Kepala Quirinus rasanya semakin pusing. Sudah dibiarkan untuk tetap duduk di sana dan mendempel bagaikan lintah, tapi Annora tetap saja tidak mau berhenti mengoceh. Ada saja yang dikeluarkan dari bibir wanita itu. Entah cerita tentang pekerjaan, keseharian, saudara, keluarga, dan banyak lagi. Namun, satu hal, percuma saja, tidak ada satu pun yang akan ditanggapi. Semua bagaikan angin lalu, masuk telinga kanan dan keluar dari kiri.
Quirinus tetap sibuk dengan rokok dan kopi. Bahkan saat mendapati Annora batuk-batuk karena asap yang ia keluarkan dari bibir pun tak membuatnya lantas berhenti menikmati gulungan tembakau. Salah sendiri wanita itu tidak pergi, sudah tahu tak suka rokok, masih saja mendempel terus. Tentu dia tak akan merasa bersalah.
“Aku heran denganmu, apa enaknya duduk sendirian, diam, menatap langit? Apa lagi pemilihan rumah di tengah hutan seperti ini, yang sunyi, jauh dari suasana perkotaan, mau beli apa-apa juga perlu perjalanan yang lumayan. Seleramu itu seperti orang yang tidak suka bersosialisasi,” oceh Annora.
Quirinus menghela napas kasar penuh rasa frustasi. Dia mengambil kotak rokok yang sudah kosong karena isi telah dihabiskan sepanjang ia duduk di sana. Pria itu menjejalkan bungkus tersebut ke mulut Annora yang sedang terbuka dan hendak mengeluarkan suara lagi. “Berisik!”
Mau tak mau Annora harus melepaskan belitan tangan dari lengan kekar yang sangat nyaman. Dia mengeluarkan bungkus rokok yang menahannya hingga sulit bicara. “Ish ... kasar. Aku itu hanya berusaha dekat denganmu. Kalau tak ada komunikasi, bagaimana kita bisa saling mengenal? Menggunakan bahasa kalbu? Kan tidak mungkin.”
Meski Quirinus sudah terlihat malas dan tidak suka, Annora tetap saja berada dalam pendiriannya yang maju tak gentar sampai berhasil meluluhkan pria dingin yang lebih cocok sebagain freezer bernapas sekaligus bernyawa.
Quirinus lelah sekali, padahal hanya mendengarkan Annora berbicara tapi berhasil menguras habis energinya. Dia memilih meneguk habis sisa kopi, lalu beranjak dari kursi untuk meninggalkan wanita itu. Mengabaikan dan tidak berniat menanggapi.
“Mau ke mana?” Annora tetap mengekor hingga menaiki anak tangga juga.
Namun, wanita itu terhenti saat pintu kayu di tutup kasar dengan cara dibanting. Lalu terdengar suara dikunci dari dalam. “Oh ... oke, mau tidur, ya? Selamat istirahat.”
Akhirnya, malam itu pun berakhir juga. Quirinus mendapatkan ketenangan di dalam kamar tanpa gangguan suara Annora.
...........
Pagi Annora sudah terbangun. Ia bermalam di rumah Quirinus karena hari sudah malam juga untuk pulang. Dia tanpa izin membuka saja kulkas, kening mengernyit saat tidak mendapati bahan-bahan makanan. Justru lebih banyak bir kalengan.
“Sudah lapar begini, dari semalam perut belum terisi apa pun, tapi tak ada yang bisa dimakan,” keluh Annora. Dia lalu berganti membuka kabinet yang tertempel di dinding dan bawah meja dapur. Mencari roti atau mungkin mie instan.
Untunglah ada sebungkus mie yang bisa dimasak. Jadi, Annora membuat itu. Setelah siap di dalam mangkuk, ia tak langsung menyantap.
“Mungkin Qui mau sarapan juga. Dari kemarin dia belum makan, hanya merokok dan menyesap kopi.” Annora pun membiarkan kepulan asap dari mangkuk menguar begitu saja, sementara ia naik ke atas untuk membangunkan si pemilik rumah.
“Qui ... bangun, ayo sarapan.” Tangan Annora menggedor menggunakan ritme mulai pelan sampai kencang.
Hingga pria yang dipanggil pun membuka pintu dengan wajah terlihat baru bangun tidur. “Apa?!” tanyanya dengan ketus.
“Makan bersamaku.” Annora tidak meminta persetujuan, langsung saja menarik tangan Quirinus untuk ikut ke bawah. Dia mendudukkan tubuh kekar ke kursi, lalu ikut menghempaskan pantat di samping pria itu.
“Di rumahmu tidak ada apa-apa, hanya tersisa mie instan sebungkus. Jadi, kita sarapan satu mangkuk berdua saja, ya?” tawar Annora, dia menyodorkan garpu pada Quirinus.
“Kau makan sendiri saja, aku tidak biasa sa—” Penolakan Quirinus belum keluar secara keseluruhan. Mulutnya sudah terbungkam oleh suapan Annora.
“Bicaranya nanti saja, dari kemarin kita sama-sama belum makan.” Annora berhasil membuat Quirinus mau mengunyah mie juga.
Baru pertama kali Quirinus makan satu mangkuk berdua. Sebelumnya ia tak pernah berbagi apa pun pada siapa saja, kecuali berbagi kehangatan pada wanita lain yang sering dilakukan. Tapi, setiap kali bercumbu, dia tidak pernah menggunakan perasaan, semua dilakukan karena tuntutan karena sudah dibayar mahal.
Setelah mangkuk itu kosong. Quirinus kembali berbicara. “Sepertinya kita perlu membuat kesepakatan.”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 77 Episodes
Comments
mommy neng
waduuhhh lelaki berbayar ini mah.. hmmm daddy danesh gmn yaaa klo tau
2024-10-13
0
Anna
/Joyful//Joyful/ sudah tidak kuat
2024-06-25
0
💐Lusi81
sudah kuduga. ternyata qui itu kerjaannya.....
2024-02-11
0