Kepulangan pak Samudra yang sengaja Miko tunggu, malah membuat cowok itu mengetahui bahwa pak Samudra sampai membonceng Amanda. Memang tidak ada interaksi berlebihan, tapi Miko yang mengawasi dari tempat duduk penumpang jemputannya, merasa janggal. Lebih janggalnya lagi karena pak Samudra membawa Amanda ke sebuah rumah yang bukan rumah orang tua Amanda.
“Kira-kira ini rumah siapa? Kalau ini memang rumah pak Samudra karena motornya saja sampai dikandangin di depan garasi, terus ngapain pak Samudra bawa Amanda ke sini?” batin Miko menerka-nerka, melongok dari balik kaca jendelanya. Di rumah berlantai dua yang terbilang mewah tersebut, Amanda tak kunjung keluar. Karenanya, ia sengaja bertanya kepada satpam yang berjaga.
“Pak maaf ... ini, beneran rumah pak Samudra, kan? Ini saya muridnya, saya ketua OSIS yang juga temennya Manda, Pak.” Miko sampai turun, berdiri di depan gerbang berkomunikasi dengan satpam yang berjaga dan berdiri di dalam sana. Kebersamaan mereka hanya dipisahkan oleh gerbang besi berwarna hitam.
Di dalam kamar, Amanda sudah langsung tidur dengan keadaan meringkuk, sedangkan di punggungnya masih dihiasi tas gendong warna biru tua. Pak Samudra yang baru masuk dan juga masih memakai pakaian kerjanya, langsung menghela napas pelan memergokinya. Bahkan kaki Amanda masih memakai kaus kaki putih, sementara gadis itu tidur dalam keadaan mangap. Namun tampaknya, Amanda sudah sangat lelap.
“Nda, makan dulu.” Pak Samudra menaruh nampan berisi makan siang yang ia bawa dan sengaja ia siapkan khusus untuk Amanda, di meja belajar.
“Nda ...?” panggil pak Samudra lagi dan masih sangat sabar. Ia sampai menghampiri Amanda, melepas tas gendong dari punggung gadis itu, termasuk juga dengan kedua kaus kakinya.
Yakin Amanda tak akan bangun dalam waktu dekat, pak Samudra memutuskan untuk menyelimuti tubuh gadis itu. Termasuk makan siang yang ia siapkan khusus untuk Amanda, pak Samudra juga memutuskan untuk memakannya sendiri daripada mubazir. Yang mana sepanjang makan, pak Samudra kerap memperhatikan Amanda. Pria itu mengunyah pelan sambil memandangi wajah Amanda.
“Pasti berat yah, jadi kamu? Kamu pasti kesepian banget,” lirih pak Samudra menjadi menatap iba Amanda.
***
Amanda terbangun ketika pak Samudra baru saja keluar dari kamar mandi. Pria itu langsung mendekatinya dengan kepala yang masih setengah basah. Namun, Amanda tampak larut dengan pikirannya sendiri. Amanda bengong sambil berusaha duduk.
“Mimpi buruk?” tebak pak Samudra duduk di sebelah Amanda.
Amanda tak langsung menanggapi, tetap diam dan perlahan menunduk. “Tadi aku mimpi ketemu mamah. Mamah nangis-nangis, tapi enggak mau cerita.”
Pak Samudra menyikapi cerita Amanda dengan serius. “Dengan kata lain, kamu memang harus jadi lebih baik lagi buat mamah kamu. Mamah kamu pasti ingin kamu bahagia. Kamu jalani hidup kamu seperti remaja seusiamu. Belajar, senang-senang.”
“Kalau kamu mau semacam balapan motor, saya sama sekali tidak keberatan. Siapa tahu itu memang bakat terpendam kamu,” lanjut pak Samudra. “Satu lagi, ....”
Amanda yang masih menunduk, berangsur menghela napas dalam. “Jangan bikin aku penasaran, Pak.”
“Kamu sangat luar biasa kalau kamu mau berusaha. Karena sebenarnya, kamu murid yang sangat cerdas,” balas pak Samudra. “Selamat, ya! Untuk semua yang terjadi hari ini, ... kamu mau hadiah apa?”
Amanda langsung melirik curiga pak Samudra. “Yakin, ini aku bakalan dapat hadiah?”
“Tapi tetap wajib belajar biar kemampuanmu juga makin bertambah,” balas pak Samudra.
Amanda mendengkus lelah. “Belajarnya yang manusiawi dong, Pak. Ngantuknya luar biasa, badan sampai gemetaran meriang.”
“Baik. Sekarang kamu mandi, setelah itu kita makan malam. Selanjutnya, saya akan mentlaktir kamu es krim yang ada di kafe sebelah jalan raya depan,” balas pak Samudra.
Amanda kian menatap curiga pria datar di sebelahnya. “Bapak ngajak saya kencan?”
“Ya enggak apa-apa,” balas pak Samudra dengan santainya.
“Eh ...?” lirih Amanda refleks dan memang menjadi takut.
“Alasan orang tuaku membuatmu di sini agar kamu enggak merasa sendiri. Agar kamu tidak kesepian lagi. Saya tahu apa yang kamu rasakan. Saya tahu jadi kamu pasti sangat berat karena saat masih seusia kamu, semacam makan saya masih sering diusapi mamah saya. Saya selalu menghabiskan waktu saya dengan papah ketika papah ada waktu senggang. Kami menjalani semuanya layaknya sahabat baik.” Setelah berucap demikian, pak Samudra berkata, “Sementara kamu, ... kamu harus berjuang sejauh ini. Kamu hebat!”
Amanda tetap tidak memberikan tanggapan berarti. Padahal normalnya dia tersentuh atau malah geer. Ditambah yang mengatakannya ibarat idola para wanita. Membuat Amanda berpikir, apakah ia memang sudah tidak normal, atau malah mati rasa?
“Apakah saya boleh peluk kamu?” tanya pak Samudra.
Amanda yang awalnya sedang merenung mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi dengan dirinya, langsung terusik.
“Aku mau peluk kamu,” ucap pak Samudra lagi. “Kamu enggak baik-baik saja,” lanjutnya.
“Tapi aku enggak mau dipeluk. Aku mau es krim saja,” balas Amanda.
“Kalau mau es krim malam ini juga, mungkin habis mandi kita langsung pergi dan makan malamnya nanti, takutnya kafenya tutup,” ucap pak Samudra yang makin yakin, ada yang tidak beres dengan Amanda. Gadis itu sampai menolak dipeluk padahal jika melihat situasi, harusnya sangat mendukung karena Amanda juga sampai berdalih baru saja mimpi buruk.
“Oke! Aku mandi dulu!” sanggup Amanda langsung beranjak, mengambil pakaian ganti di kamar mandi, kemudian masuk ke kamar mandi.
Sekitar setengah jam kemudian, pak Samudra dan Amanda tak hanya pergi berdua. Karena mereka yang naik motor, juga sampai mengajak Pia. Mereka sengaja makan di sana sambil bersantai menikmati suasana malam layaknya keluarga bahagia pada kebanyakan. Tentunya, pak Samudra seolah sedang mengasuh dua anak gadis sekaligus, walau pria itu cenderung diam. Namun, melihat Pia dan Amanda yang kompak dan sangat akrab, sudah menjadi alasan kebahagiaan tersendiri untuk pak Samudra.
“Kalian makan nugget pisang sama es krim, sana es boba, sudah kenyang?” tanya pak Samudra yang duduk di hadapan Pia dan Amanda.
Pia dan Amanda yang awalnya tengah asyik menonton video BTS, kompak menatap pak Samudra sambil mengangguk-angguk.
“Ehhm!” deham seseorang yang baru datang dan tidaklah lain Miko.
Parahnya, Miko tak datang sendiri karena cowok itu menggandeng Anya. Keduanya tampil rapi sekaligus necis khas orang yang baru kencan. Walau sempat terusik dan sampai menatap Miko maupun Anya, Amanda tetap cuek dan kembali mengacak Pia untuk menonton video musik BTS.
“Boleh gabung?” tanya Miko sengaja basa-basi.
“Tidak,” balas pak Samudra yang kemudian menatap kesal Miko. “Cari tempat lain saja.”
“Kok Manda bisa sama pak Samudra?” batin Anya. Di tengah keindahan suasana malam kafe kebersamaan mereka apalagi ini menjadi kencan pertamanya dengan Miko, hati Anya menjerit. Dalam hatinya Anya tak hentinya meronta-ronta iri lantaran Amanda malah tengah bersama pria yang lebih keren dari Miko. Pak Samudra, pria itu ibarat idola para wanita apalagi di sekolah mereka!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments
Qaisaa Nazarudin
Kepo banget jadi orang,Udah di tolak Manda BERKALI2 masih aja ngenyel..Ntar sakit hati sendiri kalo tau kenyataannya,Mending tuh sama Anya aja..
2024-10-12
1
Erina Munir
siiriik ajjah luuh anyak...klo dirik tanda tak mampuu...dasar julid luhh
2024-02-17
1
adning iza
haddeeuuhhh nyak nyak iri tanda tak mampu
2023-11-27
0