05. Datang Ke Rumah Pak Wijaya

Di dalam kamarnya, Ethan tertawa senang. Dia sangat senang bisa mengerjai sekretarisnya itu. Tampak senyumnya selalu mengembang seiring ingatannya pada wajah Riana yang cemberut kesal padanya, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa. Bahkan mengumpat saja tidak bisa.

"Hahah! Lucu sekali. Lain kali akan aku buat dia tidak betah denganku. Aku kurang suka gadis itu, terlalu dekat dengan papa. Apa papa menyadari kalau gadis itu bisa saja menipunya." ucap Ethan.

Ethan menarik nafas panjang, dia lalu menghubungi sahabatnya di Inggris. Jhonson, sahabat Ethan yang bekerja sama membuat kafe di sana. Dia bekerja sama dengan laki-laki itu sewaktu masih kuliah. Dan di teruskan sampai sekarang.

Hingga dia berkenalan dengan Gaby, gadis Inggris yang kini jadi kekasihnya selama satu tahun ini. Dia sangat mencintai Gaby, karena gadis itu sangat anggun dan selalu ada di dekatnya.

Hanya kali ini dia berpisah dengan kekasihnya itu. Dan tadi sore dia menghubunginya. Sekarang dia ingin menghubungi Jhonson.

"Halo bro, apa kabar?" tanya Ethan.

"Fine, semuanya baik-baik saja Ethan." jawab Jhonson.

"Hahah! Ya ya, semua baik-baik saja. Terima kasih ya, aku mungkin di sini hanya satu tahun. Dan nanti aku akan meneruskan kafe kita di sana." kata Ethan.

"Kamu tenang saja bro, aku bisa menjalankan kafe sendirian tanpamu. Dan juga di bantu oleh Gaby, semuanya berjalan dengan baik."

"Oh ya? Gaby membantu kafe kita?"

"Iya, dia ingin bergabung di kafe. Dan menanamkan saham untuk menambah ruangan baru di belakang bangunan kafe." kata Jhonsnon lagi.

"Kok dia tidak mengatakannya padaku? Padahal tadi sore aku menelepon dia." kata Ethan heran.

"Oh, mungkin dia lupa. Nanti aku bilang padanya untuk mengatakannya sama kamu. Dan oh ya, semua kebutuhan yang selama ini kekurangan sudah di penuhi juga oleh Gaby."

Ethan diam, dia baru beberapa minggu pulang ke Indonesia. Tapi sudah banyak yang berubah, apa lagi Gaby ikut menanam saham di kafe miliknya. Tapi dia tidak mengatakan apa pun padanya.

"Baiklah, nanti aku tanyakan pada Gaby. Aku baru pulang dari kantor papaku, sangat lelah." kata Ethan.

"Oke bro. Kamu jangan khawatir ya masalah kafe, aku bisa kok menjalankannya sendiri juga."

"Ya, thanks ya bro."

"You're welcome Ethan."

Klik!

Ethan meletakkan ponselnya di meja. Dia memikirkan apa yang di katakan oleh Jhonson. Kenapa Gaby tidak mengatakannya tadi masalah menanam saham di kafenya itu. Bukannya dia tidak mau Gaby ikut campur, tapi seharusnya jangan hanya pada Jhonson dia bicara. Lagi pula, Ethan adalah pacarnya selama satu tahun ini.

_

Riana sangat kesal sekali, malam ini dia baru sampai di rumahnya. Gara-gara dia salah bicara mengenai bosnya dan ayahnya, dia di berikan tugas menyalin beberapa berkas sampai selesai. Dan tidak boleh pulang sebelum selesai.

Dia bukannya tidak kompeten dalam semua pekerjaannya. Tapi sejak di gantikan oleh Ethan, kenapa jadi serba menyebalkan.

"Huh! Apa dia memang sengaja mengerjaiku. Kupikir lebih baik bekerja dengan pak Wijaya dari pada dengan anaknya. Terkadang dia seenaknya saja memberikan perintah, kadang juga suka lebih banyak diamnya. Apa aku harus bicara dengan pak Wijaya saja?" ucap Riana mengelap rambutnya yang baru saja keramas malam-malam.

Dia duduk di atas ranjangnya, menatap ke depan sambil berpikir. Bagaimana jika dia menemui pak Wijaya saja, meminta pendapatnya apakah sebaiknya dia mengundurkan diri jadi sekretaris Ethan dan menjadi karyawan biasa saja.

Riana pun membaringkan tubuhnya, dia sangat lelah sekali hari ini. Dari pagi jam tujuh kurang dia berangkat lebih cepat, tapi pulang paling terakhir jam sembilan malam. Apa lagi dia di tinggal sendiri di kantor oleh Ethan.

Esok harinya, Riana pergi ke rumah pak Wijaya. Karena Ethan tinggal di apartemennya sendiri, jadi Riana bisa leluasa datang ke rumah ayah dari bosnya hari Minggu ini.

"Semoga pak Wijaya menerima alasanku." ucap Riana.

Dia turun dari mobil taksi kemudian membayar ongkosnya. Dia melihat rumah besar itu tampak sepi dari luar. Tapi penghuni rumahnya pasti ada di dalam, meminta izin pada satpam agar bisa masuk dan bertemu dengan pak Wijaya.

"Masuk saja mbak, bapak ada di kebun belakang. Sekarang kesibukan bapak di kebun belakang." kata satpam.

"Pak Wijaya berkebun?" tanya Riana.

"Ya, sejak tidak bekerja di perusahaan lagi. Bapak dan ibu sering berkebun di belakang rumahnya." kata satpam lagi.

Riana bingung dengan ucapan satpam itu. Tapi kemudian dia baru ingat kalau dulu pak Wijaya mengatakan akan punya kesibukan sendiri jika tidak di perusahaan lagi.

Riana pun melangkah menuju pintu, dia memencet bel. Tak lama pintu terbuka dan tampak istri pak Wijaya, dia kaget dengan kedatangan Riana ke rumahnya.

"Riana? Kamu datang kemarin?" tanya nyonya Hana dengan senang hati.

"Iya bu. Saya ingin bertemu dengan pak Wijaya." kata Riana.

"Emm, ada di belakang. Ayo ikut ke belakang aja." kata nyonya Hana.

"Iya bu. Kata satpam bapak punya kebun dan sibuk di kebun juga?" tanya Riana.

"Iya, sejak keluar dari kantor memang rencananya mau mengurus kebun saja di belakang rumah. Kan ada lahan lima ratus meter persegi di belakang rumah itu, jadi di manfaatkan untuk kebun saja. Ya, ibu pikir sih enak juga punya kebun sendiri." kata nyonya Hana.

"Waah, senang juga ya bu."

"Iya, mas Wijaya juga sangat senang bisa berkebun. Oh ya, aku kira kamu kemari mau bertemu Ethan." kata nyonya Hana.

"Ngga bu, ada yang ingin saya birakan dengan pak Wijaya." kata Riana.

"Mengenai apa?" tanya nyonya Hana.

"Emm, masalah pekerjaan di kantor sih. Dan juga masalah pak Ethan juga." jawab Riana.

"Waah, kamu sudah beradaptasi dengan anakku itu? Dia bagaimana di kantor?" tanya nyonya Hana dengan tersenyum senang.

Riana hanya tersenyum saja, justru dia datang ke rumah bosnya itu untuk mengadu masalah anaknya yang terkadang membuatnya kesal. Bukan pekerjaan yang di pentingkan, tapi justru dia lebih banyak di kerjai oleh Ethan.

Riana dan nyonya Hana sampai di halaman belakang yang sangat luas, tampak di sana pohon-pohon buah dan juga sayuran. Dia senang melihat itu, nyonya Hana menyuruh Riana untuk duduk di bangku lebih dulu. Dia memanggil suaminya dan masuk lagi ke dalam rumah mengambil minuman untuk Riana.

Riana menyibukkan diri dengan membuka pesan singkat di aplikasi watshap. Membalas pesan singkat dari beberapa teman dan juga dari ibunya di kampung yang meminta di kirimi uang.

"Kamu kemari Riana, ada perlu apa?" tanya pak Wijaya melepas sarung tangannya yang kotor setelah mencangkul tadi.

"Ooh, saya mengganggu kesibukan pak Wijaya ya." kata Riana tidak enak hati.

"Tidak juga. Saya senang kamu kemari, niatnya mau memanggil kamu datang ke rumahku. Tapi kamu datang sendiri kesini." kata pak Wijaya.

"Iya, saya ingin bicara masalah di kantor pak." kata Riana.

"Masalah kantor? Memang ada apa di kantor? Bukankah masalah kantor itu masalah Ethan." kata pak Wijaya.

"Iya tapi ....."

"Ooh, jadi kamu pagi-pagi datang menemui papaku hanya untuk bertemu dengannya?!"

"???"

"Ethan?!"

_

_

*******************

Terpopuler

Comments

Aidah Djafar

Aidah Djafar

ngk tau ny ngk di apartemennya Ethan 🤦 heleeeh mau cari gegara lagi nih c Eth..🤦 Uda jngn ragu ngomng aj lgsg sama pak Wijaya tntang yg kamu keluhkan di kantor Riana🤔 biar aja Ethan tau keluhanmu🤔

c Gaby selingkuh tuh Eth 🤔🤦 sukurin kamu Eth 🤦

2023-09-20

1

Anonim

Anonim

Ethan, kau tidak curiga neeehhh Gaby pacaran ma Jhonson 🤔😉😉

2023-03-10

0

Dewi Purwanti

Dewi Purwanti

hahaha kasihan sekali kau ET di khianati sahabat and pacar sendiri 😌😌😌

2023-02-26

0

lihat semua
Episodes
1 01. Kedatangan Ethan
2 02. Peralihan Pimpinan
3 03. Tugas Baru jadi Bos Baru
4 04. Di Kerjai
5 05. Datang Ke Rumah Pak Wijaya
6 06. Jadi Asisten Pribadi
7 07. Mengantar Pulang
8 08. Menjemput Riana
9 09. Di Apartemen
10 10. Sahabat Dan Pacar
11 11. Makan Di Pinggir Jalan
12 12. Mengajak Ke Rumah
13 13. Pembicaraan Di Meja Makan
14 14. Riana Kesal
15 15. Memarahi Sang Boss
16 16. Di Pesawat
17 17. Kejutan Dari Sahabat Dan Kekasih
18 18. Hubungan Yang Retak
19 19. Nasehat Penumpang Pesawat
20 20. Cerita Pak Wijaya
21 21. Mode Dingin
22 22. Meminta Maaf
23 23. Ngambek
24 24. Meminta Cuti
25 25. Bertemu Natasya
26 26. Nomor Kontak
27 27. Izin Cuti
28 28. Pulang
29 29. Ribut Masalah Dukun Parjo
30 30. Cerita Marni
31 31. Menyentuh Hati Ibu
32 32. Menculik Riana
33 33. Syukurlah Datang
34 34. Bisik-Bisik Tetangga
35 35. Tidak Tahan
36 36. Tentang Hati
37 37. Surat Perjanjian
38 38. Jadi Asisten Lagi
39 39. Kolornya
40 40. Membuat Cemburu
41 41. Di Mobil
42 42. Parfum
43 43. Menghilangnya Sang Bos
44 44. Galau
45 45. Melihatmu
46 46. Besok Menikah
47 47. Tidak Jadi Marah
48 48. Isi Kolor
49 49. MP +
50 50. Rumah Baru
51 51. Natasya Ke Kantor
52 52. Image
53 53. Seretaris Itu, Istriku
54 54. Bertemu Pak Rudy
55 55. Kunjungan Sahabat
56 56. Masalah Daby
57 57. Gaya Baru
58 58. Menjemput Di Stasiun
59 59. Gaya Nungg!n9
60 60. Pertemuan Tak Terduga
61 61. Hantu Gentayangan
62 62. Tamu
63 63. Drama In Dosiar
64 64. Enam Belas Tahun Lalu
65 65. Sepasang Suami Istri
66 66. Cerita Bu Naimah
67 67. Meminta Sampel
68 68. Semoga Kabar Baik
69 69. Hasilnya
70 70. DNA Yang Cocok
71 71. Keakraban Riana Dan Bu Naimah
72 72. Melahirkan
73 73. Emir Syahban Wijaya
74 74. Kegelisahan Riana
75 75. Apa? Menikah?!
76 76. Ekspart 1
77 77. Ekspart 2
78 78. Ekspart 3
Episodes

Updated 78 Episodes

1
01. Kedatangan Ethan
2
02. Peralihan Pimpinan
3
03. Tugas Baru jadi Bos Baru
4
04. Di Kerjai
5
05. Datang Ke Rumah Pak Wijaya
6
06. Jadi Asisten Pribadi
7
07. Mengantar Pulang
8
08. Menjemput Riana
9
09. Di Apartemen
10
10. Sahabat Dan Pacar
11
11. Makan Di Pinggir Jalan
12
12. Mengajak Ke Rumah
13
13. Pembicaraan Di Meja Makan
14
14. Riana Kesal
15
15. Memarahi Sang Boss
16
16. Di Pesawat
17
17. Kejutan Dari Sahabat Dan Kekasih
18
18. Hubungan Yang Retak
19
19. Nasehat Penumpang Pesawat
20
20. Cerita Pak Wijaya
21
21. Mode Dingin
22
22. Meminta Maaf
23
23. Ngambek
24
24. Meminta Cuti
25
25. Bertemu Natasya
26
26. Nomor Kontak
27
27. Izin Cuti
28
28. Pulang
29
29. Ribut Masalah Dukun Parjo
30
30. Cerita Marni
31
31. Menyentuh Hati Ibu
32
32. Menculik Riana
33
33. Syukurlah Datang
34
34. Bisik-Bisik Tetangga
35
35. Tidak Tahan
36
36. Tentang Hati
37
37. Surat Perjanjian
38
38. Jadi Asisten Lagi
39
39. Kolornya
40
40. Membuat Cemburu
41
41. Di Mobil
42
42. Parfum
43
43. Menghilangnya Sang Bos
44
44. Galau
45
45. Melihatmu
46
46. Besok Menikah
47
47. Tidak Jadi Marah
48
48. Isi Kolor
49
49. MP +
50
50. Rumah Baru
51
51. Natasya Ke Kantor
52
52. Image
53
53. Seretaris Itu, Istriku
54
54. Bertemu Pak Rudy
55
55. Kunjungan Sahabat
56
56. Masalah Daby
57
57. Gaya Baru
58
58. Menjemput Di Stasiun
59
59. Gaya Nungg!n9
60
60. Pertemuan Tak Terduga
61
61. Hantu Gentayangan
62
62. Tamu
63
63. Drama In Dosiar
64
64. Enam Belas Tahun Lalu
65
65. Sepasang Suami Istri
66
66. Cerita Bu Naimah
67
67. Meminta Sampel
68
68. Semoga Kabar Baik
69
69. Hasilnya
70
70. DNA Yang Cocok
71
71. Keakraban Riana Dan Bu Naimah
72
72. Melahirkan
73
73. Emir Syahban Wijaya
74
74. Kegelisahan Riana
75
75. Apa? Menikah?!
76
76. Ekspart 1
77
77. Ekspart 2
78
78. Ekspart 3

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!