"Shine tangan ku melepuh gara-gara wanita itu," seru Sabrina seperti ingin menangis. Tapi Shine terpa melihat ke arah atas.
"Cepat ambil kan salep!" perintah Sabrina.
Shine menoleh sebentar ke arah Sabrina, setelah itu langsung berjalan dan meninggal kan Sabrina di sana. Tidak ada rasa kasihan sedikit pun di wajah pria itu.
Shine sangat sibuk hari ini, dia harus mengikuti meeting sekaligus perekrutan manajer perusahaan yang baru. Bisa di kata kan menajer adalah salah satu yang terpenting di salah satu perusahaan jadi dia harus lebih berhati-hati memilih jantung perusahaan.
Xavier sudah berada di sana dan langsung membuka uka pintu untuk Shine. Setelah mobil berjalan, Shine melihat ke arah kaca mobil, sesuai dugaan nya Safira tidak ada di sana seperti biasa mengantar kan kepergian nya. Shine merasa seperti ada yang kurang dari biasa nya.
Sesampai nya di perusahaan Shine menyelesai kan segala urusan nya tentang meeting perusahaan. Dia beristirahat sebentar dan beralih ke perekrutan manajer perusahaan, tentu nya yang di cari adalah orang yang sudah berpengalaman.
Xavier sebagia perekrut utama mempersilah kan beberapa yang lolos dari metode nya masuk ke dalam ruangan satu lagi di mana ada Shine di sana.
Xavier sudah memilih lima orang tapi tidak ada yang pas menurut nya, tapi dia memilih enam orang yang menurut nya terbaik di antara yang biasa saja.
"Kandidat terkahir," panggil Xavier sambil memberes kan berkas yang ada di sana.
Xavier menengadah kan tangan nya untuk meminta data kandidat dengan santai. Dia tidak melihat siapa yang akan di wawancarai nya.
"Sebut kan pengalaman anda," ucap Xavier.
"Tidak ada," jawab kandidat itu. Dia belum duduk sama sekali dan sudah di tanyai.
"Silah kan keluar!" perintah Xavier. Dia masih ingin membuka CV kandidat terkahir tapi sudah pupus saat mendengar jawaban itu.
"Anda belum mewawancarai saya," lawan kandidat itu.
Xavier berhenti dari kegiatan nya dan mengangkat kepala nya.
"Berani nya kau...Nyo...nyonya, apa yang anda laku kan di sini?" tanya Xavier gugup.
"Apa kau tidak Bisa melihat apa yang ada di tangan mu? Seharus nya kau lah yang langsung pulang!" ucap Safira.
Xavier di buat terkejut mendengar suara tegas sang Nyonya.
"Bukan kah Nyonya selalu berada di mansion? Bahkan saat ini sangat berbeda dengan Nyonya yang biasa nya di mansion," batin Xavier sambil memandangiku Safira
"Bagaimana, apa aku lulus tahap dari mu? Aku bosan menunggu selama tiga jam," tekan Safira waktu mengata kan tiga jam.
"Maaf Nyonya, jika anda ingin datang ke sini, Nyonya bisa berkabar agar saya bisa menyiapa kan segala nya," jawab Xavier.
"Memang nya aku siapa?" tanya Safira.
Xavier di buat skakmat, dia memberi kan CV itu ke tangan Safira.
Dengan malas Safira mengambil kertas itu.
"Aku yang dulu bukan lah yang sekarang," batin Safira meninggal kan Xavier.
Dia langsung memasuki ruangan di mana masih ada kandidat yang masih di wawancara i. Dia langsung keluar, itu terkesan tidak menghargai peserta lain bukan.
Shine yang melihat siapa yang masuk ke ruangan wawancara sebelum di panggil menyipit kan mata nya ketika melihat siapa wanita itu. "Apa yang dia laku kan di sini," batin Shine.
"Kenapa tidak memberi tahu ku masih ada orang di sana?" tanya Safira pada Xavier.
"Anda tidak bertanya Nyonya," jawab Xavier sopan.
Safira di buat geram oleh asisten sang suami.
"Apa Tuhan pernah memberitahu mu sebelum mati?" balas Fira.
Kali ini Xavier yang kalah, dia baru kali ini berbicara panjang lebar pada sang Nyonya dan dia kalah telak.
Perdebatan mereka berhenti ketika kandidat yang sebelum nya berada di dalam keluar dari ruangan itu.
"Silah kan masuk Nyonya," ujar Xavier.
"Apa itu perlu sekarang? Tanpa kau suruh pun aku sudah masuk!" kesal Fira menghentak kan kaki nya pertanda kesal
Xavier serba salah, bukan kah dia melakukan hal yang benar? Dia hanya bisa menggaruk kepala nya yang tidak gatal.
"Apa yang kau laku kan di perusahaan ku?" Sebuah suara bariton yang dingin langsung menyambut Safira saat dia ingin menutup pintu. Dia dengan tenang menutup pintu dan berjalan ke asal suara.
Tidak seperti biasa langsung menunduk jika ada masalah. Dia bukan lah Safira yang dulu yang selalu menangis jika ada masalah.
"Maaf Tuan, saya ingin melamar pekerjaan di perusahaan anda sama seperti peserta lain yang sebelum nya anda wawancara i," jawab Safira dengan sopan.
Shine memperhati kan kepala Safira yang selalu tegak. Dia sedikit terpesona dengan dandanan Safira yang imut.
Rok pendek di atas lutut sedikit di padu kan dengan kameja formal. Tidak mengguna kan make up yang berlebihan seperti biasa nya , dan kali ini terlihat sangat tenang, cantik, anggun dan belia.
"Bullshit, kata kan apa mau mu," ucap Shine berdiri di hadapan Safira.
Wanita itu menghela napas, "apa aku tidak berhak mendapat kan pekerjaan?" tanya Safira mengabai kan pertanyaan Shine.
Entah mengapa pria itu berada di luar kendali saat ini. Dia langsung mendorong Safira ke dinding dan menyatu kan tangan wanita itu di atas kepal Safira.
Safira merasa di leceh kan tentu saja memberontak. Dia hendak menendang kaki Shine namun langsung di himpit oleh kaki besi pria itu. Safira tidak ada peluang untuk melawan lagi.
"Jangan sampai aku melempar kan mu dari atas gedung ini. Jawab pertanyaan ku!" ujar Shine dengan dingin.
Mendengar itu Safira mulai takut, badan nya menggigil. Kepala nya mulai pusing, seberkas ingatan bermunculan di kepala nya.
Gedung, orang jatuh, darah, melompat. Itu lah kilasan ingatan yang ada di kepala nya.
"Sakit," seru Safira mulai menetes kan air mata nya. Entah kepala atau tangan nya yang melepuh sakit tidak ada yang tau, atau justru ke dua nya.
Shine langsung melepas kan tangan nya yang menahan tubuh wanita itu.
Safira langsung terjatuh sambil memegangi kepala nya. Dia berteriak sambil menarik rambut nya sendiri. Akhir nya Safira pingsan di tempat.
Shine melihat kejadian itu tetap santai, tidak ada rasa kasihan di wajah pria itu. Dia membawa Safira ke ruangan CEO dan naik melalui lift.
Para karyawan yang bekerja di sana sangat penasaran siapa wanita yangs wdnag berada di dekapan pemimpin sekaligus pria yang di gilai oleh mereka.
"Panggil dokter ke sini," perintah Shine pada sekertaris nya.
Dalam jangka waktu tiga puluh menit, Dokter sampai di perusahaan Shine dan memeriksa sang menantu.
Xavier lah yang berada di sana dan memantau perkembangan sang Nyonya.
"Bagaiman?" tanya Xavier setelah dokter sudah selesai memeriksa Fira.
"Seperti nya dia pernah mengalami trauma. Tolong jangan laku kan hal yang sama sebelum di pingsan tadi," seru Dokter.
Xavier mengantar kan kepergiana pria berjas putih itu dan kembali ke ruangan sang tuan
"Dokter mengata kan...,"
"Apa aku bertanya?" tanya Shine sebelum sekertaris nya berbicara banyak.
Bersamaan itu Safira ke luar dari kamar tidur nya dan berjalan ke arah Shine dengan wajah pucat nya.
"Apa aku di terima?" tanya Safira to the point.
"Apa tidak cukup kemewahan yang ku beri kan selama ini? Atau kurang?" tanya Shine dengan dingin dan menatap tajam Safira.
"Baik terimakasih atas waktu nya," ucap Safira menunduk hormat. Dari ucapan Shine dia dapat menyimpul kan bahwa dia di tolak.
"Mau kemana kau?" tanya Shine lagi
"Mencari pekerjaan Tuan," jawab Safira mengehenti kan langkah nya.
"Berhenti di sana. Kau ingin mempermalu kan wajah ku di depan semua orang?" tekan Shine. Aura di ruangan itu semakin dingin saja.
Safira tersenyum pahit, dia berbalik ke arah dan berjalan ke arah Shine.
"Ingat, Shine Damian Browns, kita hanya sebatas kontrak. Seperti perjanjian kita, urusan ku adalah urusan ku, jadi urus saja urusan mu," jelas Safira.
Shine menatap tajam ke arah istri nya.
"Kau ingin kekerasan rupa nya!" jawab Shine.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 123 Episodes
Comments
As Lamiah
semangat safir jangan takut lawan aja biyar Shin menyesal nyuwekin kamu dan jangan beri kesempatan Shin untuk menjatuhkan rasa percaya dirimu safir 💪💪💪💪💪dan bikin Shin penasaran sampai jatuh cinta sejatuh jatuhnya
semangat tour semoga sehat selalu di setiap novelmu bikin nagih bacanya
2023-02-05
2
Titin Itin
lnjuuuut thooor
2023-02-05
0
Riana Yuni Astuti
lanjutt thorrrr.......
2023-02-05
0