11. Makan Di Pinggir Jalan

Ethan keluar dari kamar Daby dan mengetuk pintu kamar Jhonson. Dia ingin mengobrol masalah kafe dengan sahabatnya itu, meski ragu apakah Jhonson sudah tidur atau belum.

Tok tok tok.

Ceklek!

Pintu terbuka dan nampak Jhonson sudah berganti pakaian. Ethan langsung masuk ketika pintu terbuka, membuat Jhonson heran. Tapi dia membiarkan Ethan masuk ke dalam kamarnya dan duduk di sofa.

"Apa kamu mau tidur?" tanya Ethan.

"Kamu tidak menginap di kamar Daby?" tanya Jhonson.

"Dia mau istirahat, jadi kubiarkan dia istirahat malam ini. Kita bisa bicara mengenai kafe?" tanya Ethan.

"Emm, bisa. Tapi ...."

Ceklek!

Pintu kamar terbuka, masuk Daby dengan baju piamanya. Ethan mengerutkan dahinya, juga Jhonson menatap kaku pada Daby.

"Sayang, kamu masuk ke kamar Jhonson? Mau apa?" tanya Ethan.

"Ooh, itu. Aku ingin mengambil dompet yang tertinggal di tas Jhonson, Ethan." jawab Daby salah tingkah.

Dia tidak tahu kalau Ethan masuk ke dalam kamar Jhonson. Jhonson pun bangkit dari duduknya dan mengambil dompetnya lalu menyerahkan pada Daby.

"Ya, ini dompetmu ketinggalan di tasku. Ambillah." kata Jhonson menyerahkan dompetnya pada Daby.

"Thank you, Jhonson." kata Daby tersenyum kaku.

Dia menoleh ke arah Ethan dan tersenyum, kemudian dia pun keluar lagi dari kamar Jhonson. Ethan dan Jhonson menatap kepergian Daby.

"Emm, apa dia sering lupa dengan barang-barangnya?" tanya Ethan.

"Ya, terkadang begitu. Sejak kamu pergi, kadang dia selalu meninggalkan barangnya padaku." jawab Jhonson.

"Hemm, ya ya. Namanya juga perempuan ya, hahah!" ucap Ethan tertawa lucu.

Jhonson pun ikut tertawa. Kemudian keduanya pun bicara mengenai kafe yang tadi di tanyakan oleh Ethan. Hingga Jhonson mendapat pesan singkat, dia pun mengakhiri obrolannya dengan Ethan.

"Aku lelah Ethan, kita bisa sambung lagi pembicaraan tentang kafe?" tanya Jhonson.

"Emm, ya baiklah. Maaf kalau aku mengganggu waktu istirahatmu, besok aku akan datang lagi pada kalian dan mengenalkan kalian sama mama dan papaku." kata Ethan.

"Oke, aku akan mengatakan pada Daby kalau kamu mengajak bertemu dengan kedua orang tuamu. Sekarang mungkin dia sudah tidur, kamu tahu perjalanan dari Inggris kesini itu sangat jauh dan melelahkan." kata Jhonson.

"Ya baiklah, selamat tidur bro. Aku pulang dulu, besok aku temui kamu." kata Ethan.

Jhosnon mengangguk, Ethan berdiri dan melangkah keluar kamar. Di antar oleh Jhonson sampai depan pintu dan keduanya mengacungkan tangan salam tanda pertemanan laki-laki.

_

Ethan melirik ke arah jam di tangannya, masih pukul sembilan malam kurang sepuluh menit. Dia lapar sekali, karena tadi rencananya mau makan malam dengan kedua sahabatnya di restoran westen. Tapi keduanya malah memilih istirahat saja di kamar hotel.

Jadi, akhirnya dia ingin mencari makanan di pinggir jalan saja. Dia melihat ke kanan dan ke kiri pinggir jalan yang banyak sekali tenda-tenda warung makan. Dan akhirnya dia memilih makan warung tenda beraneka pilihan menu.

Ethan meminggirkan mobilnya, kemudian memarkirkannya. Dia lalu keluar dari mobil dan masuk ke dalam tenda warung makan, tampak sedikit ramai dan mengantri. Ethan pun ikut mengantri di belakang seorang gadis dengan memakai jaket warna cokelat.

Gadis itu melihat-lihat menu makanan yang tersedia di depan dan dia tinggal memilih lalu di goreng oleh pelayan di sana. Begitu juga dengab Ethan, dia memilih cumi-cumi dan udang untuk di bakar. Dan dia melihat ada bebel tinggal satu porsi, dengan cepat dia pun akan mengambilnya.

Tanpa di duga, gadis di depannya juga mengambilnya. Keduanya pun saling menoleh dan menatap, dan mereka pun terkejut.

"Riana?"

"Pak Ethan?"

"Kamu makan di sini?" tanya Ethan.

"Eh, bapak juga makan di sini. Dan itu bebek punya saya pak." kata Riana.

"Enak aja. Aku lebih dulu yang ambil." kata Ethan.

"Tapi aku yang lebih dulu antri. Pak Ethan di belakangku." kata Riana ngotot ingin bebek yang di pegang Ethan.

"Ck, siapa cepat dia yang dapat. Tidak peduli antri di depan, yang penting aku yang ambil duluan." kata Ethan lagi.

Riana mendengus kesal, kemudian dia pun mengalah. Dia mengambil ayam kampung dan juga lalapannya serta sambel. Di temani dengan mie goreng spesial dan juga minuman jusnya.

Ethan melihat menu yang di pesan Riana, tidak memakai nasi. Tapi malah memesan mie goreng spesial.

"Bukankah sama saja, mie goreng itu sama porsinya dengan makan nasi. Justru lebih baik makan nasi dari pada mie goreng itu." kata Ethan.

"Suka-suka aku pak, kalau pak Ethan mau memesan nasi ya silakan." kata Riana.

Dia menyerahkan nampan kecil berisi menu makanannya. Juga Ethan menyerahkan pada pelayan, dia mengikuti Riana kemana duduknya. Di sana dia duduk di depan asistennya itu. Riana menatap kesal pada bosnya itu, diam tanpa bicara padanya.

"Kamu kenapa keluyuran malam-malam begini?" tanya Ethan.

"Kalau keluyurannya di tempat makan, berarti aku lapar. Dan perlu makan, kenapa begitu di tanyakan sih." kata Riana masih mode kesal pada bosnya.

"Heh! Makanmu banyak, tapi tetap saja tidak juga gemuk. Lagi pula kamu mau diet agar tubuhmu lebih kecil lagi? Tidak pantas untukmu tubuh kecil mungil, kamu itu tinggi. Idealnya berat badan kamu itu maksimal lima puluh enam. Itu sudah pas untukmu." kata Ethan.

"Bapak tahu dari mana? Tahu berat badan dari mana dan teori apa itu asal menebak berat badanku." ucap Riana.

"Sudah kelihatan Riana, tinggimu seratus enam puluh lima. Ya ideal tubuhmu itu lima puluh enam." kata Ethan lagi.

Riana diam saja, dia malas menanggapi ucapan bosnya. Lagi pula, kenapa juga harus bertemu di warung makan yang sama. Pelayan pun datang membawa makanan pada mereka. Semua di hidangkan sesuai pesanan masing-masing.

Ethan makan dengan lahap, begitu juga Riana. Keduanya sangat lapar dan makan dengan lahap dan hanpir habis. Tinggal bebeknya yang tersisa, Ethan melirik ke arah Riana masih makan mie goreng dengan banyak toping. Dia duduk tegak dan bersedekap setelah makan itu.

"Kamu lapar sekali ya?" tanya Ethan.

"Kalau tidak lapar, mana mungkin aku makan." jawab Riana masih mengunyah makanannya.

"Tuh, bebeknya ngga aku makan. Buat kamu saja." kata Ethan.

Riana menatap Ethan lalu ke bebek gorengnya. Ragu dia mau mengambilnya, tapi Ethan mengambilkannya dan di letakkan di atas mie gorengnya.

"Makanlah. Aku sudah kenyang." kata Ethan.

"Hemm."

Ethan menunggu Riana selesai makan, dia melihat sekeliling tempat duduk mulai ramai. Makin makan tempat makan itu makin ramai dan di sebelahnya juga ada ibu-ibu dan anaknya duduk memepet Ethan.

Dia pindah duduk di sebelah Riana karena ibu itu sepertinya membawa suaminya juga yang sedang memesan.

"Kamu sudah selesai?" tanya Ethan.

"Sudah." jawab Riana menyedot jusnya hingga habis.

"Ayo pulang. Aku antar kamu pulang, tidak baik seorang gadis jalan sendiri." kata Ethan lagi.

"Aku bawa motor." jawab Riana.

"Motor siapa? Di rumahmu tidak ada motor." tanya Ethan heran.

Dia pernah masuk ke dalam rumah Riana tidak melihat motor. Riana diam, dia menatap jalanan dan memegang ponselnya. Ethan tahu Riana sedang memesan ojek online.

"Cih, segitu gengsinya di antar olehku. Cepat naik, pakai bohonh segala tidak mau di antar pulang. Kamu jangan gengsi, sudah aku bayar makananmu dan sekarang dengan baik hati aku antar kamu pulang." kata Ethan sinis.

"Aku tidak minta ya, anda sendiri yang menawarkan. Kenapa sewot sih?" ucap Riana kembali kesal pada bosnya.

Tapi Ethan menarik tangan Riana agar cepat masuk ke dalam mobilnya. Ethan pun cepat masuk dan segera menjalankan mobilnya, mengantar Riana pulang. Baru dia yang pulang ke apartemennya untuk istirahat.

_

_

**********************

Terpopuler

Comments

Aidah Djafar

Aidah Djafar

moga aja selama Daby vs Jhonson di Indonesia c Ethan mergokin perselingkuhan kekasih dan sahabatny itu 🤔🤔🤔

2023-09-20

0

Anonim

Anonim

yak berjodoh kalian Ethan and Riana 😉😉😉

2023-03-11

1

Dewi Purwanti

Dewi Purwanti

dan yg dilakukan dua orang di kamar hotel ngapain lg kalo g esek-esek 🙈

2023-02-26

0

lihat semua
Episodes
1 01. Kedatangan Ethan
2 02. Peralihan Pimpinan
3 03. Tugas Baru jadi Bos Baru
4 04. Di Kerjai
5 05. Datang Ke Rumah Pak Wijaya
6 06. Jadi Asisten Pribadi
7 07. Mengantar Pulang
8 08. Menjemput Riana
9 09. Di Apartemen
10 10. Sahabat Dan Pacar
11 11. Makan Di Pinggir Jalan
12 12. Mengajak Ke Rumah
13 13. Pembicaraan Di Meja Makan
14 14. Riana Kesal
15 15. Memarahi Sang Boss
16 16. Di Pesawat
17 17. Kejutan Dari Sahabat Dan Kekasih
18 18. Hubungan Yang Retak
19 19. Nasehat Penumpang Pesawat
20 20. Cerita Pak Wijaya
21 21. Mode Dingin
22 22. Meminta Maaf
23 23. Ngambek
24 24. Meminta Cuti
25 25. Bertemu Natasya
26 26. Nomor Kontak
27 27. Izin Cuti
28 28. Pulang
29 29. Ribut Masalah Dukun Parjo
30 30. Cerita Marni
31 31. Menyentuh Hati Ibu
32 32. Menculik Riana
33 33. Syukurlah Datang
34 34. Bisik-Bisik Tetangga
35 35. Tidak Tahan
36 36. Tentang Hati
37 37. Surat Perjanjian
38 38. Jadi Asisten Lagi
39 39. Kolornya
40 40. Membuat Cemburu
41 41. Di Mobil
42 42. Parfum
43 43. Menghilangnya Sang Bos
44 44. Galau
45 45. Melihatmu
46 46. Besok Menikah
47 47. Tidak Jadi Marah
48 48. Isi Kolor
49 49. MP +
50 50. Rumah Baru
51 51. Natasya Ke Kantor
52 52. Image
53 53. Seretaris Itu, Istriku
54 54. Bertemu Pak Rudy
55 55. Kunjungan Sahabat
56 56. Masalah Daby
57 57. Gaya Baru
58 58. Menjemput Di Stasiun
59 59. Gaya Nungg!n9
60 60. Pertemuan Tak Terduga
61 61. Hantu Gentayangan
62 62. Tamu
63 63. Drama In Dosiar
64 64. Enam Belas Tahun Lalu
65 65. Sepasang Suami Istri
66 66. Cerita Bu Naimah
67 67. Meminta Sampel
68 68. Semoga Kabar Baik
69 69. Hasilnya
70 70. DNA Yang Cocok
71 71. Keakraban Riana Dan Bu Naimah
72 72. Melahirkan
73 73. Emir Syahban Wijaya
74 74. Kegelisahan Riana
75 75. Apa? Menikah?!
76 76. Ekspart 1
77 77. Ekspart 2
78 78. Ekspart 3
Episodes

Updated 78 Episodes

1
01. Kedatangan Ethan
2
02. Peralihan Pimpinan
3
03. Tugas Baru jadi Bos Baru
4
04. Di Kerjai
5
05. Datang Ke Rumah Pak Wijaya
6
06. Jadi Asisten Pribadi
7
07. Mengantar Pulang
8
08. Menjemput Riana
9
09. Di Apartemen
10
10. Sahabat Dan Pacar
11
11. Makan Di Pinggir Jalan
12
12. Mengajak Ke Rumah
13
13. Pembicaraan Di Meja Makan
14
14. Riana Kesal
15
15. Memarahi Sang Boss
16
16. Di Pesawat
17
17. Kejutan Dari Sahabat Dan Kekasih
18
18. Hubungan Yang Retak
19
19. Nasehat Penumpang Pesawat
20
20. Cerita Pak Wijaya
21
21. Mode Dingin
22
22. Meminta Maaf
23
23. Ngambek
24
24. Meminta Cuti
25
25. Bertemu Natasya
26
26. Nomor Kontak
27
27. Izin Cuti
28
28. Pulang
29
29. Ribut Masalah Dukun Parjo
30
30. Cerita Marni
31
31. Menyentuh Hati Ibu
32
32. Menculik Riana
33
33. Syukurlah Datang
34
34. Bisik-Bisik Tetangga
35
35. Tidak Tahan
36
36. Tentang Hati
37
37. Surat Perjanjian
38
38. Jadi Asisten Lagi
39
39. Kolornya
40
40. Membuat Cemburu
41
41. Di Mobil
42
42. Parfum
43
43. Menghilangnya Sang Bos
44
44. Galau
45
45. Melihatmu
46
46. Besok Menikah
47
47. Tidak Jadi Marah
48
48. Isi Kolor
49
49. MP +
50
50. Rumah Baru
51
51. Natasya Ke Kantor
52
52. Image
53
53. Seretaris Itu, Istriku
54
54. Bertemu Pak Rudy
55
55. Kunjungan Sahabat
56
56. Masalah Daby
57
57. Gaya Baru
58
58. Menjemput Di Stasiun
59
59. Gaya Nungg!n9
60
60. Pertemuan Tak Terduga
61
61. Hantu Gentayangan
62
62. Tamu
63
63. Drama In Dosiar
64
64. Enam Belas Tahun Lalu
65
65. Sepasang Suami Istri
66
66. Cerita Bu Naimah
67
67. Meminta Sampel
68
68. Semoga Kabar Baik
69
69. Hasilnya
70
70. DNA Yang Cocok
71
71. Keakraban Riana Dan Bu Naimah
72
72. Melahirkan
73
73. Emir Syahban Wijaya
74
74. Kegelisahan Riana
75
75. Apa? Menikah?!
76
76. Ekspart 1
77
77. Ekspart 2
78
78. Ekspart 3

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!