“Ini bukan alasan akhir-akhir ini, nilai Manda jadi naik, kan?” tanya Anya.
“Tidak usah sibuk mengurus kehidupan orang lain kalau hidupnya saja hanya menghancurkan kehidupan orang lain!” pak Samudra sengaja menyindir Anya. Ibaratnya, ketika gadis itu berusaha mengancam menggunakan belati kepada Amanda, ia sudah langsung melesatkan panah beracun dan sukses mengenai jantung Anya.
“Silakan cari tempat lain.” Kali ini fokus tatapan pak Samudra tertuju kepada Miko. “Karena pecinta sejati bukan mereka yang sengaja memanas-manasi orang yang dicintai. Apalagi kamu laki-laki, bukan oven apalagi microwave!” Kepada Miko pun, ia melakukan hal serupa. Mata panah telah ia lesatkan tepat mengenai jantung pemuda itu.
Pak Samudra tidak suka pada dua orang di hadapannya yang jelas-jelas hanya berpengaruh tidak baik untuk Amanda.
“Ini yang lagi wamil, kan?” Amanda tetap asyik dengan Pia, dan benar-benar hanya terusik sebentar.
“Aku enggak bermaksud ikut campur sih, ... tapi yang aku tahu gitu. Amanda sudah nikah sama om-om, duda anak satu!” ucap Anya pura-pura teraniaya. Ia menunduk sedih kemudian mendekap sebelah tangan Miko.
“Urusannya sama kamu apa?” tanya pak Samudra menyikapi Anya dengan serius.
“Enggak ada sih, ... tapi kan, anak sekolah enggak boleh nikah,” balas Anya cari aman.
Mendengar itu, Amanda berangsur menoleh menatap Anya. “Kamu ngefans ke aku?”
“Aku ingin kamu lihat, kami sudah pacaran dan kamu sudah menikah sama duda tua, tapi sekarang kelakuanmu malah macarin guru kamu sendiri,” ucap Anya.
“Paling bener ya pokoknya kamu? Kenapa? Kamu enggak mau sekalian lapor polisi?” balas Amanda. “Aku enggak punya urusan sama kalian, jadi tolong enggak usah ngereog di kehidupan aku!”
Sadar dirinya belum memberi selamat atas hubungan kedua sejoli di sebelahnya, Amanda sengaja memberikan ucapan selamatnya. “Selamat, langgeng-langgeng biar kalian punya kesibukan dan otomatis kalian enggak sibuk urus urusan aku!”
“Kita pulang,” ucap pak Samudra.
Tanpa menyanggupi atau malah memberikan penolakan, Amanda langsung mengemasi sisa makanannya, memasukan semuanya ke dalam kotak maupun kantong apalagi kebetulan, semuanya sudah dibayar pak Samudra.
“Kalian ke depan duluan,” pinta pak Samudra pada Amanda dan Pia. Kemudian, ia memfokuskan tatapannya kepada Miko dan Anya. Miko nyaris melengos pergi.
“Miko, tunggu. Semenjak mamahnya meninggal, Amanda sudah langsung jadi yatin piatu. Malahan hadirnya Anya dan mamahnya, bikin hidup Amanda mirip di nerakkka. Itu juga alasan Amanda selalu menolak cinta kamu. Karena Amanda trauma dari kegagalan rumah tangga orang tuanya. Papahnya lebih sayang anak sambung ketimbang anak sendiri. Anya dan mamahnya sudah bikin Amanda terusir dari rumahnya sendiri. Bukan hanya itu termasuk luka di tangan kanan Amanda. Karena apa yang Anya dan mamahnya lakukan, sudah bikin Amanda trauma. Amanda mati rasa. Bahkan walau dihajjar sampai matiii pun, Amanda beneran enggak akan lawan,” ucap pak Samudra. “Dan apa yang kamu lakukan sekarang dengan malah pamer kemesraan setelah apa yang kamu lakukan ke Amanda, ... Selamat, kamu sudah menyempurnakan luka-luka Amanda.”
“Sementara kamu Anya, ... ada saatnya parasit mati karena mereka memang tidak punya kemampuan hingga mereka tidak bisa bertahan!” ucap pak Samudra sambil menatap Anya penuh amarah. Detik selanjutnya ia pergi menyusul Amanda yang sudah ada di tempat parkir bersama Pia. Keduanya tampak kedinginan walau sama-sama memakai kardigan.
Kepergian pak Samudra dibarengi dengan dada Miko yang seketika terasa kebas. Miko refleks menarik tangan kanannya yang didekap Anya, seiring ia yang kemudian menoleh, mencari keberadaan Amanda.
“Malam Minggu besok,” ucap Pia.
“Kenapa gitu dengan malam Minggu besok?” tanggap Amanda ia menatap saksama Pia yang tampak sungkan jujur. “Katakan saja, Pi. Ingat, kamu punya banyak hadiah dari kemenangan Kakak balapan kemarin!” yakinnya.
“Aku kemah di sekolah. Di halaman belakang sekolah. Kakak bisa datang sama papah, kan? Aku mau kenalin sekaligus pamerin kalian ke teman-temanku,” jujur Pia.
“Ada apa?” tanya pak Samudra yang baru gabung.
Amanda refleks menelan ludah, kemudian mengangguk-angguk. Kemudian yang ia lakukan adalah mengulurkan kedua tangannya untuk mendekap tengkuk Pia.
Apa yang pak Samudra katakan langsung membuat Miko menyesal. Namun ketika ia keluar walau ia melakukannya dengan buru-buru bahkan sampai berlari, ia tetap tidak bisa menyusul lantaran pak Samudra sudah membonceng Amanda dan membawanya pergi.
“Mikko!” kesal Anya dalam hatinya, tapi ia tetap menyusul Miko yang sudah ada di tempat parkir. Kendati demikian, yang ia takutkan sungguh terjadi. Sebab walau ia sudah mengejar, Miko tetap pergi menggunakan motor yang sempat pemuda itu pakai untuk memboncengnya.
***
“Malam Minggu besok, Pia kemah di sekolah, dan Pia ingin kita datang, Pak,” ucap Amanda ketika ia keluar dari kamar mandi. Ia menghampiri pak Samudra yang berdiri di sebelah meja belajar. Pria itu tidak menanggapi, tetap diam tapi langsung terlihat berpikir serius.
Pak Samudra memang sengaja menunggu Amanda. Amanda tahu alasan pria itu berdiri di sana. Pak Samudra akan kembali menjadi guru pembimbingnya secara khusus. Agar Amanda yang melewatkan banyak mata pelajaran sekaligus ulangan, bisa mengejar.
Amanda baru melewati pak Samudra, tapi tangan kanan pak Samudra yang tidak memegang sebuah buku pelajaran mendadak menahan tangan kiri Amanda. Detik itu juga dunia seorang Amanda menjadi berputar lebih lambat. Apalagi ketika pada akhirnya pak Samudra sampai memeluk Amanda untuk pertama kalinya. Kemudian, pak Samudra menunduk, sengaja menatap wajah khususnya kedua mata Amanda. Sayangnya gadis itu tak menatapnya. Tatapan Amanda cenderung kosong, dan hanya sedikit menerka-nerka.
“Nda, ... mulai sekarang kamu beneran enggak sendirian. Kamu punya aku. Kamu punya keluargaku,” ucap pak Samudra sambil menunggu balasan Amanda, tapi gadis itu tetap tidak membalasnya.
Tangan kiri pak Samudra sengaja meletakan buku di pinggir meja. Kemudian, tangan kiri itu menyugar poni Amanda, disusul pak Samudra yang sampai menempelkan bibirnya sangat lama di kening Amanda.
“Ini apa ...? Harusnya aku deg-degan, tapi ... sepertinya aku mati rasa,” batin Amanda berangsur mundur kemudian mencoba mengakhiri dekapan pak Samudra.
Pak Samudra tetap tidak mengakhiri dekapannya dan kini sampai ia lakukan menggunakan kedua tangan. “Biarkan seperti ini sampai besok.”
“Capek ih! Ngantuk juga. Pokoknya, aku enggak mau belajar lewat pukul satu pagi!” protes Amanda.
“Oke. Malam ini kita enggak belajar, enggak apa-apa. Malam ini kita pacaran saja, bagaimana?” balas pak Samudra dan Amanda langsung memelotot menatapnya.
Amanda yang masih menatap kesal pak Samudra, diam-diam meraih buku yang belum lama pria itu letakan di pinggir meja. Tanpa aba-aba, ia menggunakan buku tersebut untuk menghanttam kepala pak Samudra.
“Daripada pacaran, mending aku tidur. Ngantuk! Selamat malam.” Amanda melepas paksa dekapan pak Samudra.
“Bahkan kita tidur di tempat tidur yang sama, kan?” sergah pak Samudra menyusul Amanda.
“Sudahlah Pak, biasa saja. Saya tahu Bapak sedang berusaha menghibur saya. Saya tahu, Bapak kasihan kepada saya. Harusnya Bapak enggak usah khawatir juga sih. Karena dengan begini, aku jadi jauh lebih kuat. Dengan begini aku jadi enggak dekat dengan siapa pun,” tegas Amanda yang memang langsung mengambil posisi untuk tidur.
“Jadi sekarang begini,” ucap pak Samudra yang kemudian berkecak pinggang di hadapan Amanda.
Mau tidak mau Amanda harus menyimaknya.
“Mulai sekarang, kita pacaran. Tapi kita ngakunya ke orang-orang termasuk yang di sekolah, kita kakak adik dulu?” ucap pak Samudra.
Amanda yang mengernyit, merasa usul pak Samudra terlalu konyol, berkata, “Buat apa? Sudah lah Pak, biasa saja.”
“Amanda, saya ini suami kamu. Dan saya berkewajiban membahagiakan kamu. Suka atau tidak, saya akan begitu kepada kamu. Kamu tanggung jawab saya meski saat ini, kita harus merahasiakan hubungan kita!” tegas pak Samudra.
Amanda masih belum tersentuh. Ia hanya menatap Pak Samudra kemudian mengangguk-angguk. “Terserah Bapak lah, aku ngantuk!” ucapnya yang kemudian meringkuk membelakangi keberadaan pak Samudra. Amanda menutup tuntas tubuhnya menggunakan selimut. Ia hanya menyisakan wajah dan kepala yang detik berikutnya langsung pak Samudra penuh sayang. Pria itu duduk selonjor di belakang punggung Amanda sambil menggunakan tangan kanannya untuk mengelus kepala Amanda.
“Nih orang beneran niat,” batin Amanda yang akhirnya benar-benar lelap.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments
~ янιєz🖤 ²²¹º
orang dah mati rasa.. agak susah ya utk menyentuh hati nya.. mesti pelan2 n terarah
2024-03-12
1
Erina Munir
ya ampuun....bisa begitu yaa...kesian banget...
2024-02-17
0
adning iza
bner² udh mati rsa si amanda ksihn bget
2023-11-27
0