“Bagaimana kalau kita menonton film horor?“ Gina bertanya sambil memiringkan kepalanya dan tersenyum.
“Horor?“ Ryzel memegang dagunya dan berjalan sembari merenung. “Boleh saja, tetapi … sebelumnya, apa kamu takut atau tidak?“
Ucapan Ryzel dianggap suatu tantangan, kemudian dengan tegasnya Gina menjawab, “Berani! Kamu meremehkan aku, ya?“
“Tidak, aku cuma menahkikkan saja.“ Ryzel menggelengkan kepalanya dan tersenyum.
“Menahkikkan? Apa itu?“
“Memastikan,” jawab singkat Ryzel.
“Ohh ….“ Gina mengangguk mengerti. “Jadi, bagaimana? Apa kamu setuju dengan usulanku?“
“Aku terserah kamu saja, jika kamu mau menonton horor, aku akan menontonnya juga.“
“Baiklah, aku akan memilih film horor yang kita tonton nanti.“ Wajah Gina terlihat bersemangat, ia sangat senang usulannya disetujui oleh Ryzel.
Kurang dari 10 menit mereka berjalan, mereka tiba di lantai atas dari mall ini yang terdapat bioskop.
Di sana, sudah banyak orang yang yang mengantre, mungkin karena hari minggu, banyak pasangan yang memiliki waktu untuk menonton film bersama, hari libur.
Kedatangan Ryzel dan Gina diperhatikan banyak orang, dari aura yang dibawa keduanya sangat berbeda dari orang lain, terlebih melihat Ryzel yang tinggi dan tampan, meskipun mereka hanya bisa melihat sepasang mata dan alis Ryzel.
Namun, mereka sudah memiliki pandangan bahwa Ryzel adalah pria tampan. Gina pun terlihat berbeda dari wanita yang lain, dirinya memiliki tampilan yang lebih elegan dan menarik perhatian.
Keduanya tampak seperti dua tokoh dalam novel percintaan remaja yang gemar dibaca oleh orang Indonesia.
“Omong-omong, aku baru sadar, kamu jauh lebih tinggi dari sebelumnya.“
Ketika berbaris untuk mengantre masuk ke dalam bioskop, Gina baru sadar akan tinggi Ryzel, seingatnya kemarin, Ryzel tidak tinggi hingga ia mendongak saat berbicara seperti ini.
Ryzel tersenyum canggung dan menjawab, “Aku memang tinggi, mungkin itu perasaan kamu saja.“
“Hmm … mungkin.“ Gina menjadi ragu dengan dugaannya, dan sekarang ia mencoba mengingat-ingat kembali tinggi Ryzel kemarin.
“Antrean sudah berjalan, jangan bengong seperti itu,” Ryzel mengingatkan Gina yang tengah diam dan menundukkan kepalanya.
“Eh? Oke.“ Pikiran perihal itu Gina singkirkan dan fokus dengan kenyataan.
Antrean terus berjalan hingga akhirnya mereka berhasil masuk ke dalam lobi bioskop.
Mereka duduk sebentar untuk memberi waktu Gina memiilih film yang ingin mereka tonton.
Setelah sekian lama mencari film rekomendasi di Gugel, Gina memutuskan untuk menonton film horor sekuel dari film yang rilis beberapa waktu yang lalu.
Ryzel setuju saja walaupun ia tidak tahu jalan cerita film yang sebelumnya, terpenting ia bisa menonton dan menikmati film, mungkin film sebelumnya akan ia tonton nanti di laptop.
Sebelum masuk ke auditorium bioskop, mereka memesan popcorn dan minuman untuk camilan di dalam.
“Aaaa! Ryzel, aku takut!“
Di awal film di putar, Gina sudah memiliki reaksi ketakutan, ia selalu menggenggam tangan Ryzel, begitu hantu muncul atau efek suara yang membuat terkejut datang, Gina langsung mengencangkan genggamannya bahkan hingga melompat untuk memeluk Ryzel.
Gina terus mencengkeram jari-jemari Ryzel selama film diputar sampai selesai.
Sementara itu, Ryzel sama sekali tidak ketakutan, menurutnya lebih seram kosannya dibandingkan film ini.
Bagaimana tidak berpendapat seperti itu, Ryzel setiap malam Jumat pasti mendengar suara tangisan wanita, tetapi bukan wanita, ini lebih terdengar seperti suara hantu wanita, yaitu Mbak Dini.
Ryzel sama sekali tidak ingin pindah kosan karena kosan ini murah dan cocok dengan Ryzel, berat sekali apabila pindah ke tempat lain.
Dengan demikian, Ryzel menjadi terbiasa dengan hal-hal yang mengerikan seperti itu.
Melihat reaksi Gina ketakutan, membuat filmnya tidak lagi menyeramkan, justru Ryzel jadi terhibur oleh teriakan dan jeritan Gina, terlebih ketika Gina melompat dan memeluk kepalanya, wajahnya terkubur di dalam gundukan lembut dan cukup besar, aroma manis dan menyenangkan tercium begitu ia dipeluk oleh Gina.
Tentu, Ryzel menang banyak, tidak mungkin jika ia tak menikmati momen ini.
Usai menonton film, mereka berdua kembali ke Alun-alun Kota Bogor.
Masih ada waktu setelah pergi menonton film, mereka memutuskan untuk makan batagor kesukaan Ryzel.
Selain itu, Ryzel juga membelikan Gina Kaefsi dan beberapa baju dari Toko Sun, itu semua kenang-kenangan dari Ryzel sebelum pergi.
“Terima kasih sudah mau berjalan bersamaku, Ryzel.“ Duduk di sebelah Ryzel, Gina menatap Ryzel dengan sorot mata yang bahagia.
“Terima kasih juga telah menemaniku di Kota Bogor ini.“ Ryzel membalas dengan senyuman.
“Juga, aku sangat berterima kasih kepadamu karena sudah membelikan aku semua barang-barang ini.“ Mata Gina bergerak ke arah dua tas belanjaan yang berisi pakaian dan makanan Kaefsi.
Ryzel mengangguk pelan. “Sama-sama. Ini hadiah terakhirku, mungkin aku takkan kembali ke sini dalam waktu yang dekat, kamu tahu aku adalah seorang yang melakukan perjalanan ke berbagai daerah, aku singgah ke daerah hanya untuk sementara waktu.“
“Ya, aku tahu, Ryzel.“ Gina mengerti dan mengangguk. “Dengan itu, aku akan memberikan hadiah juga kepadamu.“
Sebelum Ryzel bereaksi, tiba-tiba Gina mencium pipi Ryzel selama beberapa detik.
“Muach! Hihi …..“
Selanjutnya, Gina tersenyum menatap Ryzel seolah meninta tanggapannya.
“Ini hadiahnya?“ tanya Ryzel dengan wajah terpana.
“Ya, mau lebih?“ Gina menaikkan alisnya dan menawarkan.
Dengan cepat, Ryzel menggelengkan kepalanya. Tidak mungkin melakukan hal itu di sini, sebab mereka ada di meja tukang batagor, sangat tidak sopan.
“Tidak perlu.“
“Benar? Padahal aku masih perawan~”
Kata perawan yang diucapkan oleh Gina sengaja terdengar seperti bisik-bisik supaya orang lain tidak mendengar.
Gluk!
Suara air ludah yang ditelan terdengar oleh Gina, kemudian ia tertawa kecil. “Dasar, Ryzel mesum!“
“Eh?“ Ryzel Lang menundukkan kepalanya dan menggaruk-garuk kepalanya.“
“Bagaimana? Kamu mau melakukan hal itu?“ Gina bertanya dengan tatapan mata yang begitu menggoda.
Ryzel mengangkat kepalanya dan menatap Gina dengan tatapan yang bingung.
Saat ini, di dalam otaknya, terdapat dua pikiran yang saling bertentangan.
“Tidak, aku tidak ingin merusak dirimu.“ Ryzel menggelengkan kepalanya. “Gina, hargai dirimu sendiri sebagai wanita, jangan menjadi wanita yang murah, kamu harus menjadi wanita yang mahal.“
Ekspresi Ryzel dalam sekejap berubah, dan ia menatap Gina dengan wajah yang serius.
Mendengar nasihat Ryzel, Gina seketika terdiam dan menunduk seolah-olah telah membuat kesalahan.
“Bukannya aku tidak tertarik denganmu, hanya saja kita bertemu terlalu singkat. Aku akan melakukan hal itu jika kita memang ditakdirkan bersama. Oleh karena itu, jaga dirimu baik-baik, mungkin kita akan bertemu lagi nanti, kuharap kamu jauh lebih baik dari sekarang ketika kita berkesempatan lagi untuk bertemu.“
Di akhir kalimat, Ryzel tersenyum tulus sambil menatap mata Gina yang yang bergetar.
“Ryzel ….“ Air mata Gina perlahan turun dan terjatuh.
Segera, Ryzel memeluk Gina dan menenangkan hatinya.
Beruntungnya, Gina dengan mudah ditenangkan. Setelahnya, mereka berdua pergi meninggalkan penjual batagor dan pergi ke tempat penjemputan Gokar yang Ryzel pesan untuk Gina.
Begitu Gina masuk ke dalam mobil, wanita ini menangis lagi, bahkan ia mencium pipi Ryzel berkali-kali untuk merelakan perpisahan mereka.
Setelah mobil pergi pun, Gina masih melihat Ryzel yang makin lama menjauh.
Jujur saja, Ryzel juga hatinya merasa sakit. Tidak ada namanya perpisahan yang menyenangkan dan hati tidak menjadi korban, mau sebaik apa pun perpisahan itu akan terasa menyakitkan.
Mau bagaimana lagi, lebih baik berpisah seperti ini daripada pergi diam-diam.
Sistem sudah memberitahukan informasi bahwa Tugas Perjalanan akan diterbitkan di malam hari nanti, besok Ryzel pergi dari Kota Bogor.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 219 Episodes
Comments
ᜫ͢ ⁶²ハナフィ⁵⁴
Setiap pertemuan pasti ada perpisahan.. dan kalo berjodoh, pasti akan di pertemukan kembali
2023-08-30
3
ᜫ͢ ⁶²ハナフィ⁵⁴
Menang banyak si Ryzel
2023-08-30
3
ᜫ͢ ⁶²ハナフィ⁵⁴
Akhirnya mbak kunti ada nama juga 🤭
2023-08-30
3