07. Mengantar Pulang

Riana menggerutu tidak jelas di dalam kamar Ethan. Dia menghentakkan kakinya beberapa kali karena kesal pada Ethan. Dia melihat setiap sudut kamar Ethan itu, tidak menemukan di mana lemari baju Ethan itu.

"Sialan banget sih, itu bos seenaknya saja memerintahku merapikan baju. Memindahkannya ke koper. Memang aku pembantu dia apa?!" ucap Riana kesal sekali.

Dia diam saja, duduk di tepi ranjang laki-laki tinggi dan bersikap seenaknya saja padanya. Dia pikir Ethan adalah laki-laki dingin yang tidak peduli dengan siapa pun. Tapi dia salah kira, lebih baik bekerja dengan laki-laki cuek dan acuh. Dan hanya mementingkan pekerjaannya saja.

Tapi nyatanya, dia justru yang banyak kerepotan dengan sang bosnya itu. Riana masih diam, dia pun akhirnya mencari di mana lemari baju Ethan. Berkeliling seluruh ruangan itu, dan akhirnya dia menemukan ruangan khusus tempat penyimpanan baju-baju.

"Besar sekali ruangan ini, duh anak orang kaya memang semuanya serba mewah." ucap Riana.

Dia memilih beberapa baju untuk di masukkan ke dalam koper. Beberapa celana dan juga jas, tak lupa dasi beberapa helai untuk di cocokkan dengan jas dan juga celananya.

"Banyak juga yang harus di bawa. Memangnya dia mau pindahan kemana sih?" ucap Riana melihat semua baju-baju Ethan.

"Aku pindahkan ke apartemen. Makanya bereskan semua baju-bajuku." kata Ethan berdiri di pintu sambil bersedekap menatap Riana yang kebingungan.

Riana menoleh ke arah sumber suara, dia berdecak kesal. Lalu dia membawa baju-baju itu ke dalam koper Ethan yang ada di atas ranjangnya. Setelah semuanya rapi, Riana menutupnya dan menatap bosnya itu.

"Sudah, sekarang saya mau pulang." kata Riana.

"Mama mengajakmu makan siang di rumah. Ayo keluar." kata Ethan dengan nada datar saja.

"Tadi saja sedikit memaksa, sekarang suaranya kalem." gumam Riana.

"Jangan bicara sendiri, nanti penghuni kamar ini jadi merasuki rohmu." kata Ethan menakuti Riana.

"Ish! Mana ada merasuki rohku, yang ada anda itu sejak tadi marah-marah tidak jelas." kata Riana.

Ethan diam saja, dia melangkah keluar dari kamarnya. Riana mengikuti dari belajang, tas selempangnya tak lupa selalu dia bawa terus. Sampai mereka berada di ruang makan, semua sudah tersaji dengan lengkap.

Banyak sekali menu kali ini, nyonya Hana memang mendadak masak banyak karena ada anaknya dan juga Riana ikut makan siang.

"Ayo Riana, ibu masak banyak. Sengaja kamu datang tadi menyuruh bi Sarni masak banyak agar kamu makan siang di sini. Dan Ethan juga datang, jadi sekalian saja kita makan siang bersama." kata nyonya Hana.

Riana hanya tersenyum saja, bukan sekali ini dia di ajak makan siang oleh nyonya Hana. Tapi juga beberapa kali ketika pak Wijaya mengajaknya pulang ke rumah untuk makan siang.

_

"Di mana rumahmu?" tanya Ethan saat mereka ada di mobil.

Ethan di suruh oleh papanya untuk mengantar Riana pulang ke rumahnya. Setelah makan siang itu, Riana di ajak berkebun di belakang rumah. Jadi dia pulang sore hari dan Ethan mengantarnya pulang.

Riana diam saja, dia tidak mendengarkan Ethan bertanya padanya.

"Riana."

"Oh ya pak? Kenapa?" tanya Riana.

"Ck, di tanya malah balik tanya." kata Ethan.

"Pa Ethan tanya apa? Maaf kalau saya tidak memperhatikan pertanyaan anda." kata Riana.

"Kamu di mana rumahnya?" tanya Ethan mengulang pertanyaannya.

"Di perumahan Indah pak." jawab Riana.

"Kamu mengambil perumahan kecil itu?" tanya Ethan.

"Ya, karena saya tinggal sendiri. Buat apa rumah besar, susah mengurusnya." jawab Riana.

"Ck, kan bisa cari pembantu. Dia yang akan mengurusnya dan membersihkan rumahmu. Buat apa gaji besar tapi hanya di nikmati sendiri saja." kata Ethan lagi.

"Saya tidak menikmati sendiri, uangku buat bayar cicilan rumah dan juga mengirim ibu di kampung. Memang susah ya bicara dengan orang sombong seperti anda itu." kata Riana kesal di katakan menikmati uangnya sendirian.

Lagi pula itu uangnya, hasil kerjanya. Bukan uang dari hasil korupsi. Ethan tersenyum tipis, dia terus melajukan mobilnya dengan santai. Kebetupan jalanan tidak padat, jadi dia bisa melajukannya bisa cepat atau pun melambat.

Lama keduanya diam, tenggelam pada pikiran masing-masing. Hingga suara ponsel Ethan berdering dengan kencang. Dia mengambil ponselnya dan menjawab teleponnya.

"Halo sayang, kamu baru meneleponku." kata Ethan pada seseorang yang meneleponnya.

Siapa lagi kalau bukan kekasihnya, Deby. Gadis berkewarga negaraan Inggris itu sudah satu tahun jadi kekasih Ethan. Mereka mengobrol dengan santai sekali, Ethan tidak mempedulikan Riana yang sejak tadi risih dengan percakapan mereka.

Sesekali Riana melirik bosnya, dan tanpa sengaja Ethan juga menoleh padanya. Riana membuang muka ke arah jendela, sedangkan Ethan masih terus bicara dan tertawa kecil dengan Deby.

"Kamu mau datang kemari?" tanya Ethan di telepon.

"Ya, dengan Jhonson. Tidak apa kan?" tanya Deby di seberang sana.

"Tentu saja sayang. Kapan kamu mau datang kemari? Nanti aku pesankan hotel untukmu dan juga Jhonson." kata Ethan lagi.

"Belum berunding dengan Jhonson. Mungkin dua minggu lagi." kata Deby.

"Hemm, ya nanti aku tunggu kamu." kata Ethan lagi.

Mereka masih menelepon, hingga Riana memberitahu kalau mereka sudah sampai di perumahan Riana.

"Stop pak Ethan. Sudah sampai." kata Riana.

"Eh, sudah sampai?" tanya Ethan memperhatikan perumahan kompleks Riana.

"Ya, anda sibuk menelepon jadi tidak tahu." kata Riana.

"Oke sayang, aku tutup dulu teleponnya. By." kata Ethan.

Klik!

Ethan memperhatikan perumahan yang berjejer itu. Dia melihat di mana rumah Riana.

"Yang mana rumahmu?" tanya Ethan.

"Itu, ada bangku kecil di depan rumah." kata Riana menunjuk rumah berwarna cat kuning pisang.

"Ooh, itu. Sudah bagus kelihatannya. Kamu sudah mengambil berapa tahun?" tanya Ethan.

"Dua tahun." jawab Riana.

Ethan keluar dari mobilnya dan menuju rumah bercat kuning pisang. Tampak rapi dan hijau karena Riana menempatkan beberapa pot bunga di depan rumah.

Riana pun ikut turun, memperhatikan apa yang di lihat Ethan di rumahnya.

"Ya sudah, aku sudah tahu rumahmu. Besok kamu jangan telat, dan oh ya. Mulai besok kamu harus datang ke apartemenku lebih dulu, siapkan baju yang ingin aku pakai untuk ke kantor." kata Ethan.

"Apa?!"

"Ya. Kamu tidak ingat kalau sekarang jadi asisten pribadiku. Asisten itu melakukan semua pekerjaan dan kebutuhanku harus kamu yang menyiapkan." kata Ethan.

"Tapi pak, sejak kapan saya jadi asisten pribadi anda?" tanya Riana.

"Ck, dari rumah papaku. Kamu sudah jadi asisten pribadiku, Riana. Seharusnya kamu ke apartemenku dulu saat ini, tapi aku berbaik hati mengantarmu pulang lebih dulu. Besok jangan sampai telat!" kata Ethan menekankan pada Riana.

Riana menggeretakka gigi-giginya karena benar-benar kesal sekali. Sedangkan Ethan melangkah masuk ke dalam mobilnya, menatap Riana yang sedang kesal padanya. Tanpa permisi lagi, Ethan pergi meninggalkan Riana yang masih kesal padanya.

"Aaaargh!"

_

_

********************

Terpopuler

Comments

Aidah Djafar

Aidah Djafar

seudelnya aja tuh c Et Et klo merintah 🤦hadeeeh kepentok tembok ke' tuh orang biar nyadar 🤦🤣🤣🤣

2023-09-20

0

VIDAYA

VIDAYA

Deby apa gaby nama pacarnya thor?
Soalnya diawal disebut deby terus gaby dan sekarang deby lagi

2023-02-26

1

꧁༒☬SCORPIO☬༒꧂

꧁༒☬SCORPIO☬༒꧂

Elu kira istri nyuruh siapin baju dihhh

Cemungut Author....
.....

2023-02-20

0

lihat semua
Episodes
1 01. Kedatangan Ethan
2 02. Peralihan Pimpinan
3 03. Tugas Baru jadi Bos Baru
4 04. Di Kerjai
5 05. Datang Ke Rumah Pak Wijaya
6 06. Jadi Asisten Pribadi
7 07. Mengantar Pulang
8 08. Menjemput Riana
9 09. Di Apartemen
10 10. Sahabat Dan Pacar
11 11. Makan Di Pinggir Jalan
12 12. Mengajak Ke Rumah
13 13. Pembicaraan Di Meja Makan
14 14. Riana Kesal
15 15. Memarahi Sang Boss
16 16. Di Pesawat
17 17. Kejutan Dari Sahabat Dan Kekasih
18 18. Hubungan Yang Retak
19 19. Nasehat Penumpang Pesawat
20 20. Cerita Pak Wijaya
21 21. Mode Dingin
22 22. Meminta Maaf
23 23. Ngambek
24 24. Meminta Cuti
25 25. Bertemu Natasya
26 26. Nomor Kontak
27 27. Izin Cuti
28 28. Pulang
29 29. Ribut Masalah Dukun Parjo
30 30. Cerita Marni
31 31. Menyentuh Hati Ibu
32 32. Menculik Riana
33 33. Syukurlah Datang
34 34. Bisik-Bisik Tetangga
35 35. Tidak Tahan
36 36. Tentang Hati
37 37. Surat Perjanjian
38 38. Jadi Asisten Lagi
39 39. Kolornya
40 40. Membuat Cemburu
41 41. Di Mobil
42 42. Parfum
43 43. Menghilangnya Sang Bos
44 44. Galau
45 45. Melihatmu
46 46. Besok Menikah
47 47. Tidak Jadi Marah
48 48. Isi Kolor
49 49. MP +
50 50. Rumah Baru
51 51. Natasya Ke Kantor
52 52. Image
53 53. Seretaris Itu, Istriku
54 54. Bertemu Pak Rudy
55 55. Kunjungan Sahabat
56 56. Masalah Daby
57 57. Gaya Baru
58 58. Menjemput Di Stasiun
59 59. Gaya Nungg!n9
60 60. Pertemuan Tak Terduga
61 61. Hantu Gentayangan
62 62. Tamu
63 63. Drama In Dosiar
64 64. Enam Belas Tahun Lalu
65 65. Sepasang Suami Istri
66 66. Cerita Bu Naimah
67 67. Meminta Sampel
68 68. Semoga Kabar Baik
69 69. Hasilnya
70 70. DNA Yang Cocok
71 71. Keakraban Riana Dan Bu Naimah
72 72. Melahirkan
73 73. Emir Syahban Wijaya
74 74. Kegelisahan Riana
75 75. Apa? Menikah?!
76 76. Ekspart 1
77 77. Ekspart 2
78 78. Ekspart 3
Episodes

Updated 78 Episodes

1
01. Kedatangan Ethan
2
02. Peralihan Pimpinan
3
03. Tugas Baru jadi Bos Baru
4
04. Di Kerjai
5
05. Datang Ke Rumah Pak Wijaya
6
06. Jadi Asisten Pribadi
7
07. Mengantar Pulang
8
08. Menjemput Riana
9
09. Di Apartemen
10
10. Sahabat Dan Pacar
11
11. Makan Di Pinggir Jalan
12
12. Mengajak Ke Rumah
13
13. Pembicaraan Di Meja Makan
14
14. Riana Kesal
15
15. Memarahi Sang Boss
16
16. Di Pesawat
17
17. Kejutan Dari Sahabat Dan Kekasih
18
18. Hubungan Yang Retak
19
19. Nasehat Penumpang Pesawat
20
20. Cerita Pak Wijaya
21
21. Mode Dingin
22
22. Meminta Maaf
23
23. Ngambek
24
24. Meminta Cuti
25
25. Bertemu Natasya
26
26. Nomor Kontak
27
27. Izin Cuti
28
28. Pulang
29
29. Ribut Masalah Dukun Parjo
30
30. Cerita Marni
31
31. Menyentuh Hati Ibu
32
32. Menculik Riana
33
33. Syukurlah Datang
34
34. Bisik-Bisik Tetangga
35
35. Tidak Tahan
36
36. Tentang Hati
37
37. Surat Perjanjian
38
38. Jadi Asisten Lagi
39
39. Kolornya
40
40. Membuat Cemburu
41
41. Di Mobil
42
42. Parfum
43
43. Menghilangnya Sang Bos
44
44. Galau
45
45. Melihatmu
46
46. Besok Menikah
47
47. Tidak Jadi Marah
48
48. Isi Kolor
49
49. MP +
50
50. Rumah Baru
51
51. Natasya Ke Kantor
52
52. Image
53
53. Seretaris Itu, Istriku
54
54. Bertemu Pak Rudy
55
55. Kunjungan Sahabat
56
56. Masalah Daby
57
57. Gaya Baru
58
58. Menjemput Di Stasiun
59
59. Gaya Nungg!n9
60
60. Pertemuan Tak Terduga
61
61. Hantu Gentayangan
62
62. Tamu
63
63. Drama In Dosiar
64
64. Enam Belas Tahun Lalu
65
65. Sepasang Suami Istri
66
66. Cerita Bu Naimah
67
67. Meminta Sampel
68
68. Semoga Kabar Baik
69
69. Hasilnya
70
70. DNA Yang Cocok
71
71. Keakraban Riana Dan Bu Naimah
72
72. Melahirkan
73
73. Emir Syahban Wijaya
74
74. Kegelisahan Riana
75
75. Apa? Menikah?!
76
76. Ekspart 1
77
77. Ekspart 2
78
78. Ekspart 3

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!