Xavier meletak kan beberapa foto di depan Shine. "Pria itu adalah seorang dokter di rumah sakit X, dia adalah mantan pacar Nona. Namun hubungan mereka tidak di restui oleh orang tua si pria. Hubungan mereka saat i i hanya sebatas teman saja."
"Lanjut kan!"
"Tuan, Nyonya melamar ke perusahaan milik Elvio dan mendapat kan panggilan interview," lapor Xavier. Dia agak segan mengata kan ini karena permasalahan ini tidak bisa di selesai kan oleh Xavier. Ini juga bermasalah dengan hati ke dua atasan nya.
Shine terdiam sebentar.
"Apa dia mendapat kan obat kontrasepsi itu?" Pertanyaan Shine tidak ada sama sekali dari penjelasan Xavier.
"Tidak Tuan, kami menutup semua akses," jawab Xavier.
"Jangan sampai istri ku mendapat kan obat itu, sesuai permintaan mommy dia akan segera mendapat kan cucu," ucap Shine.
"Baik Tuan."
"Kita fokus pada orang yang menyerang perusahaan Dad dan perusahaan ku, pasti kan jangan terulang lagi," ujar Shine.
Dia bangkit berdiri dan ingin pulang ke mansion. Dia ingin melihat kehebohan di mansion saat sang istri pulang.
**
Sesampai nya di mansion Safira di kaget kan dengan para wartawan yang banyak di gerbang mansion. Bahkan saat ini ada beberapa yang memasuki mansion. Dia melihat sang suami sedang berada di depan kamera.
"Tidak biasa nya dia bekerja di mansion," batin Safira.
Dengan sopan dia berjalan pelan-pelan ke arah tangga.
"Dia istri ku," Safira mendengar suara itu dan menoleh ke belakang.
Para reporter menganga melihat siapa wanita itu. Mereka sering melihat dia bersama penguasa itu, namun tidak berpikir bahwa wanita polos tapi elegan itu adalah sang istri penguasa.
Tapi itu sudah berbeda jauh dari sebelum nya. Pernah di sebuah party Safira seperti badut dan itu adalah hasil karya Sabrina si wanita murahan.
"Aku?" tanya Safira sambil menunjuk kan diri nya.
"Yah, kemarilah Sayang," ujar Shine dengan lembut namun masih terdengar kaku.
Safira sadar dari rasa keget nya, dia kemudian tersenyum. Berita ini pasti terdengar sampai negara Spanyol dan dia tidak mau mengecewa kan mommy mertua.
Safira mendekat dan merapat ke tubuh Sjin, dia seperti memperbaiki rambut dan membelakangi kamera.
"Kau gila Shine, kita sudah resmi bercerai. Apa kau gila, atau otak mu sedang ke masukan Virus?" bisik Safira.
Shine dengan lembut nya memperbaiki helaian rambut yang mengenai wajah Safira.
"Pasang lah wajah senyum mu Sayang, jika tidak ingin mommy kecewa pada mu," bisik Shine. Wajah nya tetap datar di depan kamera
Reporter sangat iri dengan kemesraan yang di lihat oleh mata mereka sendiri. Tapi Meraka tidak tau apa yang sebenar nya terjadi di dalam itu.
"Tuan, jika boleh tau sudah berapa kalian menikah?" tanya seorang reporter. Tapi mereka memilih pertanyaan yang lebih positif, Mereke masih mengingin kan pekerjaan itu, tidak boleh menyinggung orang besar.
"3 tahun," jawab Shine singkat.
Berbagai pertanyaan yang tidak menyulit kan, Shine ternyata suka di wawancara i seperti ini jika berhubungan dengan Safira. Safira juga dengan patuh mau bekerjasama di depan kamera.
"Maaf jika pertanyaan saya terlalu mengganggu privasi Tuan dan Nyonya. Apakah sudah ada rencana memiliki anak?" tanya seorang reporter takut-takut. Reporter lain langsung menggeleng kan kepala pertanda jangan bertanya seperti itu. Reporter yang bertanya mulai merasa bersalah. Dia merasa sebentar lagi akan di keluar kan dari pekerjaan nya.
Wajah Safira langsung memerah mendengar pertanyaan itu. Dia memilin-milin jari nya sendiri. Ini siaran live bukan, tidak bisa di edit. Apa yang akan di jawab Shine nanti nya, pikiran Safira sedang bergelut.
Shine tersenyum dalam hati, ini adalah pertanyaan yang di tunggu nya sejak tadi.
"Sayang, bagaimana pendapat mu?" tanya Shine.
Deg
Jantung Safira berdetak lebih cepat.
"Pria gila ini," batin Safira sambil melihat ke arah Shine yang tanpa ekspresi.
Reporter yang tadi semakin berani ketika dia melihat peluang.
"Apa kami boleh meminta pendapat Nyonya?" tanya reporter itu membuat Safira semakin tersudut.
Dia tersenyum ke arah kamera. Namun jantung nya sudah tidak normal lagi, mungkin sebentar lagi akan ke luar dari tempat nya.
"Ka...kami sedang berusaha," ucap Safira pada akhir nya.
Shine tersenyum dalam hati.
Xavier yang melihat kode yang di beri kan sang Tuan langsung mengakhiri wawancara dan menyuruh para pengawal untuk mengurus para wartawan.
Melihat semua orang di sana sudah pergi, Shine ikut juga naik ke lantai atas sedang kan Safira dia masih terbayang-bayang dengan kejadian tadi. Beberapa saat dia sadar.
"Apa maksud semua ini Shine Damian Browns. Bukan kah kita sudah resmi bercerai?" tanya Safira naik ke meja yang ada di sofa.
Shine berhenti di sana. Dia melihat ke arah Xavier. Asisten itu memberi kan secarik kertas yang sudah di foto copy.
Safira menerima lembaran itu dan membaca nya.
"Breng"sek, kau menipu ku?" teriak Safira.
Shien tidak menggubris ucapan Safira dan melanjut kan perjalanan nya.
PRANG
Safira melempar kan gelas yang berada di sana ke arah Shine. Shine yang tangaks langsung menghindar.
"Kau memang pria sialan Shine, kau mempermain kan ku," marah Safira. Dia membuang semua yang ada di meja.
Pecahan kaca berserak an di sana.
Terkahir ada cemilan di meja itu dan melempar kan nya lagi ke arah Shine dan mengenai sasaran.
"Sial, tidak bisa kah dia melempar kan pit bunga atau gelas seperti sebelum nya?" batin Shine merasa harga diri nya ternodai.
"Ahk," tiba-tiba terdengar suara Safira yang kesakitan. Ternyata dia menginjak pecahan kaca, dia sama sekali tidak mengguna kan alas kaki. Shine berbalik dan melihat Safira yang tetap berdiri di tumpu kan kaca itu.
"Apa yang kau laku kan," ucap Shien dengan dingin. Dia kesal melihat darah yang mulai mengalir dari kaki wanita itu namun tetap berdiri di sana.
Shine maju dan langsung mengangkat Safira seperti karung beras.
"Lepas kan...lepas kan ," teriak Safira memberontak di bawa seperti itu.
"Apa yang kalian laku kan?"
Sebuah suara dingin yang keras terdengar di telinga sepasang suami istri itu.
Jangan lupa like nya 😊👍👍👍
Horas ✋✋✋
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 123 Episodes
Comments
Riya Aja
shien dingin tp perhatian
2023-02-16
0