Keesokan paginya Afsha bangun seperti biasa. Ia sarapan bersama keluarganya, ayah ibu serta dua adiknya.
“Bagaimana perkembangan ekspor gas ke India ?” tanya ibu pada ayah sambil mengupas jeruk.
“Baik, sejauh ini semuanya lancar saja bu.” terang ayah singkat.
Ya, keluarga Cailey adalah pengusaha di bidang gas dan minyak. Omzetnya besar dan sebagian besar omzet di ekspor ke luar negeri.
Tiba-tiba ibu menyentuh kaki ayah di bawah meja.
“Apa ?” tanya ayah pelan hampir tak bersuara dan hanya terlihat gerakan mulut saja.
“Afsha...” balas ibu dengan gerakan mulut mengikuti suaminya.
“Ehm...” ayah berdehem kecil sambil menatap Afsha. “Afsha besok akan ada putra dari teman ayah yang akan datang kemari.”
“Ya, ayah ada apa dengan putra dari teman ayah itu kemari ?” Afsha balas bertanya dan pura-pura tidak mengetahuinya.
“Tidak... teman ayah itu hanya mampir saja ke sini.” ternyata ayah tak berani berterus terang pada putrinya.
“Ya, ayah.” jawab Afsha dengan datar. “Lalu apa urusannya denganku ?”
“Kau tak punya urusan dengannya hanya saja ayah minta tolong besok temani putra teman ayah.”
Afsha hanya mengangguk saja dan mengumpat dalam hati, “Kenapa ayah tidak jujur saja pada ku ?” tentu saja ia tak berani menanyakannya langsung dan hanya menunduk melanjutkan makannya seperti mengetahui apapun rencana ayahnya.
Sore hari Afsha terlihat sudah rapi juga harum keluar dari kamar setelah beberapa menit sebelumnya ia melempar semua kopernya keluar rumah lewat jendela kamarnya.
“Ayah.. ibu aku mau pergi ke rumah Disya.” pamit gadis itu pada kedua orang tuanya yang sedang duduk di ruang tengah dan bersantai.
“Ya, cepat kembali.” balas ibu singkat.
Baru beberapa langkah berjalan gadis itu berhenti dan kembali masuk ke kamarnya. “Obat ku ketinggalan.
Ia pun mengambil tiga botol obat yang ada dalam kotak obat lalu memasukkan dalam tas kecil yang di bawanya.
“Kenapa kembali ?” tanya ayah saat gadis itu sudah berada di luar kamar.
“Obat ku ketinggalan, ayah.” Afsha tersenyum kecil pada ayahnya dan ia pun segera berjalan keluar rumah.
“Hampir saja tadi itu aku melupakan obatku. Apa jadinya nanti ?” ia bernapas lega karena obat itu sangat berarti sekali baginya.
“Nona Afsha mau di antar kemana ?” tanya seorang driver melihatnya keluar dan bersiap mengantar.
“Aku mau ke rumah Disya pak Umar. Tapi kali ini pak Umar tak perlu mengantar ku.” jawabnya segera menolak.
Afsha kemudian berlalu dan setelah melihat keadaan di luar rumahnya yang sepi, ia membawa tiga koper yang jatuh di balik tanaman setinggi 30 cm.
“Aku harus segera mencari taksi.” Afsha membawa semua kopernya dan berjalan dengan cepat sejauh mungkin dari rumahnya dan berhenti di tepi jalan raya.
“Taksi !” panggilnya saat melihat sebuah taksi melintas di depannya. Sebuah taksi berhenti dan Ia pun segera masuk ke dalamnya.
“Nona mau diantar ke mana ?” tanya driver segera melanjutkan taksi.
“Em...” Afsha sendiri tak tahu ke mana destinasinya. Iya hanya ingin pergi sejauh mungkin dari rumah. “As Sani, antar saja aku ke sana.” hanya nama kata itu yang saat ini terpikirkan olehnya.
“Tapi nona itu jauh sekali dari sini dan mungkin tarifnya akan berbeda.” driver menjelaskan tarifnya yang lebih mahal karena harus menempuh perjalanan sejauh 30 km.
“Tak apa... berapapun itu aku akan membayarnya.” Afsha menjelaskan jika dia tak keberatan sama sekali.
Taksi kemudian meluncur menuju ke kota As Sani. “Nona mau turun di mana ?” tanya driver beberapa saat kemudian setelah mereka sudah memasuki kawasan kota tersebut.
“Dimana saja. Emm... maksud ku di penginapan yang terdekat dari sini saja.”
Driver kemudian menurunkan Afsha di depan sebuah penginapan.
Malam hari di rumah keluarga Cailey.
“Sudah jam segini tapi aku belum melihat Afsha pulang.” ucap Ayah setelah melihat jam yang tergantung di dinding.
“Sebentar lagi mungkin pulang.” sahut ibu dengan tenang.
Satu jam kemudiam belum terlihat tanda-tanda gadis itu pulang ke rumah.
“Kemana dia sebenarnya ?” ayah terlihat mulai khawatir karena biasanya putrinya itu tak pernah pulang melewati dari jam yang sudah ditentukan. “Aku akan mencoba meneleponnya.
“Nomornya tidak aktif.” ucap ayah setelah menghubungi nomor Afsha.
Pria itu kemudian mencoba menelepon nomor Pak umar dan ternyata driver itu tidak mengantar putrinya keluar.
Cailey, ayah Afsha pun terlihat cemas dan berusaha mencari putrinya kembali.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments
💞 RAP💞
Lanjut
2023-03-17
0
Lina Zascia Amandia
Kak yg ini blm kontrak?
2023-03-02
1
neng ade
Ayah Afsha egois terlalu memaksakan kehendak nya .. sekarang Afsha udh kabur .. mungkin bisa membuat ayah nya sadar akan tindakan nya yg akan menjodohkan Afsha..
2023-02-01
1