“Kenapa diam saja ? Ayo mulai mengepel sekarang.” ucap kak Amla karena Afsha masih diam dan tak beranjak dari tempatnya berada saat ini.
“Maka area mana saja yang harus ku pel ?” Afsha berharap Ia hanya mengepel sebuah ruangan bukan seluruh rumah.
“Tenang jangan khawatir kau bagi tugas mengepel rumah saat ini dengan kak Cala saja. Dia sudah menunggu di depan.”
Afsha hanya bisa menarik nafas kasar. Ia pun segera membawa ember dan pel lalu berjalan mengikuti kak Amla untuk menemui Kak Cala.
“Cala kau ajari dan beritahu pelayan baru ini bagian mana saja yang harus dia pel, aku mau menyetrika pakaian dulu.” Kak Amla segera pergi setelah mengantar Afsha.
“Safa kemari aku akan tunjukkan padamu caranya mengepel di sini dan tempat mana saja yang harus kau bersihkan.” kak Cala segera mempraktekkan cara mengepel di rumah itu.
“Emm... ya kak Cala, tapi panggil aku Afsha saja.”
“Afsha ?” kak Cala berbalik menatap gadis di depannya. “Bukankah semalam namamu Safa ?” ia mengingat dengan jelas gadis itu menyebut nama Safa bukan Afsha.
“Ya itu semalam aku sepertinya salah ucap.” Afsha menjelaskan sampel tersenyum kecil.
“Aneh sekali.” kak Cala mengerutkan keningnya. “Coba kau pel sebelah timur dan aku akan mengepel bagian barat.”
“Baik, kak.” Afsha berjalan dengan ragu sambil membawa ember juga alat pel menuju ke teras sisi timur.
Ia sudah melihat bagaimana tadi cara Kak Cala mengepel maka ia pun langsung mempraktekkannya.
“Argh... !” sejujurnya Afsha baru pertama kali ini mengepel dan ia terlalu banyak mengambil sabun pel yang membuatnya licin sampai ia sendiri terpeleset karenanya.
“Astaga... Safa atau Afsha bingung aku memanggil mu. Bagaimana bisa kau sampai jatuh begini ?” Kak Amla menghampiri dan membantu Afsha berdiri.
“Aku juga tidak tahu Kak. Aku sudah melakukan seperti yang kakak contohkan tapi malah aku jatuh.”
Kak Amla menatap lantai yang licin penuh dengan sabun dan melihat satu botol obat pel di dekatnya yang separuh terpakai.
“Jika begitu kau pindah ke barat saja dan aku akan mengerjakan bagianmu ini.” kak Cala rela menggantikan Afsha daripada nanti ya kena marah majikannya, nyonya Fatima yang lebih perfeksionis dari dr. Ammar mengomel.
“Terimkasih kak.” Afsha segera melanjutkan pekerjaan Kak Cala mengepel di sisi barat. Kali ini dia mencoba hati-hati agar tidak melakukan kesalahan kembali.
“Akhirnya sudah selesai.” Afsha berhenti dan mengusap keringatnya yang bercucuran 60 menit kemudian.
“Sekarang kita bagi tugas aku mengepel halaman belakang dan kamu mengepel ruangan tuan Ammar.” Kak. Cala segera bergerak cepat karena masih banyak tugas yang menanti mereka.
“Baik, kak.”
Kak Cala tidak memeriksa hasil kerja Afsha yang ternyata tidak begitu bersih dan segera menuju ke halaman belakang.
“Inikah kamar tuan dokter itu ?” gumamnya berhenti di depan pintu kamar yang tertutup. “Jika saja aku bukan pelayan di sini maka aku sudah pasti akan menjitaknya.”
Afsha masuk ke kamar dr. Ammar masih menggerutu dan mulai mengepel. Ia pun segera melakukannya dengan cepat karena tak ingin berlama-lama berada di kamar pria yang menurutnya menyebalkan sekali itu.
Malam hari saat dr. Ammar baru pulang dan masuk ke kamarnya.
“Lengket sekali lantai ini ?” pria itu masa kakinya menempel di lantai lalu melihatnya. “Astaga masih ada sabun di sini yang mengering. Siapa yang mengepel lantai kamarku ? Kotor begini ?!” terlihat marah mendapati kamarnya yang kotor.
Pria itu pun langsung keluar dari kamar menuju ke kamar pelayan. Tak lama setelahnya terdengar suara bising di sana.
“Kenapa tuan dokter itu marah-marah ?” Afsha yang sedang berbaring di tempat tidur sampai duduk mendengar bentakan pria itu
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments