Gedung Lim Corporate setinggi 40 lantai.
Dan ruangan sang CEO berada di lantai paling tinggi gedung ini.
Sepanjang perjalanan Bella menuju kesana, dia terus tersenyum, tak ada sedikitpun ketakutan yang menyelimuti hatinya.
Seketika dia lupa dengan semua desas-desus yang sejak tadi menghantui benaknya.
Kini pikirannya hanya tertuju pada sang ibu, pada dia yang akan kembali memiliki penghasilan untuk membiayai pengobatan ibunya tersebut.
Sesuai dengan jumlah gaji yang tertera di lowongan pekerjaan, gaji itu sangat besar bagi Bella.
Dia bahkan mulai berangan untuk bisa membiayai operasi sang ibu, bukan hanya untuk pengobatan semata.
Ya Tuhan, terima kasih, kamu memberi ku jalan. Batin Bella. Tak sudah sudah hatinya terus mengucapkan syukur. Apa yang awalnya kira adalah sebuah bencana, ternyata adalah Rahmat yang luar biasa.
Bella terus berjalan mengikuti kemanapun asisten Leo pergi. Mulai dari menuju lift dan menuju lantai 40, kemudian keluar dari sana.
Sampai akhirnya langkah kaki mereka berdua berhenti di sebuah ruangan dengan pintu yang cukup besar, layaknya sebuah pintu raja. Dua bilah dengan ukiran yang begitu indah, tidak seperti pintu kantor pada umumnya.
Kesan mewah adalah hal yang pertama kali Bella baca.
"Ini adalah ruangan tuan Edward, mari masuk," ajak Leo.
Bella mengangguk lagi. Namun kini senyum di bibirnya mulai nampak pudar, Bella mulai gugup, jantungnya berdegup dengan sangat keras.
Apa yang sempat dia lupakan beberapa saat, kini seperti kembali mendatangi ingatannya, tentang kengerian sang CEO.
Kedua telapak tangan Bella jadi semakin basah ketika dia sudah berhasil masuk ke dalam ruangan tersebut.
Melihat seorang pria dengan wajah yang sangat tampan duduk di kursi kebesaran sana.
Benar apa kata orang-orang, bahwa pria itu memang sangat tampan tapi wajahnya pucat seperti mayat hidup.
Deg! jantung Bella seketika itu juga seperti berhenti berdenyut, ketika pria tersebut menatap ke arahnya. Lurus menusuk sampai ke titik terlemahnya.
Bella langsung menundukkan wajah, tak kuasa menatap lebih lama.
Tatapan penuh intimidasi itu benar-benar dia dapatkan.
Ya Tuhan, astaga, astaga. Bella terus membatin dengan ketakutan yang mulai menguasai diri.
Sementara Edward makin menatap Bella dengan lekat. Edward mempunyai kemampuan untuk membaca pikiran semua manusia, Tapi sejak tadi dia tak pernah bisa membaca pikiran Bella.
"Bella, beliau adalah Tuan Edward Lim, CEO di perusahaan Lim Corporate, kamu akan jadi sekretaris tuan Edward yang baru," jelas Leo.
"Se-selamat pagi Tuan, pe-perkenalkan nama saya adalah Bella, Bella Claire," terang Bella dengan suaranya yang terbata-bata.
Kini perasaan takut dan gugup semakin menguasai dirinya, Bella bahkan tidak berani mengangkat wajah dan membalas tatapan pria berwajah dingin itu. sejak tadi dia terus menundukkan pandangannya.
Bella tidak melihat saat Edward berulang kali menarik nafas dalam-dalam menghirup aroma darrahnya yang manis.
Sebuah aroma yang membuat Edward merasa kecanduan. Dia tidak mau tau, bagaimana pun caranya dia harus mendapatkan darrah spesial itu.
Hanya menghirupnya saja dia merasa kekuatannya sudah terisi penuh.
Ouh, manis sekali. Batin Edward.
"Duduk," titah Edward.
Deg! jantung Bella seperti diserang tiba-tiba.
"Silahkan sekretaris Bella, kita akan menandatangani surat kontrak kerja," ucap Leo.
Bella menelan ludahnya dengan kasar.
"Ba-baik," jawabnya gagap, tapi percaya lah, sejak tadi Bella sudah berusaha mengumpulkan semua keberaniannya. Sudah berusaha menjawab dengan suara yang tegas tapi tetap saja yang keluar terbata-bata.
Bella duduk di hadapan Edward, sementara Leo tetap berdiri di samping meja.
"Bella Claire," ucap Edward, dia membaca berkas lamaran pekerjaan Bella.
"Iya Tuan."
"Usia mu?"
"24 tahun," balas Bella tegas, karena gugup dia nyaris membentak.
"Sudah menikah?"
"Belum."
"Tidak tertarik dengan pernikahan?" tanya Edward lagi.
Bella terdiam, saat merasa pertanyaan itu seperti tidak umum ditanyakan ketika sedang menandatangani surat kerjasama seperti ini.
Dia coba mengangkat wajahnya untuk melihat sang Tuan. Namun ternyata tatapan dingin itu benar-benar membuatnya beku, membuatnya sangat takut.
Namun kini Bella tak kuasa untuk memutus tatapan itu, hingga akhirnya mereka saling tatap seperti garis lurus.
Dan disaat seperti itu, Edward bicara sesuatu yang sangat mencengangkan ...
"Aku punya tawaran yang lebih menarik dari sekedar menjadi sekretaris, bagaimana jika kita menikah kontrak, aku akan membayar mu dengan uang yang tak ternilai."
Deg! seketika itu juga Bella langsung mendelik.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 46 Episodes
Comments
RossyNara
oke sampai di sini aku aga merinding. huuuuuh lamjut
2024-04-02
1
𝐋𝐘𝐍𝐄𝐄_
gak bahaya ta?😁
2024-03-30
0
Salim ah
hayoo lho Bel mau jawab apa🤗
2024-02-09
1