Selain menjadi regu terbaik, ternyata Pia juga menjadi ketua regu tebaik. Amanda langsung bersorak heboh sambil terus bertepuk tangan. Sementara di sebelahnya, pak Samudra juga tak hentinya tersenyum sambil bertepuk tangan. Amanda pergoki, pria yang mengajaknya untuk memulai hubungan mereka itu sampai berkaca-kaca.
“Enggak usah malu, Pi! Kamu keren! Kamu hebat, ayo!” seru Amanda lantaran di dekat api unggun sana, Pia yang tengah ditanya-tanya mengenai perasaan bocah itu setelah membuat regunya menang, selain Pia yang juga menjadi ketua regu terbaik, malah kebingungan. Pia terlihat sangat tidak begitu percaya diri, padahal anak itu sangat berbakat.
Pia langsung menatap ke arah Amanda. “Makasih banyak, Mamah!” ucapnya berkaca-kaca apalagi Amanda langsung memberinya gerakan finger heart menggunakan kedua tangan.
“Bagaimana rasanya punya anak berprestasi, Pak? Sumpah aku bersyukur banget untung datang ke sini dan lihat semua ini. Candu banget!” ucap Amanda masih menjadikan Pia sebagai fokus perhatian.
“Yang jelas bangga banget!” ucap pak Samudra yang kemudian juga meminta Amanda untuk berprestasi juga agar orang tua Amanda juga bangga.
“Kayaknya ceritanya bakalan beda deh Pak kalau aku yang berprestasi. Buktinya kemarin, dua hari berturut-turut saya dapat nilai paling tinggi, sama sekali enggak ada yang ngucapin selamat. Malahan gurunya saja kayak dendam,” balas Amanda.
“Sekarang hal semacam itu enggak akan pernah terjadi lagi karena mereka tahu, kamu adik saya,” ucap pak Samudra masih menatap Amanda. “Intinya, kamu harus jadi orang hebat. Kamu harus jadi orang keren biar mereka mau lihat bahkan menghargai kamu. Karena kalau bukan siapa-siapa apalagi orang yang malah hobi bikin onar, jangankan dilihat, jangan diinjek saja untung.” Setelah berucap demikian, pak Samudra juga berkata, “Makanya banyak orang yang numpang tenar karena mereka ingin dilihat, diperhatikan, kemudian diakui.”
Amanda mendengkus pasrah. “Tiap saat dikasih ceramah kayaknya bentar lagi aku bakalan jadi orang bener!” lirihnya.
“Saya akan selalu menunggu sampai kamu siap,” ucap pak Samudra.
Amanda merasa geli mendengarnya, dan ia memberikan ekspresi wajah menjengkelkan kepada sang suami. Namun hadirnya Pia membuatnya kembali ceria dan segera memeluk bocah itu. Pia memakai dua kalung piagam sekaligus.
“Sepertinya saat ini Pia memang jadi satu-satunya alasan Amanda bahagia,” batin pak Samudra. Bersama Amanda, ia mengenalkan diri sebagai orang tua Pia kepada teman-teman anaknya itu.
“Papah mamah kamu masih muda banget. Apalagi mamah kamu kayak anak SMP!” ucap salah satu dari mereka.
“Bukan karena masih kecil, tapi ini efek kami yang awet muda!” balas Amanda.
“Orang tuanya awet muda kok anaknya tua!” ucap bocah itu lagi dan membuat yang lain tertawa.
“Tua bagaimana?” jengkel Amanda. “Mohon maaf, coba lihat baik-baik. Wajah kalian juga kelihatan sebaya, meski memang tubuh Pia sedikit lebih besar dari kalian. Alasan tubuh Pia lebih besar kan memang proses pertumbuhan. Ini masih normal. Yang enggak normal itu kalau kepala yang besar tapi tubuh kecil.”
“Setelah ini kalian jangan ejek-ejek Pia lagi, ya. Sekolah kan buat belajar, bukan buat ejek-ejekan. Kalaupun sekolah juga sambil buat cari teman, bukan berarti kalian sibuk mengejek teman yang menurut kalian enggak lebih baik dari kalian,” ucap Pak Samudra.
“Ya sudah, Mamah sama Papah sudah siapin hadiah buat Pia. Teman-teman Pia mau ikut?” sergah Amanda berusaha bersikap manis kepada teman Pia.
Semuanya kompak menggeleng dan berdalih sudah ditunggu orang tua masing-masing. Karenanya, Amanda dan pak Samudra hanya pergi bersama Pia menuju tempat parkir.
Di tempat parkir, Amanda segera menggelar tikar, sementara pak Samudra sengaja membuat bagasi mobil terbuka sempurna.
“Kita panggang-panggang pakai taflon dan kompor mini!” ucap Amanda makin ceria.
Pak Samudra yang menjadi kerap senyum karena keceriaan Amanda berkata, “Memang bisa? Saya enggak yakin kamu bisa. Sini, saya saja yang urus.”
Amanda langsung minggir, membiarkan pak Samudra mengurus semuanya. Amanda memilih mengepang dua rambut panjang Pia sambil menunggu semua daging, sosis, udang, termasuk ramen mereka matang dikerjakan oleh pak Samudra.
“Sini, aku yang aduk-aduk ramennya, Pak!” ucap Amanda bersemangat.
Ada dua kompor kecil di sana hingga mempercepat masak-masak mereka.
“Pi, lain kali kalau mereka masih gangguin kamu, kamu laporin ke Papah, ya!” ucap pak Samudra yang kemudian memberikan sepiring sosis panggangnya kepada Pia.
Walau ragu, Pia berangsur mengangguk-angguk.
“Kamu itu pinter, Pi. Kamu keren, kamu berharga, jadi jangan mau diejek-ejek apalagi kalau kamu enggak salah,” sambung Amanda yang langsung membawa kabur panci berisi ramennya.
“Ini saya enggak dikasih ramennya?” tegur pak Samudra.
Pia langsung mesem menyaksikan tingkah menggemaskan sang papah yang minta diperhatikan Amanda.
“Kita makannya di dekat Papah saja,” ucap Pia.
Amanda tak jadi mendekati Pia. Jadilah demi Pia yang terlihat langsung bahagia hanya karena melihat interaksi kedekatannya dengan pak Samudra, Amanda memberikan perhatiannya kepada pria itu. Amanda tak hanya menyuapi Pia maupun dirinya sendiri karena ia juga menyuapi pak Samudra menggunakan sumpit yang sama.
“Minggu depan kita jadi kemah sendiri?” tanya Pia yang baru saja menerima suapan daging panggang dari sang papah. Tak hanya kepadanya, sang papah juga menyuapi Amanda. Meski ketika menerima suapan dari pak Samudra, Amanda terlihat malu-malu sekaligus canggung.
“Jangan Minggu depan, nanti kalau Mamah sudah beres ujian kelulusan sekolah saja,” ucap Pia.
“Oh ya udah. Aku beneran bahagia banget!” ucap Pia.
Pak Samudra dan Amanda langsung mesem memandangi Pia.
“Besok Papah harus jemput pukul berapa?” tanya pak Samudra.
“Sebelum pukul delapan yah, Pah.” Pia langsung menerima suapan ramen dari Amanda lagi.
Menyuapi pak Samudra, lagi-lagi Amanda merasa deg-degan.
“Besok, kamu juga harus melakukan yang terbaik!” ucap pak Samudra yang kemudian menerima suapan dari Amanda. Amanda langsung tidak berani menatapnya, tapi ia sengaja memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menunjukkan rasa sayangnya. Ia menciuum kening Amanda, dan langsung mendapat lirihan ciee dari sang putri.
“Bapak, ih!” lirih Amanda sambil menatap sebal pak Samudra.
“Kenapa?” balas pak Samudra tak merasa bersalah.
Amanda langsung mendengkus sebal, tapi ia langsung membuka mulutnya ketika sumpit pak Samudra yang dihiasi potongan daging panggang, siap menyuapinya. Hanya saja tepat ketika ia akan melahapnya, daging itu malah diarahkan ke dalam mulut pak Samudra sendiri.
Dengan mulut penuh, Pia menertawakan itu. “Tumben Papah begitu? Biasanya Papah cuman diem!” ucapnya.
Detik itu juga Amanda sadar, pada kenyataannya, sebuah perubahan tidak akan pernah terjadi jika dirinya saja tidak melakukannya lebih dulu. Tidak ada yang mampu mengubah orang lain tanpa kemauan dari yang bersangkutan. Jadi, pantas papah Amanda memilih membuang Amanda karena Amanda saja tidak berubah seperti yang papahnya mau.
“Ini memang sudah saatnya. Sudah saatnya aku berubah, membuat diriku lebih dihargai. Aku harus membuat hidupku lebih berarti,” pikir Amanda.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments
Erina Munir
good Amandaa...semangaat
2024-02-17
1
adning iza
semangat amanda ayo bangkit
2023-11-27
0
Sandisalbiah
kadang yg namanya ank walaupun tau tp pura² gak ngerti hanya krn ingin diperhatikan, dan terkadang orang tua tdk sepeka itu terhadap ke inginkan anak...
2023-11-10
0