Pak Samudra membuka pintu kamar sang putri dengan sangat hati-hati. Pintu tersebut memang tidak dikunci, dan selalu begitu semenjak Pia tidur sendiri, selama lima tahun terakhir.
“Pi, jalan-jalan, yuk?” ucap pak Samudra tanpa menyalakan lampu kamar di sana. Ia tetap membiarkan kamar dalam keadaan temaram, menjadikan lampu meja warna merah muda, sebagai satu-satunya penerang.
Tampak selimut merah muda yang langsung tersibak disusul Pia yang juga langsung bangun. “Sudah malam kan, Pah?”
“Enggak apa-apa, ... kan sama Papah. Sama Kak Manda juga.”
Sampai detik ini, pak Samudra menjadi pribadi jauh jauh lebih lembut, mirip manusia pada kebanyakan. Namun itu sudah menjadi perubahan mencolok dari pria itu.
Beberapa saat kemudian, pak Samudra yang mengambil dua kunci motor dari laci meja bundar yang ada di sisi ruang keluarga, memberikan satu kepada Amanda.
“Nih orang beneran mau ngajakin aku balap?” pikir Amanda menatap curiga pak Samudra dan memang belum menerima kunci motornya.
“Iya, kita balapan. Pia jadi saksinya!” ucap pak Samudra yang sudah langsung yakin dengan apa yang Amanda pikirkan.
“Jangan sampai pura-pura kalah! Pokoknya jangan sampai ngalah!” todong Amanda kesal dan langsung mengambil kunci motornya. Pria di hadapannya langsung mengernyit serius.
“Kenapa kamu mikir saya akan mengalah?” tanya pak Samudra.
“Karena Bapak sudah mirip bunglon!” sergah Amanda.
“Bung-lon?” lirih pak Samudra mengernyit dan memang tidak paham dengan apa yang Amanda maksud.
“Kalau aku menang dapat apa, kalau Bapak yang menang dapat apa?” ucap Amanda tanpa terlebih dulu membalas pertanyaan pak Samudra yang sebelumnya.
“Kita lihat nanti saja,” jawab pak Samudra enteng.
“Eh, enak aja. Enggak boleh gitu dong!” protes Amanda.
Pak Samudra langsung menyalami tangan Amanda. “Kalau saya sampai menang, kamu wajib belajar dengan benar. Kamu wajib jadi lebih baik lagi, buktikan kepada semuanya kamu pantas dihargai! Karena musuh terbesar kamu memang bukan Anya, melainkan diri kamu sendiri yang selalu tidak percaya diri!” Ia menyentak salaman tangan mereka, dan gadis yang ia salami benar-benar terkejut.
“Sekarang katakan, apa yang kamu inginkan jika kamu menang?” tanya pak Samudra.
Amanda langsung merenung serius. “Andai aku menang ...?” Tatapannya dengan sendirinya mencari Pia yang berdiri di depan mereka. Bocah itu tampak kebingungan memperhatikan kebersamaannya dan pak Samudra. “Pia sayang, Pia mau apa?”
Hati seorang pak Samudra langsung meleyot mendengarnya. Pria itu menjadi agak gelisah dan refleks diam.
“Kok, ... kok aku? Kan Kakak yang menang, kok hadiahnya buat aku?” Pia kebingungan menatap Amanda yang memakai jaket kulit kedodoran.
“Ya enggak apa-apa. Kapan lagi bisa dapat hadiah dari Papah Pia, kan?” balas Amanda.
Ekor lirikan Pia langsung menatap sang Papah.
“Apa pun, ... apa pun, pasti akan Papah kabulkan!” yakin pak Samudra masih menyikapi dengan tenang.
“Tuh kan, Papah kamu sudah bilang begitu, dan Kakak jadi saksi! Kalau Papah kamu sampai bohong, habis nanti dia sama Kakak!” ucap Amanda belum apa-apa sudah geregetan hanya karena membayangkan pak Samudra ingkar. Namun di luar dugaan, pak Samudra sudah langsung meliriknya sangar hingga ia jadi tak enak hati.
“Mmm ... mmmm ....” Pia terlalu bingung mengatakan keinginannya. Kedua tangannya sibuk saling remas di depan perut.
“Jadi kamu pasti berat banget yah, Pi? Punya bapak segalak ini dan bikin kamu enggak bisa leluasa berekspresi,” lirih Amanda prihatin kepada Pia, tapi bapak Pia kembali memberinya peringatan keras melalui dehaman keras yang terdengar sangat sengaja.
“Kalau aku minta mamah lagi, ... boleh, enggak?” Pia tersenyum sungkan menatap pak Samudra, tapi sebelah tangannya meraih tangan Amanda, menggenggamnya erat dan memang meminta dukungan.
Tak hanya pak Samudra yang bingung. Karena Amanda yang jelas-jelas istri dari pak Samudra dan otomatis merupakan mamah baru Pia, juga jauh lebih bingung.
Sekitar satu jam kemudian, Amanda dan pak Samudra sudah duduk di motor masing-masing, keduanya siap balapan di jalan biasa Amanda balapan. Amanda mengulurkan tangan kanannya kepada pak Samudra.
“Apa?” pak Samudra sampai membuka kaca helmnya.
“Sumpah, enggak akan ngalah apa pun yang terjadi,” ucap Amanda agak berseru karena mesin motor yaang sudah mereka nyalakan, membuat suasana di sana lumayan bising.
Pak Samudra yang sempat menjadi keki, berangsur menyalami tangan kanan Amanda. “Oke!”
Kemudian, yang Amanda lakukan tentu saja menitipkan Pia kepada pasukannya dan memang sengaja ia undang untuk menjadi saksi pertandingan mereka.
“Awas kalau enggak dijagain!” ujar Amanda benar-benar galak sambil mengepalkan tangan kanan ke anak buahnya yang jumlahnya lebih dari dua puluh orang.
Beberapa saat kemudian, pak Samudra dan Amanda nyaris meluncur dalam waktu bersamaan. Pak Samudra langsung memimpin pertandingan dan sukses membuat Amanda berikut pasukannya, termasuk itu Pia yang sedang diperjuangkan, ketar-ketir.
“Aku mau, ... aku beneran mau mamah. Aku mau pemerin mamahku ke temen-temen. Terus, ... terus aku juga mau jalan-jalan sama mamahku, kayak temen-temen. Liburan sama mamah, pokoknya aku mau seru-seruan bareng mamahku! Dan semua itu, ... juga harus ada Papah. Jadi, ... jadi, nanti aku, mamah, juga bareng-bareng papah. Kita liburan bareng mamah, yah, Pah?!” ucap Pia sekitar satu jam lalu dan kini terngiang-ngiang di ingatan Amanda. Alasan yang membuat Amanda begitu bersemangat memenangkan balapan.
“Sesakit ini, Pi. Padahal keinginan kita manusiawi. Bahagia bareng mamah sama papah kita! Cukup Kakak yang merasakan pedihnya merasa sendiri dan selalu dihakimi, kamu jangan! Kakak pastikan, apa yang kamu inginkan benar-benar akan terkabul!” batin Amanda yang tepat ditikungan sengaja menyalip pak Samudra dan mulai detik itu juga ia melesat melebihi kecepatan angin.
Demi Pia, agar gadis kecil itu tidak merasakan pedihnya merasa sendiri dan bahkan selalu dihakimi, Amanda sungguh melesat melebihi biasanya. Miko yang baru datang bersama rombongan, kian terpesona kepada Amanda.
“Yang itu beneran Amanda ...?” tanya Miko memastikan sambil menatap pebalap berjaket kulit warna cokelat tua yang memimpin dan makin lama makin dekat ke mereka.
“Kak Mandaaaaaaa!” Pia berteriak kegirangan. Dipanggul salah satu teman laki-laki Manda, Pia sibuk bersorak sekaligus bertepuk tangan. Tak kalah mencolok, kebahagiaan yang begitu besar dan sebelumnya belum pernah ia rasakan, membuatnya tersenyum lepas sambil berlinang air mata.
“Wah ... Manda!” batin Miko mesem-mesem sendiri memandangi Manda yang melesat melewatinya.
Mata tajam pak Samudra menyikapi kemenangan Amanda dengan sangat serius. Ia menghentikan laju motornya walau belum sampai garis akhir. Di depan sana, Amanda yang kebablasan, langsung putar balik, melepas helm, kemudian buru-buru mengemban Pia yang gadis itu bonceng di bagian depan. Amanda dan Pia berpelukan sangat erat merayakan kemenangan keduanya. Sebab kemenangan Amanda, sama saja dengan kemenangan Pia. Yang otomatis, pak Samudra harus menciptakan keluarga bahagia untuk mereka. Tentunya, Amanda juga akan belajar menjadi mamah yang baik untuk Pia.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments
Qaisaa Nazarudin
Awak Mik bini orang tuh,Udah ada hak paten nya,Noh lakik nya depan sana🤣🤣
2024-10-12
1
Qaisaa Nazarudin
Gitu Dong Man..Aku dukung kamu 10000% lho..
2024-10-12
0
Qaisaa Nazarudin
Lha itu udah ada mama di depan kamu..😂
2024-10-12
0