Part 7

Meski sudah disudutkan ke pintu, dan Annora tak bisa bergerak kemanapun karena kedua tangan dicekal dan diangkat ke atas kepalanya, tapi ia tetap tidak menunjukkan getar ketakutan sedikit saja. Wanita itu justru dengan berani mendongak hingga bisa menatap wajah Quirinus.

Annora semakin mendalami sorot mata pria itu. Memang tajam, tapi ada kegelapan yang seakan sengaja menyembunyikan sisi lain. Entah apa, tapi dia merasa ada hal kelam yang sulit dijamah.

Sekelam apa hidup pria itu? Seburuk apa? Semenyedihkan apa? Sampai memilih hidup tanpa memiliki tetangga dan di tengah pepohonan yang lebat pula. Meski merasakan aura ketidaksukaan, tapi Annora tetap ingin bertahan di sana. Dia seakan melihat ada kegelapan yang butuh pelukan.

“Aku tanya sekali lagi, kau tahu dari mana tempatku?!” Kali ini wajah Quirinus semakin mendekat dengan mata kian melotot. Selama hidup di sana, tidak pernah sekali pun ada orang yang berhasil menemukan atau datang khusus untuk menemuinya. Tak ada yang tahu tempat tinggalnya juga, termasuk banyaknya wanita yang tidur dengannya.

Annora mengulas senyum, melihat sekilas tabiat Quirinus, membuatnya tidak ingin memberi tahu kalau informasi didapat dari sepupunya. Pria itu terlihat seperti seorang yang berbahaya dan penuh dendam. Tapi anehnya, dia tidak takut dan tak berniat untuk menjauh.

Bahu Annora mengedik. “Aku itu pintar, model terkenal, jadi menemukanmu adalah hal yang mudah.” Diakhiri dengan senyum miring.

Quirinus semakin mencengkeram kuat tangan Annora. Sejak tadi matanya belum berkedip. Bukan karena terpesona, tapi dia sedang marah akibat ada orang yang tahu tempat tinggalnya.

“Untuk apa kau datang ke sini? Memangnya kau tak takut ke rumah seorang pria? Sendirian?” Quirinus menyeringai, kian mendekatkan wajah ke depan wanita yang masih diingat namanya, Annora. Daya ingatnya lumayan bagus, bahkan termasuk kejadian masa lalu yang begitu suram untuknya.

“Tentu saja untuk bertemu denganmu, masa iya mencari sipanse.” Meski Quirinus selalu bebicara datar, dingin, dan ketus, Annora tetap menunjukkan sisi yang santai dibalut sedikit candaan. “Dan aku tidak takut denganmu. Kita sama-sama manusia, kau bukan pembunuh juga, kan?” Alisnya terangkat satu untuk memastikan. Tidak mungkin juga setampan itu seorang pencabut nyawa sadis, rasanya mustahil.

Tangan kiri Qui melepaskan cekalan di pergelangan Annora, dia menekan tombol-tombol angka di pintu. Lalu mendorong wanita itu seiring pintu kayu terbuka.

Siapa pun yang sudah tahu tempatnya, maka tak akan dibiarkan pergi begitu saja. Baginya, rumah itu adalah rahasia yang tak boleh dijamah oleh siapa pun. Berhubung ini adalah kali pertama ada seseorang yang berani menginjakkan kaki di sana, maka harus diberi pelajaran supaya kapok dan tidak akan membeberkan pada siapa pun tentang lokasinya.

Qui menarik kasar tangan Annora, setiap langkah kakinya otomatis membuat lampu di dalam hunian itu menyala. Dia menghempaskan tubuh wanita itu ke sofa hingga jatuh terlentang. “Ada urusan apa kau berani mencariku?”

Annora menghela napas. Ternyata kasar juga pria itu. Tapi entah kenapa justru tambah suka. Semakin Qui menunjukkan sisi dingin, disitulah dadanya kian berdebar. Tatapan mata pria itu seakan memintanya untuk terus maju dan memeluk kegelapannya. “Aku hanya ingin memastikan sesuatu.”

Annora bangkit dari sofa, dia bisa melihat sepasang alis terangkat dan menatapnya penuh tanda tanya. Maka tugasnya adalah menjelaskan. “Pertama kali bertemu denganmu, aku merasakan debaran yang tak biasa. Mungkin saat itu aku kelelahan karena berlari. Tapi, setiap hari aku selalu teringat wajahmu, padahal kita baru bertemu sekali dan tak pernah ada komunikasi.”

Kaki Annora kian mendekat hingga ia berhenti tepat di depan Quirinus. Ujung kakinya bisa merasakan sepatu yang membalut pria itu. Kepalanya mendongak hingga mereka bersitatap tanpa ada satu pun menunjukkan rasa takut.

“Terdengar berlebihan memang, dan klise, atau mungkin menurutmu tak masuk akal. Tapi, ini adalah adrenalin yang baru pertama kali aku rasakan. Jantungku belum pernah merespon cepat pada satu pun pria yang ku temui. Baru denganmu.” Telunjuk Annora menyentuh dada terbalut jaket hitam yang terasa keras.

“Ternyata, kedua kali aku bertemu denganmu, adrenalinnya tetap sama.” Annora semakin berani mengikis jarak. Dia memeluk pria itu dengan erat. “Kau bisa merasakan debaran jantungku, kan?”

Terpopuler

Comments

himmy pratama

himmy pratama

agresif sekali anora..

2024-04-20

0

Fenty Dhani

Fenty Dhani

good Annora...semangat...Pepet terus sampai dapat👍🌹🌹😂

2024-01-24

1

fitriani

fitriani

cie cie annora udh berani peluk2😂

2024-01-22

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!