Sepiring buah semangka yang dipotong kecil, Pak Samudra sajikan kepada Amanda. Gadis itu tak sendiri. Karena di ruang keluarga, Amanda yang duduk lesehan di karpet, ditemani oleh Pia. Keduanya sama-sama sedang belajar.
“Makasih Papah! Aku makan, yah, semangkanya!” ucap Pia santun sekaligus ceria. Ia langsung meraih satu garpu yang ada di atas semangka kemudian menggunakannya untuk makan buah berwarna merah merona tanpa biji tersebut.
Amanda yang masih diam, melirik pak Samudra penuh peringatan. “Pak, ini anak, bukan tawanan. Wajahnya bisa lentur dikit engga? Biar enggak mirip kanebo butut yang super kering dan beneran lecek karena keringnya dalam keadaan mirip digulung!” sindirnya lirih.
Pak Samudra hanya melirik sinis Amanda. “Kerjakan saja semua tugas yang aku suruh. Setelah semuanya selesai dan hasilnya MANUSIAWI, baru kamu boleh ngomong begitu!” ia juga sengaja bertutur lirih.
Amanda merasa tertantang. Ia merenung sejenak kemudian memastikan kepada yang bersangkutan. “Yakin?”
Pak Samudra hanya menghela napas kemudian pergi begitu saja. Diam-diam, Pia yang mengawasi hanya mengerjap bingung kemudian menatap Amanda.
“Sumpah yah, ni bocah ... sudah enggak punya mamah, papah pun mirip jenglot hidup!” batin Amanda yang kemudian berkata, “Pia, ... hari minggu besok kita jalan-jalan, yuk?”
Amanda merencanakan semacam tamasya untuk Pia yang dirasanya kurang piknik. Sudah kurang kasih sayang apalagi kasih sayang orang tua, bagi Amanda anak sambungnya itu juga kurang healing. Jadwal Amanda benar-benar hanya belajar, makan, tidur, kemudian hidup.
“Jalan-jalan ke mana, Kak?” Pia langsung kepo, tapi ia sangat senang.
Amanda meraih satu garpu menggunakan tangan kiri. Ia melakukannya sambil menatap Pia kemudian berkata, “Kamu maunya ke mana? Semacam tamasya ke puncak, mau?”
Pia langsung girang dan sibuk mengangguk. Namun kenyataan tersebut membuat hati Amanda melow semelow-melownya karena biar bagaimanapun, Amanda paham rasanya hidup kurang perhatian apalagi kasih sayang.
“Nanti tiap minggu apa liburan, kita jalan-jalan. Ke taman bermain terdekat, main sepeda juga boleh.”
“Iya, Kak Manda, aku mau banget!”
Amanda turut bahagia atas kebahagiaan putri sambungnya. Dalam hatinya gadis itu berharap, Pia akan menjadi gadis yang tidak kekurangan kasih sayang. Cukup dirinya yang merasakannya, tidak dengan orang lain apalagi Pia.
“Kamu bisa naik sepeda, enggak?” lanjut Amanda.
Pia langsung tak seantusias sebelumnya. Ia menggeleng lemah.
“Nanti Kakak ajarin!” janji Amanda yang jadi lahap menghabiskan buah semangkanya karena rasanya sangat manis, selain buahnya yang juga dingin dan tampaknya baru dari kulkas.
Pia langsung kembali girang sekaligus mengangguk. “Iya Kak Manda, makasih banyak, Ya!”
Amanda mengangguk-angguk tak kalah girang. Rasanya, kebahagiaan Pia langsung menular kepadanya. Malahan Amanda berpikir, Pia bisa menjadi teman baiknya.
Sekitar setengah jam kemudian, pak Samudra yang datang membawa sebuah buku tebal, langsung kebingungan lantaran selain sepi, ruang keluarga yang ia datangi malah tidak ada kehidupan. Amanda dan Pia tidak ada di sana.
“Mereka ke mana?” pikir pak Samudra yang walau di rumah, pakaiannya masih rapi. Ia masih memakai kemeja lengan panjang dipadukan dengan celana levis panjang dan itu sudah bukan pakaian saat ia kerja ke sekolah.
Tanpa bersuara, pak Samudra bergegas melongok ke setiap ruangan di rumah. Di semua ruangan tidak ada termasuk dapur. Membuat pak Samudra menaiki anak tangga menuju lantai atas. Ia menjadikan pintu kamar di seberang pintu kamarnya sebagai tujuan. Itu kamar Pia, tapi setelah ia periksa termasuk balkonnya, di sana juga tidak ada kedua orang yang ia cari. Namun ketika ia akan pergi dari balkon, di jalan depan sana dekat pos kompleks, ia melihat pesepeda yang memboncengkan seseorang. Yang mengayuh Samudra kenali sebagai Amanda, sementara yang dibonceng itu Pia, putrinya.
“Bobanya juga enak, Kak!” ucap Pia.
“Ini yang buat Oma cair enggak, ya? Soalnya di luar panas banget, terus kita belinya juga antre,” ujar Amanda yang mengambil alih kantong belanjaan mereka.
Pak Samudra yang nyaris berseru dan setidaknya ceramah beberapa saat karena Amanda pergi tanpa pamit, langsung bengong hanya karena mendapati Amanda dengan gesit menyeka sekitar mulut Pia yang belepotan es krim. Ternyata di balik sikap bar-bar dan sangat dingin, seorang Amanda memiliki sikap keibuan.
“Papah! Kak Manda abis ngajak aku naik sepeda, terus kami beli es krim Maxi ... udah izin ke Oma, dan boleh, kok!” sergah Pia yang sampai berlari mendekati pak Samudra yang kali ini lebih mirip patung karena pria itu hanya diam.
Amanda langsung mencebik sinis kepada pak Samudra. “Hidup ini sudah susah, Pak. Jadi jangan dibiasakan jadi patung gitu!” Ia memilih pergi ke lorong sebelah mengantarkan es krim dan juga minuman boba yang sengaja ia belikan khusus untuk sang mamah mertua.
“Enak nih, panas-panas makan es krim sama minum boba juga. Pia suka es krim sama bobanya?” ucap ibu Sintia yang ikut keluar dengan Amanda. Ia turut bergabung dalam kebersamaan di ruang keluarga. Di sana, pak Samudra masih menjadi guru pengawas untuk Amanda dan juga Pia.
“Pia jadi ada temen, ya? Pia sayang Kak Manda, kan?” ucap ibu Sintia sambil menikmati es krimnya yang cair. Di sebelah Amanda, Pia yang juga duduk di karpet mengangguk-angguk sambil menghabiskan bobanya.
“Tuh, Sam ... Pia sudah sayang Manda. Sekarang giliran kamu yang terbiasa sayang Manda!” ucap ibu Sintia wanti-wanti.
Amanda yang awalnya tengah menyedot santai es bobanya, dan benar-benar menikmatinya sambil mulai bersiap untuk kembali belajar, langsung tersedak dan berakhir terbatuk-batuk.
Lain dengan Amanda, pak Samudra yang duduk di sofa tunggal sebelah Amanda, tetap cuek dan sesekali memeriksa buku tebal di pangkuannya.
“Manda, kamu enggak apa-apa?” tanya ibu Sintia memastikan. Ia sampai berdiri dan menghampiri sang menantu kemudian menepuk-nepuk pelan punggung Amanda.
“Iya, Mah. Aku baik-baik saja!” balas Amanda yang masih batuk-batuk. “Ini pembahasan zona dewase ini!” batinnya menjadi deg-degan. Apalagi jika ia menghadapi pak Samudra yang sekadar hidup saja segan. Mati tidak, hidup segan, itulah kenyataan pak Samudra.
“Kamu juga harus terbiasa, ya. Rukun-rukun, saling sayang. Gitu-gitu, Samudra aslinya penyayang kok!” yakin ibu Sintia yang kali ini mengelus punggung Amanda penuh sayang.
“Duh, kan ...,” batin Amanda menjadi tegang. “Ya Tuhan, beresin soal-soal ini saja aku sudah pusing. Apalagi kalau harus beresin rumah tangga dan suaminya model pak Samudra? Ayolah masa iya aku harus komunikasi bahkan punya suami patung yang hidup segan, mati pun belum?” batin Amanda lagi yang kali ini menjadi uring-uringan. Apalagi jika ia melirik pak Samudra, duh ia juga mendadak tak punya selera hidup jika teman hidupnya terlalu flat begitu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments
adning iza
penasaran dg masalaluy duda garong😁😁😁😁
2023-11-27
1
Sandisalbiah
ini biasanya duda dingin dan kaku bahkan setelah punya pasangan hasil perjodohan makin kaku aja tp ke ank biasanya bersikap lembut dan sayang... lah.. si Samudra ini luar biasa.. ke istri lempeng, kaku.. ke anak sama aja.. jgn² Pia bukan ank kandung Samudra ya..?
2023-11-10
1
Qaisaa Nazarudin
Kasihan banget si Pia punya bapak kek gitu,udah gak punya mama,,anak yg kurang kasihsayang, emang masalah sebenar pak Samudra itu apa sih??
2023-06-30
1