Quirinus mengerjapkan mata beberapa kali. Tangannya menyentuh kepala yang masih terasa pusing. Sementara indra penciuman menghirup aroma yang berbeda, tidak seperti tempat tinggalnya yang pekat dengan sejuk pepohonan.
Perlahan Quirinus membuka mata. Dia memicing ketika lampu di atas ruangan terasa menyilaukan. Mengangkat tangan sebelah kiri yang seperti ada sesuatu menancap di sana.
Infus? Rumah sakit? Bagaimana Quirinus bisa sampai di tempat itu? Kepalanya menengok ke kanan dan kiri, mencari dari jawaban pertanyaan itu. Tapi, ruangan yang ia tempati terasa sunyi, hanya ada dirinya seorang.
Siapa yang membawa ke rumah sakit? Tidak mungkin Quirinus menelepon ambulan. Bahkan dia lebih baik mati tak ditemukan oleh siapapun daripada berobat dan kembali hidup dengan kenangan yang satu pun tak ada keindahan di dalamnya.
Berobat bukanlah salah satu pilihan Quirinus. Jadi, entah siapa yang membawa dia ke rumah sakit, tak peduli. Tangannya meraih infus yang menancap di permukaan kulit dan menembus hingga ke pembuluh darahnya. Ia hendak melepas paksa dan akan keluar dari sana.
Namun, gerakan pintu yang baru saja didorong oleh seseorang membuatnya berhenti melakukan pergerakan, menengok ke arah sumber suara. Dan sekarang ia tahu siapa pelaku yang membawanya ke rumah sakit. Wanita yang sudah satu bulan tidak ia lihat. Annora.
“Sudah bangun?” Annora bertanya sembari berjalan ke dalam. Kedua tangan membawa tas belanja yang sepertinya berisi banyak makanan. Dia lekas berjalan cepat ketika melihat Quirinus hendak melepas infus. “Eh ... jangan!” Wanita itu segera meletakkan bawaan, lalu menarik dan mencegah lengan pria itu supaya tidak melakukan hal-hal nekat. “Kau itu sedang sakit, butuh perawatan,” omelnya kemudian.
Jika berhadapan dengan Annora, pasti Quirinus selalu berakhir menghembuskan napas pasrah. Tenaganya seolah hanya akan berakhir sia-sia karena wanita itu selalu tak gentar untuk memaksa menerima apa pun yang dilakukan oleh Annora.
“Jadi, kau yang membawaku ke sini?” tanya Quirinus. Matanya yang sayu tetap saja nampak pekat oleh kegelapan.
Annora mengangguk. “Tapi, tenang saja, aku tidak menelepon ambulan atau menghubungi seseorang untuk membantu. Semua ku lakukan sendiri.” Seakan tahu dengan kerisauan Quirinus yang tak suka tempat tinggalnya diketahui orang lain, dia langsung menjelaskan.
Alis Quirinus naik sebelah seolah meminta penjelasan lebih. Badannya besar, bahkan lebih berat dari Annora.
“Aku menyeretmu sampai ke dalam mobil,” ucap Annora kemudian. Ia meringis, meminta maaf seraya menunjuk kaki Quirinus. “Jadi, tumitmu sedikit lecet saat sampai di sini.”
Bentar, ada yang aneh dan janggal. Dia ingat terakhir kali pingsan di dalam rumah. Lalu, Annora bisa membawanya keluar. “Bagaimana caramu masuk ke dalam?” tanyanya menyelidik.
Annora meringis lagi hingga gigi rapi dan putih terlihat jelas. “Aku sempat mengintip saat kau menekan pin.”
Kepala Quirinus bergeleng. Wanita satu itu benar-benar niat sekali mengusik hidupnya. Bahkan setelah satu bulan tak berjumpa pun sering tiba-tiba hadir dalam mimpinya. “Untuk apa kau datang ke rumahku? Bukankah sudah berjanji tak akan kembali lagi?”
“Ya ... karena aku merindukanmu. Satu bulan sibuk, banyak pekerjaan di luar negeri. Jadi, saat aku pulang, langsung pergi ke tempatmu. Ternyata yang ku dapatkan justru kau yang tergeletak di lantai dengan wajah pucat.”
“Ck! Keras kepala.”
“Eh ... harusnya kau itu berterima kasih padaku karena datang tepat waktu dan menolong sebelum nyawamu melayang.” Annora mencubit kecil lengan Quirinus.
Pria itu tak bereaksi kesakitan, justru menatap Annora datar. “Aku lebih senang jika tidak ada yang menolong dan mati begitu saja.”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 77 Episodes
Comments
Fenty Dhani
hanya Annora yang membuat hidupmu lebih berarti...jadi terima saja😉😂
2024-01-24
0
Afika Simaremare
Qui ko pasrah
2023-08-22
0
Diank
Ya ampun Bang Qui bukannya terima kasih sudah ditolong oleh Nora justru lebih milih segan untuk hidup
2023-06-14
1