Shine saat ini berada di dalam mobil menunggu Xavier. Dia SMA sekali tidak mendengar kan celotehan Safira sejak tadi. Dia fokus menunggu Xavier, dia melihat email yang masuk ke dalam ponsel nya.
"Duduk lah di tempat yang seharus nya!" ucap Shine. Dia menatap tajam pada Safira yang sedang duduk di pangkuan nya dan wajah nya menghadap Shine.
Dia tidak peduli sejak tadi ketika Safira ingin naik ke pangkuan nya, kepala wanita itu bebrapa kali terkena atap mobil.
"Sakitttt," ucap Safira mendusel-dusel kan kepala nya ke dada Shine.
Shine membiar kan Safira melaku kan apa pun pada tubuh nya.
Melihat Xavier sudah datang, dengan wajah babak belur nya, Shine tidak buka suara. Dia tetap melihat ke arah iPad nya.
"Kita pulang Tuan?" tanya Xavier. Yang di tanya tidak menjawab sama sekali dan malah fokus pada kegiatan nya sendiri. Sang asisten langsung melaju kan mobil dan menuju mansion.
Dia melihat data yang di beri kan Dad nya pada nya, hampir sama, ralat sangat sama. Data yang di beri kan oleh Dad nya sama dengan data yang ingin meretas data perusahaan Shine.
Tapi CEO itu berhasil menggagal kan aksi lawan karena langsung di tangani oleh nya. iPad Shine hampir terjatuh karena Safira yang bergerak seperti ular yang di potong ekor nya.
"Bisa kah kau diam. Sok minum tapi tidak tahan. Satu gelas sja suda teller," ucap Shine meletak kan iPad nya.
"Sakitttt, hikss,hikss, jahat," ucap Safira pura -pura menangis. Dia lalu tertawa dan mengambil tangan Shine. Dia meletak kan tangan itu di kepala nya dan membuat gerakan memijat.
Shien mengikuti instruksi Safira agar wanita itu diam, dia sebenar nya enggan tapi karena wanita itu sedang tertidur harga diri nya tidak akan tergores.
Safira tersenyum bodoh dan menyandar di dada Shine. Pria itu sampai tidak sadar sejak tadi Max memanggil nya dan mengata kan sudah sampai di mansion. Jarak bar terbilang dekat dengan mansion.
Xavier masuk lagi ke dalam mobil dan berdehem agar menyadar kan sang Tuan.
"Ahemmm, kita sudah sampai Tuan," ucap Xavier agak meninggi kan sedikit suara nya.
Berhasil, Shine sadar dari perbuatan bodoh nya. Dia turun dan mengangkat Safira yang sudah teler ke dalam dekapan nya.
Safira tersenyum dengan cer ah ketika merasa kan diri nya seperti terbang di awan.
"Aku terbangggg," racun wanita itu sambil tertawa.
Shine terus saja berjalan tidak menghirau kan racauan Safira.
Langkah nya terhenti ketika akan memasuki kamar. Entah mengapa tadi langkah nya membawa Safira ke dalam kamar utama.
Shine tidak pikir panjang lagi. Dia membawa Safira masuk dan meletak kan nya di ranjang nya, "tidur lah," ucap Shine meletak kan Safira di ranjang dengan pelan.
Saat Dika ingin berdiri, Safira langsung menarik dasi Shine hingga pria itu hampir saja menyentuh bibir Safira.
"Ada apa?" tanya Shine dingin.
Mata Safira saat ini fokus pada jakun Shine. Dia sejak tadi melihat benolan itu naik turun membuat diri nya penasaran.
"Hehehehe, ini seperti kereta api yang bolak balik," ucap Safira menyentuh lembut jakun Shine.
Shine menutup mata karena sentuhan halus itu membuat bulu kuduk nya merinding.
Lagi dan lagi Safira melaku kan hal yang sama.
"Henti kan tangan mu, itu bisa memancing sesuatu," jelas Shine sambil menahan tangan Safira. Saat ini dia sudah berada di atas tubuh sang istri.
Cup
Safira yang di tahan tangan nya tidak membuat bibir nya menjadi pengangguran.
Satu kecupan tidak cukup dan safira melanjut kan mencium jakun Shine seperti es krim yang di jilat perlahan.
Shine tidak tahan lagi, dia langsung menunduk dan membalas perbuatan Safira.
Melihat wanita nya sudah mulai kehabisan oksigen, Shine langsung melepas kan tautan bibir nya. Berniat untuk berhenti hanya sebatas ini saja, tiba-tiba Safira membalik kan posisi mereka.
"Aku pernah menonton nya, dan waktu nya belajar," ucap Safira tersenyum bodoh. Dia nampak berpikir sebentar lalu membuka kameja Shine.
"Apa yang kau laku kan?" tanya Shine menahan tangan Safira.
"Diam lah Tuan Shine aku sedang belajar, tidak boleh di ganggu," ujar Safira.
Tangan nya di tarik begitu saja dri tangan Shine yang menahan nya, "kenapa susah sekali?" tanya Safira. Tangan nya memang sangat sudah membuka kancing kameja itu karena penglihatan nya saat ini sangat blur.
Akhir nya Safira selesai membuka kancing kameja itu lalu tiba-tiba menciumi perut rata Shine.
Pinggang nya saat ini benar-benar bertumpu di perut Shine.
Pria itu mulai mengerang tak tentu, sudah lama dia tidak meras akan berc inta dengan wanita-wanita di luaran sana.
Nafas Shine mulai berat ketika merasa kan pinggul Safira mulai bergoyang di bawah sana.
Safira berhenti dan kemudian mengingat apa langkah selanjut nya, dia kemudian membuka resleting Shine lalu mengeluar kan sesuatu di bawah sana, secara perlahan dia mendekat kan wajah nya ke sana.
Shine benar-benar tidak tahan, dia menarik Safira dan meletak kan nya di bawah tubuh nya.
"Kau yang meminta ku Safira, tidak untuk kedua kali nya aku gagal setelah kau pancing," ucap Shine lalu merobek pakaian Safira.
Malam itu kamar utama yang begitu mewah kini seperti ruangan erotis yang di penuhi dengan suara-suara membahana dan kenikmatan dari sepasang suami istri yang sama-sama tidak tau bagaimana perasaan satu sama lain.
Jangan lupa like nya 😊👍👍👍
Horas ✋✋✋
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 123 Episodes
Comments
Titin Itin
lnjuuuut thooor
2023-02-12
0
Desilia Chisfia Lina
safira masih gadis ngak y 🤔😹
2023-02-12
0
Riya Aja
sama" gengsi😂😂🤭
2023-02-12
0