“Puffffttt!” Amanda menyemprotkan minuman yang harusnya ia telan. Sebagian minumannya sampai mengenai wajah sang papah.
“N-nikah, Pah?” Amanda sampai tidak bisa berkata-kata karena terlalu syok. Untuk beberapa saat, otaknya sampai tidak bisa bekerja.
Dada Amanda sampai kebas dan rasanya sungguh sakit melebihi ketika ia terkena tinju, tendangan, atau malah lemparan batu oleh lawan saat sedang tawuran. “Enggak salah? Hanya karena Papah sudah enggak mau urus aku, Papah ingin hidup damai dengan istri baru dan anak tiri kesayangan Papah, Papah mau nikahin aku sama orang yang bahkan enggak aku kenal? Gitu ...?”
Mata Amanda sudah langsung basah seiring hatinya yang tercabik pedih. “Kenapa harus nikah, Pah?” ucapnya nyaris tak terdengar karena suaranya tertahan di tenggorokan.
“Biar kamu lebih mikir, enggak sibuk bolos buat balapan apalagi tawuran terus! Hobi kok nyumbang nyawa, bikin susah orang saja!” tegas pak Edo yang tak lain papah dari Amanda.
Mendengarnya, Amanda tersenyum miris, mengangguk-angguk di tengah tatapannya yang masih fokus pada kedua mata sang papah. “Iya, maksud aku, ... maksud aku kenapa Papah mau nikahin aku? Kenapa Papah enggak jual aku saja sekalian, biar Papah sama keluarga baru papah bisa menikmati hasilnya?!”
Kali suara yang Amanda masih lirih, tapi itu karena gadis cantik itu sudah telanjur sakit.
Tangan kanan pak Edo langsung terangkat, siap menampar Amanda andai ibu Lista sang istri baru tidak berseru. Wanita cantik yang juga sangat menjaga penampilan itu buru-buru mendekat, merengkuh Amanda tapi Amanda langsung menepis. Tak sudi dan telanjur jijik, Amanda sungguh benci ibu tirinya. Hingga yang ada, tamparan panas yang awalnya tertunda mendarat juga di pipi kiri Amanda.
Amanda langsung sempoyongan dan berakhir terduduk di lantai dapur dengan agak terbanting. Sementara gelas yang awalnya Amanda pegang menggunakan tangan kanan turut jatuh, pecah. Naasnya tangan kanan Amanda sampai bertopang pada lantai yang dihiasi pecahan gelas. Drama yang empat bulan terakhir mewarnai rumah mereka semenjak pak Edo menikahi ibu Lista, berakhir dengan kepedihan seorang Amanda yang merasa dibuang. Selalu begitu, anak sendiri tapi seperti samppah yang tak seharusnya ada.
Sejak sebelum pak Edo menikah lagi, tak lama setelah mamah Amanda meninggal, Amanda sudah merasakan betapa sang papah lebih mirip orang asing. Sang papah terlihat jelas lebih menyayangi keluarga barunya, bahkan itu putri tiri yang tentu saja bukan darah dagingnya.
“Cinta udah mematikan logika sekaligus kewarasan Papah. Mungkin ini yang dinamakan, yang namanya telanjur benci, apa pun yang orang itu lakukan pasti selalu akan terlihat salah untuk orang yang membencinya. Dan setelah mamah pergi, aku mulai yakin, ada yang bisa menghancurkan kekentalan darah dan itu pemilik darah itu sendiri!” ucap Amanda lelah.
Tanpa memedulikan rasa sakit akibat luka di telapak tangan kanannya, Amanda melangkah pergi. Ia melangkah lemas seolah semuanya baik-baik saja, walau tentu saja, darah segar begitu gesit mengalir, seolah mereka sedang berlomba, siapa yang paling cepat jatuh ke lantai meninggalkan jejak kepergian seorang Amanda.
Ketika akan keluar dari dapur, Amanda berpapasan dengan Anya. Gadis feminin yang selalu tampil necis sekaligus seksi itu diam-diam tersenyum sinis kepadanya walau ketika melongok ke pak Edo, Anya akan memasang wajah sedih.
“Aku obatin, ya?” tawar Anya bersandiwara peduli kepada Amanda.
Tentu saja itu hanya siasat dan Amanda membalasnya dengan tersenyum. “Sekitar satu jam yang lalu, aku kembali menolak cinta Miko untuk yang ke sebelas kali! Kamu tahu apa yang dia lakukan? DIA, NGAJAK, AKU, NIKAH!”
Satu hal yang membuat Amanda merasa menang dalam perang dingin di antara mereka. Miko si bos balap liar yang juga ketua osis sekaligus siswa berpengaruh di sekolah mereka, hanya mencintai satu gadis dan itu Amanda. Padahal, nyaris semua siswi termasuk itu Anya, rela melakukan hal murahan hanya untuk mendapatkan sedikit perhatian seorang Miko.
Sungguh, kenyataan Miko yang merupakan siswa tertampan di sekolah mereka, tapi Miko selalu bersikap dingin kecuali kepada Amanda, menjadi jurus pamungkas seorang Amanda membalas semua lukanya kepada Anya maupun itu Lista.
Anya terdiam membeku menahan kekesalannya kepada Amanda. Namun ia juga tak lupa sengaja memasang wajah teraniaya agar sang papah sambung makin membenci Amanda.
“Sudah, kamu enggak usah peduliin dia lagi!” sergah pak Edo kepada Anya.
Persis yang Anya harapkan. Papah sambungnya, jauh lebih menyayangi sekaligus peduli kepadanya.
***
Sekitar sepuluh menit kemudian, rombongan pak Samudra datang. Namun, Anya tidak berminat ikut serta karena kedatangan pak Samudra sekeluarga memang sengaja tidak membuat janji. Tentunya, yang Anya tahu, pak Samudra calon suami Amanda, sudah bapak-bapak, seorang duda dan anaknya sudah besar, yang tentu saja sama sekali tidak menarik. Malahan Anya merasa musibah andai ia sampai kenal atau setidaknya sekadar menampakkan diri di depan pak Samudra.
“Sayang, tangan kanan kamu? Pipi kiri kamu?” Ibu Sintia yang memaksa menemui Amanda di kamar gadis itu, tak kuasa membendung kesedihannya apalagi air matanya.
Ibu Sintia nyaris merengkuh tubuh Amanda, tapi melihat luka di telapak tangan kanan Amanda yang masih baru dan memang belum diobati, membuatnya memboyong paksa gadis itu.
“Sam ... Sam, ini tolongin Amanda. Ayo bawa Amanda ke rumah sakit!” seru ibu Sintia.
“Samudra?” batin Amanda.
Amanda tahu, Samudra merupakan nama dari pria yang akan dinikahkan dengannya. Namun, Amanda juga terkejut karena pria yang dikata pak Edo merupakan seorang duda, dan juga memiliki seorang putri berusia sepuluh tahun, masih sangat muda. Bisa Amanda tafsir, harusnya Samudra itu baru berusia di akhir kepala dua.
“Ah, enggak mungkin. Paling memang dasarnya si Samudra ini awet muda! Duda kan kebanyakan gitu, rutin perawatan buat jaring daun muda atau mangsa menguntungkan lainnya! Enggak usah jauh-jauh, contohnya saja papah Edo!” batin Amanda yang diam-diam menilai sosok Samudra.
“Dia yang tadi di jalan, yang di motor pas macet, ... dan juga ... murid di kelasku yang berbakat bolos!” batin Samudra yang hanya akan melirik Amanda dan itu pun sangat sebentar sekaligus jarang.
Amanda mau-mau saja diboyong ke rumah sakit karena gadis itu juga sudah sangat ingin angkat kaki dari rumah orang tuanya, untuk selama-lamanya.
Seperti yang Amanda ketahu dari sang papah, pria yang bernama Samudra sungguh sudah memiliki seorang putri berusia sepuluh tahun. Bocah itu dipanggil Pia, tapi Pia langsung memanggil Amanda dengan sebutan kakak.
Setelah sampai di rumah sakit, Amanda yang hanya ditemani ibu Sintia walau tadi mereka datang rombongan, langsung menjalani perawatan. Luka di telapak tangan Amanda sampai diperban karena terbilang parah. Sarafnya saja ada beberapa yang nyaris putus. Dan setelah selesai tanpa sampai menjalani rawat inap, Amanda langsung diboyong ke rumah Samudra. Di sana sudah ada pak Edo dan beberapa pria berpeci dan tampak agamis.
“Mulai sekarang, ini jadi kamar kamu juga,” ucap ibu Sintia.
Kamar yang dimaksud ada di lantai dua, dan di sana tampak berpenghuni. Kenyataan tersebut dikuatkan dengan kenyataan meja belajar yang penuh buku dan juga sebuah laptop. Semua lemari pakaian pun dalam keadaan penuh. Sementara yang di lemari gantung dan pintunya terbuka sempurna, berisi pakaian lengan panjang pria. Amanda berpikir itu kamar Samudra atau malah laki-laki lain yang tinggal di sana.
Belum sempat berkomentar maupun bertanya, seseorang mengetuk pintu dan ternyata itu dua orang ART yang membawakan barang-barang Amanda. Yang membuat Amanda terkejut, tentu suara bariton seorang pria yang berkata tegas di lantai bawah sana.
“Saya terima nikah dan kawinnya Amanda Cesilia Wicaksana binti .....”
“HAH?” Amanda panik sepanik-paniknya. Buru-buru ia keluar dari kamar. Dari terali menuju tangga, ia mendapati sesi ijab kabul atas nama dirinya diucapkan oleh Samudra dan baru saja dijawab “SAH!” oleh semua orang di sana, termasuk itu pak Edo sang papah!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments
Qaisaa Nazarudin
Alah pasti hujung2 cerita hanya dengan kata MAAF dan PENYESALAN dari sang Ayah udah luluh aja,Dan dengan GAMPANG nya memaaf kan,Mana2 novel Alurnya tetap sama,Kalo dunia nyata mah gak ada yg kayak gitu..
2024-10-12
1
Fani Indriyani
Gpp manda dinikahin ma samudera..bismillah menuju bahagia ya,apalagi mamah sintia sayang banget ke kamu,biarin aja papah kamu nanti ngerasain akibatnya udh membuang anak kandungnya
2024-03-05
1
Erina Munir
bpk gebleg...saking udh ga mau ngurus snak perempuannya ..jdi cepet d nikahin...tegaa nyaa
2024-02-16
0