Terbangun dengan tubuh yang terasa jauh lebih rileks sekaligus ringan, Amanda langsung menghela napas dalam. Di sebelahnya sudah tidak ada siapa-siapa tapi di sana seperti bekas ditempati. Belum sempat mengalihkan tatapannya dari sana, pintu kamar mandi dibuka dari dalam menyeruakkan aroma sampo sekaligus sabun mahal yang tercium sangat segar. Pak Samudra keluar dari sana dalam keadaan sudah rapi tanpa sedikit pun membagi step apalagi sengaja tebar pesona kepada Amanda.
“Memangnya sekarang jam berapa? Sudah rapi gitu?” tanya Amanda sambil menyingkirkan selimut dari tubuhnya dengan malas.
“Paling setengah tujuh kurang,” balas pak Samudra cuek. Padahal yang mendengar langsung panik. Amanda refleks loncat buru-buru membuka lemari kemudian mengambil seragamnya yang tergantung dari sana.
“Siapa yang enggak bangunin kamu? Kepalamu bisa peot andai itu terbuat dari cor-coran saking seringnya aku ngegeplak tuh kepala pakai penggaris.”
“Pakai alarm kenapa?” Amanda yang sudah nyaris masuk kamar mandi sambil kerepotan membawa pakaian ganti sekaligus handuk baru, masih sempat berkomentar.
“Telinga kamu enggak tembus dikasih alarm. Memangnya kamu pikir dari tadi tuh alarm nganggur? Kalau tuh alarm beneran mulut, sudah busuk kayaknya gara-gara teriak enggak ditanggepin. Nah bunyi lagi. Ini bukti bahwa aku sudah kasih kamu alarm cuma-cuma.”
Setelah sempat menyimak omelan pak Samudra panjang lebar, Amanda buru-buru menutup sekaligus mengunci pintu kamar mandinya. Detik itu juga ia yang tak sengaja melihat telapak kakinya mendapati keanehan dari tubuhnya. Ada koyok di kedua telapak kakinya, juga bagian tubuh lainnya.
“Apa gara-gara ini, badanku jadi rileks, ringan, dan beneran enak makanya aku bisa tidur nyenyak?” pikir Amanda sembari menatapi setiap koyok di tubuhnya. Ada yang sampai di bagian pinggang, punggung, dan juga tengkuk. “Dan semua ini, pak Samudra yang ngelakuin?” pikir Amanda lagi.
“Sepuluh menit lagi kamu belum turun juga aku tinggal!”
Suara tegas pak Samudra dari luar terdengar mengancam. Buru-buru Amanda berseru dari balik pintu yang sengaja tetap ditutup.
“Memangnya sepuluh menit lagi, mau ngapain?”
“Kamu mau sekolah, enggak? Awas saja kalau berani bolos, aku potong telinga kamu!”
“Berangkat bareng, maksudnya?”
“Kalau kamu enggak berangkat sama aku, kamu mau berangkat sama siapa? Pia sudah berangkat dari tadi apalagi hari ini dia ada lomba!” Setelah berucap demikian, pak Samudra juga berkata, “Sudah cepetan. Aku dobrak pintunya kalau kamu enggak keluar-keluar.”
Mendengar itu, Amanda langsung mendengkus kesal. “Sabar, ih!” Buru-buru ia mandi, sebelum akhirnya ia melakukan segala sesuatunya penuh kecekatan layaknya seorang ninja. Ia terus berlari dalam melakukan segala sesuatunya termasuk itu ketika akhirnya ia membonceng pada pak Samudra yang sudah menunggunya di depan gerbang rumah.
“Bekalnya dibawa buat sarapan di sekolah karena kamu belum sarapan.” Ibu Sintia ikut sibuk. Berlari membawa kotak bekal yang dibungkus kantong warna ungu.
Amanda membiarkan mamah mertua yang begitu menyayanginya itu menaruh bekal di dalam tas yang menghiasi punggungnya. “Makasih banyak, Mah!” ucap Amanda yang sampai menyalami tangan kanan ibu Sintia dengan takzim.
“Pakai helmnya yang benar,” ucap pak Samudra masih galak.
Amanda yang menyimak hanya mencebik kemudian menelan ludah tanpa balasan berarti. Bahkan semacam pegangan kepada pak Samudra saja, Amanda tidak sudi. Meski ketika pak Samudra mendadak menarik gas motornya secara spontan, Amanda yang nyaris terpental refleks mendekap pinggang pria itu sangat erat. Tubuhnya langsung menempel ke punggung pak Samudra. Lain dengan ibu Sintia yang sudah langsung sibuk mengomel ke pak Samudra, setelah sebelumnya wanita itu juga sampai menjerit.
“Nih orang sebenarnya perhatian, tapi caranya beneran bar-bar!” batin Amanda kesal. Sebelah tangannya sengaja mendorong kepala pak Samudra sekuat tenaga. Laju motor pria itu langsung agak oleng dan untungnya di sana tidak ada pengemudi lain.
Berpikir pak Samudra tidak membalas, kenyataan pria itu yang memilih jalan terjal untuk dilewati hingga Amanda yang membonceng menjadi teramat tersiksa, dirasa gadis itu menjadi balasan nyata dari sang suami.
“Bisa bawa motor enggak, sih? Kalau enggak, sini aku saja yang bawa!” omel Amanda kesakitan lantaran sampai detik ini, pak Samudra nekat memilih jalanan tak rata hanya untuk membalasnya.
“Jangan lewat jalan situ. Di sana jalannya enggak banget apalagi kalau habis hujan kayak semalam, jadi banyak kolam dadakan!” Sepanjang perjalanan, Amanda terus berteriak lantaran pak Samudra terus saja mengerjainya dengan memilih jalan berlobang atau malah terjal untuk dilewati.
“Kalau kayak gini caranya, kapan-kapan kita balapan, biar Bapak enggak pamer! Kemampuan rasa krupuk saja pamer!” oceh Amanda saking kesalnya.
Perjalanan yang harusnya terasa singkat menjadi terasa sangat lama sekaligus tersiksa untuk seorang Amanda. Di tempat parkir sekolah, suaminya itu menurunkannya dengan aman. Malahan, pak Samudra sampai membantunya membuka helm karena sekadar menulis saja, Amanda jadi melakukannya dengan tangan kiri.
“Saya paling enggak suka sama wanita berisik!” tegas Samudra setelah menarik paksa helmnya kala melepasnya dari kepala Amanda.
“Dan saya tidak pernah berharap Bapak menyukai saya! Ingat, sekadar berharap pun tidak!” kesal Amanda sambil merapikan rambutnya yang menjadi awut-awutan.
Melalui lirikan, Amanda masih memperhatikan pak Samudra yang terlihat begitu kesal kepadanya.
“Kita lihat saja apa yang terjadi nanti,” sergah pak Samudra sambil membawa kedua helm bekasnya dan juga Amanda. Ia melangkah lebih dulu menerobos Amanda.
Amanda yang merasa makin kesal, mendengkus kemudian melipir ke tembok sebelah. Setelah yakin pak Samudra tidak ada, Amanda yang kerap menatap lorong menuju lorong ruang guru, buru-buru lari menuju gerbang sekolah. Namun ketika Amanda balik badan dan siap kabur pergi dari sekolah, pak Samudra sudah berdiri di pinggir gerbang.
“Mau ngapain? Bolos? Tawuran? Balap liar?” sindir pak Samudra yang bahkan masih menenteng dua buah helmnya.
Amanda melirik takut suaminya.
“Saya geprek kamu pakai dua helm sekaligus kalau kamu berani bolos-bolos lagi!” lanjut pak Samudra. “Sudah sana masuk kelas!” omelnya lagi.
Walau Amanda terlihat ketakutan, pak Samudra yakin gadis itu masih akan berusaha melarikan diri dari aktivitas sekolah. Entah apa yang sebenarnya Amanda cari dari kesibukan tak terpujinya. Pak Samudra sampai merasa tak habis pikir. Kecuali jika alasan Amanda bolos itu untuk nongkrong semacam bersenang-senang atau menghabiskan uang.
“Dia beneran cuma buat semacam tawuran sama balap liar. Hobi banget setor nyawa tuh anak!” keluh pak Samudra. “Tapi pas aku seusia dia, aku lebih parah sih,” batinnya lagi. Di depan sana, Amanda yang terus melangkah buru-buru sambil sesekali menoleh kepadanya, mendadak menjulurkan lidah dan jelas tengah meledeknya.
“Tuh anak ya!” lirih pak Samudra yang kemudian menghela napas dalam. “Dia istriku, dan aku bakalan selalu momong dia kalau begini keadaannya!”
“Istri? Pak Samudra sudah menikah? Menikah sama dia? Dia siapa?” ucap seseorang dari belakang. Seseorang yang sangat pak Samudra hafal walau pak Samudra baru beberapa hari ada di sana. Benar, itu Miko.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments
Erina Munir
wahh miko denger
2024-02-16
1
adning iza
satpammu skarag 24jam manda😁😁😁😁
2023-11-27
0
Raffa
asli ngakak tor top banget pokoknya 👍👍
2023-11-16
0