Afsha tak bisa berkata apapun selain mengikuti wanita yang menurutnya adalah pelayan di rumah mewah tempatnya berada saat ini.
“Kenapa diam saja ?” tanya wanita itu karena tak ada respon darinya.
“Ah ya, nyonya.” jawab Afsha tanpa tahu harus memanggil siapa namanya.
“Safa kau lupa nama ku ? Aku saja ingat nama mu.”
“Maaf aku tidak begitu ingat Nyonya, dan namaku Afsha.” jawab Afsha menjelaskan sejujurnya.
“Kau ini masih muda tapi memorimu buruk. Panggil saja aku kak Amla.” terang wanita itu kembali memperkenalkan dirinya. “Semalam kau memperkenalkan dirimu namamu Safa.” masih teringat gadis itu menyebut nama Safa bukan Afsha.
“Mungkin kamu hanya salah dengar.” Afsha menyangkalnya. “Berati semalam Safa yang mengambil alih tubuh ini dan meminta bekerja di sini sebagai pelayan. Sial.” batinnya mengumpat dalam hati.
“Kau sarapan dulu sebelum mencuci pakaian tuan Ammar.” ucap pelayan menunjukkan menu sarapan untuk para pelayan yang berbeda dengan menu sarapan untuk tuan rumah mereka.
“Baik kak Amla.”
Afsha duduk setelah mengambil sarapan dan segera menyantap nya bersama kak Amla yang duduk di sampingnya.
“Tuan Ammar siapa, aku tidak mengetahuinya ? Benar-benar sial tanpa obat, kepribadian lain berhasil mengambil alih diriku.” Afsha hanya bisa menarik nafas panjang mendapati nasibnya yang sekarang ini menjadi seorang pelayan.
“Tapi jika dipikir-pikir tidak buruk juga berada di sini karena aku bisa makan gratis dan juga mendapatkan gaji nanti daripada harus pulang ke rumah.” batinnya lagi untuk menyemangati dirinya sendiri.
Kak Amla kemudian membawanya menuju ke ruang cuci. “Ini pakaian tuan yang harus kau cuci.”
“Ya kak.”
Kak Amla segera pergi dari sana dan melanjutkan pekerjaan lainnya sedangkan Afsha mulai mencuci baju tuan rumah.
“Kenapa pakaian nya putih semua ?” Afsha memasukkan semua pakaian yang berwarna putih ke dalam mesin cuci. “Siapa dia sebenarnya ?”
Baru saja dia memasukkan semua pakaian putih dan akan menuangkan sabun ke dalam mesin cuci terdengar suara derap langkah kaki yang cepat berhenti tepat di belakangnya.
“Jangan tuangkan sabun itu !” ucap seorang pria seketika langsung menarik sabun dari tangan Afsha.
“Ah....” Afsha terkejut kemarin baru balik dan lebih terkejut lagi melihat sosok yang dilihatnya. “Kau-kau...” dia ingat dengan jelas pria dihadapan itu adalah pria yang marah badannya tempo hari saat ia mengejar pencuri dan tak sengaja membuat lengannya memar.
“Itu bukan sabun cuci untuk baju ku.” dr. Ammar kemudian menjelaskan jika sabun itu untuk baju pelayan. “Ini sabun ku.” mengambil sabun yang berbeda dan tentunya lebih mahal dari sabun tadi.
“Ya, baik tuan.” Afsha menerima sabun tersebut dan segera menuangnya ke mesin cuci.
Namun sungguh tak disangka pria tadi belum juga pergi dari sana dan masih mengawasinya entah kenapa.
“Kau terlalu keras memutarnya.” ucap dr. Ammar kemudian merubah mode cucian ke mode lembut.
“Maaf tuan, aku tidak tahu.” ucap Afsha walaupun dalam hati sebenarnya ia mengumpat karena selama di rumah iya tak pernah melakukan pekerjaan tersebut dan semua bajunya tentu saja dicucikan oleh pelayan di rumahnya.
“Begini saja kau tidak bisa.” ucap dr. Ammar lagi saat Afsha kesulitan mengeluarkan baju dari dalam mesin cuci.
“Cerewet sekali pria ini.” batin Afsha yang hanya bisa mengangguk sambil minta maaf dan diam mendengarkan semua omelan panjang lebar tuannya itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments
neng ade
ada hikmah nya juga kan ..jadi bisa cara mencuci baju dngn mesin cuci ..
2023-02-08
1