“Kau yakin dia akan menjadi pembantu di sini ?” tanya ibu dr. Ammar menegaskan kembali. “Dia bukan kekasih mu, kan ?”
“Tentu saja bukan, ibu.” jawab dr. Ammar tegas menatap tepat ke mata ibunya.
“Ya...” wanita itu tahu saat ini putranya tidak berbohong padanya dari nada serta pembawaan bicaranya. “Bawa dia ke kamar pelayan dan dia akan mulai bekerja besok pagi.”
“Tentu saja ibu.”
“Terimaksih nyonya sudah berbaik hati padaku.” ucap Safa sambil menunduk sembari tersenyum kecil dengan memegang perutnya yang semakin perih.
“Oh.... beri dia makan di dapur.” ucap ibunya dr. Ammar mendengar suara perut keroncongan yang begitu keras.
“Terimakasih, nyonya.” Safa kembali mengucapkan terima kasih pada nyonya rumah.
“Ayo ikut aku sekarang ke belakang.” dr.Ammar kemudian berjalan sambil menunjukkan arah ke mana Safa harus mengikutinya. “Baik tuan.”
“Ini kamar mu.” dr. Ammar menunjuk sebuah kamar yang terletak paling ujung dari 5 kamar yang ada.
“Baik, tuan.”
Para pelayan lainnya yang ada di sana seketika keluar dari kamar begitu mendengar suara tuan muda mereka.
“Tuan muda apa ada yang bisa kami bantu ?” ucap salah satu pelayan mewakili dari empat pelayan yang ada.
“Tidak aku kemari hanya ingin menunjukkan kamar pada pelayan baru ini.”
Empat wanita yang berusia hampir sama dan berada di usia sekitar empat puluh tahunan menatap gadis muda yang berdiri di samping tuan mereka.
“Ini Safa.” pria itu memperkenalkan pelayan baru pada pelayan lama di sana. “Dari kiri bi Amla, sebelahnya lagi bi Zaitun, di sampingnya bi Zaitun bi Cala dan yang terakhir bi Fajar.” beralih memeperkenalkan empat pelayannya pada Safa.
“Ya, tuan.” jawab Safa sambil mengingat dan menghafal nama pelayan tadi.
“Bi pelayan ini belum makan, tolong beri dia makan.” dr. Ammar meminta salah satu pelayannya karena mendengar bunyi perut Safa lagi.
“Safa ikut aku.” salah satu pelayan, bi Zaitun segera maju dan mengajak Safa masuk ke dapur.
“Ini makan mu.” wanita itu mengambilkan makan dan menyerahkannya pada Safa. “Besok untuk sarapan pagi dan seterusnya kau bisa ambil sendiri di sini.”
Safa mengangguk sembari menerima piring yang diberikan padanya.
“Ish... kau tidak makan berapa hari ?” tanya bi Zaitun menggelengkan kepalanya saat melihat cara makan Safa yang sangat cepat dan belepotan.
“Aku belum makan seharian ini hanya minum seteguk air saja.”
Wanita itu menatap pelayan baru itu dengan iba. “Kasihan dia masih muda sekali tapi ternyata seorang tunawisma.”
“Taruh di sana piring kotornya. Sekalian cuci saja daripada besok pagi menumpuk.”
“Ya, kak Zaitun.” Safa pun pembawa piring kotor ke tempat cucian dan mencucinya sekalian.
Setelah selesai, bi Zaitun mengajak Safa kembali ke kamarnya. Sebelum gadis itu tidur Ia menjelaskan apa saja tugasnya besok pagi.
“Kriek.” satu jam setengahnya Safa menutup pintu kamar dan beristirahat dengan pikiran yang sudah tenang tak ada tekanan.
Pagi harinya dia membuka mata.
“Ohh... aku ada di mana ?” gumamnya melihat tempat yang saat ini asing baginya. Dan tentu saja ia sama sekali tak ingat apa yang terjadi pada dirinya semalam.
“Ini rumah siapa ?” menatap ke sekeliling dengan aneh sembari mengingat apa yang terjadi pada dirinya. Belum sempat ia mengingat seseorang membuka pintu kamarnya.
“Safa kau sudah bangun ?” ucap salah satu pelayan masuk ke kamar.
“Ya, sudah.” jawabnya sambil mengerutkan keningnya dan bertanya-tanya siapa wanita tersebut. Dan lagi wanita itu memanggilnya dengan sebutan Safa. “Oh apakah semalam wanita tua itu mengambil alih tubuhku ?”
Ya, karena pikirannya sudah tenang maka ia pun kembali ke kepribadian utamanya.
“Sekarang tugasmu adalah mencuci baju tuan muda.” ucap wanita itu menambahkan yang membuat Afsha syok sekali mendengarnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments
neng ade
kasihan juga Afsha .. pastilah tersiksa setiap kali kepribadian lain mengambil alih tubuh nya .. semoga Dr. Ammar bisa mengetahui nya
2023-02-08
1
pusat herba
Apa ga nyesel nanti Afsha
2023-02-05
0