Edward seperti baru saja mendapatkan sebuah mainan yang sangat berharga di dalam hidupnya, dia akan jadi vampir yang sangat beruntung ketika memiliki Bella di sisinya.
Seorang gadis yang bisa membuat kekuatannya jadi bertambah berkali-kali lipat. Tidak perlu menghisap darrah Bella sampai habis, dia hanya cukup menghirup aromanya seumur hidup.
Lalu kenapa harus nikah kontrak? karena kalau nikah sungguhan Bella tidak akan mau.
Edward yang sedang duduk di kursi kebesarannya seketika itu juga tersenyum miring. Dia pun sudah tidak sabar untuk membawa Bella pulang ke rumahnya dan memperkenalkannya pada seluruh keluarga.
Bahwa inilah penggantinya yang baru. Anggaplah saja dia sudah sangat mencintai benda itu, Bella Claire.
Di rumah sakit Royal Dude.
Bella langsung berlari masuk ke dalam rumah sakit itu ketika mobil taksi yang dia naiki berhenti di depan lobby.
Dia yang masih menggunakan gaun pengantin seketika jadi pusat perhatian semua orang, karena penampilannya begitu mencolok dibandingkan pengunjung yang lain.
Tidak mengindahkan semua tatapan yang tertuju ke arahnya, Bella langsung berlari menuju ruangan dokter Ardiansyah Dude. Dokter yang selama ini menangani ibunya.
Ada saraf yang membengkak di kepala ibunya, hingga sang ibu jadi setengah sadar.
Hanya operasi jalan satu-satunya yang bisa dipilih agar sang ibu bisa pulih.
"Dok, saya sudah mendapatkan uangnya, saya ingin ibu segera dioperasi saat ini juga!" ucap Bella dengan suaranya yang menggebu. Nafasnya terengah karena dia berlari.
Sementara sang dokter tidak langsung menjawabi pertanyaan itu, sama seperti orang lain dia pun sedikit menatap heran dengan gaun yang digunakan oleh Bella saat ini.
Dia juga jadi bertanya-tanya dari mana Bella mendapatkan uang untuk biaya operasi tersebut.
Namun daripada memikirkan hal itu, saat ini yang terpenting memanglah kesembuhan nyonya Maiden, ibunya Bella.
"Baiklah, urus administrasinya, malam nanti nyonya Maiden akan segera melakukan operasi."
"Kenapa harus nanti malam dok? kenapa tidak sekarang saja? Aku bahkan akan membayar dua kali lipat!" balas Bella, raut wajahnya terlihat sangat cemas. Siapa yang ingin menunda tentang kesembuhan ibunya.
Bella sangat ingin operasi itu segera dilaksanakan, ingin memperpendek rasa sakit yang dialami oleh ibunya.
Kedua mata Bella bahkan saat ini sudah nampak merah, dia bisa saja menangis saat ini juga, tapi sekuat tenaga Bella tahan diri.
Dia tidak boleh lemah di saat seperti ini.
"Maaf Bella, tapi semuanya butuh prosedur, sudah ada jadwal operasi yang lebih dulu dijadwalkan sebelum ibumu," terang dokter Ardi apa adanya.
Saat ini waktu sudah menunjukkan jam 2 siang, bukan waktu yang lama lagi untuk menyentuh angka jam 8 malam.
Tapi di saat itu Bella tidak akan bisa mendampingi ibunya.
Dokter Ardi juga menjelaskan hal tersebut dengan pelan, bahwa pasien yang dalam keadaan kritis bukan hanya nyonya Maiden. Sabar, itulah satu kata yang akhirnya diucapkan oleh sang dokter.
Bella hanya bisa pasrah.
Dia segera menyelesaikan semua administrasi dan segera mendatangi kamar rawat sang ibu.
Langkah kakinya gontai, dia berdiri di ranjang rawat ibunya.
"Ma," panggil Bella.
Mama Maiden memang sudah tidak sadarkan diri, tapi sayup-sayup dia masih mendengar suara anaknya tersebut.
Mama Maiden menggerakkan tangan kanannya sebagai isyarat, dan Bella langsung menggenggam erat tangan itu.
"Mama pasti akan segera sembuh," ucap Bella, dan saat itu juga akhirnya air mata dia jatuh.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 46 Episodes
Comments
fifid dwi ariani
trus sabar
2023-07-23
2
Nila
😰😰😰
2023-06-20
1
Ney Maniez
😭😭😭😭
2023-04-15
2