mamahnya Anya, Amanda tidak bisa untuk tidak tertawa. Malahan ia sampai ngakak.
“Ndaaaa!” rengek Miko benar-benar manja.
Detik itu juga klakson pak Samudra menggelegar dan langsung mengusik Amanda. Ibaratnya, klakson tersebut merupakan peringatan keras untuknya.
“Itu siapa, sih? Itu yang tadi balap sama kanu, kan?” Miko yang masih menahan setang motor Amanda dari depan, langsung menoleh sekaligus menatap pak Samudra walau ia hanga bisa melihat punggungnya dan itu pun dari kejauhan.
“Suami. Sudah, awas!” balas Amanda yang kemudian buru-buru pergi dari sana apalagi Miko mendadak lengah.
“Suami?” lirih Miko syok. Tapi setelah memperhatikan motor yang digunakan oleh sosok yang Amanda maksud, Miko merasa tidak asing.
“Mirip motor di sekolahan, ya? Tapi punya siapa? Dan, ... masa iya itu suaminya Manda? Si Manda sekali nyaut enggak nanggung-nanggung!” batin Miko.
Di depan sana, Amanda langsung memimpin, sedangkan sosok laki-laki yang Amanda maksud sebagai sang suami, segera menyusul. Karenanya, Miko yang telanjur kepo segera menyusul juga dengan motor gedenya.
Hanya pak Samudra yang menyadari Miko akan menyusul. Karenanya, ia sengaja memimpin langkah, meminta Amanda untuk mengikutinya. Ia mengajak Amanda ke jalan berbeda, jalan tikus yang membuat mereka sampai di rumah jauh lebih cepat.
“Pah, besok aku beneran sama mamah, kan?” tagih Pia ketika akhirnya mereka sampai di pelataran rumah dan motor pun akan langsung dimasukkan ke dalam garasi rumah.
Samudra yang sudah memasukkan motornya, berangsur melepas helmnya. “Iya. Besok sama Kaka Manda.”
Pia langsung mengernyit bingung. “Kok Kak Manda?”
“Pia sayang kan, ke Kak Manda?” balas pak Samudra dan sang putri langsung mengangguk sambil tersenyum ceria.
“Memangnya Pia enggak mau punya mamah kayak Kak Manda?” lanjut pak Samudra.
Amanda yang baru memarkir motornya di dalam, tidak tahu apa yang sedang diobrolkan bapak dan anak di belakangnya.
“Jangan lupa belajar lagi. Paling tidak malam ini kamu harus mengerjakan ulang seratus soal,” ucap pak Samudra ketika akhirnya Amanda bergabung menjadi bagian dari kebersamaannya dan Pia.
Amanda baru saja melepas helmnya dan membuat rambut panjang gadis itu berantakan tak seindah iklan sampo. Namun, pak Samudra suka dan merasa gadis itu terlihat jauh lebih cantik jika dengan rambut berantakan berkeringat layaknya sekarang. Kecantikan Amanda benar-benar natural di matanya. Namun tetap, Pak Samudra masih menyikapi gadis itu dengan galak. Takut Amanda jadi gede rasa.
Amanda mendengkus kesal menatap pak Samudra. “Enggak manusiawi banget sih? Seratus soal? Pukul berapa ini? Ini pasti sudah mau dini hari!” cibirnya lirih karena biar bagaimanapun, di sana ada Pia dan ia merasa harus jaga sikap.
Pia menjadi senyum-senyum sendiri melihat interaksi Amanda dan pak Samudra. “Ternyata Kak Manda mamahku!” batinnya benar-benar bahagia.
“Pia, memangnya kamu belum cerita ke Kak Manda, kalau kamu jadi juara satu olimpiade Sains se-Jakarta?” ucap pak Samudra sengaja membuat Amanda untuk lebih giat belajar lagi setelah ia membandingkannya secara halus dengan Pia.
Ketika Pia langsung tersenyum ceria, Amanda justru sebaliknya. Dan demi mengejar nilai, Amanda sampai ronda, terus belajar dikawal oleh pak Samudra.
“Kamu baca ringkasan di buku, jangan malah tanya ke google voice! Yang sekolah itu kamu, bukan google!” omel pak Samudra sengaja menyita ponsel Amanda.
“Ya Tuhan, enggak enak banget tiap hari sama guru galak begini,” pasrah Amanda yang memilih merebahkan kepalanya di tumpukan buku yang terbilang berantakan di meja.
“Jangan tidur dulu. Masih ada sepuluh soal yang belum kamu kerjakan.”
“Itu susah banget, Pak. Enggak ada di ringkasan makanya aku tanya ke google!” balas Amanda setengah sadar karena memang nyaris tidur.
Pak Samudra yang masih memegang ponsel Amanda, sengaja memastikannya di gawai pintar milik istrinya itu. Kemudian, ia memastikan ringkasan pelajaran di buku. Membuatnya mengetahui memang pertanyaan yang dimaksud tidak ada di ringkasan. Kendati demikian, pak Samudra tak lantas memberi tahu jawabannya. Ia sengaja menulis ringkasan untuk soal-soal yang belum Amanda kerjakan. Pak Samudra menulisnya di buku tulis Amanda. Setelah beres, ia membangunkan Amanda.
“Lima menit lagi, Pak. Ngantuk berat ini.”
“Saya beneran sudah bikin ringkasan materinya buat kamu.”
Walau terpaksa, Amanda tetap membuat kedua matanya semelek mungkin. Terkantuk-kantuk ia membaca tulisan pak Samudra yang tidak begitu rapi. Namun dari tulisan empat halaman tersebut, ia menemukan semua jawaban dari sepuluh pertanyaan yang telah membuat beban hidupnya makin bertambah.
“OK!” tegas pak Samudra masih berdiri di sebelah Amanda.
Amanda yang sudah mirip anak ayam sedang sakit, melirik pak Samudra sambil gemetaran saking sakitnya.
“Oke bagaimana, Pak?” lirih Amanda memastikan, terlepas memang hanya suara seperti itu yang mampu ia hasilkan.
“Sembilan puluh kurang dikit. Lumayan,” ucap pak Samudra sambil memberikan lembar jawaban milik Amanda kepada pemiliknya.
“Sumpah itu nilai aku?” lirih Amanda sambil menatap pak Samudra memastikan.
Pak Samudra mengangguk.
“Ya sudah, Pak. Aku izin hibernasi dulu!” detik itu juga Amanda langsung merebahkan kepalanya di tumpukan buku berantakan yang memenuhi meja. Tumpukan buku yang membuatnya nyaman-nyaman saja hanya karena ia sedang merasa sangat mengantuk.
Tentu saja pak Samudra tidak membiarkan Amanda tidur seperti itu. Pak Samudra membopong Amanda, membawanya ke tempat tidurnya yang juga sudah menjadi tempat tidur Amanda, beberapa malam terakhir.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments
Qaisaa Nazarudin
Mantaaaappp taapp taappp👍👍👍👍👍💪💪💪
2024-10-12
1
Sandisalbiah
miris banget sih kalau lihat nasib Manda ini... sengaja disingkirkan oleh Papanya demi bidan saudara tiri...
2023-11-10
0
Qaisaa Nazarudin
Nah itu bener,Aku jd kasihan sama Miko sampe ngemis2 gitu,Aku takutnya dgn penolakan Manda akan membuat Miko berdendam ke Amanda,,
2023-06-30
1