Setelah kehidupannya berubah dalam semalam, pagi ini Amanda berangkat sekolah dengan Pia, anak pak Samudra. Mereka diantar sopir pribadi ibu Sintia.
Penuh santun, Pia yang memiliki tubuh mungil dan juga pipi berisi, menyalami tangan Amanda dengan takzim. “Dah Kak Manda. Nanti sore kita ketemu lagi!” ucap Pia ceria.
Amanda membatu mendapatkan sikap hangat itu. Tak semata karena ia belum terbiasa, tapi biar bagaimanapun, bocah berusia sepuluh tahun dan usia mereka hanya terpaut delapan tahun, merupakan anaknya.
“P-pia, tunggu!” sergah Amanda menahan kepergian Pia. Bocah itu langsung balik badan, menatapnya dengan kedua tangan berpegangan pada kaitan tas gendong warna ungu.
Melihat wajah Pia yang cukup mirip Samudra, Amanda juga langsung ingat tragedi beker pagi ini.
“Kenapa Kak Manda?” tanya Pia benar-benar sopan. Menegaskan, gadis kecil itu tumbuh dengan didikan yang baik. Amanda merasa sangat bersyukur, turut merasa bahagia karena andai Pia sampai merasakan apa yang ia rasakan dan itu dibuang oleh papahnya sendiri, Amanda juga akan menjadi orang yang sangat sedih.
Mendadak Amanda menyadari, kini dirinya merupakan seorang ibu tiri, ibu sambung untuk seorang gadis kecil. Membuatnya berpikir, apakah Tuhan sedang mengujinya, memintanya untuk melakukan apa yang seharusnya ibu Lista lakukan kepadanya? Sungguh, hati Amanda menjadi rapuh karenanya. Apalagi sampai detik ini, ia belum tahu alasan pak Samudra menjadi duda. Juga, kenapa usia Pia hanya terpaut sedikit dari pak Samudra, yang dengan kata lain, pak Samudra sudah menjadi bapak ketika pria itu masih berusia muda?
Tanpa berkata, Amanda mengulas senyum. Memberikan senyum terbaiknya, kemudian turun, memberi Pia pelukan hangat.
Apa yang Amanda lakukan membuat Pia terdiam tak percaya. Pia pasrah dan mendadak rapuh seiring kesedihan yang membuncah dari dadanya. Tak terelakan, kedua matanya juga langsung basah.
“Belajar yang pinter, ya! Kalau ada apa-apa, kamu cerita saja ke Kakak. Dan kalau sampai ada yang nakal ke kamu, nanti Kakak yang hajjar!” yakin Amanda. Iya, beginilah yang ingin ia dapatkan dari seorang ibu Lista. Bukan malah sandiwara yang sengaja wanita itu ciptakan untuk membuatnya makin dibenci oleh sang papah.
Tanpa keduanya sadari, pak Samudra yang masih ada di motor gedenya dan jarak mereka tak lebih dari dua meter, sampai membuka kaca helmnya. Pak Samudra tak berkedip memandangi kebersamaan Amanda dan Pia. Apalagi ketika ada adegan seorang Amanda yang ia ketahu terbiasa menjadi pembuat masalah, sampai menyeka sekitar mata Pia kemudian kembali memeluk bocah itu.
“Jangan nangis. Jangan pernah nangis. Kamu harus kuat!” yakin Amanda yang sampai detik ini belum menyadari tengah diawasi sang suami. Apalagi mereka tengah sama-sama berhenti di depan pintu masuk sekolah Pia.
Sekitar dua puluh menit kemudian, Amanda sampai sekolah. Pemandangan yang langsung membuat semua mata menatapnya aneh karena biasanya, Amanda datang mengendarai motor. Bahkan walau tangan kanannya diperban, kenyataan tersebut dirasa mereka bukan alasan tepat seorang Amanda tidak memakai motor gedenya kemudian bertingkah onar.
Tak sengaja berpapasan dengan pak Samudra yang baru keluar dari area parkir, Amanda benar-benar syok. Pria itu berpenampilan rapi, kemeja lengan panjang dan celana panjang bahan. Ada ransel di punggung, sedangkan di tangan kanan, pria itu membawa bola basket.
Diperhatikan berlebihan oleh Amanda, pak Samudra benar-benar cuek. Pria itu malah pergi begitu saja. Benar-benar sulit dipahami bagi Amanda yang langsung mengejar.
“Duda garong itu mau ngapain, sih? Sengaja mau ngawasin aku sampai sini?” Padahal tanpa diawasi saja, Amanda mendadak lupa dengan rutinitasnya bolos. Apalagi jika ia ingat nasihat yang ia berikan kepada Pia, beberapa menit lalu. Malu lah, masa iya memberi saran, tapi dirinya sendiri sesat.
“Kamu sengaja ngikutin aku?” Amanda masih bawel. Di lorong sekolah menuju ruang guru, akhirnya gadis cantik itu menemukan fakta, pria yang kemarin malam menikahinya, malah guru baru di sekolahnya!
“Innallilahi ....” Amanda panik sepanik-paniknya, setelah ia sampai menghentikan paksa pak Samudra. Kedua tangannya meraih gemetaran memegang tanda pengenal pak Samudra selaku guru olahraga baru di sekolahnya. Ia menatap tak percaya kenyataan tersebut.
“Bilang ke Pia suruh rajin belajar, yang bilangin saja rajin bolos dan nilai pun bersih saking enggak pernah ikut kelas.” Samudra masih berucap lirih, menghakimi Amanda yang langsung tidak berani menatapnya. Mata jernih Amanda menjadi sibuk mengerjap disertai kedua tangan gadis itu yang kembali menaruh tanda pengenalnya di dada.
“Hati-hati dengan tangan kanan kamu. Bahkan aku enggak yakin kamu masih bisa pegang pulpen apalagi nulis,” lanjut pak Samudra. “Dan jangan pernah berpikir buat bolos lagi. Sekali lagi kamu berani bolos, aku masukin botol kamu!”
Mendengkus kesal, Amanda menatap sebal pria di hadapannya. Jarak mereka tak lebih dari satu jengkal. Namun layaknya kulkas tiga pintu, pak Samudra kembali menyikapinya dengan dingin, pergi begitu saja dan membuat kekesalannya kepada pria itu makin menggunung.
“Kamu hanya akan menjadi lebih baik jika kamu berprestasi, bukan malah sibuk membuat onar. Bagaimana mungkin kamu akan dilihat apalagi dihargai kalau kelakuan kamu saja bejat!” ucap pak Samudra sambil terus melangkah pergi.
Tersinggung, tentu saja. “Heh, sembarangan kamu. Bilang kelakuanku bejat! Yang bejat itu kamu. Jelas-jelas, tadi pagi kamu yang gitu!” Amanda kembali menyusul, tapi baru ia sadari, di sana terlalu banyak siswi yang sibuk mencuri perhatian seorang pak Samudra. Membuatnya urung melakukannya, meski tak butuh waktu lama, ia juga mengetahui, pesona pak Samudra sampai menggeser pesona ketua OSIS di sekolah mereka.
Sepanjang pagi ini, Amanda baru menyadari, di tengah banyaknya penghuni sekolah, ia tetap sendiri. Semuanya tidak ada yang peduli kepadanya. Amanda merasa sangat asing, alasan kuat yang membuat Amanda nekat melarikan diri dari jendela kelas. Semua murid sibuk dengan kesibukan masing-masing. Namun dari sebagian siswi di sana, tengah membahas pak Samudra, guru olahraga baru di sekolah mereka yang juga menjadi wali kelas mereka. Guru baru yang masih sangat muda sekaligus sangat memesona.
Tanpa Amanda sadari, pak Samudra sudah terjaga di belakangnya. Amanda yang awalnya mengintip dari jendela ia meloloskan diri, dengan santai menerima tas dari seseorang di belakangnya.
“Thanks!” ucap Amanda semangat sambil menggendong tas gendongnya. Namun ketika ia akhirnya balik badan kemudian melihat siapa yang ada di hadapannya, ia langsung bengong.
“Baru tadi aku bilang, dan sekarang kejadian.” Kali ini Samudra benar-benar mengomel.
“Enggak asyiik tahu sekolah di sini!” keluh Amanda.
“Balik! Balik dan masuk ke kelas kamu. Ini sekolah, bukan taman bermain yang hanya akan memberimu kesenangan!”
“Kamu pasti juga pernah muda, kan?” Amanda memohon pengertian. Kedua kakinya tidak mau diam, tapi ia juga tak bisa apa-apa ketika pak Samudra sampai memanggulnya, memasukkannnya ke kelas secara paksa lewat jendela.
“Ya ampun!” Amanda meronta-ronta karena ulah pak Samudra sukses membuat tubuhnya terbantiing.
Lain dengan Amanda, teman kelasnya yang terkejut karena Amanda mendadak masuk lagi lewat jendela, malah makin terpesona kepada pak Samudra.
Dari balik jendela pak Samudra memasukkan Amanda, pria itu melongok, menatap setiap mata yang ia jumpai penuh peringatan. “Mulai sekarang, siapa pun yang melaporkan setiap kenakalan Amanda kepada saya, saya pastikan kalian akan mendapat hadiah!”
Walau sempat heran, semuanya langsung bersemangat sekaligus antusias khususnya para siswi. Lain dengan Amanda yang awalnya sibuk meringis menahan sakit dan langsung syok.
“Ini dengan kata kain, ... mulai detik ini juga, hidupku beneran diawasi?” batin Amanda merasa sial berkali-lipat. Di sekolah bertemu, di rumah lebih-lebih karena mereka bahkan satu kamar!
“Jadi, sebenarnya nikah sama dia dan aku bebas dari Anya sama nenekk sihirr itu, berkah apa malah musibah, sih?” Batin Amanda merasa terjebak.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments
Qaisaa Nazarudin
Aku hanya mampu ketawa...Walaupun baca udah berulang kali,tetap aja aku suka greget dengan tingkahnya Manda..🤣🤣🤣
2024-10-12
1
Erina Munir
hahaa...bingung....bingung dehhh
2024-02-16
0
Sandisalbiah
definisi keluar dr kandang buaya masuk kadang macan, Manda..🤭🤭
2023-11-10
0