“Bisakah kita bicara sambil berjalan?“ tanya Ryzel dengan lembut dan menatap mata Ibu dari ketiga anak-anak ini.
Ibu ketiga anak itu mengangguk, dan mengulurkan tangannya tangan untuk memegang salah satu anaknya.
Ketiga anak ini terdiri dari 2 anak laki-laki dan 1 anak perempuan, usianya sepertinya tidak beda jauh karena tinggi badan dari anak-anak ini tidak terlalu berbeda signifikan.
Mereka semua berjalan, mengikuti Ryzel di sebelahnya. Anak-anak ini terlihat riang dan ceria, sedari awal bertemu Ryzel mereka selalu tersenyum.
Ryzel sudah mulai terbiasa, ini pasti karena tempramennya yang ramah, membuat orang mudah dekat dengannya.
Anak-anak ini memberi tahu apa yang Ryzel katakan kemarin dengan baik kepada orang tuanya, mereka benaran menunggu di tempat yang sama ia janjikan dengan memakai baju yang rapi, mereka memakai kaus yang terdapat sablon gambar kartun, kedua anak kecil laki-laki sama-sama memakai celana panjang bahan, sedangkan yang gadis kecil memakai rok panjang yang warnanya seragam dengan rok ibunya.
Meskipun tidak terlihat seperti baju yang mahal, tetapi mereka sudah terlihat rapi dan bersih, dibandingkan kemarin mereka membawa karung dan terlihat kumal.
Setelah beberapa pertanyaan dilontarkan, Ryzel mengetahui nama dari ibu dari ketiga anak ini, namanya adalah Nuraini.
“Apa Ibu Nuraini sendiri saja?“
“Iya, aku bersama anak-anak, ayah mereka sudah pergi.“
“Ibu kerja atau bagaimana?“
“Saya kerja mengambil plastik atau mulung ….“
Mendengar semua jawaban Ibu Nuraini dari pertanyaannya, Ryzel jadi merasa sedih.
Ketiga anak ini ternyata bukan semuanya anak kandung, satu anak laki-laki yang paling besar di antara ketiganya bernama Gilang Langit, itu adalah anaknya, sedangkan anak laki-laki yang satunya bernama Bagus Cahya bukan anaknya, itu anak orang lain, sama seperti anak perempuan yang bernama Rani Dara, keduanya adalah anak orang lain yang diasuh oleh Ibu Nuraini.
Namun, ketiga anak ini sangat ingin membantu ibunya dan akhirnya mereka bertiga ikut mengambil plastik atau sampah yang terbuat dari plastik.
Tidak heran Ryzel melihat mereka membawa karung di punggungnya dan masih bisa tertawa.
Mereka ingin melakukan pekerjaan ini memang karena kemauannya sendiri.
Di jalanan mereka dengan percaya diri membawa karung dan memakai pakaian kumuh, kontras sekali dengan orang-orang yang berjalan di trotoar yang sama, mereka terlihat rapi dan keren dengan pakaian yang mahal, berbanding jauh dengan anak-anak ini.
Mereka pun tinggal hanya di rumah kayu yang rapuh, tidak layak di huni.
Kehidupan anak-anak dan ibunya sangat suram dan menyedihkan.
“Kalian sudah sarapan?“ tanya Ryzel kepada ketiga anak ini sambil berjalan dan sedikit menunduk.
Ketiganya menggelengkan kepala bersamaan. Melihat jawaban anak-anak ini, Ibu Nuraini menundukkan kepalanya.
Ryzel terheran, kemarin ia sudah memberi uang kepada mereka, mengapa itu tidak dipakai untuk kebutuhan sehari-hari. Dengan penasaran, Ryzel bertanya, “Uang yang kemarin tidak dipakai untuk sarapan hari ini, Bu?“
“Anu, itu … aku tidak berani memakai uang yang diberikan, takut diminta kembali. Jadi, aku simpan uangnya sampai sekarang.“ Ibu Nuraini terlihat sedikit takut.
Begitu mendengar jawaban Ibu Nuraini, kepala Ryzel bergeleng-geleng dan menghembuskan napas. “Pakai saja, aku tidak akan meminta kembali. Jangan takut kepadaku, aku memberi uang memang murni ingin membantu ketiga anak ini, sama sekali tidak ada niatan untuk yang lain.“
“Baik, aku mengerti.“ Ibu Nuraini mempercayai Ryzel untuk sementara.
Ia masih tidak percaya dengan orang baik yang datang kepadanya, sangat jarang ada orang yang baik tanpa ada tujuan lain, di dunia ini tidak ada yang gratis.
Oleh karena itu, Ibu Nuraini sangat berwaspada dan jaga-jaga terhadap Ryzel.
Setelah mereka berjalan beberapa menit, mereka berhenti dan duduk di kursi makan penjual bubur.
Ketika berjalan, Ryzel menemukan penjual bubur, kebetulan sekali ketiga anak ini belum sarapan, jadi ia memilih untuk pergi makan bubur.
Mereka berempat terlihat senang makan bubur, terlebih anak-anak dengan asyik makan dan mengobrol.
“Ini makan ayam suwirnya, Rani, kamu suka, kan?“
“Terima kasih, ini kerupuk buat Abang Gilang, aku kebanyakan kerupuknya.“
“Kalian mau buburnya lagi? Aku sepertinya mendapatkan bubur lebih banyak dari kalian berdua.“
Alasan Ryzel memberi mereka bantuan seperti ini adalah karena ketiga anak ini berbeda dengan anak yang lain, mereka terlihat tenang dan tidak sedih dengan keadaan, tidak meminta-minta walaupun sedang susah, kelihatan tenang dan tidak peduli dengan mata sinis orang-orang yang melihat mereka.
Bahkan saat makan, mereka saling peduli satu sama lain.
Sifat mereka ternyata tidak jauh dari orang tuanya, Ibu Nuraini tampaknya memiliki sifat yang sama, wanita ini berbeda dengan wanita yang lain yang sama kesulitan dalam ekonomi, terlihat lebih ada prinsip hidup.
“Makan ini! Kalian masih dalam pertumbuhan, harus banyak makan yang berprotein.“ Ryzel menyerahkan tiga tusuk sate telur puyuh ke tiga anak ini.
Omongan Ryzel didengar oleh mereka dan dengan senang hati mereka memakan telur puyuh yang ditusuk.
Setelah makan pagi atau sarapan, Ryzel mengajak Ibu dari anak-anak ini untuk membuat rekening di Mall, untungnya di Mall GI ini bisa membuka rekening.
Dikarenakan sudah jam 8 pagi, beberapa toko sudah buka, termasuk kantor cabang bank.
Ryzel tidak menduga bahwa Ibu Nuraini memiliki KTP dan KK, namun KK yang dimiliki adalah KK saat suaminya masih ada.
Di KK, cuma ada nama anaknya, dua anak yang lain tidak masuk ke dalam KK, bahkan Ibu Nuraini bilang ia tidak memiliki akta kelahiran dari dua anak tersebut.
Mungkin Ibu Nuraini ini dahulu tidak jatuh seperti sekarang ekonominya sehingga masih bisa membuat KK.
Begitu proses membuat rekening hendak selesai, Ryzel langsung menyetor uang awalan 50 juta untuk ibu ini.
Ketika melihat uang itu masuk ke dalam rekening baru Ibu Nuraini, petugas yang membantu membuat rekening terkejut dan ia memandang Ryzel dengan kagum.
“Sehabis jalan-jalan, aku harap Ibu Nuraini bisa pindah ke tempat tinggal baru, pindah ke kosan atau kontrakan, tidak apa-apa untuk sementara waktu tinggal di situ, aku akan mengirimi uang tiap bulannya untuk anak-anak ini bisa sekolah sampai ke jenjang yang tinggi,” Ryzel berkata dengan serius kepada Ibu Nuraini, ia memang memiliki niat untuk ikut membesarkan anak-anak ini meskipun secara tidak langsung.
Tidak tahu mengapa Ryzel ingin membiayai hidup ketiga anak-anak ini, ia seperti yakin bahwa ketiga anak ini tidak biasa, suatu saat mereka bertiga bisa menaikkan derajat keluarga.
“Terima kasih banyak, Tuan Ryzel!“ Tiba-tiba Ibu Nuraini memeluk Ryzel dan berterima kasih sambil menangis.
Kemudian disusul oleh anak-anak dan mereka saling berpelukan, anak-anak tahu uang, jadi ia merasa sangat tertolong oleh Abang satu ini.
Mereka memandang Ryzel menjadi berbeda, seolah-olah Ryzel adalah pahlawan yang menyelamatkan kehidupan mereka.
Malu karena dilihat oleh orang-orang di Mall, Ryzel dengan cepat menenangkan mereka semua.
Usai membuat rekening dan memeriksa saldo sesuai dengan uang yang ditransfer oleh Ryzel, mereka semua pergi menuju Monumen Nasional.
Saat keluar masuk ke dalam Mall, Ryzel baru sadar, bahwa di dunia ini tampaknya memiliki sejarah yang berbeda, lamanya masa pandemi tidak selama di Bumi, di sini hanya beberapa bulan saja di tahun 2021 dan di 2022 ini kembali normal, tidak perlu menunjukkan tanda vaksin dan yang lainnya.
Masuk ke Mall bahkan ke tempat umum tidak perlu menunjukkan itu lagi.
“Jadi, kita mau ke Monas, Bang?“ Gilang bertanya kepada Ryzel yang berjalan di sebelahnya.
“Iya, kalian nanti di sekolah pasti akan ada pelajaran tentang sejarah terbentuknya negara kita, yaitu Negara Indonesia. Di Monas ada cerita sejarahnya, kalian bisa mengetahuinya di sana.“
“Benaran, Bang?“ Bagus dengan mata yang antusias bertanya, ia terlihat tertarik dengan Monas.
Ryzel mengangguk. “Di sekolah nanti, biasanya ada pariwisata atau studi tour, umumnya pergi ke Monas. Namun, kalian sekarang tidak harus menunggu sampai waktu itu terjadi karena saat ini kita akan ke sana.“
“Wow! Hore!“
Kedua anak laki-laki ini berseru kegirangan di jalan trotoar, mereka sudah tahu Monas, tetapi tidak tahu bagaimana pemandangan di dalam Monas.
Selanjutnya, Ryzel memesan Gokar untuk mereka bisa ke tempat Monumen Nasional lebih cepat, waktu makin siang, takut anak-anak ini kepanasan dan menjadi malas melihat dalam Tugu Monas.
Perjalanan ke Monumen Nasional ini sambil menunggu semua toko-toko di Mall dibuka dan sekaligus Ryzel siaran langsung.
Kemarin Monumen Nasional tutup, jadi hari ini harus ke dalamnya dan menunjukkan pemandangan dalam Monas kepada para penonton siaran langsung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 219 Episodes
Comments
Don T
kenapa gak beli rumah trus kerja dirumah aja MC? dari pada nginap di hotel.... sekalian bisa ngontrol trus ngerawat mereka
2023-08-02
6
Buana Lukman
bagus up
2023-06-17
2
Lari Ada Wibu
mantap thor.
2023-04-04
2