Wanita itu menoleh ke samping sedikit menengadah ke atas untuk melihat Ryzel. “Eh, mengapa kamu di sini?“
“Aku lelah setelah menyiarkan siaran langsung selama empat jam, jadi aku istirahat sekaligus makan siang di sini.“ Ryzel menatap wanita ini dengan tatapan yang santai tanpa grogi. “Bukannya restoran ini terkenal? Aku ke sini karena penasaran juga. Omong-omong, adakah makanan yang kamu rekomendasikan di sini?“
Mendengar jawaban Ryzel, wanita ini tersenyum. “Duduklah, aku akan merekomendasikan beberapa makanan kesukaanku yang ada di restoran ini.“
Mengikuti saran wanita tersebut, Ryzel duduk di seberang kursi wanita ini, mereka saling berhadap-hadapan.
Dikarenakan tempat mereka duduh adalah di area luar, pemandangan yang diberikan juga cukup indah, hamparan rumput, air mancur, dan pepohonan bisa dilihat dari sini, restoran ini ada di dataran yang lebih tinggi.
“Nasi goreng kampung di sini sangat enak, gurame saus kecombrang, tahu isinya juga jangan lupa, dan karedok. Empat makanan ini aku rekomendasikan kepadamu,” Wanita itu berkata sambil melihat buku menu. “Kamu bisa mencicipi dahulu jika ragu dengan makanan yang aku rekomendasikan, kebetulan juga, aku memesan nasi goreng kampung dan karedok.“
Di atas meja makan mereka memang sudah ada makanan yang dipesan oleh Wanita ini, itu telah dimakan walaupun baru sedikit.
“Tidak perlu, kamu makan saja, aku percaya dengan makanan yang kamu sebutkan tadi.“ Ryzel tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
“Baiklah.” Wanita itu tersenyum ke arah Ryzel dengan pipinya yang terlihat memerah.
Ryzel segera memesan keempat makanan yang direkomendasikan oleh Wanita satu ini, juga pisang goreng sebagai makanan penutup, minumannya hanya perlu jus buah.
Sambil menunggu makanan datang, Ryzel berkenalan dengan wanita ini. Nama dari wanita ini adalah Gina Putri, ia berasal dari daerah Cibinong, tidak terlalu jauh dari Kebun Raya Bogor.
Ia sedang kuliah di daerah Bogor ini jurusan Ilmu Komunikasi di Universitas terkenal di Bogor, Gina ini tinggal di asrama sana, kebetulan hari sabtu ia tidak ada jadwal untuk kuliah.
“Apakah kamu sudah punya pacar atau pasangan?“
Topik sudah mulai tak terkendali dan canggung, jadi Ryzel melontarkan pertanyaan secara spontan.
“Aku?“ tanya Gina sambil menunjuk ke arah dirinya sendiri.
“Iya, kamu.“ Ryzel mengangguk tegas.
“Umm ….“ Ekspresi Gina tampak salah, wajahnya berubah-ubah sangat rumit. “Satu minggu yang lalu aku baru saja putus dengan dia.“
“Putus?“
“Iya, padahal hubungan kita sudah berjalan hampir tiga tahun lamanya,” imbuh Gina dengan wajah yang terlihat sedih dan kecewa.
“Dia yang memutuskan hubungan atau kamu?“ Ryzel menjadi ingin tahu dengan cerita percintaan Gina.
“Aku, itu karena dia ketahuan selingkuh, terlebih dia selingkuh dengan teman dekatku sendiri.
Tubuh Ryzel tersentak kaget ketika mendengar perkataan Gina.
Belum sempat Ryzel merespons, Gina menceritakan kejadian cintanya yang telah pupus oleh orang ketiga.
“Mulanya aku tidak mencurigai dia ….“
Ryzel duduk sambil menyimak cerita yang Gina terangkan, ia mengamati Gina yang makin lama makin menunduk dan intonasi suaranya menjadi gamang dan sedikit bergetar.
“Pada saat aku meminjam ponsel dia, aku melihat ada sebuah pesan yang janggal, ternyata itu adalah pesan dari temanku, terdapat kata panggilan 'Sayang' di setiap kalimat pesan yang mereka berdua kirim. Jujur saja, di situ aku membeku tidak bisa menggerakkan tubuhku sama sekali selama lebih dari satu menit, aku sangat kecewa padanya, dengan keduanya.“
Setelah mengatakan itu, Gina mengeluarkan napas panjang, ia sedang mengeluarkan emosinya yang tertimbun di dalam tubuhnya.
“Benar apa kata orang, jika pacar hilang itu tidak akan jauh dari lingkungan kita, pelakunya pasti ada di sekitar kita, entah itu diambil teman kita atau bahkan saudara kita sendiri,” ujar Gina sambil memainkan sendok ke nasi goreng yang mulai mendingin.
Melihat mata Gina yang muram dan sedu, Ryzel segera berkata untuk menghibur Gina, “Sudah jangan bersedih, tidak pantas air matamu dikeluarkan untuk pria seperti itu. Kamu tahu? Pria masih banyak, bahkan banyak yang lebih baik dari dia.“
Perlahan mata Gina yang melirik ke bawah itu terangkat untuk melihat wajah tampan Ryzel. “Namun, tidak ada pria yang mirip dengannya.“
“Pria di dunia ini sangat banyak, masih ada kemungkinan untuk bertemu dengan pria yang persis sama dengan dia, tetapi dengan sifat yang jauh lebih baik.“
“Umm ….“ Gina menjadi berpikir setelah mendengar makna dari ucapan Ryzel. Itu ada benarnya.
“Lagi pula, dia sudah jahat kepadamu, untuk apa kamu tangisi? Dia bukan pria baik seperti dahulu yang kamu kenal.“
“Apa yang kamu katakan ada benarnya, Ryzel.“ Gina tersenyum sembari melihat Ryzel, kemudian memiringkan kepalanya. “Terima kasih sudah mendengarkan curhatan aku dan memberi masukan padaku.“
“Sama-sama, aku harap kamu kuat dengan cobaan ini, jangan karena satu pria kamu menjadi lemah seperti ini. Kamu masih punya banyak waktu untuk mencari pasangan yang sesuai dengan tipemu, setidaknya cocok denganmu.“
“Ya, aku mengerti, Ryzel.“ Gina menganggukkan kepalanya lagi tanda dirinya paham maksud Ryzel.
“Jika dipikir-pikir lagi, bukankah kamu harusnya berterima kasih kepada temanmu? Dikarenakan dia, kamu bisa mengetahui sifat asli dari pria itu.“
“Eh, benar juga, ya.“ Mata Gina menyala dan baru sadar hal ini. “Apakah itu sifat aslinya dia? Tukang selingkuh?“
Ryzel memegang dagunya tampak sedang berpikir. “Kemungkinan besar, dia memang tukang selingkuh. Selingkuh itu bisa dikatakan penyakit, sulit disembuhkan, kecuali dia sudah terkena hukuman alam.“
Mendengar pernyataan Ryzel, Gina jadi teringat beberapa momen dirinya bersama dengan pria itu, selama menjalani hubungan, ia merasakan sesuatu yang aneh dengan gelagat pria tersebut, tetapi ia selalu berpikir dan berprasangka baik.
“Permisi, ini makanannya.“ Tiba-tiba pelayan restoran datang dengan membawa nampan yang di atasnya terdapat makanan-makanan yang dipesan Ryzel.
Kemudian, pelayan itu meletakkan semua makana ke atas meja mereka, dan pamit, “Selamat menikmati.“
Ryzel tersenyum dan mengangguk kepada pelayan sebagai balasannya terhadap pelayanan yang baik. Poin lebih untuk restoran ini, pelayanan yang ramah.
“Makananku sudah datang, lebih baik kita makan semua makanan ini, sebelum makanan makin sejuk,” Ryzel menyarankan agar cepat-cepat menghabiskan makanan yang ada.
Tangan Gina mengambil sendok, ia bersiap untuk melanjutkan makannya lagi. “Oke.“
Saat berikutnya, mereka berdua memakan makanannya masing-masing yang sudah dipesan.
Porsi makan Ryzel sangat banyak setelah ia mendapatkan tambahan kekuatan fisik menjadi 2 kali lipat orang dewasa, kekuatan yang besar butuh pasokan energi yang besar pula.
Tidak disadari oleh Ryzel, tempramen ramahnya membuat Gina nyaman berada di dekatnya, tidak sedikit pun merasa asing, bahkan Gina bisa curhat kepada Ryzel, padahal meraka baru saja bertemu, itu semua karena efek dari tempramen ramah yang keluar dari tubuh Ryzel.
Emosi Gina sedikit demi sedikit menjadi normal, kesedihannya sirna ketika memakan makanan dari restoran ini, makanan enak memang obat alami hati.
Sehabis mereka memakan semua hidangan yang ada di atas meja, mereka berdua hendak membayar makanannya.
Namun, ketika Gina ingin membayar makanan yang ia pesan, itu ditahan oleh Ryzel. Sebagai seorang pria yang baik dan berbudi, Ryzel membayar juga makanan yang dipesan oleh Gina.
Total biaya yang mereka berdua makan itu lebih dari 400 ribu rupiah, Ryzel membayar dengan kartu debitnya yang berisikan saldo belasan miliar rupiah, saldonya langsung dipotong.
“Anu, terima kasih sudah traktir aku makan.“ Gina melirik mata Ryzel dan memandangnya dengan rasa terima kasih yang tulus.
“Sama-sama.“ Ryzel mengangguk satu kali. “Hari sudah sore, aku harus pergi sekarang.“
Langit sudah mulai meredup dan matahari ingin terbenam, menandakan sudah masuk waktu sore hari. Ryzel harus pergi dari Kebun Raya ini dan mencari tempat penginapan.
“Aku juga, aku harus kembali ke asrama kampus.“
Ryzel mengangguk seraya menggendong kedua tasnya, dan berkata, “Kita keluar bersama saja.“
Mendengar ucapan Ryzel, Gina tertegun untuk sesaat dan pipinya memerah, “Keluar bersama?“
“Iya, keluar bersama-sama.“ Ryzel menoleh ke Gina dan mengangguk tegas.
“Ucapanmu terdengar ambigu, Ryzel.“ Gina bangkit dari kursi restoran dan mengambil ponselnya, ia memalingkan wajahnya yang tersipu dari pandangan Ryzel.
“Ambigu apa? Apakah ada yang salah dengan ucapanku tadi?“ Ryzel menjadi bingung, ia tidak mengerti mengapa Gina tiba-tiba bertingkah aneh.
“Tidak-tidak, lupakan itu. Ayo kita pergi!“
Tiba-tiba Gina menarik tangan Ryzel dan membawanya keluar dari restoran.
Mereka berdua berjalan bersama sampai ke luar pintu masuk Kebun Raya Bogor.
Selanjutnya, Ryzel menunggu mobil angkutan umum untuk Gina pulang.
“Itu nomor ponselku, hubungi aku apabila kamu tidak sibuk.“ Gina menyerahkan nomor teleponnya dan langsung menyimpannya di ponsel Ryzel.
Wanita ini agak agresif dan aktif, sangat mudah bersosialisasi, mungkin ini karena dia sudah memiliki ilmu komunikasi dari jurusannya.
“Oke, aku akan mengirim pesan nanti.“
“Dadah, Ryzel. Aku senang bisa bertemu denganmu.“ Gina melambaikan tangannya sebelum naik ke dalam mobil angkutan umum.
Mobil angkutan umum ini tidak memberi kesempatan kepada Ryzel untuk menjawab, dengan gegasnya mobil itu melaju meninggalkan Ryzel.
“Aku juga,” ucap Ryzel pelan dengan matanya mengikuti belakang mobil yang sudah jauh.
Ryzel mengeluarkan napas dan menggelengkan kepalanya lalu melangkahkan kakinya menuju ke salah satu hotel yang dekat dari kawasan Kebun Raya Bogor, hotel yang memiliki ulasan paling baik dan bagus.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 219 Episodes
Comments
Jeme Merinem
MC nya ganteng tapi belum ngentit jdi percuma aja gw baca
2024-12-04
0
NAROSTIM BOY
baca namanya rizel atau raizel bjir
2023-09-03
4
ᜫ͢ ⁶²ハナフィ⁵⁴
Di dalam atau Di luar🤔
2023-08-29
3