“Ndaaaa ....”
Hari-hari Amanda berjalan layaknya biasa. Sesampainya di sekolah, ia sudah langsung dikejar oleh Miko. Ketua OSIS yang juga merupakan adik kelasnya itu meminta maaf. Mengaku cinta tapi dengan sengaja membalasnya dengan memacari gadis lain dan yang lebih ke betulannya lagi, gadis itu malah Anya.
Di lorong pertama setelah pintu masuk sebelah gerbang sekolah, untuk kali pertama Amanda memutuskan untuk menanggapi Miko. Amanda balik badan kemudian menghela napas pelan.
“Apakah selama ini aku begitu mengganggu bahkan menyakiti kamu? Jika iya, aku benar-benar minta maaf.”
Apa yang baru saja Amanda katakan ditambah wajah gadis itu yang begitu datar, teramat mengganggu seorang Miko. “Maksud kamu apa, Nda? Justru aku yang harusnya minta maaf karena selama ini aku juga yang selalu mengganggu kamu.”
“Jika kamu sudah sadar selama ini kamu sudah menggangguku, tolong berhenti sekarang juga.” Amanda masih menyikapi Miko dengan dingin.
Miko menggeleng tegas, jelas tidak bisa melakukan apa yang baru saja Amanda minta kepadanya. “Aku enggak bisa, Nda. Apalagi sejauh ini, alasan aku mengganggu kamu karena aku suka, aku sayang, aku cinta kamu. Alasanku mengganggu kamu karena aku sedang berusaha mencuri perhatian kamu. Apalagi sejauh ini, kamu ... kamu beneran susah ditebak.”
Amanda menggeleng kemudian mundur. “Jangan membuang-buang waktumu untuk hal yang hanya akan membuat kamu menyesal.”
Miko menghela napas dan mulai merasa frustrasi. “Ndaaa, please!”
“Apalagi kamu sudah sama Anya. Berteman denganku saja, itu hanya akan membuatku semakin berdosa di mata papahku. Aku beneran capek, dan aku beneran sudah enggak ... aku enggak mau mikir!” Amanda langsung pergi.
Miko langsung mengejar, tapi Amanda terus menghindar. Namun pagi ini ada yang berbeda, semuanya apalagi para siswi mendadak sangat manis kepada Amanda. Mereka kompak perhatian bahkan tak segan memberi hadiah kepada Amanda. Baik berupa makanan, boneka, bahkan ada yang sampai menawari Amanda tiket konser BB Korea Selatan yang kebetulan akan menggelar konser di Indonesia khususnya di Jakarta.
“Kamu kok enggak pernah bilang kalau kamu ini ternyata adiknya pak Samudra?” celetuk salah satu dari mereka dan sudah langsung membuat Amanda paham alasan perhatian dan juga sikap manis yang ia dapatkan karena apa.
“Memangnya siapa yang bilang?” tanya Amanda masih menyikapi dengan dingin.
“Pak Samudra,” ucap siswi tersebut bertepatan dengan kehadiran pria bertubuh tinggi nan atletis dan tidaklah lain pak Samudra.
Bukan orang lain atau siswi yang baru menyebut namanya yang ditatap pak Sumudra, melainkan Amanda yang langsung memberinya wajah sangat datar.
“Makin hari malah makin mati rasa saja nih anak!” batin pak Samudra yang kemudian mengisi kelas. Mengabarkan akan adanya kelas tambahan mulai Senin depan untuk kepentingan ujian kelulusan.
Seperti yang pak Samudra harapkan, semua siswi menjadi bersikap sangat manis kepada Amanda. Walau yakn kenyataan tersebut akan membuat Amanda yang biasa serba sendiri merasa muak, itu jauh lebih baik daripada Amanda malah dimusuhi satu sekolah. Belum lagi Anya yang masih saja menyikapi Amanda layaknya musuh.
“Sejak kapan kamu jadi adiknya pak Samudra?” sinis Anya yang membawa pasukannya di lorong menuju pintu keluar.
Amanda yang masih bersikap sangat dingin, hanya menyunggingkan senyum mengejek sambil menggeleng tak habis pikir. Anya yang kesal dan tidak terima nekat menarik sebelah lengan Amanda, tapi detik itu juga siswi yang bukan pasukan Anya langsung melerai. Mereka semua kompak membela Amanda, kemudian memastikan keadaan Amanda yang mereka harapkan baik-baik saja.
“Nda, pulang bareng, yuk?” ujar Miko masih usaha. Ia baru datang dari arah belakang kemudian meyakinkan bahwa dirinya dan Anya sudah putus.
“Baru jadian kemarin malam sudah putus? Enggak beres banget,” uring Amanda yang juga sukses menciptakan gosip hangat untuk mereka-mereka yang ada di sana dan tentu saja membuat Anya malu.
“Ndaa, ayo pulang. Katanya mau belanja buat Pia,” ucap pak Samudra tak kalah flat dari Amanda.
Amanda segera menghampiri pak Samudra yang sudah duduk di motor dan hanya tinggal menunggunya. Pria itu memberinya helm dan ia segera memakainya tanpa memikirkan apa yang sedang mereka pikirkan.
“Jadi, alasan Bapak bilang kalau saya adik Bapak, juga biar kita bebas dari segala fitnah?” tanya Amanda ketika mereka sudah meninggalkan area sekolah.
“Tentu!”
Sesingkat itu jawaban dari pak Samudra.
“Apakah saya harus memberi kamu bunga setaman?” ucap pak Samudra tiba-tiba.
Amanda langsung terkejut, tak percaya dengan apa yang baru ia dengar. “Bapak kesurupaan?”
“Kalau begitu, biarkan saya kesurupan setiap saat,” tegas pak Samudra yang kemudian langsung mengegas motornya.
Amanda yang nyaris mental karena ulah pak Samudra dan awalnya memang tidak mau pegangan pada pak Samudra, refleks memeluk pak Samudra sangat erat. Pelukan yang terus berlangsung karena pak Samudra terus saja ngebut.
“Pak Samudra, Bapak beneran kesurupan?!” omel Amanda, tapi pak Samudra tetap ngebut selain pria itu yang memang diam-diam tersenyum penuh kemenangan.
Sampai di depan mini market, Amanda baru mengakhiri dekapannya walau detik itu juga, gadis itu langsung memukkulii punggung sang suami.
“Stresss!” omel Amanda. “Sudah sana, Bapak pulang saja. Nanti saya pulang sendiri biar lebih aman!” Ia melepas helmnya kemudian memberikannya kepada pak Samudra.
“Kalau saya tinggalin kamu di sini, terus kamu diambil orang bagaimana? Alamatnya saya enggak punya istri lagi, kan?” balas pak Samudra sambil menahan senyum.
Ekspresi yang sungguh langka dan memang baru Amanda lihat bahkan dapatkan. Amanda hanya menggeleng tak habis pikir dan langsung meninggalkan pak Samudra setelah pria itu menerima helm pemberiannya.
Amanda pikir, pak Samudra hanya akan menunggu di luar. Namun pria itu sampai membawa keranjang belanjaannya. Terus mengikuti dan sesekali bertanya sekaligus mengajaknya bicara.
“Nanti malam ada api unggun, ya?” tanya Amanda yang kemudian mengambil beberapa bungkus marshmellow.
“Api unggunnya kan bukan buat bakar-bakar, Nda. Kecuali kalau kita bawa kompor kecil. Mau?” balas pak Samudra.
“Kayaknya seru. Nanti sekalian bawa tikar buat kita duduk,” balas Amanda yang baru membayangkannya saja sudah langsung tersenyum bahagia.
“Senyum pertama yang benar-benar senyum bahagia,” batin pak Samudra yang sangat menikmati senyum sang istri. Kemudian ia mengulurkan tangan kanannya, membantu Amanda bangun.
“Dibiasakan,” ucap pak Samudra yang ingin Amanda terbiasa kepadanya.
Amanda langsung menatap malas pak Samudra. “Tapi jangan macam-macam loh, Pak!”
“Macam-macam juga enggak apa-apa, sih!” balas pak Samudra enteng.
Balasan yang langsung membuat Amanda tak jadi meraih uluran tangan pak Samudra. Pak Samudra tersenyum geli melepas kepergian Amanda. “Mau beli kompor mini, kan?” ucapnya sengaja mengingatkan dan sukses membuat Amanda berhenti melangkah. Gadis itu berangsur menoleh bahkan perlahan menatapnya. “Senyum!” pintanya, tapi tetap saja Amanda tidak mau. Termasuk itu ketika di kasir yang dipenuhi aneka pilihan cokelat, ia juga mengambil satu yang dikemas dalam bentuk hati. Amanda masih menolak.
“Terima!” pinta pak Samudra, tapi Amanda tetap cuek. Meski pada akhirnya, pria itu tetap membayar cokelatnya. Makanan yang kerap menjadi simbolis rasa sayang bahkan cinta itu berakhir di bantal biasa Amanda tidur.
To : Amanda
Tolong senyum, Nda. Anggap saja ini permintaan suami. ^_^
“Sampai dikasih kartu ucapan,” lirih Amanda yang memang meraih cokelatnya.
Amanda memang baru keluar dari kamar mandi setelah sebelumnya sengaja mandi dan bersiap mengunjungi Pia di perkemahan.
Pak Samudra yang baru akan masuk kamar mandi dengan kedua tangan yang mendekap pakaian ganti, melongok ekspresi Amanda. Gadis itu masih duduk di pinggir tempat tidur membelakanginya, tapi cokelat yang ia tinggal di sana sudah Amanda ambil.
“Masih tetap enggak suka?” tanya pak Samudra memastikan.
Amanda yang memangku cokelatnya berangsur menunduk. “Suka, tapi kalau begini, aku jadi pengin nangis.”
“Ya sudah nangis saja,” ucap pak Samudra enteng.
Amanda langsung menoleh, menatap sang suami yang masih berdiri di bibir kamar mandi. “Jahad banget!”
“Soalnya hanya momen begitu yang bikin saya punya alasan bisa memeluk kamu. Kalau enggak gitu, pasti kamu enggak mau, kan?” balas pak Samudra.
“Ini masih bagian dari kesurupann?” tanya Amanda memastikan.
Pak Samudra mengangguk-angguk.
“Berarti ini bukan sayang, kan kesuruppan,” balas Amanda.
Dengan santai pak Samudra berkata, “Saya beneran sayang kamu, kok.”
Deg-degan, mendadak Amanda merasakannya hanya karena apa yang baru saja pak Samudra katakan. Buru-buru ia memunggungi pria itu agar pak Samudra tak menyadari bahkan sekadar pengakuan yang belum bisa ia pastikan tulus tidaknya, tapi sukses membuatnya deg-degan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments
Erina Munir
ahaaa...akhirnya degdegan juga....
2024-02-17
1
adning iza
akhiry kmbali berdetak jg htiy amanda
2023-11-27
0
Sandisalbiah
sebegitu para hati seorang ank krn ke egoisan papa nya.. sampai buat menerima perhatian dr org lain aja Manda sangat hati²,takut semua itu hanya fake dan dia gak mau kecewa plus terluka lagi... miris banget sih kamu Manda... 😞😞
2023-11-10
0