Riana sampai di kantor, dia segera menyiapkan berkas untuk pertemuan dengan pak Sandy jam sebelas siang ini. Dan juga setelah selesai jam makan siang, dia juga harus menyiapkan berkas lain lagi. Yaitu rapat dengan klien yang sudah lama tidak ada kabar, tapi baru dua hari lalu memberitahu untuk rapat.
Tak lama, pak Wijaya pun datang dengan pakaian kantor yang rapi. Raut wajahnya biasa saja tanpa ada rasa kesal atau marah. Riana membungkuk hormat pada pak Wijaya.
"Siapkan semuanya Riana. Jam sebelas pak Sandy akan datangkan?" tanya pak Wijaya.
"Iya pak. Dan tadi di apartemen itu...." kata Riana tidak melanjutkan ucapannya.
"Aku tahu. Cepat kerjakan yang akan datang saja, jangan pikirkan laki-laki tidak bertanggung jawab itu. Biar nanti urusanku, dan biarkan dia menyelesaikan masalahnya sendiri lebih dulu. Dia pikir pacarnya itu setia." kata pak Wijaya dengan sedikit emosi.
Riana mengangguk, dia menyiapkan kembali berkas yang akan di tanda tangani dengan pak Sandy. Lalu membawanya masuk ke dalam ruang kantor Ethan. Pak Wijaya pun duduk di kursi kerja, melihat beberapa berkas yang sudah rapi sejak pagi tadi Riana membereskan ruang kantor Ethan itu.
Membuka berkas di meja, semua sudah rapi dan sudah di tanda tangani oleh Ethan. Setelah melihat berkas-berkas di meja itu, pak Wijaya meminta berkas yang ada di tangan Riana. Dia memeriksanya dengan teliti, dan memang di sana ada kesalahan. Kesepakatan sepertinya menguntungkan pihak pak Sandy.
"Hemm, surat perjanjian ini tidak sesuai dengan kesepakatan kerja. Hanya pihak Sandy yang untung, kita mendapatkan sedikit saja. Apa kamu tidak merubah surat perjanjian ini?" tanya pak Wijaya.
"Sudah saya ganti pak, tapi masih ada di laptop saya." kata Riana.
"Kenapa kamu tidak langsung print out saja?" tanya pak Wijaya.
"Tadi pagi niatnya mau saya print out, tapi karena pak Ethan tidak datang-datang ke kantor. Saya menyusul ke apartemennya, dan dia pergi membawa koper. Katanya mau ke Inggris." jawab Riana.
"Ya sudah, sekarang kamu print out revisi surat perjanjian itu. Masih ada waktu setengah jam lagi, kamu secepatnya bereskan Riana." kata pak Wijaya.
"Baik pak." kata Riana.
Dia lalu meninggalkan pak Wijaya yang kembali memeriksa semua berkas dan hasil pekerjaan anaknya. Ternyata semua memang di kerjakan dengan baik, hanya saja mungkin Ethan ingin menyelesaikan masalahnya dengan pacarnya di Inggris.
_
Dua pertemuan sudah selesai dengan lancar, pertemuan dengan pak Sandy memang agak susah karena dia meminta surat perjanjian tidak boleh di rubah. Tapi pak Wijaya ngotot ingin di rubah, meski alot dalam mengemukakan pendapat masing-masing. Tapi pada akhirnya pak Sandy setuju dengan pembaharuan kesepakatan dan perubahan surat perjanjian.
"Enak benar dia mau untung sendiri, perusahaanku bukan perusahaan kecil. Yang harus mau di intimidasi olehnya, jika dia tidak mau merubah kesepakatan lebih baik batalkan perjanjian dan kerja samanya." ucap pak Wijaya.
Riana diam saja, dia merapikan semua berkas dan menulis ulang kesepakatan itu. Lalu akan dia kirim melalui email sekretaris pak Sandy.
"Riana, bagaimana kerja Ethan di kantos selama ini?" tanya pak Wijaya.
"Sudah baik pak, tapi sejak pak Ethan libur lima hari itu banyak sekali klien yang ingin bertemu. Ya, salah satunya pak Sandy yang memaksa ingin bertemu dan memulai kesepakatan." kata Riana menjelaskan.
"Jadi, bagaimana sikapnya selama ini?" tanya pak Wijaya lagi.
Riana menjelaskan hanya garis besarnya saja dari pekerjaan dan yang selama ini di lakukan. Tidak menjelaskan bagaimana sikap dan perlakuannya pada Riana.
"Dia akan terkejut di sana melihat kelakuan pacar dan sahabatnya itu. Biarkan dia mengetahuinya sendiri, nanti juga dia akan kembali lagi dan akan bekerja di kantor selamanya. Kamu tetap sabar menghadapinya Riana." kata pak Wijaya.
Riana diam saja, dia sebenarnya memang kesal sekali dengan Ethan. Dari awal bekerja dia sudah di kerjai oleh laki-laki itu. Tapi dia puas sudah memarahi bosnya tadi pagi, meski memang masih kesal. Tetapi buktinya memang Ethan sedang gelisah dengan pacar dan sahabatnya, tepat sekali dia bicara meski hanya menebak saja.
"Apa pacar pak Ethan itu ada main dengan sahabatnya pak?" tanya Riana memberanikan diri bertanya masalah pribadi Ethan.
"Ya, makanya aku suruh dia pulang dan meneruskan perusahaan. Tapi dia belum tahu kalau mereka main selingkuh di belakangnya." kata pak Wijaya lagi.
"Ooh, begitu."
"Jadi, biarkan dia pergi kesana. Agar mengetahui sendiri bagaimana kelakuan sahabat dan pacarnya di belakangnya. Setelah itu, pasti dia akan kembali lagi." kata pak Wijaya.
Riana diam, dia memang tidak mau tahu urusan pribadi bosnya. Apa lagi urusan pacar, hanya saja jika sudah menyangkut pekerjaan maka dia akan menegurnya sekalipun itu bosnya.
Sementara itu, Ethan sudah take off menuju negara Inggris dengan pesawat boeing milik garuda tujuan bandara internasional di London. Dia ingin memberi kejutan pada Daby di apartemennya. Dia juga tahu pin apartemen milik Daby, karena dia sering sekali pergi kesana.
Setelah ke apartemen Daby nanti, rencananya dia akan ke rumah orang tuannya di Mancaster. Melamarnya langsung dan dia ingin bertunangan lebih dulu dengan Daby. Agar nantinya Daby terikat padanya setelah tunangan, begitulah apa yang di pikirkan Ethan.
Enam belas jam lebih dia di pesawat, memang sangat membosankan. Apa lagi tidak ada hiburan untuknya, seperti bicara dengan orang yang satu bangku dengannya.
"Mas mau liburan ke Inggris?" tanya bapak-bapak di sampingnya.
Ethan menoleh, dia tersenyum saja.
"Kalau saya sih mau menonton pertandingan MU dan Chelsea di Inggris." kata bapak-bapak itu lagi.
"Penggemar bola juga pak?" tanya Ethan.
"Ya, baru kali ini saya kesampaian pergi menonton bola langsung di Inggris. Karena istriku mau membiayai aku pergi ke Inggris untuk menonton bola." katanya lagi.
"Ooh, saya hanya mau menemui pacar saya dan akan melamarnya." ucap Ethan.
"Waah, pacarnya orang Inggris juga?" tanyanya.
"Ya, sudah satu tahun lebih. Dia gadis yang baik." jawab Ethan.
"Oh ya?"
"Ya, kurasa." ucap Ethan tiba-tiba ragu.
"Kok ragu jawabnya?"
"Hahah, bukan ragu pak. Hanya saja saya sulit menggambarkan pacarku itu memang sangat baik." kata Ethan lagi.
"Emm, begitu ya. Semoga saja ya, dan masnya pulang ke Indonesia. Berarti kalian LDR ya?"
"Ya, baru empat bulan sih."
"Saya dengar tidak semua gadis jika di tinggal LDR akan setia dengan pacarnya yang jauh. Apa lagi jika dia hidupnya bebas." kata bapak-bapak itu.
"Tidak, hanya empat bulan dan di tambah nanti delapan bulan lagi. Jadi satu tahun saja kami LDR, setelahnya kami akan menikah dan tinggal di Inggris." kata Ethan.
Cita-cita yang sangat indah bagi Ethan, menikah dan tinggal di Inggris dengan Daby. Mempunyai anak dan nanti akan berkunjung ke Indonesia. Begitulah angan-angan Ethan hidup bahagia dengan Daby kekasihnya.
Percakapan mereka beralih masalah bola dan klub bola di Inggris. Bapak-bapak itu sangat antusias bicara tentang bola, sedangkan Ethan tidak begitu suka dengan sepak bola. Jadi dia hanya menanggapi saja dengan senyuman, terkadang menanggapi tentang stadion yang ada di Inggris itu memang semuanya sangat bagus dan sesuai standar internasional.
_
_
*****************
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 78 Episodes
Comments
Aidah Djafar
siap2 sakit hati dirimu Ethan 🤔🤦😁
2023-09-20
0
Komang Diani
ethan mau kasih kejutan ke geby...
jangan jangan ethan yg terkejut
2023-03-25
1
꧁༒☬SCORPIO☬༒꧂
Awas jantungan Than
Cemungut Author........
2023-02-23
1