Dr. Ammar masuk ke salah satu kamar pelayan yang ada di rumahnya. “Siapa yang tadi mengepel kamarku ?” tanyanya dengan nada tinggi.
Sontak saja tiga pelayannya berkumpul di sana saling pandang dan terlihat takut dengan kemarahan tuannya itu.
“Apa ada masalah, tuan ?” Cala memberanikan diri bertanya karena hari ini adalah tugasnya mengepel.
“Masalah... sudah pasti ada masalah jika aku kemari mencari kalian.” masih dengan nada tinggi menatap satu per satu pelayan di hadapannya.
“Hari ini yang mengepel kamar tuan adalah Afsha.” jelas Kak Cala sambil gemetar Bukan maksudnya untuk melaporkan pelayan baru itu, tapi karena jika dia tidak jujur maka tuan Ammar akan semakin marah padanya.
“Gadis itu... dia...” dr. Ammar segera berbalik dan terlihat semakin marah menuju ke kamar Afsha. “Hey keluar kau cepat !”
Afsha tidak tahu kenapa pria itu tiba-tiba berada di depan pintu kamarnya dengan nada tinggi.
“Ya, apa tuan memanggilku ?” Afsha membuka pintu kamar dan menjawab panggilan tuannya dengan tenang.
“Kau....” dr. Ammar tak bisa lagi menahan amarahnya. “Ikut aku.” ia segera menarik Afsha lalu mengajak masuk ke kamarnya.
Afsha tak tahu apa maksud pria tersebut yang membanting tangannya dengan keras.
“Lihat lantai ini ?” pria itu menujuk ke lantai. “Ya... ?” Afsha ikut menatap lantai yang ditunjuk.
“Kau ini sebenarnya bisa bekerja atau tidak ? setelah mengepel bukannya lantai ini tambah bersih tapi makin kotor. Bagaimana kerjamu itu sebenarnya ?” dengan nada yang semakin tinggi sampai Afsha menutup kedua telinganya.
“Maaf.”
“Hanya itukah yang bisa kau kerjakan ?”
dr. Ammar kemudian menyerahkan alat pel yang tadi diambilnya pada Afsha. “Sekarang kembali bersihkan.”
“Apa ?” pekik Afsha dengan mata yang terbelalak, malam-malam begini harus mengulangi lagi pekerjaannya.
“Ayo bersihkan kembali.” ulangnya lagi.
Afsha pun segera bergerak dan mulai mengepel kamar tersebut dengan jengkel juga mengumpat dalam hati, “Jika saja aku tak melarikan diri dari rumah dan juga tak butuh uang maka aku tak sedih melakukan pekerjaan
rendah ini.” tentu saja Afsha tak ingin identitasnya itu sampai terbongkar atau dia akan kembali ke rumahnya dan menerima perjodohan nya.
dr. Ammar ternyata tak keluar dari kamarnya dan tetap berada di sana untuk mengawasi kerja Afsha.
“Itu yang di sana belum kau pel. Bagaimana sih cara kerjamu ini ?”
Afsha hanya bisa menarik nafas panjang mendengar omelan tuan dokter itu sambil mengapel tempat yang ditunjuk oleh pria tersebut.
Jujur gadis itu sebenarnya sudah berada di ujung lelah dan juga mengantuk berat melakukan pekerjaan rumah seperti ini.
“Aku sudah selesai mengepelnya, tuan. Bolehkah aku kembali sekarang ?” ucapnya sambil menahan menguap karena semakin merasa mengantuk.
“Tunggu dulu.” dr. Ammar memanggil kembali Afsha saat gadis itu hendak keluar dari sana. “Setelah aku memeriksanya baru kau boleh pergi.”
Mau tak mau Afsha pun berhenti menunggu instruksi selanjutnya.
“Sebenarnya ini masih sedikit kotor tapi tak apalah kau boleh pergi sekarang.” ucapnya berbaik hati.
Afsha berbalik dan karena mengantuk berat tak sengaja ia menendang ember air yang membuatnya sedikit tumpah dan tentu saja membuatnya terpeleset.
“Ahh...”
dr. Ammar dengan sigap menangkap tubuh Afsha yang ambruk ke belakang ke arahnya.
Afsha menatap tepat ke dr. Ammar dan ia pun mendorong tubuh pria tersebut, tak ingin dekat-dekat dengannya. Karena dr. Ammar masih memeluknya erat maka secara otomatis Afsha pun ikut jatuh saat pria tersebut jatuh ke lantai.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments
red riding hood
Kasihan afsha
2023-02-26
0