Ketika Ryzel tidur di malam hari, tiba-tiba saja sebuah panel transparan yang mengambang muncul, tetapi kemunculannya hening karena Ryzel tertidur.
Keesokan harinya, saat Ryzel membuka matanya, ia melihat layar virtual yang terbang tepat di depan wajahnya.
Layar itu berisikan informasi tentang tugas perjalanannya yang pada hari ini harus berangkat.
[Ding! Tugas Masuk Utama Telah Dikeluarkan!]
Tugas : Masuk ke Monumen Nasional.
Waktu : 24 Jam.
Syarat : 5000 Orang Pengikut Tiktod di Siaran Langsung.
Hadiah : Tidak Diketahui.
Hukuman Gagal : Kedua kaki lumpuh.
[Tugas Otomatis Diterima!]
“Bukankah aku kembali ke Jakarta lagi kalau begini?“ Ryzel bangun dari kasur dan bergumam sambil berjalan menuju kamar mandi.
Di samping layar yang melayang ini terdapat antarmuka yang menunjukkan waktu, dan itu terus berhitung mundur.
[Waktu : 18 jam 12 menit 14 detik.]
[Waktu : 18 jam 12 menit 13 detik.]
[…]
Waktu itu adalah waktu ia harus menyelesaikan tugas, jika waktu habis dan ia belum masuk ke tempat yang ditugaskan, itu akan dianggap gagal segera setelahnya ia mendapatkan hukuman.
Tentu saja, Ryzel tidak ingin menerima hukuman Sistem.
Oleh karena itu, ia dengan cepat membereskan barang bawannya dan bersiap-siap untuk pergi dari hotel ini.
Pukul jam 06.30 Ryzel keluar dari hotel dan langsung pergi menuju Stasiun Bogor.
“Halo, Semuanya! Kembali lagi bersamaku, Ryzel!“
Sambil berjalan di Alun-alun Kota Bogor, Ryzel menyalakan ruang siaran langsung dengan judul yang berbeda.
Judulnya ia sesuaikan dengan rute perjalanan yang akan ditempuh.
Setelah melakukan pembukaan dan menyapa ribuan orang yang baru masuk dan menonton siaran langsung, Ryzel memberi tahu tentang tujuan perjalanannya.
“Mengapa kembali ke Jakarta? Seharusnya, kamu ke Monumen Nasional terlebih dahulu sebelum ke Bogor.“
“Monumen Nasional? Aku belum pernah ke dalamnya.“
“Hari senin di sana pasti sepi, mengapa tidak kemarin saja Ryzel pergi ke Monumen Nasional? Padahal kemarin ramai dan seru.“
“Aku tidak peduli mau ke mana Ryzel pergi, terpenting aku bisa melihat wajah Ryzel di siaran langsung.“
“…”
Rentetan komentar banyak yang protes dan ada yang mendukung Ryzel. Namun, ketika melihat komentar yang protes kepadanya, Ryzel tersenyum dan mencoba menjelaskan alasannya.
“Kemarin aku memang ada agenda untuk di Bogor, akan sulit jika mendadak pergi ke Jakarta, aku di Jakarta juga hanya sebentar, mungkin satu sampai dua hari saja, kemudian pergi ke tempat selanjutnya.“
Duduk di kursi taman yang tidak jauh dari tempat penjual batagor berada, Ryzel berbicara ke arah ponselnya.
Dengan alasan yang Ryzel lontarkan, mereka semua perlahan mengerti dan memaklumi Ryzel, memang netizen ini seperti seorang manajer, seakan mereka yang menentukan dirinya harus ke mana dan apa.
“Lihat! Sangat ramai yang berjalan ke stasiun, bukan?“ Ryzel mengarahkan lensa ponselnya ke luar Alun-alun Kota Bogor yang terdapa banyak sekali orang yang berjalan ke arah yang sama, yakni ke arah Stasiun Bogor. “Mungkin aku akan masuk ke dalam stasiun agak siang saja. Terlalu ramai jika aku masuk sekarang, sulit untuk bisa duduk di dalam kereta.“
Apabila sekarang Ryzel ikut masuk ke dalam, kemungkinan besar ia tidak bisa duduk di sana dan akan terus berdiri hingga sampai ke stasiun yang ia tuju.
Namun, sayangnya dugaan Ryzel salah besar.
Setelah makan batagor untuk terakhir kalinya di Bogor, Ryzel masuk ke dalam stasiun dan menaiki kereta dengan jurusan Stasiun Tanah Abang.
Tidak ada jurusan lain yang Ryzel lihat, waktu sudah menipis, sayang sekali jika menunggu kereta jurusan yang lain.
Jadi, Ryzel langsung naik kereta dengan jurusan yang ada tanpa harus berlama-lama lagi.
Dugaannya salah, ternyata kereta yang ada di jadwal agak siang pun tetap ramai, banyak orang yang berangkat menaiki kereta untuk pergi ke tempat kerja. Ryzel satu kereta dengan mereka yang pergi bekerja.
Ryzel tidak kebagian tempat duduk, ia berdiri sambil membawakan dua tas di tubuhnya, bahkan bagasi tempat penyimpanan barang di dalam kereta penuh.
Berdiri dengan tegak dengan tangan memegang pegangann yang menggantung, Ryzel berdiri di dekat pintu gerbong kereta di sebelahnya banyak sekali wanita, ada beberapa pria di antara mereka yang berdiri, tetapi tetap didominasi oleh wanita.
Ia perhatikan, setiap wanita yang datang dari stasiun lain, pasti mereka berdiri tidak jauh dari Ryzel.
Sebenarnya, Ryzel sudah tahu, pesonanya memang terlalu menarik perhatian wanita di mana pun ia berada.
Selagi mereka tidak berbuat macam-macam, Ryzel sama sekali tidak mempermasalahkan mereka dekat-dekat dengannya.
Dengan sikap dingin dan tenang, Ryzel tidak peduli dengan wanita-wanita yang berdiri di dekatnya.
Akan tetapi, ketika Ryzel mematikan ponsel sehabis bermain gim di dalam ponsel, ia melihat sesuatu yang mencurigakan.
Seorang wanita yang ada di sebelahnya memiliki wajah yang aneh seperti sedang ketakutan akan sesuatu.
Begitu Ryzel menoleh, ia melihat seorang pria yang ada di belakang wanita ini berdiri sangat dekat.
Tidak hanya berdiri sangat dekat, tetapi pria ini kerap kali menggerakkan tubuh ke depan dan ke belakang, seakan-akan sedang menggesekkan tubuh ke sesuatu yang ada di belakang wanita ini.
Orang-orang sebagian tahu apa yang dilakukan pria ini, sayang sekali tidak ada yang berani bertindak.
Wajah Ryzel menjadi geram, Ryzel tidak tahan dengan orang-orang yang seperti ini.
Berikutnya, ia langsung bergerak dan membisikkan sesuatu ke seseorang yang ada di depan wanita ini, menyuruh orang tersebut maju ke depan, kebetulan ada sedikit ruang di depan orang tersebut, harusnya bisa untuk orang itu maju ke depan dan mengisi ruang tersebut.
Sesuai dengan perminta Ryzel, orang tersebut pindah dan melangkah maju.
“Mbak, boleh maju? Masih ada ruang kosong di depan.“ Ryzel menatap wanita yang masih ketakutan dan tidak tahu sedang melihat apa.
Begitu mendengar suara Ryzel, wanita ini langsung mengangguk dan segera maju ke depan.
Tepat ketika pria di belakangnya ini ingin mengikuti wanita itu pindah ke depan, Ryzel dengan cepat mengisi posisi wanita tadi berdiri dan membatalkan pria yang hendak ikut pindah.
Pria ini tahu bahwa operasinya diganggu oleh Ryzel dan ia melototi Ryzel dengan hawa ingin membunuh.
Sayang sekali, Ryzel bukan dirinya yang dulu lagi.
Tubuh Ryzel yang jauh lebih tinggi dari orang mesum ini mengeluarkan pancaran aura yang dingin, niar bertarung Ryzel keluar dan dapat dirasakan oleh pria yang melototi Ryzel secara terang-terangan.
Kemampuan Tinju Ryzel bukan hanya keterampilan saja, tetapi memiliki niat bertarung yang sama levelnya dengan penguasaan kemampuan tinju.
Jika niat ini dikonsentrasikan pada satu orang biasa, itu bisa menimbulkan rasa takut pada target tersebut.
Benar saja, saat niat bertarung Ryzel dirasakan orang ini, sebuah reaksi ditampilkan, orang ini tidak lagi melototi Ryzel dari samping, ia malah menunduk dan berdiri di belakang Ryzel dengan patuh.
Tangannya gemetar dan tubuhnya membeku tidak berani bergerak.
Nyali orang mesum ini di detik berikutnya menjadi ciut, bagaikan balon yang kempes.
Pada saat pria ini hendak turun dari kereta, tangan Ryzel menyambar tangan pria tersebut dan menariknya tidak terlalu keras.
Ketika kereta makin dekat di Stasiun Tanah Abang, penumpang di kereta makin dikit karena banyak yang turun di beberapa stasiun.
Di bawah tatapan orang-orang yang ada di dalam kereta, Ryzel menarik pria ini untuk duduk dan kemudian menatapnya dengan tajam.
“Tadi, kamu berbuat apa kepada wanita ini?“ Ryzel berdiri di depan pria ini dan bertanya dengan nada yang dingin.
Di sebelah Ryzel banyak orang-orang yang sempat melihat pria ini berbuat aksi yang nyeleneh dan tidak terpuji.
Pria ini tercengang dan menatap Ryzel dengan wajah yang bingung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 219 Episodes
Comments
louise
thor hadiah bogor kemaren mana?
2023-06-12
6
Izhar Assakar
cerita bogor sja 10 bab,,trus monas jga munk8n 10 bab jga ato munkin lebiiiihh
2023-04-27
2
Lari Ada Wibu
mantap thor.
2023-03-11
3