“Ini keluarga kecilku. Inilah duniaku,” batin Amanda sambil memakaikan jaket miliknya kepada Pia.
Malam sudah makin larut, dan sebagian pembesuk juga silih berganti pulang. Amanda dan pak Samudra mengantar Pia hingga depan tenda bocah itu.
“Mamah sama Papah ada di mobil,” ucap Amanda sambil mengelus poni Pia penuh sayang.
“Papah sama Mamah beneran enggak pulang?” sergah Pia antusias.
Amanda langsung menggeleng. “Enggak. Kita pulangnya besok bareng kamu.”
Setelah mengakhiri kebersamaan mereka dengan Pia, Amanda dan pak Samudra berangsur kembali ke mobil. Sadar suasana malam makin dingin, pak Samudra melepas jaket kulit yang dikenakan kemudian mengenakannya ke punggung Amanda.
Dunia Amanda seolah langsung berputar lebih lambat hanya karena kenyataan tersebut. Gadis itu berangsur menoleh kemudian menengadah, menatap wajah khususnya kedua mata pak Samudra yang memang lebih tinggi darinya.
“Kamu mau bilang kalau saya sedang modus?” ucap pak Samudra.
Amanda langsung mengangguk-angguk. “Bahkan lebih dari itu!” balasnya sengaja menuding.
Kesal, pak Samudra langsung memanggul tubuh Amanda.
“Ya ampun, Pak! Bapak pikir aku karungan sayur di pasar yang wajib dipanggul?” protes Amanda sibuk memberontak.
“Saya mau buang kamu ke jalanan agar pikiran kamu bisa jalan!” ucap pak Samudra tak hanya mengancam karena ia sungguh membawa Amanda ke jalan raya.
“Woooi, Pak! Bapak itu guru, bisa-bisanya mau buang orang, bahkan istri sendiri ke jalanan!” protes Amanda yang kali ini memukul keras punggung pak Samudra.
Pak Samudra berangsur berhenti melangkah kemudian buru-buru menurunkan Manda. Namun, ia sengaja seolah-olah akan membuang tubuh Amanda hingga gadis itu buru-buru memeluk tengkuknya sangat erat menggunakan kedua tangan.
Sadar pak Samudra tak akan berulah, Amanda sengaja menarik dirinya. Kedua tangan pak Samudra masih mendekap pinggangnya sangat erat.
“Mau peluk saja sampai harus bikin drama mau buang istri ke jalan raya!” ejek Amanda sambil tersenyum geli.
Pak Samudra yang yang masih menatap serius Amanda berkata, “Jadi, kamu tidak percaya bahwa saya benar-benar akan membuang kamu ke jalan raya?”
Amanda langsung terbengong-bengong tak percaya. “Serius, Bapak beneran mau buang saya ke jalan raya?”
Pak Samudra langsung menggeleng tegas. “Tidak. Saya tidak akan pernah membuang kamu karena saya sudah telanjur menyayangimu.”
Pipi Amanda langsung hangat dan Amanda yakin, kedua pipinya juga sampai merah mirip tomat masak. “Emang yah, laki-laki. Apalagi laki-laki tua dan parahnya duda, beneran paling enggak bisa lihat wanita apalagi istri sendiri, nganggur!”
Mendengar ucapan cepat sang istri, pak Samudra langsung tak bisa berkata-kata. “Aku kita selesaikan di mobil!” tegasnya.
“A-ayo! Siapa takut!” tegas Amanda yang sebenarnya sudah sangat takut. Di dalam dadanya saja seolah sudah langsung ada musik disko yang berdentam sangat kencang. Apalagi sambil terus mengangkat tubuhnya mirip adegan pelukan romantis, pak Samudra sungguh membawanya masuk ke mobil.
Di tempat duduk penumpang, pak Samudra sengaja memojokkan Amanda dan gadis itu langsung meraung-raung ketakutan.
“Bapak ih!” kesal Amanda yang sudah sampai menangis duduk di sudut bawah depan tempat duduk.
Padahal, pak Samudra hanya pura-pura memojokkan Amanda dan kini saja, pria itu tengah sibuk menahan tawa.
“Dasar kupret kamu, Pak!” ucap Amandra masih berkeluh kesah.
“Memangnya kamu beneran belum pernah pacaran, hah?” ucap pak Samudra susah payah menahan tawanya.
Amanda melirik sinis pak Samudra. “Memangnya apa hebatnya sih, sudah pacaran dan enggaknya? Memangnya kalau sudah sering pacaran, jadi punya level khusus?”
Pak Samudra langsung duduk dengan benar dan tak lagi berusaha mengungkung sekaligus memojokkan Amanda lagi.
“Enggak juga, tapi kalau lihat catatan kenakalan kamu, sewajarnya kamu sudah biasa pacaran bahkan lebih,” ucap pak Samudra sambil bersedekap kemudian mengangguk-angguk.
“Sewajarnya dengkul Bapak!” kesal Amanda yang kemudian berusaha duduk. Pak Samudra hendak membantunya, tapi ia sengaja memuukul keras kedua tangan suaminya itu silih berganti.
“Aku bantu,” ucap pak Samudra memohon, tapi Amanda terus meliriknya dengan sinis. Gadis itu jelas marah.
“Jadi, apa alasanmu hobi tawuran,” ucap pak Samudra sengaja melanjutkan obrolan mereka setelah Amanda duduk di sebelahnya.
“Mereka yang bikin gara-gara duluan, Pak!” jawab Amanda tanpa sedikit pun melirik pak Samudra karena ia sadar, pria itu menjadi sibuk menatapnya.
“Gara-garanya?” sergah pak Samudra sengaja geser guna lebih tak berjarak dengan Amanda.
Amanda langsung menatap sebal pria di sebelahnya.
Pak Samudra berangsur menghela napas dalam. “Saya enggak akan macam-macam kok, Nda. Cuma duduk sebelahan gini, apa salahnya? Balik ke obrolan kita.”
Tanpa Amanda sadari, ia sudah banyak bicara dengan pak Samudra. Walau obrolan mereka tak berjalan mulus, Amanda nyaman-nyaman saja bertukar pikiran dengan pria di sebelahnya. Dan akhirnya, mereka benar-benar mengantuk. Amanda yang sudah bersandar asal ke pintu sebelah, sementara pak Samudra tetap bersedekap menahan rasa dingin.
Sebenarnya, mereka bisa saja pulang. Namun karena terlalu khawatir pada Pia yang kerap mendapat perundungaan, mereka memutuskan untuk menunggu di mobil. Kini saja, pak Samudra sengaja turun untuk kontrol apakah putrinya baik-baik saja.
“Ikut Pak!” Amanda tidak mau ditinggal.
Pak Samudra segera balik badan kemudian mengulurkan sebelah tangannya kepada Amanda. “Saya kedinginan,” ucapnya jujur kepada Amanda.
Tentu Amanda langsung paham, alasan pak Samudra kedinginan karena jaket pria itu dipakai olehnya. Namun ketika ia hendak melepas dan juga mengembalikan jaketnya, pak Samudra menolak.
“Sudah enggak apa-apa. Asal kamu izinin aku peluk kamu, sudah lebih dari cukup,” ucap pak Samudra.
Amanda langsung cemberut. “Pelukanku mahal!” Walau sudah sangat mengantuk, ia tetap berusaha menghindar.
“Kalau dipeluk suami, yang ada kamu dapat pahala!” ucap pak Samudra yang sampai memeluk Amanda secara paksa.
“Pahala? Semacam malam jumat, maksudnya?” tanya Amanda.
Pak Samudra mengerjap tak paham. “Pahala, malam jumat?”
Menggunakan sebelah tangannya, Amanda agak mendorong wajah pak Samudra agar wajah pria itu tak sepenuhnya ada di atas wajahnya dan parahnya sampai menatapnya secara saksama.
“Apaan ih, Nda. Saya beneran enggak tahu!” protes pak Samudra kembali menatap wajah Amanda.
“Alaaah, gayaknya enggak tahu. Sengaja pancing-pancing aku, iya!” cibir Amanda.
“Eh beneran, saya serius!” yakin pak Samudra.
“Ah, taiii! Apalagi jika melihat usia Pia, berarti Pia lahir pas usia Bapak sekitar sembilan belas tahun! Sembilan belas tahun saja sudah punya anak dan otomatis pinter bikin anak, kok semacam tadi enggak tahu? Modus banget!” cibir Amanda.
Pak Samudra hanya menahan senyumnya seiring ia yang mengeratkan dekapannya. Kemudian, mereka segera melongok ke dalam tenda Pia dengan sangat hati-hati. Ditemani guru di sana, mereka mendapati Pia yang belum tidur sendirian. Gadis kecil pak Samudra tampak melamun, tapi beranjak tidur ketika Amanda menasihati.
Paginya, Amanda terbangun di pangkuan pak Samudra. Mereka tidur di mobil tempat duduk penumpang.
“Kaki saya kesemutan parah,” ucap pak Samudra sambil menekap wajahnya menggunakan kedua tangannya.
“Terus, Bapak mau marah ke saya? Kan Bapak juga yang memaksa saya tidur di pangkuan Bapak,” balas Amanda yang berangsur duduk.
Pak Samudra yang kali ini menguap segera menggeleng. “Sikap saya di sekolah dengan saat kita sedang di rumah ataupun menjadi suami istri, jelas akan beda!” yakinnya.
“Syukurlah kalau begitu. Jadi aku enggak bakalan jadi nenek-nenek terlalu dini!” cibir Amanda.
Mendengar itu, pak Samudra merasa terusik. Ia tak hanya tersenyum geli karena ia juga sengaja memojokkan Amanda.
“Pak ih, Pak tolong aku belum siap!”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments
~ янιєz🖤 ²²¹º
bahasa kasar, klo menurut sebagian org mungkin ga pantas, tapi di dunia nyata, banyak kok yang seperti itu.. n bahkan mungkin memang bahasa sehari2 mereka
ada juga kok suami istri yang klo becanda pun saling toyor2an kepala, saling balas2an kentut dll nya n itu mungkin bagi org lain terkesan jorok, tapi bagi mereka ya itu lah cara mereka utk bahagia🤭
2024-03-12
1
~ янιєz🖤 ²²¹º
emang ga siap ngapain mand🤭🤣🤣
2024-03-12
0
Erina Munir
samudra...senengnya main pojokan yaa...😂😂😂😂😂😂
2024-02-17
0