“Aku tidak melakukan apa-apa kepada wanita ini.“ Pria ini menggelengkan kepalanya dan tidak ingin mengakui perbuatan kejinya yang telah dilakukan sebelumnya.
Ryzel dan orang-orang di sini yang sempat menyaksikan aksi bejat orang ini sama sekali tidak percaya dengan perkataannya.
Beberapa dari orang-orang yang berkumpul di depan pria bejat ini memiliki rekaman videonya.
Tanpa harus berlama lagi dan melihat bahwa stasiun yang Ryzel tuju sebentar lagi sampai, ia langsung mengunci tangan pelaku ini supaya tidak kabur dan melawan.
“Tolong kirim semua video pria ini yang kalian sempat rekam ke wanita ini.“
Sesuai dengan permintaan Ryzel, mereka semua mengirimkan video yang bisa dijadikan sebagai bukti pelaku kejahatan pelecehan ini.
Total ada 6 video yang berhasil terekam, dan 2 video di antaranya sudah terkirim ke akun Tiktod si pemilik video.
“Kamu turun di mana?“ Ryzel bertanya sambil memegang kedua tangan pria bejat ini seperti sedang diborgol.
Pria ini sedari tadi memberontak meminta untuk dilepaskan, tetapi Ryzel tidak mendengarkannya sama sekali, tangannya yang kuat sudah mirip dengan borgol sungguhan yang sulit untuk bisa dilepaskan.
“Aku turun di Stasiun Tanah Abang,” Wanita yang menjadi korban ini menjawab dengan malu dan bingung.
Ia tidak berpikir bahwa akan ada pria yang baik yang ingin menolongnya.
“Baiklah, nanti kita turun di sana, kamu mau melaporkan pelaku ini, kan?“
“Ya, aku akan melaporkannya.“ Wanita itu mengangguk tegas.
“Jangan! Jangan laporkan aku!“
Pria yang dikunci oleh Ryzel berteriak enggan, ia tidak mau dipenjara oleh polisi.
Tidak peduli seberapa keras pria ini berteriak, orang-orang hanya diam tanpa mau meresponsnya.
Beberapa jam kemudian, Ryzel keluar dari Kantor Polisi Sektor Jakarta Pusat yang letaknya tidak jauh dari Stasiun Tanah Abang.
Mereka berdua pergi untuk mengirimkan pelaku ini beserta dengan semua bukti video, untungnya laporan ini langsung diterima karena bukti yang kuat dan bahkan pelaku ini sudah ketakutan lebih dahulu sehingga mengaku juga.
Selama di perjalanan Ryzel menggiring pria ini ke Kantor Polisi, mental pelaku ini sudah Ryzel peras dengan niat bertarungnya, bahkan Ryzel tidak peduli pada orang-orang yang melihatnya aneh karena memegang seseorang seperti seorang polisi yang tengah memborgol penjahat.
“Terima kasih sudah membantuku,” kata Wanita itu dengan malu.
Ryzel mengangguk. “Sama-sama, sudah menjadi keharusan untuk membantu orang.“
“Emm … itu benar.“
“Omong-omong, namamu Dea?“
Saat membuat laporan dan keterangan, Ryzel sempat melihat nama dari wanita ini, tetapi ia belum berkenalan secara langsung.
Wanita ini menoleh ke Ryzel sesaat dan kembali menunduk. “Iya, namaku Dea.“
Respons wanita yang bernama Dea sangat singkat, tetapi Ryzel menganggap wanita ini memang memiliki karakter yang pemalu dan pendiam.
Ia hanya bisa memakluminya, mungkin dia juga masih ketakutan akibat tindakan pelecehan yang dilakukan oleh pria tadi.
Mereka berdua berjalan mengikuti ke arah Bundaran HI, cukup jauh perjalanan, tetapi Dea tidak mengeluh.
Di perjalanan Dea berkata bahwa ia sekarang sedang libur kerja karena mengambil cuti untuk pulang ke kampung.
Hari ini ia memiliki waktu untuk mengantarkan Ryzel ke Monumen Nasional, ia bilang hanya ini saja yang ia bisa balas dari kebaikan Ryzel.
Sebagai imbalannya, Dea akan menemani Ryzel ke Monumen Nasional dan menjadi pemandu wisata.
Sebelum sampai di Halte Busway, Ryzel dan Dea beristirahat di Mall GI dan makan siang di salah satu restoran di sana.
Dari penampilan Dea, wanita ini tidak seperti wanita yang heboh di pakaiannya, ia cuma mengenakan kaos hitam dengan jaket putih dan celana jeans panjang, juga membawa tas ransel.
Tampilannya sangat sederhana, cocok dengan sifatnya yang berbicara secukupnya dan pemalu.
Kendatipun demikian, Dea tetap terlihat cantik dengan kulit putih dan rambutnya yang agak ikal diikat model kuncir kuda yang terlihat unik.
Dari pembicaraan di restoran, Ryzel mendapatkan informasi seputar Dea ini, dia memang berasal dari Kota Bogor, merantau ke Jakarta untuk bekerja, ia menyewa kamar atau kos di daerah Tanah Abang, kamar kos khusus wanita, sama seperti Ryzel, tetapi beda tempat kos, Ryzel kos di dekat Mall GI ini.
Keluarganya ada di Bogor dan ia anak pertama dari orang tuanya, adik-adiknya masih kecil.
Mendengar ini, Ryzel menjadi makin marah kepada pria bejat tersebut.
Selain mendapatkan informasi seputar identitas wanita ini, Ryzel juga menjadi tahu sifat sementara Dea, wanita ini pemalu, bahkan dia tidak berani kontak mata secara langsung dengan Ryzel.
Gelagatnya juga tampak lugu, wanita ini belum pernah ke Mall ini, dan makan di restoran yang terbilang mahal.
Sebenarnya, Ryzel pun sama, belun pernah ke restoran mahal seperti ini, tetapi ia sekarang sangat percaya diri karena memiliki uang. Jika tidak punya uang, ia tidak begitu berani seperti saat ini.
Sistem juga mengingatkan dirinya untuk terus mencari pengalaman, tidak boleh malu dan pengecut, ia harus berani mencoba.
Pasalnya, di perjalanan juga memiliki risiko bahaya tersendiri dan sulit untuk dianalisis, pengalaman sangat dibutuhkan dalam perjalanan.
Sama seperti wanita yang lain, wanita ini wajah seketika berubah begitu melihat wajah Ryzel, bahkan pelayan restoran wanita sering kali datang dengan segala caranya, entah menawarkan makanan atau yang lain.
Dea makin menjadi pemalu dan sepanjang mereka makan, ia sama sekali tidak berani mengangkat kepalanya untuk melirik Ryzel.
Ternyata Ryzel juga baru tahu, bahwa Dea ini bukan salah satu dari wanita yang tahu ketampanan wajahnya lalu dengan sengaja berdiri di dekatnya ketika di dalam kereta, sebab setelah ditanya oleh Ryzel di restoran tadi, ia mengaku dirinya baru tahu saat ini tentang wajah Ryzel.
Suara Dea saat berbicara sangat kecil, seakan-akan sedang berbisik, padahal sebelum Ryzel membuka masker hitamnya, Dea masih berbicara dengan suara yang normal.
Setelah beres makan, Ryzel membayar semua makanan yang mereka berdua makan.
Tidak enak akan hal ini, dengan polosnya Dea berkata bahwa ia ingin mengganti uang yang Ryzel bayarkan untuk makanannya.
Namun, Ryzel tidak izinkan, takut itu akan menjadi beban bagi Dea.
Keluar dari mall, Ryzel membeli minuman untuk Dea. Setahu Ryzel, wanita suka dengan minuman yang sedang tren, seperti Boba, Mixiu, Starback, dan merek yang lain. Berharap dengan makan di restoran dan dibelikan minuman, hati Dea menjadi lebih tenang dan tidak ingat tentang hal tadi.
Saat di bus yang menuju ke Monas, Dea ini selalu berdiri di dekat Ryzel, bahkan dengan sendirinya wanita ini berdiri di sebelah Ryzel seakan-akan ia sedang berlindung. Tubuhnya terlalu dekat pada tubuh Ryzel terlihat begitu menempel.
Sesampainya di pintu utama besar Monumen Nasional, Ryzel langsung mengambil gimbal ponsel dan berniat untuk siaran langsung.
“Itu … kamu mau ngapain?“ Berjalan di samping Ryzel, Dea bertanya dengan wajah yang penasaran.
Ryzel meletakkan ponselnya di gimbal seraya menjawab, “Aku lupa memberi tahu padamu, aku sebenarnya seorang streamer luar ruangan. Jadi, aku sedang menyiapkan untuk siaran langsung.“
“Streamer? Apa itu … di Tiktod?“
“Ya, kamu tahu?“ Ryzel mengangguk dan menoleh.
“Umm … tahu, aku juga pernah melihat orang yang berjualan di siaran langsung di Tiktod.“
“Oh, seperti itu. Apa tidak masalah kalau kamu ikut aku di siaran langsung?“ Ryzel meminta izin kepada Dea.
Dea tidak langsung menjawab, ia merenung sesaat untuk memikirkan pilihannya. “Tidak apa-apa, tetapi … jangan beri tahu identitasku, cuma boleh memberi tahu namaku saja.“
“Oke. Kalau wajahnya tersorot kamera, bagaimana?“
“Ti–tidak mengapa, aku akan terus memakai masker untuk menyembunyikan wajahku,” ucap Dea yang merasa itu bukan suatu masalah baginya.
“Baiklah, kalau begitu. Aku akan memulai siaran langsung sekarang.“
Setelah mengatakan itu, Ryzel menekan tombol mulai dan siaran langsung resmi dimulai.
“Halo Semuanya! Kembali lagi denganku, Ryzel! Saat ini sudah ada ….“
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 219 Episodes
Comments
Paulina Alfathir
terlalu banyak narasinya jd capek bcnya😥😥
2024-04-18
0
ᜫ͢ ⁶²ハナフィ⁵⁴
Di dunia wibu
2023-08-30
3
ᜫ͢ ⁶²ハナフィ⁵⁴
Lebih cocok yg ini ketimbang si Gina
2023-08-30
3