“Ya kau jelas-jelas menabrakku tadi dan lihat ini.” pria tadi menunjukkan lengan kirinya yang lebam pada Afsha.
Afsha hanya menautkan kedua alisnya menatapnya. “Maaf apakah kamu menuduh aku yang melakukannya ?” Afsha menekankan pada kata menuduh yang membuatnya merasa tak nyaman.
“Ya siapa lagi jika bukan kamu nona. Setidaknya kamu bisa ganti rugi atau minta maaf padaku.” balas pria itu terlihat masih marah saja.
“Aku tadi mengejar pencuri yang mengambil tasku. Jadi mungkin aku tidak melihat mu, tuan dan tidak sengaja menabrakmu.”
Pria berbaju putih tadi semakin merasa kesal saja pada gadis di depannya. Bukannya minta maaf padanya tapi malah membela diri.
“Apa susahnya minta maaf ?”
Afsha diam bukan karena tidak mau minta maaf tapi karena ia bingung bagaimana menjelaskan lagi pada pria tersebut supaya tidak salah paham lagi dan bertambah marah padanya.
“Tapi aku tidak sengaja melakukannya padamu. Oke aku minta maaf padamu.” ucap Afsha pada akhirnya yang tak mau masalah semakin panjang hanya karena masalah sepele tak jelas.
“Kau ini...” pria tadi masih terlihat belum puas meskipun gadis di depannya sudah minta maaf padanya.
“Ammar.... makanan yang kau pesan keburu dingin.” panggil seseorang pada pria tadi.
“Dasar gadis sombong.” pria tadi kemudian segera berbalik dan menuju ke meja seorang pria yang memanggilnya.
“Hiss...” Afsha hanya bisa menarik nafas kasar menatap ke arah pria yang sudah duduk bersama seorang pria yang juga berbaju serba putih. “Sungguh pria yang aneh mengatai ku sombong tapi bukankah dia sendiri yang sombong ? Hanya karena masalah sepele saja sampai seperti itu.” Afsha menggelengkan kepalanya sekali lagi.
Dia sudah tidak mood makan lagi tapi untungnya makanan yang dipesannya sudah habis dan ia pun segera membayarnya lalu keluar dari tempat makan tersebut.
“Ammar kulihat kau tadi seperti marah-marah pada seorang gadis ?” tanya pria yang duduk di depannya.
“Ya... lengan ku lebam dan gadis tadi yang menjadikannya seperti ini.” Ammar menunjukkan lebam di tangannya. “Tapi dia susah sekali untuk minta maaf padaku.”
“Oh.... menurut ku kau terlalu reaktif pada seorang gadis manis sepertinya.”
“Gadis manis ?” menurut Ammar gadis tadi memang manis sebenarnya. “Tapi apa karena manis harus diperlakukan berbeda Fadhil ?”
Fadhil, lawan bicara Ammar tak bisa menjawab dan tak mau melanjutkan percakapan mereka lagi daripada semakin bertambah panjang.
Sementara itu Afsha sudah berjalan cukup jauh dan ia berencana untuk mencari penginapan lainnya.
“Kaki ku rasanya berat.” gadis itu berhenti sebentar karena merasa lelah. “Sepertinya di depan sana ada penginapan.” membaca papan bertuliskan "Penginapan Alwadi"
Ia sampai menyeret kakinya untuk berjalan yang hanya beberapa meter saja di depannya.
“Ya benar ini memang sebuah penginapan.” Afsha masuk ke penginapan tersebut dan melakukan check in.
Beberapa saat setelahnya resepsionis memberikan kunci pintu kamar untuknya.
“Semoga saja ada air hangat di bathroom.” gumamnya membayangkan betapa nikmatnya berendam di air hangat yang bisa membuat semua ototnya yang tegang dan juga kaku menjadi rileks kembali.
Ternyata di bathroom memang disediakan air hangat maka dia pun segera berendam setelah mengisi bathub penuh dengan air hangat.
“Oh... benar-benar nikmat.” Afsha mencoba rileks untuk sejenak di dalam bathub.
Di rumah keluarga Cailey masih terlihat pria itu kembali menelepon Kanit reserse.
“Maaf tuan Cailey kami belum menemukan petunjuk tentang putri anda. Mohon untuk lebih bersabar lagi kami masih mengupayakan dengan maksimal pencarian putri anda.” ucap Kanit Reserse disambungan telepon.
Pria itu pun menutup kembali ponselnya sambil menarik nafas dengan kasar.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments
sigigi manis
❤️❤️❤️
2023-02-26
0