Leo memperhatikan interaksi antara Bella dengan seorang wanita paruh baya yang terbaring di atas ranjang itu melalui jendela kaca di ruangan tersebut.
Tanpa perlu dijelaskan secara rinci, Leo sudah bisa menebak bahwa itu adalah ibunya Bella. Dilihat secara kasat mata mereka berdua memiliki paras wajah yang begitu mirip.
Sudah puas melihat semua yang dilakukan oleh Bella di rumah sakit ini, Leo pun akhirnya memutuskan untuk pergi. Setelahnya dia benar-benar mencari semua informasi tentang wanita tersebut.
Wanita dengan mata coklat yang saat ini sudah jadi istri sang tuan.
Itu artinya dia pun harus menghormati Bella sebagaimana dia menghormati tuannya.
Jam 3 sore Leo sudah kembali menemui sang Tuan di perusahaan Lim Corporate. Dia tidak hanya datang dengan tangan kosong, Leo membawa lengkap data diri Bella Claire.
Dan tanpa banyak bertanya, Edward pun membaca laporan tersebut.
Edward bisa membaca pikiran Leo, jadi tanpa perlu melaporkan secara rinci pria berwajah pucat itu sudah tahu bahwa Leo membawa informasi tentang Bella.
Istrinya.
"Bella gadis yang baik, tidak salah aku memperistri dia," ucap Edward, bibirnya tersenyum miring. Membaca informasi ini membuatnya merasa bahagia, karena dia seperti tidak menemukan sedikitpun cacat pada wanita itu.
Bella cantik, baik, pekerja keras, mandiri, melakukan segalanya untuk kesembuhan sang ibu.
Padahal bisa saja Bella memilih acuh dan lebih mementingkan dirinya sendiri.
"Pulanglah lebih dulu, katakan pada keluarga ku bahwa aku akan pulang bersama Bella, aku ingin mereka menyambut baik kedatangan istri ku," titah Edward, dia akan menunggu sendirian di sini.
"Baik Tuan," jawab Leo patuh.
30 menit berlalu setelah Leo pergi tapi Bella belum juga datang ke perusahaan ini.
Saat Edward memejamkan matanya dan menatap sekitar, dia pun belum juga melihat Bella datang.
"Bodoh, harusnya aku meminta nomor ponselnya," gumam Edward.
"Oh tunggu dulu, nomor itu ada di data pemberian Leo," ucap Edward lagi. Dia mulai membuka mata dan hendak melihat nomor ponsel Bella, namun seketika pergerakannya terhenti saat melihat tas wanita itu ada di meja ini.
Bella hanya pergi membawa dompet dan black card miliknya.
Edward lantas melihat isi tas itu dan benar-benar menemukan ponsel wanita tersebut di dalam sana.
"Astaga," gumam Edward.
Akhirnya dia tidak punya pilihan selain menunggu.
Pria itu kemudian memutar kursinya dan kini menatap ke arah langit melalui dinding kaca di ruangan tersebut.
Di bilang Bella harus datang sebelum malam menjelang.
Jadi kini penentunya hanyalah matahari itu.
Matahari yang perlahan turun nyaris tenggelam.
Namun sebelum benar-benar hilang, akhirnya Edward bisa merasakan kehadiran Bella di sekitar sini.
Saat Edward memejamkan matanya, dia melihat Bella yang berlari masuk ke dalam lift menuju lantai 40.
Saat ini waktu sudah menunjukkan jam 6 sore, semua karyawan sudah pulang.
Bella berlari menggunakan gaun pengantinnya itu, cantik sekali.
Wajah Bella yang cemas justru membuat Edward tersenyum.
"Satu," ucap Edward, mulai menghitung detik-detik sang istri akan segera memasuki ruangan ini.
"Dua."
"Tiga."
"Empat."
"Lima."
Brak! pintu itu pun akhirnya terbuka dengan tidak sabaran, Bella begitu takut dia akan datang terlambat karena itulah membuka pintu dengan buru-buru, sampai menciptakan suara yang cukup keras.
Nafasnya terengah, hingga membuat daddanya naik turun.
Seketika membeku ketika melihat pria berwajah dingin itu menatap lurus ke arahnya.
Deg!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 46 Episodes
Comments
fifid dwi ariani
trus semangat
2023-07-23
2
H a m t a r o .
kayaknya nama rumah sakitnya familiar yaa wkwk apalagi nama dokter nya, ardiansyah dude
2023-06-07
2
Ney Maniez
🤦♀️🤦♀️🤦♀️
2023-04-15
1