Keesokan harinya, Miko yang diantar sang sopir, berniat langsung mencari motor lawan Amanda di balapan kemarin malam. Lebih kebetulannya lagi, Miko yang turun tak jauh dari gerbang sekolah, malah sudah langsung motor hitam yang dicari. Miko yakin memang motor tersebut, apalagi jika melihat plat motornya : PI4.
Buru-buru Miko menguntit, mengikuti kepergian motor yang malah langsung masuk ke area tempat parkir khusus untuk kendaraan guru atau pun staf sekolah di sekolah mereka.
“Bentar, deh. Kok yang langsung di otakku, itu pak Samudra, ya? Memang enggak ada yang sekeren dia, kan? Dia bahkan lebih cocok jadi murid ketimbang guru?” batin Miko sampai menghentikan penguntitannya. Ia tak sampai masuk area parkir yang sudah ditongkrongi oleh banyak siswi. Jangan tanyakan kenapa bisa begitu karena tentu saja, penyebabnya masih orang yang sama. Iya, siswi-siswi di sana sibuk mencuri perhatian pak Samudra. Mereka yang jumlahnya belasan, kompak membawa hadiah. Mirip hadiah persembahan. Namun dari semuanya, tak ada satu pun yang diterima atau sekadar dilirik pak Samudra. Pak Samudra memang sedingin itu. Lebih kejam dari pembunuh bayaran.
“Kan beneran, ... itu beneran pak Samudra. Jadi yang semalam itu pak Samudra? Tapi ngapain dia sampa balapan sama Amanda?” pikir Miko. Kemudian, yang tak kalah membuatnya penasaran tentu saja perihal Amanda yang menyebut pak Samudra sebagai suaminya.
“Diam-diam, ternyata si Manda juga naksir pak Samudra?” pikir Miko lagi yang langsung dikejutkan oleh kehadiran Amanda. Karena baru saja, gadis cantik yang kembali menggerai rambut panjang indahnya itu lewat. Amanda lewat membawa satu kantong karton berisi buku jurnal, buku pelajaran, dan juga setumpuk lembar pertanyaan maupun lembar jawaban.
“Semua itu buat apa? Terus, sejak kapan si Manda jadi rajin gitu? Kan aku jadi tambah cinta!” batin Miko. Demi bisa mengikuti Amanda lebih lama, ia sengaja tak bersuara.
Hari ini Amanda terlihat sangat tidak sehat. Mata lebarnya menjadi mirip mata panda, selain gadis itu yang sibuk menguap. Amanda terlihat sangat mengantuk. Lebih anehnya lagi dan membuat semua mata tertuju kepadanya, masih sangat pagi tapi gadis yang terkenal sering bikin onar itu malah masuk ruang guru.
“Ini ...,” lirih Amanda memberikan kantong kartonnya kepada pak Samudra yang baru melepas jaket kulit hitamnya.
Miko tak hanya mengintip kebersamaan di dalam, seorang diri. Sebab sebagian siswi fans garis keras pak Samudra juga menemaninya. Mereka mengintip dari sisi pintu.
Pak Samudra melirik Amanda. “Kamu kasih langsung ke setiap guru pelajarannya. Nanti setelah serah terima, baru saya yang urus.”
Amanda mendengkus loyo seiring tubuhnya yang menunduk. “Bapak jahat banget sih. Nanti aku laporkan ke komnas perlindungan anak sekaligus perlindungan perempuan loh.”
“Belajar tanggung jawab. Malu sama Pia!” tegas pak Samudra yang langsung duduk.
Amanda melirik sinis sang suami. Satu hal yang ia syukuri, sampai detik ini pria itu tidak minta macam-macam apalagi aneh yang dalam tanda kutip. Hanya kejadian alarm di beker saja yang baginya paling keterlaluan dan itu sampai tidak bisa Amanda lupakan.
Tanpa kata, ternyata pak Samudra mengulurkan satu botol kopi kemasan berlabel hati warna ungu kepada Amanda. Amanda yang tidak melihatnya karena gadis itu terus menunduk, baru tahu karena pak Samudra berdeham sangat keras.
“Buat apa?” tanya Amanda masih sinis. Jaraknya dan pak Samudra memang hanya dipisahkan oleh meja kerja pria itu.
Pak Samudra yang siap duduk di kursi kerjanya, menjadi menatap sebal Amanda. “Kamu enggak sadar, hari ini kamu jeleeek, banget? Seperti itu wajah kamu mirip nenek-nenek!”
Amanda yang menyimak berangsur melirik sinis pak Samudra. “Mau mirip nenek-nenek, emak-emak, bapak-bapak, kuli bangunan, atau silumin sekalipun, aku beneran enggak peduli.” Ia mengakhirinya dengan menggeleng tak habis pikir tanpa peduli kepada pak Samudra. Karena sekadar meliriknya saja, ia tidak melakukannya.
Mereka yang menonton dari pintu, sangat menyayangkan kenapa Amanda tidak menerima kopi botol pemberian pak Samudra. Karena andai mereka yang jadi Amanda, alamatnya tuh kopi botolan bakalan mereka buatkan museum khusus untuk menyimpannya.
“Mereka memang dekat. Aku yakin mereka punya hubungan spesial selain hubungan murid dan guru. Kalau gitu nanti pulang sekolah, aku mau ikutin pak Samudra. Di mana sih, alamat rumahnya?” batin Miko yang jujur saja sangat cemburu melihat interaksi Amanda dan pak Samudra. Karena berbeda dari ketika pada wanita lain bahkan murid-murid di sekolah mereka, pada Amanda yang sangat cuek, pak Samudra justru yang sibuk memperhatikan sekaligus memberi perhatian.
Sambil melongok ke arah pintu yang ia biarkan terbuka sempurna dan ia yakini banyak yang mengintip, pak Samudra berkata, “Nanti kamu minta maaf. Kamu wajib sopan dan tunjukan penyesalan kamu. Ingat janji kamu buat jadi lebih baik lagi. Enggak kebayang kalau kamu sampai enggak lulus dan malah enggak naik kelas.”
“Nanti aku panjat gedung sekolah ini, biar aku lebih dari naik kelas, Pak!” sebal Amanda sambil melirik pria di sebelahnya.
Pak Samudra yang sudah duduk dan awalnya akan menenggak kopi yang Amanda tolak, refleks menelan ludah sambil menatap tak habis pikir sang istri.
Seharian ini Amanda menjalaninya dengan terkantuk-kantuk. Namun berbeda dari biasanya, kali ini gadis itu menghadapi ulangan dengan mudah. Sebab semua soal yang harus Amanda kerjakan sudah sangat Amanda pahami efek berjam-jam selalu dipaksa belajar oleh pak Samudra.
“Sumpah segampang ini. Ini yang di ringkasan buatan pak Samud,” batin Amanda. Ia menjadi murid yang paling lancar menulis setiap jawaban. Malahan, ia mendapat nilai sempurna dan sampai dipuji-puji oleh guru Sains yang memberi soal ulangan.
Tak ada yang bertepuk tangan atau sekadar mengucapkan selamat kepada Amanda walau sang guru menuntun mereka untuk melakukannya. Semuanya tampak memusuhi Amanda, tapi Amanda sama sekali tidak keberatan karena gadis cantik itu memang tidak peduli. Bahkan walau di jam istirahat Amanda malah ketiduran di kelas hingga jam pulang, Amanda sungguh tidak peduli.
“Jangan langsung pulang, bersihkan toilet dulu. Itu hukuman dari saya karena kamu tidur di jam saya dan sampai tidak bisa dibangunkan!” ucap ibu Rani, selaku guru matematika yang telah Amanda lewatkan. Padahal wanita berusia empat puluh tahun dan kabarnya belum menikah itu terkenal sangat galak.
Di dalam kelas hanya ada mereka berdua. Juga pak Samudra yang nyaris masuk dan memergoki hukuman yang ibu Rani berikan kepada Amanda.
“Kalau aku pikir-pikir, ibu Rani aneh, loh. Ibu ini kan guru matematika, tapi kalau kasih hukuman, selalunya bersihin toilet. Maaf-maaf saja nih, Bu. Saya di sekolahin di sini enggak buat jadi tukang bersih-bersih. Kalaupun saya ketiduran atau lainnya, ... ibu juga harus pakai hati Ibu karena biar bagaimanapun, guru ibarat orang tua murid.” Amanda yang masih duduk di kursinya, berbicara pelan dan memang karena masih lesu.
“Hukum murid Ibu sesuai pelajaran yang Ibu ajarkan saja. Sesuai bidangnya. Iya kalau Ibu lagi hoki, dan yang Ibu hukum, enggak mempermasalahkan hukuman aneh dari Ibu. Bayangin kalau murid yang ibu hukum anak pejabat dan yang lainnya, terus mereka sengaja serang Ibu?” lanjut Amanda yang kemudian minta maaf. “Maaf kalau aku banyak bicara. Tapi memang sudah seharusnya, orang seperti Ibu dilawan biar Ibu enggak semena-mena.”
“Kalau Ibu mau hukum, hukum pakai soal saja. Itu jauh lebih baik daripada Ibu asal kasih nilai nol. Atau malah Ibu kasih saya hukuman buat bersih-bersih. Takutnya aku atau murid lain mendadak sakit atau malah fatalnya mati pas jalani hukuman dari Ibu. Yang susah enggak hanya Ibu, tapi juga sekolah ini dan tentunya, keluarga korban kalau memang korban memiliki keluarga.”
Pak Samudra yang juga setuju dengan cara pikir Amanda sengaja masuk. “Hukum pakai soal saja, Bu. Ini sekolah, bukan tempat kerja rodi apalagi perbudakan.” Ia menatap marah ibu Rani yang detik itu juga langsung kicep.
“Saya temani di sini,” lanjut pak Samudra sengaja duduk di kursi paling ujung depan sebelah pintu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments
Qaisaa Nazarudin
Wahh Nomor plat nama Pia..👏👏👍👍
2024-10-12
1
Erina Munir
hahaaaa ... malllesin guru kaya gitu maah
2024-02-16
0
adning iza
ciieeee dibelain pak su
2023-11-27
0