20. Cerita Pak Wijaya

Sampai di bandara, Ethan berpisah dengan pak Rudy. Penumpang dua kali selalu duduk bersebelahan, dan kali ini dia mendapatkan banyak nasihat dari pak Rudy itu. Sejenak dia bisa melupakan rasa kecewa dan sakit hatinya pada dua orang terdekatnya.

Ethan tidak meminta di jemput oleh supir mamanya, kali ini dia akan pulang ke rumah kedua orang tuanya. Dia ingin menenangkan di rumah mamanya, melihat kebun milik papanya.

Dia memanggil taksi yang sedang mangkal di depan bandara, menyerahkan koper pada sang supir untuk di masukkan ke dalam bagasi mobil. Ethan pun masuk ke dalam mobil, rasa lelahnya baru di rasakan karena tiga jam dia mengobrol di pesawat dengan pak Rudy.

"Dia orang mana ya, kok bijak sekali bicaranya." ucap Ethan membayangkan pak Rudy.

Meski hobinya menonton bola itu agak aneh karena pergi ke Inggris sendirian. Apa lagi semua biaya dia dapatkan dari istrinya, aneh sekali menurut Ethan.

"Kenapa tidak pergi berdua dengan istrinya saja sih? Kenapa pergi sendiri." kata Ethan lagi bergumam sendiri.

Supir melajukan mobilnya menuju rumah pak Wijaya. Hanya butuh satu jam kurang di jam siang hari, karena jalanan sedang sepi. Ethan melihat ke arah gedung tinggi, di mana gedung itu adalah perusahaan milik papanya.

Dia merasa bersalah pada Riana, apa lagi pada papanya. Pak Wijaya sudah mengingatkan padanya, tapi dia malah mengelaknya. Setelah tahu sendiri kelakuan sahabat dan mantan kekasihnya, Ethan jadi sadar.

"Sudah sampai mas." kata sang supir.

"Oh ya, ini uangnya ya. Kembaliannya buat bapak aja." kata Ethan.

"Terima kasih mas." ucap supir itu.

Ethan pun keluar dari mobil, mengambil koper yang tadi di ambilkan oleh supir taksi tersebut. Tidak langsung masuk ke dalam rumah besar itu, hanya menatap rumah besar itu lalu menghela nafas panjang.

Dia pun masuk, pintu gerbang terbuka sedikit. Satpam penjaga rumahnya heran dengan anak majikannya itu seperti sedang bersedih. Mau menyapa tapi dia tidak enak.

Akhirnya hanya diam saja sambil menatap anak majikannya. Tapi kemudian Ethan berhenti dan menoleh padanya.

"Kenapa diam saja? Bawa nih koperku, bawa ke kamarku." kata Ethan dengan ketus.

"Eh, iya tuan. Maaf, saya kira tuan Ethan tidak tahu saya. Heheh." ucap satpam itu tertawa kecil.

"Huh! Dasar! Kamu bekerja di sini itu di gaji, jangan karena tugas kamu menjaga. Ya menjaga saja." kata Ethan lagi.

"Iya tuan, maaf." kata satpam.

Dia mengambil koper dari tangab Ethan dan membawanya masuk ke dalam rumah. Membawa masuk ke dalam kamarnya di lantai dua. Ethan mendengus kasar, dia lalu masuk menyusul satpam.

Niatnya mau langsung masuk kamar saja karena tubuhnya sangat lelah sekali. Tapi mamanya melihatnya masuk rumah, kemudian menghampirinya.

"Eh, sayang. Kamu pulang?" tanya nyonya Hana menghampiri anaknya.

"Iya ma. Aku mau langsung istirahat aja, capek banget." kata Ethan.

"Emm, ya udah. Nanti sore mama bangunin kamu, jangan tidur sampai malam. Ngga baik lho." kata nyonya Hana.

"Iya ma." jawab Ethan.

Dia pun menuju kamarnya, naik tangga dengan berlari kecil agar sampai di kamar dengan cepat. Baru masuk ke dalam kamarnya, ponselnya berbunyi. Dia malas melihat siapa yang meneleponnya. Meletakkan tas ranselnya di meja, kemudian dia pun berbaring di ranjangnya.

Rasanya dia nyaman sekali tidur di ranjangnya sejak masa remaja itu belum dia ganti. Karena bisa saja di ganti, tapi dia tidak mau. Banyak kenangan di ranjang itu, meski pun mau ganti kasurnya setiap bulan juga bisa. Tapi Ethan tidak mau merubah posisi atau sesuatu yang baru di kamarnya.

_

Malam hari, pukul tujuh malam. Dia baru bangun dari tidurnya, beberapa kali dia di bangunkan oleh mamanya. Tapi masih saja meminta waktu untuk menambah jam tidurnya karena masih mengantuk.

Kini dia sudah bangun, mandi dan sudah memalai baju santai. Kaos oblong dan celana pendek, segera turun untuk makan malam dengan kedua orang tuanya.

"Selamat malam pa, ma." kata Ethan menyapa pak Wijaya dan nyonya Hana.

"Malam sayang. Kamu sudah segar lagi? Di bangunkan dari tadi sore kamu tidak mau terus." kata nyonya Hana menyiapkan makanan untuk Ethan.

"Emm, aku lelah sekali ma. Di pesawat aku kurang tidur karena ada penumpang yang selalu mengajak bicara terus." jawab Ethan.

Dia mengambil lauk pauk yang tersedia. Pak Wijaya makan dengan santai, di layani oleh istrinya. Ethan menatap papanya yang seolah tidak peduli padanya.

"Pa, bagaimana di kantor?" tanya Ethan merasa tidak enak pada papanya.

"Baik, cukup baik. Untung Riana cerdas, dia meneleponku dan menyuruhku ke kantor." kata pak Wijaya dengan santai.

Nyonya Hana melirik suaminya tidak ada kemarahan di sana. Ethan sendiri hanya menunduk diam karena merasa bersalah, lalu menghela nafas panjang.

"Maafkan aku pa." kata Ethan.

"Kamu harus meminta maaf pada Riana, dia yang selalu mengingatkanmu. Tapi kamu justru tidak peduli dengan pekerjaannya itu. Kenapa papa meminta dia jadi asistenmu waktu itu? Karena dia gadis yang baik, selalu bersikap profesional. Meski dia kesal sama kamu, tapi tetapkan dia mengerjakan pekerjaannya dengan baik. Bahkan sampai kamu pergi ke Inggris saja, dia sempat berbohong karena kamu memarahinya dia mengingatkanmu." kata pak Wijaya.

Ethan masih diam, memang dia merasa bersalah pada Riana. Besok dia akan meminta maaf pada gadis itu, bila perlu sebagai gantinya dia akan mengajak Riana makan malam atau makan siang.

"Besok kamu kembali bekerja lagi di kantor. Papa bilang sama Riana, kamu pergi ke Inggris hanya sebentar dan selamanya akan bekerja di kantor sama dia." kata pak Wijaya.

"Papa tahu apa masalahku di sana?" tanya Ethan.

"Ya, papa menyewa orang untuk mengikutimu dan menyelidiki pacar dan sahabatmu itu. Papa bisa saja menyuruh mereka mengambil gambar perselingkuhan mereka, tapi kemarin kamu memaksa pergi. Jadi papa biarkan saja, biar kamu tahu sendiri penghianatan sahabat dan pacarmu itu." kata pak Wijaya lagi.

"Jadi, sewaktu aku mabuk di bar. Aku di tolong oleh orang sewaan papa?" tanya Ethan.

"Ya, meski papa tidak suka kamu pergi ke bar. Tapi itu membuat kamu jera dengan mabuk. Kamu itu berubah setelah kuliah di sana, bergaul dengan bebas sama pacarmu dan suka mabuk. Papa tidak suka, makanya papa menyewa orang untuk mengikutimu dan pacarmu itu." kata pak Wijaya.

"Maaf pa, aku tidak pernah mabuk. Makanya aku minum beberapa gelas saja sudah mabuk. Kalau aku sering minum, lima gelas baru mabuk dan tidak sadarkan diri." kata Ethan membantah kalau dia sering mabuk.

Memang hanya waktu itu saja, tapi di sana dia tidak pernah mabuk. Nyonya Hana hanya menggeleng saja dengan Ethan seperti itu.

"Lain kali kalau patah hati, jangan lari ke minuman Ethan. Itu tidak bagus buat kesehatan, lagi pula itu tidak di benarkan juga dalam keyakinan." ucap nyonya Hana.

"Iya ma, hanya waktu itu saja. Lain kali aku tidak akan melakukannya lagi." kata Ethan.

"Bagus itu, dan besok kamu harus minta maaf sama Riana." kata pak Wijaya.

"Iya pa."

_

_

********************

Terpopuler

Comments

Aidah Djafar

Aidah Djafar

like papah Wijaya 👍👌.Ethan minta maap sana sama Riana 😁
ngk usah jauh jauh cari cewek mah di Indonesia jg bnyak 🤦🤣🤣🤣

2023-09-20

0

Delvia Delvia

Delvia Delvia

jgan2 pa rudi bpak ibu atisten

2023-04-07

1

Khotinah Busro

Khotinah Busro

bagus critanya thor

2023-02-27

0

lihat semua
Episodes
1 01. Kedatangan Ethan
2 02. Peralihan Pimpinan
3 03. Tugas Baru jadi Bos Baru
4 04. Di Kerjai
5 05. Datang Ke Rumah Pak Wijaya
6 06. Jadi Asisten Pribadi
7 07. Mengantar Pulang
8 08. Menjemput Riana
9 09. Di Apartemen
10 10. Sahabat Dan Pacar
11 11. Makan Di Pinggir Jalan
12 12. Mengajak Ke Rumah
13 13. Pembicaraan Di Meja Makan
14 14. Riana Kesal
15 15. Memarahi Sang Boss
16 16. Di Pesawat
17 17. Kejutan Dari Sahabat Dan Kekasih
18 18. Hubungan Yang Retak
19 19. Nasehat Penumpang Pesawat
20 20. Cerita Pak Wijaya
21 21. Mode Dingin
22 22. Meminta Maaf
23 23. Ngambek
24 24. Meminta Cuti
25 25. Bertemu Natasya
26 26. Nomor Kontak
27 27. Izin Cuti
28 28. Pulang
29 29. Ribut Masalah Dukun Parjo
30 30. Cerita Marni
31 31. Menyentuh Hati Ibu
32 32. Menculik Riana
33 33. Syukurlah Datang
34 34. Bisik-Bisik Tetangga
35 35. Tidak Tahan
36 36. Tentang Hati
37 37. Surat Perjanjian
38 38. Jadi Asisten Lagi
39 39. Kolornya
40 40. Membuat Cemburu
41 41. Di Mobil
42 42. Parfum
43 43. Menghilangnya Sang Bos
44 44. Galau
45 45. Melihatmu
46 46. Besok Menikah
47 47. Tidak Jadi Marah
48 48. Isi Kolor
49 49. MP +
50 50. Rumah Baru
51 51. Natasya Ke Kantor
52 52. Image
53 53. Seretaris Itu, Istriku
54 54. Bertemu Pak Rudy
55 55. Kunjungan Sahabat
56 56. Masalah Daby
57 57. Gaya Baru
58 58. Menjemput Di Stasiun
59 59. Gaya Nungg!n9
60 60. Pertemuan Tak Terduga
61 61. Hantu Gentayangan
62 62. Tamu
63 63. Drama In Dosiar
64 64. Enam Belas Tahun Lalu
65 65. Sepasang Suami Istri
66 66. Cerita Bu Naimah
67 67. Meminta Sampel
68 68. Semoga Kabar Baik
69 69. Hasilnya
70 70. DNA Yang Cocok
71 71. Keakraban Riana Dan Bu Naimah
72 72. Melahirkan
73 73. Emir Syahban Wijaya
74 74. Kegelisahan Riana
75 75. Apa? Menikah?!
76 76. Ekspart 1
77 77. Ekspart 2
78 78. Ekspart 3
Episodes

Updated 78 Episodes

1
01. Kedatangan Ethan
2
02. Peralihan Pimpinan
3
03. Tugas Baru jadi Bos Baru
4
04. Di Kerjai
5
05. Datang Ke Rumah Pak Wijaya
6
06. Jadi Asisten Pribadi
7
07. Mengantar Pulang
8
08. Menjemput Riana
9
09. Di Apartemen
10
10. Sahabat Dan Pacar
11
11. Makan Di Pinggir Jalan
12
12. Mengajak Ke Rumah
13
13. Pembicaraan Di Meja Makan
14
14. Riana Kesal
15
15. Memarahi Sang Boss
16
16. Di Pesawat
17
17. Kejutan Dari Sahabat Dan Kekasih
18
18. Hubungan Yang Retak
19
19. Nasehat Penumpang Pesawat
20
20. Cerita Pak Wijaya
21
21. Mode Dingin
22
22. Meminta Maaf
23
23. Ngambek
24
24. Meminta Cuti
25
25. Bertemu Natasya
26
26. Nomor Kontak
27
27. Izin Cuti
28
28. Pulang
29
29. Ribut Masalah Dukun Parjo
30
30. Cerita Marni
31
31. Menyentuh Hati Ibu
32
32. Menculik Riana
33
33. Syukurlah Datang
34
34. Bisik-Bisik Tetangga
35
35. Tidak Tahan
36
36. Tentang Hati
37
37. Surat Perjanjian
38
38. Jadi Asisten Lagi
39
39. Kolornya
40
40. Membuat Cemburu
41
41. Di Mobil
42
42. Parfum
43
43. Menghilangnya Sang Bos
44
44. Galau
45
45. Melihatmu
46
46. Besok Menikah
47
47. Tidak Jadi Marah
48
48. Isi Kolor
49
49. MP +
50
50. Rumah Baru
51
51. Natasya Ke Kantor
52
52. Image
53
53. Seretaris Itu, Istriku
54
54. Bertemu Pak Rudy
55
55. Kunjungan Sahabat
56
56. Masalah Daby
57
57. Gaya Baru
58
58. Menjemput Di Stasiun
59
59. Gaya Nungg!n9
60
60. Pertemuan Tak Terduga
61
61. Hantu Gentayangan
62
62. Tamu
63
63. Drama In Dosiar
64
64. Enam Belas Tahun Lalu
65
65. Sepasang Suami Istri
66
66. Cerita Bu Naimah
67
67. Meminta Sampel
68
68. Semoga Kabar Baik
69
69. Hasilnya
70
70. DNA Yang Cocok
71
71. Keakraban Riana Dan Bu Naimah
72
72. Melahirkan
73
73. Emir Syahban Wijaya
74
74. Kegelisahan Riana
75
75. Apa? Menikah?!
76
76. Ekspart 1
77
77. Ekspart 2
78
78. Ekspart 3

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!