Alda dan Liya pun seketika bertanya tanya mengenai Ferdy yang misterius itu. Mengapa bisa ia tidak ada pada saat restoran, dan kenapa tiba tiba ada pada saat ending game dari chef Arga. Lantas, apa yang sebenarnya terjadi, dan siapa Ferdy sebenarnya?
"Hemmm, cukup membagongkan si menurut gua. Tapi ya sudahlah yang penting kan kita udah disini" ujar Liya.
"Tapi ngomong ngomong, lohh sama Ferdy keren banget lohh Jane. Sumpah aksi lohh itu kayak di film film tau" sahut Alda menyanjung Jane.
"Hemm, apaan si Alda." Sahut Jane sedikit malu karena pujian sahabatnya itu.
"Iya Jane, apalagi pas lohh tarik pelatuk pistol itu. Lohh bidik banget Jane" ujar Liya ikut menyanjung Jane.
"Hahahah, iya gua juga bingung loh, kok bisa bidik gitu ya. Pedahal gua gak pernah tu sama sekali pegang pistol tapi kok bisa kena gitu ya" sahut Jane kembali.
Obrolan mereka pun terus berlanjut sehingga waktu yang sudah menunjukkan pukul 23.00 itupun tak terasa. Dan pada saat Jane melihat waktu yang sudah begitu larut pun terpaksa harus berpamitan untuk pulang ke rumahnya. Begitupun sahabat sahabatnya.
"Ihhh udah jam 23.00 ni" ujar Jane.
"Iya ni, kok cepat banget ya?" Sahut Alda.
"Hemm, kalau gitu pulang yuk" sahut Liya juga mengajak bubar.
"Ya udah ayo pulang" ujar Alda.
Dan mereka pun beranjak dari tempat duduk mereka dan pulang ke rumah masing masing.
Jane yang sudah sampai di jalanan depan rumahnya itupun membuka pagar rumah nya, dan tiba tiba saja Jane seperti merasakan ada yang aneh. Ia merasa, seperti ada orang yang sedang mengintainya. Dengan cepat Jane pun buru buru membuka pagar rumahnya itu lalu berlari masuk ke dalam rumahnya.
"Tadi itu apaan ya?" Tanya Jane dalam hati kemudian melanjutkan:
"Ahhh, mungkin perasaan gua ajah!" Ucapnya kembali.
Jane yang ingin beristirahat itupun berjalan ke dalam kamar mandi. Dan ketika ia sudah sampai di kamar mandinya itu seketika Jane pun berteriak:
"Ahhhgg" teriaknya.
Jane kaget ketika di dalam kamar mandi ia melihat sebuah tulisan berwarna merah yang ditulis di cermin yaitu:
"Pulau Heidel Menunggumu"
Jane pun dengan takutnya berlari ke dalam kamarnya, dan mengunci pintu kamar dan jendela sebaik mungkin agar orang yang menerornya tidak dapat masuk ke dalam kamarnya itu.
Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa tiba tiba sebuah coretan bertuliskan PULAU HEIDEL itu terdapat di cermin kamar mandi Jane. Dan siapa sebenarnya dalang di balik semua itu. Apakah chef Arga yang membuat teror itu kepada Jane? Tapi itu semua tidak mungkin, karena pada saat Jane dan yang lainnya meninggalkan pulau tersebut, jelas jelas chef Arga dan semua pelayan nya itu masih berada di dalam restoran ketika restoran itu meledak, dan sudah pasti mereka yang berada di restoran itu tidak akan selamat dengan ledakan yang terjadi pada restoran tersebut.
Hari pun berganti, Jane yang baru saja terbangun dari tidurnya itupun kembali untuk mengecek coretan yang bertuliskan PULAU HEIDEL itu di dalam kamar mandinya. Tapi pada saat Jane memasuk kamar mandinya itu ia tiba tiba dibuat bingung. Karena, coretan di atas cermin itu sudah tidak ada. Dan sedikit pun tidak menyisakan noda coretan sama sekali.
"Ahhhh, apa apaan ini! Kok tulisannya hilang?" ucap Jane yang bingung.
"Apa semalam gua cuman berhalusinasi? Lanjutnya.
"Hemmm tapi gak mungkin deh. Tapi kok, tulisannya udah gak ada si?" Lanjutnya.
Dengan cepat Jane pun mengecek pintu rumahnya, dan beberapa area yang mungkin bisa dimasuki oleh seseorang. Namun, pada saat Jane mengecek semua pintu itu semuanya terkunci rapat dan begitupun area area lain itu tidak memungkinkan untuk seseorang dapat menyelinap masuk ke dalam rumahnya.
Jane yang penuh kebingungan dan tanda tanya itupun segera menghubungi sahabat sahabatnya untuk bertemu.
"Guyss, gua tunggu kalian sejam kedepan di tempat biasa. Ada yang perlu gua omongin"
Ucap Jane dalam isi pesan teks yang dia kirimkan kepada Liya dan Alda.
Dan setelah Jane sudah siap, iapun bergegas menuju tempat ia ingin bertemu para sahabatnya itu. Dan setibanya disana tak lama setelah itu Liya dan Alda pun datang bersamaan.
"Hayy Jane" ucap Liya.
Mereka pun seperti biasanya ketika bertemu melakukan cepika cepiki setelah itu Alda pun berbicara:
"Kebetulan banget loh ngajak ketemu Jane, soalnya ada sesuatu yang gua pengen bicarakan juga ke kalian" ujar Alda yang terlihat seperti ingin berkata serius.
"Kalian kenapa si? Kok kelihatan tegang gitu" sahut Liya melihat temannya yang begitu serius.
"Jane, Liya. Gua takut banget" ujar Alda yang tiba tiba menangis.
Melihat Alda yang menangis itupun membuat Jane dan Liya segera menenangkan nya dengan mengusap usap belakang Alda.
"Alda, lohh kenapa? Lagi ada masalah ya?" Tanya Liya dan Jane pun hanya diam tapi tetap mencoba menenangkan Alda.
"Gu.. gu.. gua, takut banget Liya. Orang itu kembali lagi" ucap Alda yang terlihat begitu takut.
"Maksudnya orang itu apa Alda? Tanya Jane kemudian melanjutkan dalam hati.
"Apa mungkin Alda juga ngalamin apa yang gua alamin semalam?" Ucapnya dalam hati.
"Coba, coba lohh tenangin diri dulu baru cerita dah" sahut Liya.
Jane yang melihat Alda begitu ketakutan pun segera mengambil segelas air dan menyuruh Alda untuk meminumnya.
"Lohh minum dulu dah, untuk nenengin diri lohh" ujar Jane sembari memberikan gelas yang berisi air itu.
Alda pun mengambil gelas yang berisi air tersebut, lalu meminumnya setelah itu iapun mengambil nafas dalam dalam lalu melepaskannya secara perlahan. Hal itu beberapa kali ia lakukan untuk menenangkan diri dan setelah itu iapun mencoba menceritakan tentang ketakutannya dan apa yang ia katakan tadi kepada Jane dan Alda.
"Semalam gua ngalamin hal yang aneh" ucapnya.
"Haaa? Maksud loh?" Sahut Liya.
"Gua di teror sama chef itu" ujarnya.
"Maksud loh chef Arga?" Sahut Liya.
"Iya Liya chef Arga. Jadi semalam itu pas kita pulang dari sini, gua nemuin foto chef Arga di kaca jendela kamar gua!" Ujarnya kembali.
"Bentar bentar. Lohh serius dah?" Sahut Jane dengan kaget mendengar Alda mengatakan hal tersebut.
"Aldah, lohh ngawur ya. Ya gak mungkin lah. Kan jelas jelas ketika ledakan itu terjadi, chef Arga kan masih ada di dalam restoran bersama pelayan pelayan nya. Ya gak mungkin lah dah" sahut Liya yang berpikir jika Aldah hanya berbicara ngawur saja.
*Bersambung*
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 26 Episodes
Comments