09. Di Apartemen

Sejak Ethan datang pagi-pagi ke rumah Riana, Riana datang ke apartemen Ethan untuk menyiapkan keperluan baju untuk ke kantor. Dia juga membawakan sarapan atau dia juga membuatkan sarapan di dapur apartemen Ethan.

Ethan senang akhirnya Riana benar-benar memenuhi semua kebutuhan untuk pergi ke kantor. Dia juga sebelum pulang ke rumahnya mengingatkan bosnya untuk selalu tidur dan istirahat cukup.

Layaknya asisten pribadi, Riana menyiapkan semuanya. Hanya saja dia tidak tinggal bersama dengan Ethan, jadi dia yanv repot harus bangun lebih pagi dan pergi ke apartemen Ethan.

"Aku semakin repot dengan bertambahnya tugasku jadi asisten. Kenapa tidak cari orang lain saja sih? Laki-laki kan bisa jadi asisten pribadi, dia lebih leluasa. Kalau kemalaman bisa menginap di apartemen bosnya." ucap Riana.

Dalam taksinya, dia merenung. Apa sebaiknya dia mengundurkan diri saja dari pekerjaannya itu. Terkadang dia bingung dengan sikap Ethan, kadang bersikap dingin kadang juga hangat dan ramah pada orang.

Jadi, seperti mempunyai sifat ganda. Riana tersenyum miring mengingat kejadian tadi pagi. Ethan menerima laporan dari bagian administrasi dan keuangan. Kedua bagian itu kebetulan yang memegang adalah perempuan ketuanya.

Ethan menatap keduanya tampak dingin ketika mendengarkan penjelasan mereka. Tapi dia akan lebih banyak bicara ketika dengan orang yang di anggapnya sudah dekat.

_

Pulang kantor, seperti biasa Riana ke apartemen Ethan lebih dulu. Entah apa yang di kerjakan, tapi Ethan memintanya selalu mampir lebih dulu ke apartemennya sebelum pulang ke rumah. Alasannya selalu ada saja, di suruh membersihkan apartemennya atau sekedar menyetrika bajunya.

Padahal, biasanya juga pergi ke laundry dan sudah rapi baju-bajunya.

Seperti malam ini, Riana di suruh memeriksa berkas dari kantor yang belum selesai di kerjakan. Dia di suruh memeriksanya di apartemennya.

"Kamu lapar?" tanya Ethan.

"Ya, tapi saya tidak mau makan." jawab Riana.

Dia tampak serius memeriksa berkas di tangannya agar cepat selesai. Tiba-tiba suara petir menggelegar, membuat Riana terlonjak kaget.

Dia diam, lalu menatap Ethan yang sedang berdiri. Ethan heran kenapa Riana begitu kaget dengan suara petir itu.

"Kamu kaget?" tanya Ethan.

"Tentu saja, petir itu besar sekali suaranya. Apa di luar hujan?" tanya Riana.

Dia bangkit dari duduknya dan menuju ke arah jendela. Untuk memastikan kalau di luar memang hujan besar. Dan benar saja, dia pun berdecak kesal. Kenapa malam-malam hujan, dia harus pulang secepatnya. Tapi malah hujan.

"Duh hujan lagi." ucap Riana.

"Kamu menginap saja di sini." kata Ethan.

"Apa harus menginap?" tanya Riana.

"Terserah kamu, kalau kamu mau pulang ya silakan. Aku sarankan kamu menginap saja, karena pasti akan terjebak banjir nanti di jalan. Aku malas mengantarmu pulang." kata Ethan melangkah ke arah dapur.

"Cih! Siapa juga yang minta di antar pulang. Setiap pulang juga aku selalu pulang naik taksi, kenapa bicaranya seperti itu." kata Riana menatap tajam pada bosnya itu.

Dia lalu menuju sofa lagi, meneruskan memeriksa berkas dan juga data di laptopnya. Tak lama suara bel di luar berbunyi, Riana menoleh ke arah pintu dan dia menatap ke arah dapur.

"Buka saja, itu pesan antar makanan. Kamu pasti lapar." kata Ethan dari arah dapur.

Riana bangkit dan menuju pintu, membukanya dan memang terlihat abang layanan antar membawa kresek berisi kotak makan.

"Ini mbak, sudah di bayar pesanannya." kata abang itu.

"Terima kasih bang. Di luar masih hujan ya?" tanya Riana.

"Iya, di depan juga kelihatannya mau banjir." jawab abangnya.

"Apa taksi ada yang lewat?" tanya Riana lagi.

Ethan memperhatikan Riana yang bicara lama dengan abang pengantar makanan. Dia pun mendekat, penasaran apa yang di bicarakan Riana dengan pengantar makanan itu.

"Bicara apa kalian?" tanya Ethan.

"Oh maaf pak, kalau begitu saya permisi." kata abang pengantar makanan itu tersenyum malu.

Dia pun pergi, Riana menatap tajam pada Ethan. Ethan mengerutkan dahinya, kenapa Riana jadi kesal padanya?

"Hei, seharusnya kamu terima kasih aku pesan makanan. Lagi pula kamu bicara apa dengan pengantar makanan itu?" kata Ethan penasaran.

"Tidak usah kepo. Kesal aku harus berada di sini." ucap Riana.

Ethan diam, dia lalu melangkah masuk ke dalam kamarnya. Waktu sudah jam sepuluh malam, dia ingin menghubungi kekasihnya dan juga sahabatnya ingin mengetahui perkembangan kafenya di sana.

Riana melihat punggung Ethan masuk ke dalam kamarnya, sampai pintu itu tertutup. Dia berdesis kesal.

"Kenapa ada bos seperti itu ya. Aku kesal sekali." ucap Riana.

Dia menatap laptopnya lalu beralih ke kantong kresek. Di bukanya kantong kresek itu, di ambil kotak makannya.

"Lebih baik aku makan saja, kebetulan juga lapar." ucap Riana.

Dia menyendok sedikit makananya lalu menyuapnya. Satu dua sendok dia makan, hingga habis satu kotak berisi makanan tersebut. Dan kembali dia melanjutkan pekerjaannya.

Hingga jam dua belas malam, Riana pun mengantuk. Kemudian tertidur di sofa hingga pagi hari. Laptop belum di matikan, tapi layar mati.

Suara alarm di ponselnya membangunkan Riana. Dia melihat ponselnya sudah jam lima pagi. Dia melihat sekeliling ruangan, bukan di kamarnya.

"Ooh, jadi aku ketiduran di sofa di apartemen pak Ethan? Ck, aku harus pulang dulu." ucapnya.

Dia membereskan laptop dan berkasnya, dia lalu ke kamar mandi untuk cuci muka. Dan seperti biasa dia merapikan apartemen lebih dulu, membuat sarapan Ethan. Dan kebetulan satu kotak makanan tadi malam belum di makan.

Jadi Riana hangatkan lagi dan di hidangkan di meja makan. Kemudian dia perlahan mengetuk pintu kamar Ethan. Niatnya mau mengambil baju kerja dan menyiapkannya untuk Ethan.

Tidak di kunci, dia pun masuk ke dalam. Melihat ke ranjang dan melangkah mendekat, memastikan bosnya itu apakah masih tidur atau sudaj bisa di bangunkan.

"Emm, dia masih tidur. Baiklah, aku siapkan saja baju-bajunya." ucap Riana hendak pergi.

Tapi tiba-tiba tangan Ethan meraih tangannya dan menariknya hingga Riana pun jatuh menimpa tubuh kekar itu. Tampak selimutnya menyibak, Riana diam tidak bergerak.

Ethan masih menangkap tubuh Riana, dia seperti hendak mencium Riana. Tapi Riana menoleh menghindar agar wajah Ethan itu tidak mendekat wajahnya.

Tapi tangan Ethan menarik dan semakin mengeratkan pegangannya. Membuat Riana tidak bisa bergerak, dia memejamkan mata. Tapi kemudian dia berusaha melepaskan diri dari cengkeraman tangan Ethan.

"Mau kemana?" gumam Ethan dengan mata masih menutup.

"Saya mau keluar pak, waktunya sudah pagi." jawab Riana.

Ethan melepas cengkeraman tangannya pada Riana. Dia pun berbalik dengan terlentang, dengan cepat Riana berdiri dan menjauh. Tampak dia melihat tubuh kekar Ethan yang terlihat karena selimutnya menyibak.

"Duh, itu kenapa tidur tidak pakai baju. Apa dia tidak kedinginan?" gumam Riana.

Dia terpaku melihat tubuh kekar itu terpampang jelas di depannya. Riana menelan ludahnya, tapi kemudian dia sadar dan cepat-cepat bergegas mengambil baju kerja Ethan.

Sebelum laki-laki itu mengetahui kalau Riana sedang salah tingkah melihat tubuh kekar bosnya.

Setelah selesai semua, dia pun membuat catatan untuk Ethan di meja makan.

'Saya pulang, semua sudah beres. Saya berangkat telat ke kantor. Maaf.'

Catatan itu dia letakkan di atas makanan yang dia tutup. Kemudian dia bergegas pulang untuk mandi, ganti baju dan melakukan kegiatan seperti biasanya di rumahnya setiap paginya.

_

_

***********************

Terpopuler

Comments

Aidah Djafar

Aidah Djafar

maen tarik2 aj c Et Et ...🤦 blom ngumpul tuh nyawanya di kira pacar nya kali 🤦🤣🤣🤣

iy mnding cb aja Risen Riana 🤔 Mau tau bisa ngk tanpa kamu c Eth Eth kerja ...🤔

2023-09-20

1

꧁༒☬SCORPIO☬༒꧂

꧁༒☬SCORPIO☬༒꧂

Awas lama-lama kebiasaan terus gak bisa lepas

Cemungut Author.......

2023-02-21

1

Eneng Ersha

Eneng Ersha

waah cari kesempatan rupanya s bos ethan lama2 jg pasti bucin dn g mau di pisahkn sm riana 😀😀😀

2023-02-12

0

lihat semua
Episodes
1 01. Kedatangan Ethan
2 02. Peralihan Pimpinan
3 03. Tugas Baru jadi Bos Baru
4 04. Di Kerjai
5 05. Datang Ke Rumah Pak Wijaya
6 06. Jadi Asisten Pribadi
7 07. Mengantar Pulang
8 08. Menjemput Riana
9 09. Di Apartemen
10 10. Sahabat Dan Pacar
11 11. Makan Di Pinggir Jalan
12 12. Mengajak Ke Rumah
13 13. Pembicaraan Di Meja Makan
14 14. Riana Kesal
15 15. Memarahi Sang Boss
16 16. Di Pesawat
17 17. Kejutan Dari Sahabat Dan Kekasih
18 18. Hubungan Yang Retak
19 19. Nasehat Penumpang Pesawat
20 20. Cerita Pak Wijaya
21 21. Mode Dingin
22 22. Meminta Maaf
23 23. Ngambek
24 24. Meminta Cuti
25 25. Bertemu Natasya
26 26. Nomor Kontak
27 27. Izin Cuti
28 28. Pulang
29 29. Ribut Masalah Dukun Parjo
30 30. Cerita Marni
31 31. Menyentuh Hati Ibu
32 32. Menculik Riana
33 33. Syukurlah Datang
34 34. Bisik-Bisik Tetangga
35 35. Tidak Tahan
36 36. Tentang Hati
37 37. Surat Perjanjian
38 38. Jadi Asisten Lagi
39 39. Kolornya
40 40. Membuat Cemburu
41 41. Di Mobil
42 42. Parfum
43 43. Menghilangnya Sang Bos
44 44. Galau
45 45. Melihatmu
46 46. Besok Menikah
47 47. Tidak Jadi Marah
48 48. Isi Kolor
49 49. MP +
50 50. Rumah Baru
51 51. Natasya Ke Kantor
52 52. Image
53 53. Seretaris Itu, Istriku
54 54. Bertemu Pak Rudy
55 55. Kunjungan Sahabat
56 56. Masalah Daby
57 57. Gaya Baru
58 58. Menjemput Di Stasiun
59 59. Gaya Nungg!n9
60 60. Pertemuan Tak Terduga
61 61. Hantu Gentayangan
62 62. Tamu
63 63. Drama In Dosiar
64 64. Enam Belas Tahun Lalu
65 65. Sepasang Suami Istri
66 66. Cerita Bu Naimah
67 67. Meminta Sampel
68 68. Semoga Kabar Baik
69 69. Hasilnya
70 70. DNA Yang Cocok
71 71. Keakraban Riana Dan Bu Naimah
72 72. Melahirkan
73 73. Emir Syahban Wijaya
74 74. Kegelisahan Riana
75 75. Apa? Menikah?!
76 76. Ekspart 1
77 77. Ekspart 2
78 78. Ekspart 3
Episodes

Updated 78 Episodes

1
01. Kedatangan Ethan
2
02. Peralihan Pimpinan
3
03. Tugas Baru jadi Bos Baru
4
04. Di Kerjai
5
05. Datang Ke Rumah Pak Wijaya
6
06. Jadi Asisten Pribadi
7
07. Mengantar Pulang
8
08. Menjemput Riana
9
09. Di Apartemen
10
10. Sahabat Dan Pacar
11
11. Makan Di Pinggir Jalan
12
12. Mengajak Ke Rumah
13
13. Pembicaraan Di Meja Makan
14
14. Riana Kesal
15
15. Memarahi Sang Boss
16
16. Di Pesawat
17
17. Kejutan Dari Sahabat Dan Kekasih
18
18. Hubungan Yang Retak
19
19. Nasehat Penumpang Pesawat
20
20. Cerita Pak Wijaya
21
21. Mode Dingin
22
22. Meminta Maaf
23
23. Ngambek
24
24. Meminta Cuti
25
25. Bertemu Natasya
26
26. Nomor Kontak
27
27. Izin Cuti
28
28. Pulang
29
29. Ribut Masalah Dukun Parjo
30
30. Cerita Marni
31
31. Menyentuh Hati Ibu
32
32. Menculik Riana
33
33. Syukurlah Datang
34
34. Bisik-Bisik Tetangga
35
35. Tidak Tahan
36
36. Tentang Hati
37
37. Surat Perjanjian
38
38. Jadi Asisten Lagi
39
39. Kolornya
40
40. Membuat Cemburu
41
41. Di Mobil
42
42. Parfum
43
43. Menghilangnya Sang Bos
44
44. Galau
45
45. Melihatmu
46
46. Besok Menikah
47
47. Tidak Jadi Marah
48
48. Isi Kolor
49
49. MP +
50
50. Rumah Baru
51
51. Natasya Ke Kantor
52
52. Image
53
53. Seretaris Itu, Istriku
54
54. Bertemu Pak Rudy
55
55. Kunjungan Sahabat
56
56. Masalah Daby
57
57. Gaya Baru
58
58. Menjemput Di Stasiun
59
59. Gaya Nungg!n9
60
60. Pertemuan Tak Terduga
61
61. Hantu Gentayangan
62
62. Tamu
63
63. Drama In Dosiar
64
64. Enam Belas Tahun Lalu
65
65. Sepasang Suami Istri
66
66. Cerita Bu Naimah
67
67. Meminta Sampel
68
68. Semoga Kabar Baik
69
69. Hasilnya
70
70. DNA Yang Cocok
71
71. Keakraban Riana Dan Bu Naimah
72
72. Melahirkan
73
73. Emir Syahban Wijaya
74
74. Kegelisahan Riana
75
75. Apa? Menikah?!
76
76. Ekspart 1
77
77. Ekspart 2
78
78. Ekspart 3

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!