Malam hari di kamar Afsha. Gadis itu maksud dari tadi terlihat gelisah setelah mendengar percakapan yang belum selesai antara kedua orang tuanya namun menurutnya sudah mewakili semuanya.
“Aku hanya punya waktu semalam di sini sebelum bertemu dengan pria itu.” Afsha berbaring di tempat tidur namun ia sama sekali tak bisa memejamkan matanya meski merasa ngantuk.
Ia pun berpikir keras bagaimana cara mengatasi ataupun menghindarinya.
“Kriek.” belum ia menemukan solusi untuk masalahnya seseorang masuk ke kamarnya.
“Rafi ? Ada apa kau menangis ?” tanya nya melihat seorang anak lelkai dengan mata yang berkaca-kaca.
“Kakak... di kelas aku mendapatkan masalah.” jawabnya sambil menutup pintu kemudian duduk di samping Afsha.
Rafi adalah adik lelaki Afsha yang yang masih berumur 17 tahun. Entah kenapa setiap ada masalah adiknya itu lebih senang mencurahkan semua masalahnya pada dirinya daripada ke orang tua mereka.“Rafi ada masalah apa lagi ? Kau ini sudah dewasa tapi kenapa menangis ?”
Rafi kemudian menceritakan permasalahannya dengan salah satu temannya di kelas jika temannya ada yang mencuri ponsel nya, sebuah ponsel canggih keluaran terbaru dan berharga wow dan ia takut jika ayahnya sampai mengetahui hal itu. Mungkin saja bukan lagi jatah bulanannya yang akan dipotong tapi mungkin kena hukuman juga karena lalai menjaga barangnya sendiri.
“Jadi begitu masalahmu.” Afsha mengangguk mendengarkan cerita adiknya.
“Kak ini bukan masalah enteng, aku cek tabunganku belum ada sejumlah harga ponsel yang hilang.” Rafi masih bingung pada solusi dari masalahnya.
“Oh... gampang ! Kau bisa pakai ponsel ku selain setipe, warnanya pun juga sama.” Afsha terlintas sebuah ide begitu saja dalam pikirannya sekaligus sebuah solusi untuk dirinya sendiri jika ingin orang tuanya tak mengetahui kabarnya.
“Tapi kakak pakai apa ?” Rafi tiba-tiba tersadar jika solusi itu akan menjadikan masalah untuk kakaknya.
“Pakai saja ponsel ku. Aku bisa beli lagi nanti.” Afsha langsung mengeluarkan ponselnya dan menyerahkannya pada adiknya setelah mengambil SIM card-nya.
“Oh... terimakasih kakak. Kakak memang is the best.” Rafi tersenyum lebar lalu membawa ponsel kakaknya keluar dan masuk ke kamarnya.
Setelah kepergian Rafi, Afsha kembali teringat pada masalahnya. Ia tahu apa Ya sudah menjadi keputusan ayahnya tidak mungkin bisa ditawar ataupun ditolak.
“Lelaki keras itu... bagaimana bisa aku menang beradu pendapat dengannya ?” Afsha kembali menyerah setelah mengingat peringai ayahnya yang keras bisa diibaratkan dengan batu yang tak akan hancur dengan sekali pukulan.
“Apa yang bisa kulakukan dalam waktu semalam ?” Afsha berjalan mondar-mandir berulang kali di kamarnya.
“huft.... kurasa tak ada cara lain lagi selain itu.”
Afsha berdiri di depan lemarinya dan membukanya. Ia kemudian mencari koper yang ada di sana. Dengan cepat ia memasukkan beberapa baju dan hanya menyisakan sebagian saja.
“Berapa saldo atm ku ?” gadis itu mengingat lagi saldo terakhirnya setelah beberapa hari yang lalu menariknya. “Sepertinya cukup.”
Tentu saja cukup total saldo yang merupakan jatah bulanan kiriman orang tuanya itu sebesar 20 jt Riyal Qatar. Gadis itu merupakan tipikal hemat dan membiasakan menabung untuk keperluan mendesak seperti ini.
“Mungkin itu akan cukup sampai beberapa bulan ke depan hingga aku menemukan pekerjaan.” Afsha merasa lega mungkin rencananya kabur dari rumah bisa terealisasi dan setidaknya ia bisa bertahan di luar sana.
“Sekarang aku bisa tidur dengan tenang.”
Afsha akhirnya bisa tidur dengan pulas di tempat tidurnya setelah lama begadang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments
💞 RAP💞
😍
2023-03-17
0
Lina Zascia Amandia
Ini ikutan lomba YANG 9 ya? Semoga berhasil ya...
2023-02-15
1
sari tebu oyy!
Cepat pikirkan sesuatu
2023-02-05
1