Ryzel bingung ingin menanggapi Gina, sebab ia tidak memiliki pengalaman menghadapi wanita yang sangat berani seperti Gina.
“Ciuman apa? Cium bagian pipi, kan?“ Ryzel menjawab dengan tampang yang polos seakan tidak mengerti.
“Ummm ….“ Gina mengetuk dagunya dan berpikir sesaat.
Di mata Ryzel, wajah Gina terlihat tersipu, sepertinya jawabannya bertentangan dengan ucapannya tadi.
“Cium yang lain, boleh?“ Gina memandang kedua mata Ryzel dengan tatapan yang seduktif.
Ryzel segera menggelengkan kepalanya. “Tidak-tidak. Berhenti, jangan membahas hal seperti itu.“
“Emm, maaf.“ Gina menundukkan kepalanya terlihat bersalah.
Menghadapi perilaku aneh Gina, kepala Ryzel terasa pusing. Ia menggelengkan kepala sambil memijat pelipisnya untuk meringankan rasa pusing.
Melihat Gina yang masih menunduk dan tidak berbicara lagi, Ryzel mencari cara untuk membuat Gina kembali ceria.
Kebetulan Ryzel melihat penjual makanan kue mangkuk, makanan ini termasuk makanan manis yang disukai Ryzel.
“Kamu mau kue mangkuk itu?“ Ryzel bertanya dengan lembut kepada Gina.
“Kue mangkuk?“ Gina mengangkat kepalanya dan balik bertanya, “kue apa itu?“
Ryzel tersenyum ramah dan menjelaskan, “Kue yang terbuat dari terigu yang dimasak di dalam cetakan yang berbentuk mirip sebuah mangkuk berukuran kecil.“
“Boleh, aku ingin mencobanya,” Gina menjawab dengan semangat, matanya mengkilap.
“Di sana ada yang menjual kue itu, ayo ke sana!“
“Ayo!“
Mereka berdua masih berpegangan tangan dan berjalan bersama menuju penjual kue mangkuk yang ada di pinggir trotoar jalan yang mengarah ke Sempur.
“Aa, beli satu porsi yang dua puluh ribu.“
“Tunggu, ya.“
Sesampainya di penjual kue mangkuk yang di gerobak, Ryzel langsung memesan satu bungkus kue mangkuk yang harganya 20 ribu rupiah.
Seharusnya, harga segitu sudah dapat banyak, cukup untuk mereka berdua.
Sedari tadi, wajah Gina terlihat sedikit merah, ia masih tersipu dengan genggaman tangan Ryzel yang berurat.
Meskipun ia berani berkata seperti sebelumnya, tetap saja Gina terasa malu, ia sangat kalah bila disentuh oleh pria seperti ini.
Apalagi tangan Ryzel yang terasa kuat, ia merasa akan aman di dekat Ryzel.
Wewangian tubuh Ryzel yang tercium sangat maskulin menambah kesan nyaman dan aman ketika berada di dekat pria ini, Gina seperti sedang jatuh cinta kembali.
“Ini makanannya.“ Penjual makanan kue mangkuk yang tampak masih berumur 20 tahun ke atas ini menyerahkan kantung berisi makanan yang dipesan Ryzel.
Tangan Ryzel yang menggenggam telapak tangan Gina terlepas tanpa disengaja dan mengambil makanannya.
Setelah itu, Ryzel mengeluarkan uang 20 ribu dari kantung jaketnya yang sudah ia siapkan untuk jajan kepada penjual tersebut.
“Terima kasih.“
“Terima kasih juga.“
Antara Ryzel dan Penjual sama-sama mengucap terima kasih, kemudian Ryzel berbalik dan berjalan bersama Gina.
Namun, baru beberapa langkah berjalan, kantung yang berisi makanan itu diambil oleh Gina dan tangan kanan Gina mencengkeram tangan Ryzel lagi.
“Biar aku saja yang pegang, kamu pasti kerepotan jika kedua tangan memegang barang.“
“Eh, iya.“ Ryzel mengangguk kecil dan masih terkejut ketika tangannya dipegang tiba-tiba oleh Gina.
Tangan kanan Ryzel memang sedang memegang barang, yaitu gimbal ponsel. Apabila tangan kirinya memegang kantung makanan, itu terlihat kerepotan.
“Kita mau makan di mana?“ tanya Gina sambil menatap sepasang mata menawan Ryzel.
“Di sana apa ada tempat duduk?“
Gina menganggukkan kepalanya dengan cepat. “Ada, mau makan di sana saja?“
“Boleh.“
“Aku sarankan, lebih baik kita makan di trotoar bawah saja, sebelum sampai di Sempur, setahuku ada sebuah trotoar yang letaknya lebih rendah dari jalan, bisa dibilang di bawah jalan, di sana enak untuk duduk dan bersantai.“
“Tidak apa-apa jam segini duduk di sana?“ Ryzel melihat di sepanjang trotoar mulai dipenuhi oleh orang-orang yang kelihatannya memiliki tujuan yang sama dengan mereka berdua.
Pastinya, tempat yang disebutkan Gina itu akan ramai.
“Mungkin agak ramai di jam sekarang ini.“ Gina melihat ke langit yang sudah cerah, kemudian ia mendesak Ryzel, “Maka dari itu, ayo kita berjalan cepat!“
“Oke!“
Keduanya mempercepat langkahnya seperti sedang berlomba jalan cepat, dengan langkah kaki Ryzel yang panjang, Gina kewalahan mengikuti kecepatan Ryzel berjalan.
Mengetahui Gina yang sudah bernapas dengan cepat, Ryzel segera menormalkan jalannya agar Gina tidak lelah.
“Di sana ada tempat duduk, lebih baik kita beristirahat dahulu sebelum melanjutkan jalannya.“ Ryzel menunjuk ke tempat duduk kosong letaknya di tengah trotoar dan tidak jauh di depan mereka.
Gina mengangguk setuju, ia memang kelelahan karena berjalan begitu cepat.
Tempat duduk yang mereka duduk saat ini memang berada di tengah trotoar dan menghadap ke jalan raya, banyak orang yang berjalan melewati mereka berdua di belakang, cukup malu sebenarnya bila mereka makan di sini.
Namun, mereka tidak ada pilihan, kue sudah mulai mendingin, kurang enak jika disantap ketika dingin.
“Bagaimana rasanya?“ Ryzel bertanya kepada Gina yang sedang mengunyah kue mangkuk.
Gina menelan kue mangkuk dan tersenyum. “Enak, manis rasanya.“
“Jajanan kesukaanku memang tidak salah.“ Ryzel membuka maskernya dan memasukkan kue ke dalam mulutnya.
Tekstur lembut kue di bagian tengah dan garing di bagian sisi kuenya bisa dirasakan dengan jelas di dalam mulut Ryzel, rasanya yang manis juga tidak berlebihan di lidahnya.
“Benar, memang enak. Selama ini aku belum menemukan kue mangkuk yang gagal.“ Ryzel terus mengambil kue mangkuk yang ada di kantung kertas.
Melihat Ryzel yang lahap memakan kue mangkuk, Gina merasa hatinya senang, kemudian ia ikut memakan kue mangkuk sampai habis.
“Ryzel, kita sepertinya harus melanjutkan jalannya lagi.“ Setelah makan kue mangkuk, Gina tiba-tiba menoleh ke arah Ryzel. “Banyak wanita yang mengawasi sejak kamu membuka masker, lebih baik kita berjalan lagi.“
Sebelum Ryzel merespons, Gina sudah menarik tangan kiri Ryzel dan mendesaknya untuk kembali berjalan menuju Sempur.
Tubuh Ryzel sengaja ia lemaskan agar Gina bisa menarik tubuhnya, kemudian ia melihat ke sekitar.
Benar saja apa yang dikatakan Gina, tidak jauh dari tempat duduk yang mereka tempati, terdapat banyak wanita yang berdiri.
Wanita-wanita tersebut melirik Ryzel sesekali, seolah-olah sedang mencuri perhatian.
Tidak hanya itu, banyak orang yang lewat juga sempat menonton wajah Ryzel yang tampan selama beberapa detik.
Orang-orang, terutama wanita banyak yang menonton ketampanan Ryzel begitu melihat wajah Ryzel sekilas.
Insting wanita Gina sudah diaktifkan, ia mengetahui ini sejak awal Ryzel menyantap kue mangkuk, tetapi ia belum bertindak dan membiarkan sesaat.
Kurang dari 10 menit berselang, akhirnya mereka berdua sampai di Sempur.
Sebuah tempat olahraga yang cocok untuk berlari santai sambil menikmati udara pagi yang segar.
Selain berolahraga, di sini juga cocok untuk membeli makanan dan jajanan.
Ternyata di jam 7 pagi saja sudah banyak orang yang datang.
Mereka bisa melihat sudah banyak orang yang berlari mengelilingi lapangan yang ada di tengah area Sempur.
Ryzel dan Gina mencari tempat duduk yang berada di pinggir lapangan untuk beristirahat.
Tak lama kemudian, mereka menemukan tempat duduk lalu duduk bersama di sana.
Tepat ketika ia menempatkan dirinya di atas tempat duduk, Ryzel berpikir untuk menyiarkan siaran langsung.
“Aku mau siaran langsung, apa tidak apa-apa kamu terlihat di kamera?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 219 Episodes
Comments
Ellen
hubungannya dengan Dina terlalu cepat. gw rasa perkembangan karakter gina udh melenceng darinpas awal bertemu.
2024-09-29
0
Ari Istiyanto
jadi melenceng dari sistrm
2023-10-19
4
ᜫ͢ ⁶²ハナフィ⁵⁴
Tercium bau-bau cemburu ini mah🤭
2023-08-30
2