Afsha berharap pria tersebut segera pergi dari sana karena selain mengawasi Ia juga kembali mengenal banyak lebar mengenai hasil cucuian Afsha.
“Bagaimana bisa ada noda tambahan di baju ku setelah kau selesai mencucinya ?” dr. Ammar mengecek hasil cucian pelayan barunya dan menunjukkannya langsung pada Afsha.
“Oh... aku sudah memasukkan banyak sabun tadi tapi kenapa malah jadi kotor ?” Afsha sendiri tak tahu mengapa hal itu terjadi.
“ck... harusnya kemarin aku tidak menerimamu sebagai pelayan disini karena mencuci baju saja kau tidak bisa.” dr. Ammar kembali mengomel seperti lebah yang sarangnya di lempari batu.
Sambil menarik nafas dengan kasar pria itu kembali mengambil sabun dan mengajari Afsha cara yang benar menggunakan detergent.
“Ingat setelah sabun di tuang air di aduk sampai semua sabun tercampur rata barulah mesin boleh di putar, jadi sabunnya tidak menggumpal dan mengotori pakaian.” ucap pria itu memberi contoh.
“Jika kau bisa sendiri kenapa tak melakukannya sendiri saja ?” gerutu lirih Afsha yang bisa didengar oleh dr. Ammar.
“Kau... ingat kau di sini adalah pelayan. Dan satu hal lagi yang perlu kau tahu bahwa kau sendiri yang memohon padaku pekerjaan ini.”
Selesai bicara pria itu segera pergi dari sana masuk ke sebuah ruangan.
“Untunglah dia segera pergi jika tidak telingaku pasti sudah meledak mendengar semua omelannya.” Afsha menarik nafas panjang dengan lega sekarang paling tidak telinga tidak berdengung.
“Apa yang bisa dilakukan pelayan baru itu.” dr. Ammar mengumpat sambil memakai seragamnya. “Aku berangkat sekarang.” sambil menenteng tasnya, ia pun keluar dari kamar dan masuk ke mobil menuju ke rumah sakit tempatnya bekerja.
“Hey Afsha apa yang kau lakukan ?” kak Amla tiba-tiba datang dan mengagetkannya saat ia melihat mobil hijau yang barusan meluncur dari rumah.
“Ahh tidak kak.” Afsha terkejut dan segera berbalik. “Aku hanya kebetulan saja melihat keluar jendela dan mendapati tuan Ammar sedang berangkat kerja.” terlihat sedikit salah tingkah dan khawatir akan salah menilai dirinya.
“Kau tertarik pada dr. Ammar ya ?” goda kak Amla yang langsung ditepis oleh Afsha. “Tentu saja tidak.” ia sama sekali tak tertarik pada pria tersebut yang menurutnya kasar dan bossy meski ia mengakui pria itu tak jauh dari kata tampan.
“Dia seorang dokter ?” tanya Afsha yang baru mengetahui profesi tuannya.
“Tepatnya dia seorang psikiater terkenal disini. Dan karena itu membuat waktunya cukup tersita dengan mengurusi semua pasiennya yang menyebabkannya belum juga mempunyai calon istri.”
Afsha hanya mengangguk saja mendengarnya meskipun dalam hati kembali mengutuk pria itu, “Sebagai dokter bukankah seharusnya ramah pada pasien ? Jika dia seperti itu lalu bagaimana pasiennya ?”
“Apa kau sudah selesai mencuci ?” pertanyaan Kak Amla membuyarkan lamunannya yang langsung di angguki oleh Afsha. “Jika begitu sekarang tugas mu adalah mengepel rumah ini.”
Pelayan itu sudah membawakan pel beserta ember di depan Afsha.
“Apa di sini tidak menggunakan vacuum cleaner ?” Afsha menatap alat pel yang sama sekali tidak pernah ia sentuh seumur hidupnya. Karena menurutnya seharusnya rumah semewah ini tidak menggunakan alat kuno seperti itu.
“Nyonya hanya meminta membersihkan ini rumah ini menggunakan vacuum cleaner untuk bagian ruang tamu dan teras saja, selebihnya dengan ini agar bersihnya maksimal.”
Afsha menelan salivanya dengan berat saat mendengar penjelasan dari Kak Amla. Terang saja rumah seluas ini dan harus mengepelnya sendiri dengan peralatan manual ? Mungkin saja ia akan pingsan sebelum pekerjaan itu selesai.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments
neng ade
Sabar ya Afsha .. itu kan pilihan mu sendiri yg lari dari rmh .. padahal bisa kan di bicarakan baik2 dlu .. jngn main kabur aja .. kasihan juga kedua orang tua mu dan juga adik mu ..
2023-02-08
1