“Aku belum makan seharian dan juga kehilangan dompetku, kasihanilah aku.” ucap Afsha lagi pada sosok pria di hadapannya.
Pria tadi masih diam dan tak tahu harus berkata apa.
“Jika tuan berbaik hati sudilah kiranya anda memberiku pekerjaan.” Afsha kembali mendesak karena tak ada jawaban dari lawan bicaranya.
Pria tadi makin bingung apa yang harus ia katakan. Sebut saja dia Ammar, dr. Ammar.
“Kau masih ingat pernah bertemu denganku sebelumnya beberapa hari yang lalu ?” ucap Ammar tiba-tiba setelah lama terdiam.
“Anda... ? Aku baru bertemu anda kali ini.”
“Jadi kau lupa pada ku.” jawab dr. Ammar sambil menghela nafas kasar, ternyata gadis itu mudah melupakan masalah di antara mereka begitu saja.
“Tolong tuan beri aku makanan atau pekerjaan meskipun itu hanya pekerjaan kecil.” ucap Afsha mengulangi lagi perkataannya karena melihat pria di depannya itu terlihat berpikir.
dr. Ammar diam sejenak ia teringat jika di rumahnya beberapa hari yang lalu pelayan yang ada di sana resign dan pulang ke kampungnya untuk mengurus anaknya yang sakit. Tentu saja posisi itu sekarang masih kosong. Bahkan hingga kini belum ada yang mengisi posisi tersebut.
“Mungkin bagus juga jika dia menjadi pelayan di rumah. Ibu pasti akan senang jika aku mencarikan pelayan baru untuknya.”
“Siapa nama mu ?” tanya pria itu.
“Safa, tuan.” jawabnya singkat.
“Begini Safa Di rumahku ada lowongan pekerjaan tapi sebagai pelayan apa kamu mau ?”
“Mau tuan.” jawab Afsha secepat mungkin yang kini telah berganti nama menjadi Safa tanpa pikir panjang.
dr. Ammar tersenyum kecil dengan tatapan tajam. Sebenarnya ia masih ada perasaan kesal pada gadis yang ada di hadapannya itu pada kejadian beberapa hari yang lalu namun entah kenapa ia merasa sedikit Ibu setelah mendengar pengakuannya barusan.
“Jika dia masih bersikap menyebalkan selama di sana maka mudah saja bagiku untuk membalasnya dan memberinya pelajaran.” pria itu menatap intens Safa sambil tersenyum dalam hati.
“Safa jika begitu kau ikut bersamaku sekarang pulang ke rumah.”
Pria itu pun segera berjalan meninggalkan Safa yang masih diam tak menyangka saja jika barusan ia benar-benar mendapatkan pekerjaan.
“Baik tuan.... terimkasih.” Safa segera berjalan dan mengejar pria tadi yang berjalan dengan cepat.
“Tuan maaf aku belum tahu namamu. Jadi bagaimana aku memanggil mu ?” Safa sudah berada di mobil dan duduk di belakang sembari bertanya pada pria yang telah menolongnya.
“Ammar, panggil saja aku tuan Ammar.” jawabnya singkat tanpa menoleh ke belakang menatap lawan bicaranya dan terus mengemudi.
Safa hanya mengangguk saja sembari tersenyum kecil dan menutup mulutnya Cara mengetahui siapa nama tuannya tersebut.
“Kita sudah sampai.” beberapa saat kemudian mereka tiba di rumah. Sebuah rumah mewah berlantai tiga dengan model modern.
“Turunlah.” dr.Ammar memintanya untuk segera keluar dari mobil setelah ia turun dari sana.
“Baik, tuan.”
Safa kemudian turun dari mobil dan berjalan mengikuti tuannya yang masuk ke rumah mewah tersebut.
“Siapa yang kau bawa pulang ke rumah malam-malam begini ?” seorang wanita tiba-tiba segera menghampiri dr. Ammar begitu melihat pria itu membawa seorang gadis ke sana.
“Ibu dia adalah pelayan baru yang aku bawakan untukmu.”
Wanita tadi ternyata adalah ibunya dr. Ammar menatap dari ujung kaki sampai ke ujung kepala gadis yang ada di hadapannya. Menurutnya gadis manis itu tak pantas menjadi pelayan di sana.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments
pusat herba
Jangan.... Jangan minta menjadi pelayan di sana hidupmu menderita seperti di neraka nanti Afsha
2023-02-05
0